Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2. 75


Dirga menunduk lesu di depan pintu ruang operasi. Sementara Cristi menangis segukan di sampingnya. Mereka berdua tak ada yang menyangka jika Queen akan mengalami hal seperti ini.


Keguguran, dokter mengatakan jika Queen keguguran dan harus di operasi pengangkatan janin nya.


Cristi bertambah segukan saat mengingat apa yang di lakukan Queen dengan benda tumpul mirip milik pria itu. Itu artinya Queen sering melakukan nya seorang diri.


Tak lama dokter keluar dari dalam, Cristi dan Dirga memberondong pertanyaan pada dokter.


"Nona Queen akan sadar satu jam kemudian tuan dan nyonya. Silahkan anda menunggu di ruang rawat, pasien akan segera di pindahkan ke sana."


Dirga dan Cristi hanya mengangguk pasrah. Semua ini di luar dugaan mereka.


Di sinilah Cristi dan Dirga berada, mereka berdua duduk termenung. Tak ada yang berbicara baik Dirga maupun Cristi. Tapi tak lama kemudian Cristi membuka mulutnya.


"Bagaimana ini mas, apa janin itu milik Aaron. Aaron harus bertanggung jawab mas. Biar bagaimanapun juga Aaron yang sudah membuat putri kita seperti ini."


Dirga diam, ia juga tak tau harus berbuat apa. Ia takut mengusik Aaron dan David. Tapi ia tak bisa melihat putrinya hancur seperti ini.


"Aku tak tau Cristi, ini sama sekali tak ada di pikiran ku."


Dirga mendesah kasar, ia sama sekali tak tau harus apa. Mengusik Aaron dan David sama saja menyetorkan nyawa pada mereka.


"Cristi, aku tak akan membuat kita menjadi sengsara. Aaron juga bukan pria yang bodoh, dia mengatakan jika bukan dia yang mengambil keperawanan Queen. Dia juga pernah mengatakan pria yang bersama Queen. Apa mungkin dia orang yang sudah menghamili Queen. Siapa sebenarnya yang di maksud Aaron, dan kenapa Aaron tak mengaku jika dia yang sudah mengambil mahkota Queen. Aku bingung Cristi."


Cristi semakin menangis, ia menggelengkan kepalanya jika apa yang ada dalam pikirannya adalah benar.


Hingga satu jam lebih Queen baru sadar dari biusnya. Ia menatap di sekeliling nya, meringis merasakan sakit di pusat inti tubuhnya. Tak lama kemudian ia menangis saat mengingat jika sebelumnya ia berada di dalam kamar mandi, tapi sekarang ia berada di rumah sakit. Ia yakin jika terjadi sesuatu padanya.


"Mom...."


Lirih nya menatap Cristi, dan Cristi menoleh pada Queen saat mendengar Queen memanggil nya.


"Apa yang terjadi..?"


Cristi tak menjawab, ia menatap wajah putrinya yang masih terlihat pucat.


"Mom..."


"Katakan pada mommy Queen, apa kau sering melakukan seorang diri. Apa kau melakukan nya jauh sebelum mengenal Aaron Queen."


Tanya nya tanpa mengalihkan pandangannya pada wajah putri nya.


"Mom, aku,"


"Katakan saja Queen, mommy sudah tau. Apa memang bukan Aaron yang mengambilnya tapi benda yang kau pakai Queen."


Tanya nya ngegas pada Queen. Nafasnya memburu menahan emosi saat mengingat kegilaan putrinya.


"Maafkan Queen mom,"


Lirih nya menunduk, ia tak menyangka jika ibunya akan tau kegilaan nya.


Sedangkan Cristi memejamkan matanya mendengar pengakuan Queen. Ia tau meski Queen tak mengatakan iya, tapi itu juga sama artinya.


"Mommy tak menyangka kau sungguh gila Queen. Apa harus seperti itu Queen, mommy jijik mendengar nya."


Cristi keluar dari kamar rawat Queen. Ia mengusap pipinya yang basah. Sampai di luar ia menatap Dirga yang duduk di kursi tunggu.


"Ada apa..?"


"Apa kita bisa mencari keberadaan pria yang di katakan Aaron. Dia yang harus bertanggung jawab, aku yakin hanya dia lah orang nya."


Dirga menggeleng kan kepalanya mendengar penuturan istrinya.


"Pria itu adalah seorang mafia dan sekarang keberadaan nya tak ada yang tau."


Cristi shock mendengar nya, ia menggelengkan kepalanya tanda tak percaya dengan apa yang di dengarnya, mafia.


"Kau jangan mengada-ada Dirga."


Dirga menggeleng, ia sendiri juga shock saat mendengar kata mafia. Apa Aaron juga seorang mafia?, Kenapa Aaron bisa tau pria yang bersama Queen. Ia yakin jika Aaron bukanlah pria biasa. Mungkin saja Aaron juga seorang mafia jika mengetahui pria yang bersama Queen saat itu.


"Tidak Cristi, aku yakin jika Aaron juga bukanlah pria sembarangan. Maaf jika kali ini kita harus mengorbankan putri kita. Aku tak ingin berbuat bodoh yang akan membuat kita semua menderita, maaf.."


Cristi menangis segukan, apa yang di katakan Dirga juga ada benarnya. Lagi pula Queen sendirilah yang gila dan memalukan seperti ini. Aaron bukan pria yang bodoh, bisa saja dia juga tau kegilaan Queen selama ini.


*


Hoekk.... Hoekk...


"Uh.. Sialan.. "


Aaron mengumpat dirinya sendiri di kamar mandi. Sudah hampir lima hari ia muntah sampai tubuhnya lemas. Tak hanya itu ia juga membenci matahari, tubuhnya akan meriang jika terkena sinar matahari. Ia sendiri juga bingung belakang ini banyak yang di bencinya termasuk melihat nasi.


Aaron memang tak tau jika dia yang mengalami kehamilan simpatik. Kemarin saat pergi ke dokter ia tak bertanya atau pun mengeluh, pada dasarnya ia tak merasakan gejala seperti ini jika siang dan malam hari ia juga malas bertanya. Yang ia tau ia hanya sakit biasa. Setelah ia mengetahui jika Istrinya hamil, ia menyambar lembar kertas di tangan dokter yang mengatakan jika itu adalah resep vitamin, tanpa pamit dan terima kasih, ia membawa Almira pulang.


"Apa aku punya penyakit, kenapa harus setiap hari muntah."


Lirih nya tak berdaya bersandar di dinding kamar mandi.


"Hubby..."


Aaron menoleh pada Almira yang datang mengagetkan nya. Ia menarik lembut tangan Almira dan memeluk tubuh istrinya yang berdiri. Aaron mengendus perut Almira tepat di depan wajahnya yang tertutup baju syar'i.


"Sayang, kau sangat wangi Al."


Almira menggeleng kan kepalanya, ia mengelus kepala Aaron dengan tangan mungilnya.


"Apa kita perlu ke dokter Hubby.?"


Aaron menggelengkan kepalanya, ia menyembunyikan wajahnya di perut Almira dan mengusak wajah nya di sana. Almira terkikik geli saat wajah Aaron mendusel di perutnya yang masih datar.


"Hubby geli ihh.."


"Sayang apa Baby nya nakal di dalam sana.?" Almira menggeleng kan kepalanya.


"Hubby tak berangkat lagi ke perusahaan, kata Om Nathan Hubby harus pergi bukan. Al di mension saja mau temani bunda dan daddy yah..."


Aaron mendengus saat mengingat jika Nathan meminta nya keperusahaan miliknya.


"Pria itu benar benar tidak becus bekerja, benar benar tak berguna."


umpat nya dalam hati. Tak lama kemudian ia mengangguk mengiyakan ucapan istrinya.


"Gak sayang nanti saja mandinya, sekarang sudah terlambat. Ayo bantu Om pilih kan baju saja."


Aaron langsung menarik tangan Almira dan membawanya ke luar dari kamar mandi. Ia terlalu takut saat melihat air di pagi hari. Sedangkan Almira sendiri mengerutkan keningnya mendengar penuturan suaminya.


"Hubby yakin, ini masih pagi.?"


Aaron mengangguk mengiyakan, ia membawa Almira masuk ke dalam walk in closed. Tak perduli dengan tubuhnya yang tak mandi. Sebulan saja jika ia tak mandi tak akan bau, toh istrinya juga tak keberatan.


.


.