Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2.95


Almira keluar dari ruang kerja milik suaminya. Ia sudah tak melihat keberadaan Nathan di depan pintu . Ia yakin jika asisten suaminya itu sudah pergi meninggalkan mension. Almira berjalan menuju kamar nya dengan bibir yang tak berhenti mendumel. Tak hanya tangan yang kram dan kesemutan, bibir nya juga sama kram dan terasa tebal.


"Memangnya apa yang di minum sama Om, kenapa dia ingin seperti itu, apa Om tidak tau bibir Al rasanya kesemutan dan tebal. Awas saja nanti kamu by.."


Almira berjalan ke kamar putrinya, ia tersenyum mendapati putri dan baby sister nya yang sudah tidur. Ia tak berani menyentuh putrinya, tangan dan bibir nya sangat kotor gara gara Aaron, suaminya.


"Semoga bibi betah tinggal di mension."


Almira mendesah lirih saat mengingat jika Aaron tak mengijinkan nya pulang bersama dengan bunda dan daddy nya.


Tak lama kemudian Almira kembali lagi keluar dari kamar putrinya. Masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tangan dan wajahnya.


"Pria tua itu sangat menyebalkan."


Almira langsung menutup mulutnya saat menyadari ucapan nya. Gara gara gondok dengan suaminya, ia sampai mengatakan suaminya pria tua.


"Memang benar Om sudah tua, Ish..."


Sedangkan Aaron sendiri begitu terpuaskan ia langsung memejamkan matanya. Tidur di sofa dengan tangan dan kaki yang terikat. Sama sekali tak perduli dengan miliknya yang masih di luar dan belum masuk ke dalam penutup nya. Padahal batang yang keras tadi sudah lembek seperti agar agar, dan Almira pergi begitu saja tanpa membenahi pakaian suaminya.


Mana mau Almira, dia sendiri shock dan kaget, karna ini baru pertama kali nya baginya. Apalagi melihat cairan kental Aaron yang kemana mana. Tentu saja Almira langsung pergi meninggalkan Aaron. Membiarkan suaminya begitu saja tanpa menutup burung miliknya.


*


Sementara di kamar VIP Club....


Helena melototkan matanya saat dirinya terkunci di kamar VIP yang remang. Dua pria tadi yang membawa nya dan memasukkan nya ke dalam kamar lalu menguncinya. Ia menggedor pintu kamar berharap salah satu pengunjung membukanya. Tapi semua itu seperti nya mustahil. Kalau pun ada yang mendengar mereka pasti tak akan menolong nya. Di tempat yang seperti ini sudah biasa mereka dengar, itu sebabnya mereka pasti membiarkan begitu saja tanpa menolong nya.


Helena berjengit kaget saat seseorang memeluknya dari belakang. Ia menoleh dan mendapati bos nya, Nicholas. Pria itu menatap nya penuh kabut dan penuh nafsu padanya. Helena bingung, ia tak mengerti dengan semua ini. Bagaimana bisa Bosnya ada di kamar bersamanya. Apalagi terlihat kamar ini terkunci dari luar.


"Tuan Nicho."


"Aku menginginkanmu."


Tanpa menunggu persetujuan Helena, Nicholas menyerang Helena, mencium bibir nya rakus. Helena sendiri yang mendapatkan serangan tiba-tiba dari bosnya itu shock dan hanya diam. Ia tak tau apa yang sedang terjadi antara dirinya dan Bosnya.


Nicholas yang merasakan wanita di depannya ini hanya diam menurunkan bibir nya. Tangannya juga menarik dress mini yang di pakai Helena. Helena kaget, saat Bosnya menurunkan dress mini milik nya. Tak lama kemudian ia membalasnya tak kalah panas. Menjanda hampir satu tahun Helena tentu saja menginginkan sentuhan pria pada tubuhnya. Sedangkan Nicholas sendiri yang di kuasai oleh obat laknat seperti yang ia berikan pada Aaron tak perduli dengan siapa dia bercinta. Ya setelah Aaron menenggak separuh gelasnya, Aaron menukar gelas miliknya pada Nicholas.


Ranjang VIP Club malam menjadi saksi bisu percintaan panas Nicholas dan Helena. Helena sendiri sudah beberapa kali sampai pada puncaknya merasa lelah. Tapi Nicholas sama sekali belum ada tanda tanda jika dia akan mengakhiri percintaan panas mereka.


Hingga satu jam kemudian Nicholas ambruk di atas tubuh polos Helena.


*


Aaron mengerjapkan matanya saat sinar matahari menembus celah jendela. Ia menggelengkan kepalanya mengusir rasa pusing dan berat di kepala nya. Ia mengerutkan keningnya saat tangan nya tersangkut di belakang tubuhnya.


"****.."


Bibirnya mengumpat jika tangan nya benar benar terikat, bukan tersangkut. Tak hanya itu kedua kaki nya juga terikat. Aaron memejamkan matanya emosi, bangun tidur mendapati bahwa dirinya terikat di kursi sofa benar benar membuatnya geram. Rasa pusing di kepala nya bersama dengan sakit tubuhnya yang tidur terikat tentu membuat nya emosi dan berang.


" Beraninya, siapa yang mengikatku sialan."


Perlahan matanya melebar saat mendapati bahwa dia berada di dalam ruang kerja milik nya.


"Apa apaan ini."


Hah...


Berjengit kaget, matanya terpejam lagi, ia yakin jika semalam Almira yang membantunya.


"Sayang kenapa kau membiarkan begitu saja. Bagaimana jika dia di gigit nyamuk Al, kau lagi yang akan repot."


Gerutunya sambil mencoba melepaskan ikat tangan nya. Ia mengumpat Nathan yang mengikatnya kencang, hingga ia sedikit susah melepaskannya. Apalagi milik nya masih belum terbungkus, bagaimana jika pria brengsek itu tiba-tiba masuk ke dalam dan melihatnya.


Lima menit kemudian Aaron bernafas lega saat tangan nya terlepas dari ikatannya kemudian ia menunduk melepaskan kakinya terlebih dahulu.


Clekk....


Brukk...


"Tuan..."


"****... Brengsek..."


Nathan kaget saat mendapati tuannya tersungkur bersama dengan kursi yang di dudukinya. Ia berjalan mendekati tuannya dan hendak menolong nya. Tapi teriakan Aaron seperti ingin merobek gendang telinga nya.


"Menjauh dariku sialan.. Keluar....."


Teriak Aaron menggelegar di ruang kerja miliknya. Nathan sendiri masih bingung, saat tuannya mengusirnya. Ia masih berdiri melihat tuannya yang melipat tubuhnya. Ia pikir bukankah tuannya membutuhkan bantuan nya.


"Tuan..."


"Keluar bodoh.."


Nathan langsung keluar dari ruang kerja Aaron. Ia tak tau kenapa tuannya justru mengusir nya.


Sedangkan di dalam Aaron meringkuk menyembunyikan miliknya yang belum tertutup. la mengumpat Nathan yang mengagetkan nya hingga ia tersungkur di lantai bersama kursi yang ia duduki.


Aaron buru buru menyembunyikan miliknya kembali dan mengancingkan celananya, setelah itu baru ia melepaskan ikatan kakinya.


Brakkk....


Aaron menendang kursi sofa yang ia duduki hingga terpental jauh menabrak tembok dan hancur. Nafasnya memburu menahan emosi nya pada Nathan yang bodoh. Tangan nya memijit keningnya yang masih terasa pusing. Tak lama ia melototkan matanya saat melihat cairan kental miliknya di lantai dingin.


"Banyak sekali,"


Aaron menyambar tisu di atas mejanya dan membersihkannya.


"Sial, aku membuang nya secara cuma-cuma, apalagi ini banyak sekali. Jika menetas pasti dapat satu lusin langsung."


Pikiran bodoh Aaron yang menyayangkan cairan miliknya terbuang, padahal dia tak tau bagaimana reaksi istrinya nanti yang marah dan gondok padanya.


"Istri ku pasti sangat seksi semalam."


.


.