
Sudah seminggu lamanya Almira berada di mension mewah Aaron. Aaron sendiri tak pernah meninggalkan istrinya di mension mewahnya sendiri. Ia selalu membawa Almira di manapun ia berada. Dan Almira pun tak keberatan, lagi pula ia masih asing di kota ini. Hanya Aaron yang di kenalnya, ia juga baru mendapatkan teman di mension Aaron.
Semua pelayan di mension Aaron sangat baik padanya. Mereka memperlakukan nya seperti anak sendiri. Tak banyak pelayan wanita di mension Aaron. Hanya lima pelayan wanita dan sisanya adalah pria.
Dan hari ini, Aaron tak mengajaknya pergi bersama nya. Dia meninggal kan nya di mension bersama pelayan dan tentu saja dengan bodyguard nya. Aaron memang sudah menyiapkan Almira bodyguard yang akan menjaganya. Ia tau musuh yang bersembunyi darinya akan muncul kembali mengincar Almira. Karna Almira lah kelemahannya saat ini, dan jelas saja ini adalah kesempatan untuk mereka.
"Nyonya, anda ingin makan sesuatu.?"
Pelayan menawari nyonya mereka, mereka bingung dan heran dengan nyonya mereka yang jarang makan. Sama sekali tak pernah meminta sesuatu dari pelayan, nyonya nya hanya banyak meminum susu.
"Tidak bibi, Al mau minum susu saja."
Pelayan menggeleng, setiap hari hanya susu yang di minta nyonya mereka, tak ada yang lain. Padahal mereka bisa membuat kan apa saja yang nyonya mereka ingin kan.
*
"Apa mau mu brengsek.?"
Aaron tersenyum miring melihat wajah penuh luka di depannya ini. Aaron mendekat pada nya bersama pisau lipat di tangan nya.
"Kau tau, aku sudah meninggalkan pisau ku bertahun tahun lamanya. Tapi sepertinya pisau milik ku ini merindukan pemilik nya."
Tubuh pria yang duduk di kursi kayu bergetar ketakutan. Saat menatap wajah tampan Aaron yang berubah menjadi menyeramkan dan bengis. Ia tak tau jika pria yang ia usik adalah Kenan Galaxy.
"Aku hanya di suruh, perempuan itu membayar ku tuan."
Aaron mengeraskan rahangnya mendengar penuturan pria di depannya ini. Ia tau siapa yang di maksud oleh nya.
"Queen, kau tak mengindahkan peringatan ku rupanya."
Queen sudah berani padanya dengan membayar pria ini untuk mengikuti istrinya. Aaron tersenyum miring melihat wajah ketakutan di depannya ini.
Crass... Arkk.....
"Ampun tuan, saya tak tau apapun."
Jerit nya saat pisau tajam dan mengkilat itu menggores wajah nya.
Jlebb..Aakk...
Nathan yang berdiri di belakangnya nya meringis, saat melihat tuannya masih sama. Ia pikir sudah bertahun tahun Aaron tak menunjukan sisi gelapnya tak akan sadis seperti dulu. Ternyata tuannya masih sama, hanya karna pria ini menguntit istrinya, Aaron langsung membunuhnya.
"Bereskan dia.."
Nathan mengangguk mengiyakan dan Aaron melangkah keluar. Masuk ke dalam kamar mandi, membuang pakaian milik nya dan mengguyur tubuhnya yang bau amis.
"Aku sudah memperingatkan mu, Queen."
Sepuluh menit Aaron sudah keluar dari kamar mandi, dan mengganti pakaian yang sama saat ia pergi dari mension. Ia tak mau membuat istrinya mengira jika ia bertemu dengan wanita lain di luar. Apalagi Almira tau jika ia suka berganti wanita dulu. Ia tak ingin membuat istrinya menangis karenanya.
"Tuan, nona Queen bersama dengan Rodric saat ini."
Aaron mengeraskan rahangnya mendengar penuturan Nathan di belakangnya.
"Biarkan saja, aku ingin melihat bagaimana Rodric melawanku."
Aaron menatap jauh ke depan, Rodric muncul kembali dan ingin mengusiknya. Ia yakin pria itu ingin mengincar Almira. Salah satu musuhnya yang tak pernah menunjukan batang hidungnya, kini kembali lagi menampakan dirinya.
Aaron berjalan keluar dari markas besar miliknya, mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi pulang ke mension mewah nya.
Rodric, ia yakin pria itu mengincar istrinya.
*
Nafas Queen memburu di atas tubuh polos seorang pria, sudah beberapa kali Queen bercinta dengan pria yang bernama Rodric. Sebagai wanita dewasa yang pernah merasakan milik nya di masuki, apalagi Queen yang juga memakai benda mati yang selalu ia pergunakan untuk memuaskan hasrat birahinya. Tentu saja Queen tak menolak pria yang ingin menjamah tubuhnya. Terhitung sejak ia salah masuk ke apartemen miliknya, Queen hampir sehari dua kali bercinta dengan nya.
Tapi Queen hanya menganggap jika pria di bawah tubuh nya hanya sebagai partner nya saja.
"Ternyata kau lebih liar nona."
Queen tersenyum tipis, di atas tubuh nya, ia masih bergerak naik turun mencari kepuasan di atas tubuh polos pria yang terbaring di bawahnya.
Tak lama kemudian Queen bergerak lebih cepat memompa milik nya. Apalagi saat buah yang menggantung milik nya di remas kedua oleh tangan Rodric.
Ahhh....
Lenguhan panjang Queen terdengar di telinga Rodric, ia tersenyum miring melihat wajah Queen yang memerah. Tak lama kemudian Rodric membalikan tubuhnya di atas tubuh Queen. Menghujam kembali milik wanita yang berada di bawah kungkungan. Ia bergerak liar memaju mundurkan pinggulnya pada wanita yang terbaring pasrah di bawah kungkungan nya. Erangan dan ******* Queen menambah gairah Rodric yang semakin terbakar. Dan tak lama kemudian ia juga mengerang bersama Queen mencapai titik orgasme untuk yang kedua kalinya.
Brukk...
Tubuh Rodric ambruk di atas tubuh polos Queen. Nafasnya memburu saat percintaan panas nya dengan Queen bisa di katakan lebih panas dari yang sebelumnya.
"Menyingkir lah, aku akan pergi ke kamar mandi."
Titah Queen. Dan Rodric tersenyum tipis, ia tau Queen ingin membuang cairan miliknya yang masuk ke dalam rahimnya dengan berdiri.
"Apa kau yakin, cairan itu keluar Queen. Pemikiran yang bodoh dan tak masuk akal."
Queen mendengus, entah kenapa saat Rodric melakukan nya tanpa pengaman membuat nya ketagihan. Tapi ia tak mau hamil, dan juga tak mau meminum obat pencegah kehamilan. Takut jika terjadi efek samping pada tubuhnya. Dan ia selalu meminta Rodric membuangnya di luar. Tapi sudah dua kali Rodric membuangnya di dalam. Dan ia harus pergi ke kamar mandi agar cairan kental milik Rodric keluar dan terbuang.
Queen menggeser tubuh Rodric di atas tubuh nya. Ia berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Membasuh milik nya yang lengket dan berlendir semoga saja, cairan kental Rodric keluar dan tak mengendap di dalam. Percintaan panasnya beberapa hari ini dengan pria yang tak sengaja ia temui itu memang membuat nya puas, tapi ia tak menemukan kebahagiaan saat dia menghujam milik nya. Bergerak naik turun di atas tubuh nya.