
David tak bisa mengendalikan perasaannya, ia bergerak liar di atas tubuh Zoya. Mendengar ******* Zoya di telinganya membakar gairah dalam dirinya. Tak hanya itu ia juga membalikkan tubuh Zoya dan menghujam nya kembali. Erangan dan desah jerit Zoya membuat semangat David bergerak maju mundur.
Tangan Zoya sendiri meremas kain sprei bermotif bunga. Menyalurkan sensasi panas dan nikmat yang semakin menjadi.
Tak lama kemudian tubuhnya menegang, saat puncak kenikmatan berpusat di satu titik.
David sendiri yang tau jika Zoya akan mencapai puncak bergerak lebih cepat dan liar.
"Masss..."
"Aahhh.."
Hingga lima menit kemudian mereka sama sama mengerang panjang.
David melepaskan penyatuannya dan mengecup punggung polos Zoya. Cup...
Kemudian ia mengusap keringat yang keluar dari kening Zoya.
"Aku mencintaimu istriku.."
Zoya tak menyahut, ia masih menetralkan nafasnya yang memburu akibat percintaan panas mereka. Ia hanya tersenyum pada David, dan mengangguk.
Sementara di ruang makan....
Kedua putra kembarnya menunggu David dan Zoya keluar dari kamar. Sesekali keduanya melirik ke arah tangga, melihat daddy dan bundanya yang belum kelihatan batang hidungnya.
"Tumben daddy sama bunda lama, Arhas udah lapar nih."
Sang adik memutar bola matanya jengah, tidak aneh melihat kakak kembarnya yang doyan makan. Tapi tubuh nya tak terlihat lebih besar dari dirinya meski dia makan banyak. Entah jadi apa makanan yang masuk di perut kakak nya.
"Makan aja kak, biar Asraf yang tunggu daddy sama bunda makan."
Arhas mendengus, ia tau adiknya meledeknya saat ini. Ia berhenti menoleh ke arah tangga. Matanya beralih pada ponsel nya kembali, memainkan game kesukaan nya sambil menunggu daddy dan bundanya datang.
*
"Apa semua ini akan baik baik saja tuan,?"
Nathan sendiri tak tau apa yang akan terjadi jika tuannya nekat seperti ini. Ia sudah berulang kali menasehati Aaron. Tapi tuannya ini sama sekali tak mendengarnya.
Menikahi Almira tanpa persetujuan orang tuanya. Tak hanya murka, David pasti akan membunuhnya yang telah membantu tuannya.
"Ya,"
Jawab Aaron memandang gadis yang tertidur pulas di ranjang hotel. Jika tak menikahi Almira sekarang, David pasti akan menjauhkannya darinya. Itu sebabnya ia akan menikahi Almira saat ini juga. David tak akan berani, memisahkan mereka jika Almira sudah menjadi miliknya.
"Tapi bagaimana dengan tuan David dan nona Zoya tuan.?"
"Aku tak perduli dengan restu mereka, aku hanya ingin Almira di samping ku. Aku tak ingin kehilangan nya apapun yang terjadi."
Tak lama kemudian bel pintu berbunyi, Nathan menoleh ke arah pintu dan membukanya. Terlihat pria paruh baya yang seminggu yang lalu datang kemari. Jika dulu dia datang sendiri tapi tidak dengan kali ini. Ia datang bersama dengan dua pria yang lebih muda dan tua.
"Maaf mari silahkan masuk, tuan saya sudah menunggu."
Nathan membalas salam mereka berdua dengan mempersilahkan masuk.
Kyai Abu dan kedua masuk, mereka berdua tersenyum mendapati Aaron yang duduk di sofa dengan kaki yang tumpang tindih. Mereka juga mengucapkan salam pada Aaron. Aaron hanya mengangguk, ia belum terlalu ingat tentang buku yang sebelumnya pria tua ini berikan.
"Maaf apa benar anda ingin menikah tuan,?" Tanya Kyai Abu pada pria yang tempo hari mengucap dua kalimat syahadat, setelah ia mendudukkan tubuhnya di sofa.
"Ya," Aaron menjawab lugas dan datar.
"Lalu dimana pengantin wanita nya tuan.?" Kyai abu bertanya lagi. Sedangkan Janu masih tak bisa mengalihkan pandangannya pada Aaron. Pria di depannya ini benar-benar sangat tampan. Selain tampan dia juga sepertinya sangat arogan. Rahang tegas nya, ia yakin dia memang bukanlah pria sembarangan. Ia masih ingat berapa nominal uang yang Aaron berikan saat ia keluar dari pesantren tempo hari.
"Tidur.."
Aaron menjawab jujur, memang Almira sedang tidur. Dia tak bisa mengganggu gadis kecil nya yang tertidur pulas.
Sementara Janu, mengerutkan keningnya mendengar penuturan Aaron. Bagaimana mungkin mempelai wanitanya tidur. Bukankah mereka akan menikah lalu kenapa harus tidur.
"Tuan Aaron, menikah harus dengan persetujuan kedua belah pihak. Bagaimana mungkin jika mempelai wanita nya tidur tuan." Ucap Janu.
Aaron mengeratkan giginya emosi, dengan cepat tangannya mengambil senjata milik nya dan mengarahkan pada kyai Abu.
Janu shock melihat Aaron menodongkan senjata api pada ayahnya. Tapi tidak dengan kyai Abu, dia tersenyum tipis melihat wajah Aaron.
"Apa anda menginginkan peluru panas ini menembus jantung anda pak tua.? Nikahkan saya dan pergi dari sini."
Nathan mendesah lirih, Aaron memang benar benar gila. Bagaimana mungkin dia mengacungkan senjata api pada mereka berdua.
"Baiklah, tunjukan dimana dia tidur, aku akan menikahkan tuan dengan nya."
Aaron tersenyum lebar, ia menurunkan senjata api nya kembali dan menyembunyikan kembali di punggungnya.
Sementara Janu menoleh pada ayahnya, dia tak mengerti bagaimana bisa ayahnya berkata demikian. Ini melanggar hukum, bagaimana jika sang mempelai wanita tak tau dan tak mau.
Aaron berjalan menuju kamar nya berada di ikuti oleh keempat pria di belakangnya. Sampai di kamar Janu melihat seorang anak kecil tidur di ranjang, ia bingung tak mendapati keberadaan calon mempelai wanita. Hanya ada gadis kecil yang tidur meringkuk di atas kasur.
Tanya Janu menatap di sekeliling nya, ia sama sekali tak mendapati orang lain.
"Apa mata anda sudah buta tuan."
Janu menoleh dan kemudian ia melototkan matanya. Sadar jika gadis inilah yang di maksud Aaron. Ia lalu menoleh pada Aaron, dan di balas dengan pelototan tajam dari sang empu.
Sementara Kyai Abu hanya menggelengkan kepalanya. Tak lama kemudian ia tersenyum melihat Aaron yang duduk di bawah ranjang.
"Jadilah pemuda yang bertanggung jawab anak muda. Meski perbuatan mu ini salah, tapi niatmu benar."
Janu masih tak percaya, bagaimana mungkin dia akan menikah dengan gadis belia.
Tak lama kemudian ia ikut mendudukkan dirinya di karpet bulu.
Kyai Abu menuntun Aaron mengucap ijab qobul seperti waktu ia menuntunnya menjadi muslim.
Janu sendiri menatap wajah Aaron yang mengucapkan ijab qobul dengan satu kali tarikan nafas sebelum ia dan teman ayahnya menjawab kata sah.
Ia seperti pernah mendengar nama yang Aaron sebutkan. Rangga Yudistira, sepertinya nama itu tak asing di telinga nya. Tentu saja, delapan belas tahun yang lalu nama Rangga Yudistira menjadi trending topik di seluruh dunia Maya. Tapi Janu tak ingat dan tak ingin tau, ia hanya pernah mendengar nama itu di telinga nya.
Sementara Almira sendiri masih tertidur pulas dalam mimpinya. Ia sama sekali tak terganggu dengan adanya seseorang yang tak jauh dari tempatnya tidur. Akibat kekenyangan Almira sama sekali tak terusik sedikit pun.
Aaron bernafas lega, ia beralih menatap wajah cantik Almira yang masih tertidur pulas. Nathan dan ketiga pria yang baru saja menikahkan nya sudah pergi. Ia melepaskan kemeja dan celana bahan miliknya, hanya tersisa boxer yang melekat di tubuh bagian bawahnya. Kemudian ia masuk ke dalam selimut memeluk tubuh kecil Almira.
*
Tengah malam Almira mengerjapkan matanya, ia mengerutkan keningnya saat sesuatu yang berat menimpa pinggang ramping nya. Ia menatap di sekeliling nya, aneh dan asing, hanya itu yang di lihat nya. Tangan nya meraba raba sesuatu yang menindih nya. Sebuah tangan besar menindih perutnya yang datar.
Wajah Almira pucat pasi melihat tangan besar di perutnya. Seketika ia menjerit keras, hingga Aaron kaget.
Akkk....
"Sayang, ada apa.?"
Mendengar suara Aaron Almira langsung berbalik dan mata bundar nya melotot.
"Om..." Serunya kemudian. Bagaimana bisa dia ada bersama teman daddy nya. Dan lagi....
Almira beringsut menjauh dari Aaron, saat menyadari jika mereka tidur berdua.
"Sayang, ada apa.?"
Aaron bertanya penuh perhatian, ia juga melihat Almira yang beringsut menjauh darinya. Seketika ia menangkap tubuh Almira yang akan jatuh ke bawah.
Hap..."Sayang, kau akan jatuh jika mundur terus Al."
Almira menatap wajah Aaron yang dekat dengan nya. Mata bundar nya tak berkedip menatap wajah yang sangat dekat dengan nya. Apalagi melihat penampilan Aaron yang terlihat acak-acakan .
Aaron sendiri yang melihat mata Almira menatapnya intens menenangkan nya. Ia tak mau gadis dalam pelukannya ini takut padanya.
"Jangan takut Ok,"
"Om bawa Al kemana, Al mau pulang,"
Aaron kelabakan mendengar Almira akan menangis dan ingin pulang. Ia tak tau apa yang harus ia lakukan saat ini. Tanpa pikir panjang ia mengangkat dagu Almira dan melabuhkan ciuman panasnya di sana.
Cup....
Seketika Almira diam, saat bibir Aaron membungkam bibir nya. Tangan Aaron menekan tengkuk Almira guna memperdalam ciuman nya. Jika Almira yang sebelumnya diam saja tidak dengan kali ini. Rasa takut yang ia rasakan berada di tempat yang asing hilang. Ia membalas ciuman Aaron di bibirnya. Aaron sendiri yang merasakan Almira membalasnya bertambah semangat. Lidahnya menjalar masuk lebih dalam lagi. Sebagai pria dewasa, hasrat birahinya yang terpendam bangkit.
Aaron melepaskan bibirnya pada bibir Almira, nafasnya memburu menahan hasrat yang membuncah karna Almira membalasnya. Apalagi saat ini benda tumpul milik nya bereaksi. Tidak, dia tak akan meminta haknya sebelum Almira menerimanya.
"Om.."
"Maafkan Om,"
Aaron memeluk Almira, menyembunyikan wajahnya di dada bidangnya. Ia membaringkan tubuh Almira tanpa mengalihkan pandangannya. Almira sendiri yang yang merasakan dadanya berdebar menatap wajah Aaron.
Ia menelungsupkan wajahnya di dada bidangnya. Ia malu jika Aaron sampai mendengar detak jantung nya yang berdebar.
"Om, kenapa Om bawa pulang kemari? Apa Om mengenal Al,? Bunda dan daddy pasti cari Al."
Serunya kemudian, entah apa yang ia rasakan saat ini. Ia merasa tak takut dengan pria yang memeluknya. Padahal Almira tak pernah tidur dan berpelukan seperti ini dengan siapapun.
Seketika ia menangis mengingat bahwa ia tak bisa menjaga diri nya.
"Sayang.."
"Bunda sama daddy pasti marah sama Al,"
Almira menangis segukan, di dada bidang Aaron. Ia tau apa yang akan terjadi jika ia pulang ke rumah nanti.
*