Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2. 12


Aaron keluar dari kamar pribadi miliknya, ia menatap Queen yang duduk bersandar di kursi miliknya. Sebenarnya ia tak suka dengan sikap Queen yang melampaui batas.


"Sayang kapan kau akan melamar ku, kita sudah lama menjadi sepasang kekasih. Dan aku mau kita bertunangan lebih dulu. Kau tau, aku sudah semakin dewasa, dan aku tak ingin seperti ini terus."


Queen bangkit menghampiri Aaron saat melihat kekasihnya keluar dari kamar pribadi nya.


Aaron sendiri tak menggubris ucapan Queen. Ia berjalan mendudukkan dirinya di kursi kebesaran nya.


"Aaron.."


Queen berseru pada pria yang mengacuhkannya. Aaron tak bisa hanya menganggap nya sebagai partner ranjangnya.


Aaron sendiri menghembuskan nafasnya perlahan. Ia menatap datar pada Queen.


"Pulanglah, kita bahas lain waktu."


Queen mengepalkan tangannya mendengar penuturan Aaron.


"Kau sudah berjanji padaku sebulan yang lalu. Jika kau akan meresmikan hubungan kita. kenapa kau berbohong padaku."


"Aku tak pernah berbohong padamu Queen. Aku tak pernah menjanjikan pertunangan kita."


Aaron menjawab datar, ia menatap wajah Queen, wanita yang tiga tahun lalu di kenalnya. Tak lama ia tersenyum miring, melihat wajah Queen.


"Pergilah Queen, aku akan mengatakan nya jika aku siap.?"


"Sampai kapan, dua tahun lagi, tiga tahun lagi atau lima tahun lagi."


"Menurut mu.." Balasnya.


"Aku ingin kita bertunangan, sebelum aku ke Indonesia. Aku akan mengikuti fashion show di sana."


Deg....


Mendengar penuturan Queen, dada Aaron berdetak lebih cepat. Delapan tahun berlalu ia datang ke Indonesia ingin mengambil hati wanita yang telah mencuri hatinya. Siapa sangka ia pulang kembali ke Venesia dengan hati yang masih tertinggal di sana. Sampai saat ini ia masih tak bisa melupakan pertemuan nya delapan tahun lalu.


Mata bundar dan besar, seperti mainan anak-anak. Mata besar itulah yang menghantuinya delapan tahun ini. Dia tak bisa menyangkalnya jika mata itu yang sudah menghipnotis dirinya. Dan yang lebih membuat ia tak bisa tidur dia bocah, dua kali lipat dari usia nya bahkan lebih.


" Brengsek..." Brakkk...


Queen berjengit kaget mendengar gebrakan meja. Apalagi Aaron juga mengumpat. Ia menunduk dan meremas blus miliknya.


Padahal Aaron mengumpat karna ia tak bisa menghilangkan bayang bayang mata bulat anak Zoya. Sungguh sial nasibnya, kenapa ia harus memikirkan anak di bawah umur. Bahkan ia lebih pantas di sebut daddy nya, bukannya kekasih kan, mau di simpan di mana wajah nya jika mengatakan menginginkan gadis belia itu. Lagi pula,


David......"****.."


Memikirkan hal itu membuat kepala Aaron akan meledak. Bagaimana mungkin ia menginginkan putri nya yang sebelumnya ia menginginkan ibunya, merebut Zoya dari David. Bahkan ia juga mengacungkan senjata api nya pada David saat itu dan mengancamnya. Kemudian ia datang kembali dan menginginkan putrinya yang benar saja.


Sementara Nathan masuk kedalam, ia mengerutkan keningnya mendapati keduanya yang satu menunduk dan yang satu sepertinya emosional. Bukankah mereka baru saja bercinta, kenapa wajah nya tak menunjukan bahagia.


*


"Bunda..Bunda... Arhas ngambil ponsel Al." Almira menatap tajam pada adiknya yang nakalnya bukan main.


"Arhas cuman mau pinjam kak,"


"Adek pinjam nya buat main game, kakak mau belajar sekarang."


Arhas mendengus ia lalu memberikan ponsel kakak nya setelah melihat Zoya yang menatapnya. Zoya sendiri yang melihat Arhas hanya mendesah. Setiap hari pasti dia akan mengganggu kakaknya.


"Al, tutup pintunya sayang,"


"Iya bunda.." Arhas mengikuti langkah ibunya dari belakang. Di depan pintu Asraf lebih dulu menunduk.


"Bunda gak mau lihat kalian nakalin kakak lagi mengerti."


*


"Mas David, Zoya gak ikut ke kantor. Mau di rumah bikin kue."


"Kenapa,?" Zoya mendengus bukankah semalam ia sudah mengatakan jika malam nanti Almira genap berusia delapan belas tahun.


Cup... David terkekeh kecil melihat bibir Zoya yang mencebik. Mana mungkin ia lupa jika sekarang adalah hari ulang tahun putrinya.


"Aku gak akan lupa dengan ulang tahun mereka sayang."


Zoya tersenyum, ia balik mengecup pipi suaminya. Membenarkan dasi milk David.


"Anak anak sudah besar, apa mas tak ingin mempunyai anak lagi.?" David menggeleng, ia trauma yang tak bisa melihat perjuangan Zoya dulu. Dua kali sesar Zoya terbaring, sementara dia sendiri juga sama. Meski itu adalah takdir, tapi David merasa sudah cukup memiliki tiga anak. Ia tak ingin, melihat Zoya kesakitan.


"Aku sudah bahagia bersama dengan kalian. Lagi pula sudah tua, malu sama Al."


Zoya tertawa, jangankan sekarang sudah tua, dulu saat Arhas dan Asraf baru enam tahun saja David tak pernah membahas soal menambah anak, apalagi sekarang.


"Cukup di sampingku, aku sudah bahagia."


Zoya mengangguk dan tak lama kemudian ia mengajak suami nya keluar kamar. Ketiga anak nya sudah menunggu di ruang tengah, mereka sudah bersiap berangkat ke sekolah bersama nya. Lain dengan Almira, dia akan di antar oleh supir, karna sekolahnya yang berlawanan arah. Dan hari ini adalah hari terakhir putrinya ujian sekolah.


"Hati hati kak..."


Almira mengangguk dan melambaikan tangan pada daddy dan adik kembarnya. Zoya sendiri langsung masuk ke dalam, ia akan membuat kue, malam nanti Almira sudah mengundang teman sekolahnya. Mereka juga tau kapan dan dimana Almira akan meniup lilin.


Sampai di sekolah Almira sudah di sambut dengan kedua temannya. Bastian dan Qinan sahabat sejati kemanapun Almira pergi. Dan bagi Almira mereka juga sudah ia anggap sebagai saudara.


"Al ko tumben agak siang,?" Bastian datang dan langsung menggandeng tangan Almira. Qinan sendiri memutar bola matanya jengah melihat Bastian yang terlalu perhatian dengan Almira.


"Kasih undangan buat anak panti, bunda gak sempat kasih jadi Al yang antar undangan nya."


Mereka berdua hanya berohria, dan melangkah menuju ruang kelas mereka. Kebetulan mereka satu kelas, jadi hubungan persahabatan mereka semakin erat.


"Al kalau udah lulus mau kuliah di mana,?"


"Tau, daddy sama bunda yang cari sekolah Al." Jawabnya. Almira memang tak terlalu memusingkan dengan sekolah. Jika David dan Zoya mengatakan ia akan sekolah di sini, Almira hanya mengangguk. Fokus nya hanya belajar dan belajar.


"Ishhh, udah besar juga daddy terus sama bunda. Sekali kali lah Al, cari kampus yang sesuai selera kita."


"Males,"


Qinan mendengus sementara Bastian hanya mendengarkan. Tak aneh dengan Almira, teman yang satu itu memang tak pernah mau mengetahui dunia luar.


"Bu Valen datang."


Bastian berseru saat melihat guru mereka datang ke kelas mereka.


Tak ada yang berani bersuara saat pelajaran berlangsung, apalagi ini adalah hari ujian terakhir sekolah.


Empat puluh lima menit, pelajaran berlangsung. Almira menghembuskan nafasnya lega. Semoga saja ia akan mendapatkan hasil yang lebih baik. Ia tersenyum saat membayangkan jika lulus kuliah nanti ia ingin menjadi pramugari.


Bundanya juga sudah tau dan dia menyetujuinya.


"Lega rasanya," Qinan menatap Almira tersenyum. Ia mengedipkan matanya pada sahabatnya. Almira sendiri tertawa lirih, tau apa yang Qinan maksud. Mereka berdua melirik ke arah Bastian. Ya Bastian lah pria paling lambat saat pelajaran berlangsung. Dia akan mengulang bab dan akan membaca berulang kali.


"Bas Bu Valen datang tuh.."


Bastian tak menggubris, ia tau mereka berdua hanya ingin mengacaukan konsentrasi nya. Lima menit kemudian Bastian mengumpulkan lembar kertas pada wanita yang duduk paling depan.


Ia menatap jengah pada kedua sahabatnya yang selalu saja merecoki saat ia masih menatap lembar kertas ujian.