
(Siapkan tisu, 😭 menuju episode terakhir. Salam dari otor receh anak udik🤭 jangan lupa mampir di karya otor yang lainnya ya 😘
Satu lagi Mak, kalau endingnya di buat sad setuju gak😁 jangan ngamuk Mak, serius nanya...)
PENGIN DI BULI
*
Brakkk... Srak...
Mobil yang di tumpangi David dan Zoya tertabrak. Tak hanya itu, mobil juga terseret beberapa meter dari tempat kejadian.
Brakkk... Prang....
Mobil menabrak pembatas jalan dan terbalik.
Arrkkk...
Teriakan nyaring orang di sekitar lokasi, menyaksikan bagaimana mobil tertabrak dan terseret lalu kemudian terbalik mengenaskan.
Sementara di dalam mobil, Zoya masih bisa melihat senyum terkembang di bibir sang suami untuk nya. Sebelum kesadarannya menghilang, bersama dengan rasa sakit yang luar biasa di perutnya yang membuncit.
Sementara supir David meninggal di tempat, akibat terjepit badan mobil. Ya Ujang, supir David lalai akibat rasa kantuk yang menyerangnya. Satu malam suntuk ia menonton bola dan pagi pagi sudah bekerja seperti biasa. Niat Ujang adalah tidur setelah magrib, mengganti tidurnya yang semalam. Tapi tuannya mencarinya, agar ia mengantarkan sang majikan ke pesta pernikahan sahabat nonanya. Alhasil malam naas bagi mereka bertiga.
*
Di rumah David, Sinta keluar dari dalam kamarnya. Ia berjalan keluar dan belum mendapati mobil David terparkir di bagasi.
Sinta berjalan menuju dapur, mengambil air minum yang habis di kamarnya.
Prang....
Sinta tak sengaja menjatuhkan gelas di tangan nya.
"Nyonya, biar saya saja,"
Sinta mengangguk dan berdiri. Ia mengusap dadanya yang terasa sakit. Entah ada apa, tiba tiba saja dadanya seperti sesak. Matanya melirik ke arah jarum jam, waktu sudah menunjukan jam sebelas malam. Sudah empat jam mereka pergi ke pesta pernikahan Bisma. Tapi mereka berdua belum juga kembali.
"Apa mereka terjebak macet,?"
Sinta bermonolog sendiri, tak lama kemudian terdengar suara Almira yang menangis, sangat nyaring. Hingga suara tangisannya terdengar sampai dapur. Sinta berjalan menuju kamar tidur cucunya, di samping kamar David dan Zoya.
"Ada apa Lala.?"
" Tidak tau nyonya, tiba tiba saja nona kecil menangis."
Lala menggendong tubuh kecil putri majikannya, dan menenangkannya. Tapi Almira semakin menangis memanggil nama sang bunda.
Perasaan Sinta semakin tak karuan, mendengar cucunya terus memanggil Zoya, tangan nya terulur hendak menggendong nya, tapi ia di kaget kan dengan kedatangan mbok Minah.
"Nyonya, tuan dan nona.." Bibir tuanya bergetar mengucapkannya, ia menatap wajah majikan yang selama ini bersedia menampungnya. Sinta berlalu pergi meninggalkan Almira yang masih menangis. Tangan nya mengangkat telpon rumah yang masih tersambung.
"Ya Hallo.."
Tangan Sinta bergetar menahan sesak yang menghimpit nya. Ia menjatuhkan telpon di tangan nya dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Anak dan menantunya kecelakaan mobil.
"Nyonya..."
Sinta berbalik dan memeluk tubuh Minah yang berada di belakang nya.
"Kita ke sana, Nya..." Sinta mengangguk mengiyakan ucapan pembantunya. Ia terlebih dahulu pergi ke kamar cucunya, menitipkan Almira pada pengasuh terlebih dahulu.
Lala meneteskan air matanya mendengar sang majikan mengatakan, jika nona dan tuannya kecelakaan mobil. Pantas saja Almira terbangun dan langsung menjerit ketakutan, memanggil nama ibu dan Daddy nya.
*
"Maafkan aku Arum, aku memang masih mencintai Zoya. Ku harap kau tak membenciku. Aku juga ingin mencintaimu, itu sebabnya aku menikahimu."
Arum mengangguk mengiyakan, ia memeluk tubuh Bisma erat. Ia yakin Bisma bisa mencintai nya, seperti ia mencintai Zoya.
Bisma mengangguk, tak lama kemudian mereka di kejutkan dengan suara pintu yang di ketuk kasar.
"Bisma..Bisma..."
Bisma mengerutkan keningnya mendengar suara nyaring di balik pintu. Ia berjalan membuka pintu dan mendapati ibunya berdiri di sambil menangis. Arum sendiri juga sama, ia terkejut melihat wajah pucat ibu mertuanya yang menangis.
"Zoya..."
"Ada apa dengan Zoya Bunda.?"
Arum melihat wajah gusar tergambar di wajah sang suami yang mendengar nama Zoya. Ia mencoba menekan rasa cemburunya pada Zoya, wanita yang dicintai suaminya. Jangan sampai kecemburuan nya yang tak berdasar membuat Bisma membencinya. Bukankah ia sudah tau jika Bisma mencintai Zoya. Apa lagi baru beberapa jam ia dan Bisma sah menjadi suami istri.
Tak lama kemudian lamunan Arum buyar, mendengar penuturan wanita yang menjadi ibu mertuanya ini.
"Zoya kecelakaan,"
*
Sinta berjalan dengan tergesa gesa. Tidak mungkin David meninggalkan nya sendiri. Sudah cukup suaminya yang brengsek itu meninggalkan nya.
"Dokter.. Bagaimana dengan putra saya.?"
Sinta langsung menanyakan bagaimana keadaan putranya saat melihat dokter keluar dari ruang operasi. Sementara sang dokter menghembuskan nafas nya perlahan, ia menatap wajah tua di depannya. Ya ia tau wanita ini adalah orang tua pria yang terbaring tak berdaya di dalam. Siapa yang tak mengenal David Aderson, semua orang mengetahui wajah pria yang terbaring di dalam, dengan berbagai alat menempel di tubuh nya.
"Tuan David kehilangan banyak darah. Terjadi benturan yang sangat keras di kepala dan tulang punggungnya. Saat ini beliau koma, kita berdoa saja nyonya."
Sinta tak bisa menyembunyikan tangisnya. Begitupun dengan pembantu yang datang bersamanya. Mbok Minah pun tak kalah terkejut, mendengar berita jika tuannya kehilangan banyak darah dan saat ini dalam keadaan koma.
"Lalu di mana istri tuan saya dokter.?"
Sinta menoleh, ia baru mengingat bagaimana keadaan Zoya dan di mana Zoya berada.
"Dia ada di ruang bersalin nyonya, di ruang sebelah."
"Apa maksud dokter?"
Tak menunggu jawaban dokter dari pertanyaan Minah, Sinta melangkah menuju ruang bersalin di mana Zoya berada. Dokter baru saja mengatakan jika Zoya akan melahirkan. Padahal prediksi dokter sebelum nya seminggu lagi. Apa yang akan terjadi pada cucu dan menantunya.
Kaki Sinta lemas, melihat dari kaca pintu, jika Zoya juga tak kalah menyedihkan seperti putranya. Ia bisa melihat tangan dan kepala Zoya di perban. Tak lama kemudian, dokter datang dan kaca tutup rapat. Setelah itu Sinta tak tau apa yang terjadi di dalam.
"Suster.."
Sinta menghentikan langkah suster yang baru saja keluar.
" Nyonya tolong jangan halangi saya, pasien pendarahan, butuh pertolongan secepat nya."
Sinta terduduk di lantai dingin, mendengar jika Zoya juga kritis. Mbok Minah memeluk tubuh sang majikan di depannya ini. Mereka berdua berpelukan dan menangis bersama di depan ruang bersalin.
"Nyonya harus kuat, kita harus berdoa untuk tuan dan nona,"
Setengah jam kemudian, tak jauh dari ruang operasi suster lainnya berlari ke ruangan, dimana David berada. Sinta melangkah ke depan lagi, saat mendengar suara suster yang memanggil nama dokter.
Dari celah kaca juga Sinta melihat dokter yang menekan dada David dengan alat pacu jantung, ( defribrilator).
"Sekali lagi, ku mohon berjuanglah tuan."
Jedug....
Tutttttt.......
Oek...Oek....
Pandangan mata Sinta menggelap, dan dia terkulai di depan ruangan David.
Dokter menatap iba pada kedua bayi mungil di depannya. Baru saja suster mengatakan jika tuan David menghembuskan nafas terakhirnya.
Sementara Zoya sendiri, meneteskan air matanya di alam bawah sadarnya. Ia mendengar, tapi ia tak bisa membuka mata dan berlari ke arah suami tercinta.