Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2. 10


David menatap Aaron yang duduk tenang di depannya. Tatapan penuh permusuhan keduanya terlihat di mata Reymond. Untung saja David menyuruh Zoya membawa pergi putrinya terlebih dahulu. Tak perduli dengan meeting yang akan berlanjut.


Sebenarnya Rey tau jika Aaron bukanlah pria yang akan mengambil milik orang lain. Tapi entah kenapa Aaron sangat menginginkan istri tuannya itu.


"Apa anda memang ingin bersaing dengan ku tuan Aaron.?"


David menatap datar, ia sama sekali tak merasa takut sedikitpun pada pria di depannya ini. Ia tau meski Aaron adalah pemimpin mafia, tapi ia tak akan membiarkan dia merebut Zoya istrinya.


"Aku hanya datang memastikan perjanjian semalam tuan."


"Tapi tidak datang diam diam bukan."


"Ya saya akui, hanya ingin memastikan, apakah Zoya masih bisa ku dapatkan atau tidak."


David mengeraskan rahangnya mendengar penuturan Aaron. sedangkan Aaron, balik menatap datar pada David.


"Kupikir aku akan pulang ke Venesia bersama Zoya." lanjutnya lagi.


Bug...


Rey berjengit kaget saat melihat David tiba-tiba saja memukul Aaron. Aaron sendiri mengusap bibirnya yang pecah. Ia balik menatap David dengan remeh dan mata yang menyalak tajam.


Click....


"Jika ada kesempatan, aku pasti akan membawa Zoya bersama dengan ku tuan."


David mengeraskan rahangnya kembali, saat mendengar penuturan Aaron. Ternyata pria itu memang mengujinya. Apalagi saat ini Aaron mengacungkan senjata api pada nya. Sementara Rey sendiri kalang kabut. Bagaimana jika Aaron menembak David kali ini.


"Kalaupun kau membunuh ku, kau tak akan bisa merebut Zoya dari ku. Dia akan setia padaku sampai kapanpun."


Aaron tak menjawab, memang benar apa yang di katakan David. Zoya adalah wanita yang setia dan wanita idaman. Tapi sayang nya ia tak bisa memiliki wanita cantik itu.


Aaron menurunkan tangannya dan menyembunyikan kembali senjata milik nya. Ia lalu berjalan pergi meninggalkan David dan Rey. Tak ada kata yang keluar dari bibir Aaron. Dia pergi begitu saja tanpa menoleh sedikitpun.


Brukkk...


"****.."


Almira menatap wajah pria yang menjulang tinggi di depannya ini. Matanya berkaca kaca mendengar pria ini mengumpat nya. Apalagi eskrim coklat kesukaannya jatuh.


"Kau,_"


Aaron menutup kembali bibirnya, melihat anak kecil yang mencebikkan bibirnya tadi. Itu terlihat sangat menggemaskan, bibir merah jambunya, hidungnya yang kecil mata bulatnya yang besar, seperti mainan anak anak, pikir nya. Tak lama ia menggelengkan kepalanya.


Bodoh... Rutuknya sendiri.


Bagaimana bisa ia terhipnotis dengan mata bulat nya yang besar. Dan lagi ia bilang seperti mainan anak anak, memang dia anak kecil, Aaron dan bukan mainan.


Dan Almira sendiri yang tak pernah mendengar seseorang mengumpati nya hampir saja menangis. Zoya dan David selalu berkata lembut padanya.


"Sayang, sudah jangan menangis, nanti beli lagi dengan Bunda."


Zoya datang dari belakang mengagetkan keduanya. Aaron sendiri masih menatap wajah bocah kecil yang menabraknya, dan dia adalah putri Zoya. Matanya kemudian melirik ke arah Zoya dan putrinya bergantian.


"Bunda Om mengumpat?" Zoya yang berdiri beralih menatap Aaron di depannya. Ia bisa melihat bibir Aaron yang sedikit mengeluarkan darah. Apa yang mereka lakukan di dalam. Apa mereka berdua bertengkar.


"Maafkan putri saya tuan."


Aaron tak bergeming, ia lalu berjalan kembali meninggalkan mereka berdua. Sementara Zoya menatap punggung lebar Aaron yang menjauh. Ia menghembuskan nafasnya perlahan. Ia tau apa yang sebenarnya Aaron inginkan darinya.


"Sayang, ada apa?"


Zoya menggeleng menatap suaminya. Mereka bertiga masuk ke dalam ruang pribadi milik David.


"Mas bagaimana dengan meeting nya?."


"Kita akan kesana sayang."


"Rey yang akan mengantarkan nya membeli buku." Almira mengangguk dan segera menarik tangan Rey.


"Ayo Om, Al mau beli buku." Rey mengangguk dan mengikuti langkah anak majikannya. Sementara di dalam Zoya masih menatap suaminya.


"Apa kalian bertengkar,?" David bereaksi, ia menatap Zoya penuh tanda tanya.


"Apa mas memukul Aaron,?"


"Ya..." David menjawab singkat. Dadanya bergemuruh saat melihat wajah simpati Zoya pada bajingan itu. Apa Zoya juga menginginkan Aaron membawanya. Melihat David yang menatapnya tajam, Zoya tersenyum. Ia berjalan mendekati suaminya dan duduk di samping.


"Jangan marah, nanti kau cepat tua."


"Zoya..." Zoya terkekeh kecil, ia lalu mengecup pipi David dan mengajaknya ke ruang meeting.


*


Rey membelokkan mobilnya di mall terbesar di kota A. Almira mengajak nya membeli buku di sini. Rey sendiri tak tau bocah yang duduk bersamanya ini ternyata sudah janjian dengan kedua temannya. Terlihat bocah laki laki dan perempuan yang menyambutnya.


Dari arah lain Aaron yang juga baru menurunkan kakinya dari dalam mobil menatap pada Almira yang berjalan memasuki gedung mall terbesar di kota ini. Ia mengumpat Rey yang ceroboh. Bagaimana dia bisa membawa anak Zoya ke mall. Bagaimana jika gadis itu menghilang di balik kerumunan banyak orang.


"Rey sialan.."


Ia lalu turun dan mengikuti langkah putri Zoya. Ia mengutuk Rey yang benar benar ceroboh. Entah kenapa ia tak tega melihat anak itu yang akan menangis jika terpisah dari temannya dan Rey.


Ya Aaron tak tega, saat ia mengumpat nya tadi, dan melihat mata besarnya berkaca-kaca.


Almira dan kedua temannya berbelok ke tempat penjual buku.


"Al, aku beli minuman Boba dulu ya, haus nih dari tadi nungguin kamu."


"Al belikan kak." Pemilik nama Bastian itu mengangguk dan berjalan pergi meninggalkan kedua temannya.


Rey sendiri mengawasi mereka berdua dari jauh. Tak lama kemudian ia berjalan di duduk di kursi yang tersedia. Ia membiarkan anak majikannya memilih buku yang akan dia beli.


"Al, takut jatuh ih," Temannya mengingatkan Almira yang naik di atas kursi. Dia tak menggubris ucapan temannya, ia sibuk memilih buku di rak atas.


"Ya udah, sakit Lo Al kalau jatuh,"


"Tau, ga bakalan, Al udah hati hati." Qinan hanya menggeleng, ia kemudian beralih mencari buku yang ia inginkan. Berbeda dengan Almira yang mencari buku pelajaran, ia mencari buku komik anak.


"Qi, Al udah dapat bukunya nih," Tak ada sahutan ia berbalik dan seketika ia menjerit saat sadar jika dia di atas kursi.


Akkk... Bruk....


"****...." Lagi lagi Almira menatap pria yang sudah dua kali mengumpat. Mata beningnya menatap pria dewasa di bawah tubuhnya. Sementara Aaron, ia mengumpat yang kaget saat Almira jatuh dari kursi yang lumayan tinggi untuk anak kecil. Niat hati ingin membantu tapi justru Almira jatuh dan menubruk tubuh nya.


Deg.....


Dada Aaron berdetak saat mata mereka tak sengaja bertemu. Mata bundar dan besar milik Almira, menatapnya intens. Mata yang ia bilang seperti mainan anak anak menatap nya. Tak lama kemudian Almira mengerutkan keningnya saat merasakan ada yang bergerak di kakinya.


"Om, apa yang bergerak di kaki Al."


Aaron melotot ia mendorong tubuh kecil Almira dan segera bangun. Almira sendiri yang di dorong tubuh nya mencebik.


"Nona," Rey datang dari arah belakang. Aaron sendiri menatap Rey yang entah dari mana. Begitupun dengan Rey, ia menatap Aaron yang tiba tiba saja ada bersama dengan nona kecilnya.


"Kita impas,"


Setelah mengatakan itu ia berjalan pergi meninggalkan Almira dan Rey. Ia mengutuk milik nya yang mengembang sempurna di balik persembunyiannya. Apa maksudnya dia akan memperlakukan nya. Bagaimana mungkin melihat mata anak kecil dia mengembang sempurna. Apa karna pandangan itu seperti milik Zoya.


"Brengsek...."


.


.