
Brukk....
Aaron menjatuhkan dirinya di samping tubuh polos istrinya. Tangan nya mengusap kening Almira yang berkeringat, dan mencium nya bertubi-tubi. Ia sangat mencintai Almira dengan seluruh hidupnya. Ia tak berharap Almira memberikan lagi hak nya padanya, ia berpikir istrinya pasti kapok saat pertama kali mereka melakukan nya. Tapi ternyata istrinya justru menginginkan nya lebih dulu.
Tak lama kemudian ia melepaskan penyatuan nya.
Sstt...
"Sakit sayang?"
Aaron bertanya saat mendengar desisan Almira. Ia terlalu khawatir jika Almira akan sakit kemudian pingsan seperti sebelumnya. Lagi pula milik istrinya mungkin belum sembuh.
"Masih perih Om."
Bisiknya lagi pada Aaron, tak lama kemudian ia memeluk tubuh tinggi dan besar milik suaminya. Aaron sendiri membalas pelukan Almira, memeluk tubuh kecil istrinya dan mencium kepala bertubi-tubi.
Ia sadar, sebagai pria dewasa yang menginginkan **** yang lebih, ia tak boleh egois. Almira masih terlalu kecil dan ia tak akan menyakiti Almira karna rasa bercinta yang belum puas. Apalagi setelah merasakan milik istrinya yang membuatnya candu dan ingin selalu memasukinya.
Meski ia menginginkan lagi dan lagi, tapi ia bisa menahan hasrat birahinya untuk istrinya. Ia bisa memendam hasrat nya dari pada melihat istrinya tersakiti. Ia terlalu mencintai istrinya, dan sampai kapanpun ia tak akan pernah membuat Almira tersakiti karna nya. Apalagi milik nya yang terlalu besar untuk Almira yang kecil dan sempit.
Cup....
Aaron terkekeh saat menyadari jika mereka berdua bercinta lagi untuk yang kedua kalinya di siang hari.
"Om apa baby nya nanti akan tumbuh.?"
Aaron menatap wajah cantik Almira dalam, ia lupa dari mana istrinya tau jika dia menginginkan bayi. Apa Almira tau jika ia akan hamil dan tubuhnya.
Wajah Aaron pucat pasi saat mengingat bagaimana dengan Almira nanti.
Tidak, ia tak akan ke hilangan Almira.
Aaron bangkit dan mengambil pakaian milik nya yang berserakan di lantai dan memakainya.
"Sayang, tunggu di sini ya, Om pergi sebentar."
Cup...
Almira mengerutkan keningnya saat mendapati suaminya pergi terburu-buru. Bahkan Aaron tak mendengar jawaban darinya.
Sementara Aaron sendiri mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi menuju apotik terdekat.
Ia memarkirkan mobilnya ke sembarang arah, saat sampai di depan apotik.
"Selamat siang tuan, ada yang bisa saya bantu."
Seorang wanita cantik menyapa Aaron, ia bahkan tak berkedip menatap wajah tampan Aaron di depannya.
"Berikan obat pencegah kehamilan untuk ku."
Jawab Aaron, sementara wanita di depannya ini masih tak mendengar. Ia justru terpana dengan ketampanan pria di depannya.
"Apa kau tak mendengar ucapan ku nona, berikan obat untuk ku brengsek."
Wanita itu terkesiap mendengar bentakan Aaron padanya.
"Obat apa tuan,?" Tanya nya gugup dan ketakutan. Aaron sendiri mengeratkan giginya emosi mendengar pertanyaan dari wanita di depannya ini.
", Obat pencegah kehamilan." Jawab nya tanpa mengalihkan tatapan mata tajamnya pada wanita cantik di depannya ini. Hingga membuat tubuh wanita itu semakin bergetar ketakutan.
"Ini tuan."
Aaron menyambar botol kecil di tangan nya wanita itu dan meninggalkan begitu saja. Sedangkan wanita itu berteriak keras memanggil Aaron jika uang kembaliannya belum di berikan.
*
"Maafkan Om, kamu belum siap sayang,"
Sampai di kamar nya Aaron melihat Almira yang sudah memakai pakaian dan sudah segar tentunya.
"Om dari mana?"
Almira bertanya saat melihat suaminya yang baru masuk ke dalam kamar nya, ia menatap suaminya dengan mata bundar nya. Tak lama ia mengerutkan kening nya saat mendapati suaminya membawa satu botol kecil di tangan nya.
"Apa itu Om.?"
Aaron gelagapan mendengar pertanyaan dari istrinya. Ia bingung harus menjawab apa padanya.
" Ini vitamin sayang, ayo Al minum dulu."
Jawabnya gugup. Dan Almira menatap wajah Aaron yang tak mau melihat nya. Sepertinya ia pernah melihat botol kecil di tangan suaminya. Tak lama ia menggelengkan kepalanya saat mengingat sesuatu.
"Ayo sayang, minum dulu vitaminnya."
"Om yakin ini vitamin untuk Al,?"
Deg....
Dada Aaron berdebar kencang mendengar pertanyaan Almira. Ia menatap wajah Almira yang menyorot pada nya. Bibirnya kelu dan ia tak tau harus bilang apa. Ia terlalu takut mempunyai anak saat ini. Ia akan menunggu Almira dewasa dan siap menjadi ibu. Setidaknya jangan sekarang, ia tak tega melihat Almira yang kesakitan saat malam pertama mereka, apalagi jika ia melahirkan.
"Sayang, ini...."
"Om jahat..."
Teriak Almira menggema di seluruh kamar nya. Tak lama ia menangis melihat Aaron dengan tatapan benci. Sedangkan Aaron sendiri shock mendengar jeritan istrinya.
"Bukan sayang, bukan seperti itu, ini."
Aaron tergagap melihat kemarahan istrinya. Apalagi Ia tak pernah melihat Almira yang marah dan berteriak keras padanya.
"Al tau itu apa Om, Om jahat, Om gak mau kan punya anak dari Al."
Nafas Almira memburu, ia tak menyangka jika suaminya tak menginginkan anak dari nya.
Aaron menggelengkan kepalanya mendengar penuturan Almira. Ia mendekat pada Almira tapi Almira mundur dan tak mau di sentuh oleh nya.
Sakit sekali melihat mata Almira menatapnya tajam dan benci padanya.
" Al kamu belum siap sayang, nanti kalau Al sudah dewasa kita punya Baby nya ya."
Almira terkekeh kecil mendengar penuturan Aaron padanya. Dan Aaron sendiri menatap nanar pada Almira.
"kalau Om tau Al masih kecil dan belum siap menjadi seorang ibu, lalu kenapa Om menikahi Almira. Al tau itu apa Om, jangan membohongi Almira seperti ini, Al benci dengan Om."
Aaron mengusap air matanya yang keluar, ia tak bisa melihat Almira membencinya. Ia tak bisa melihat kebencian Almira padanya.
"Bukan seperti itu Al,"
"Lalu seperti apa Om, apa seperti wanita yang datang kemari. Al sudah sejauh ini menerima Om, tapi kenapa Om seperti ini pada Al."
Almira menangis segukan, tak lama ia keluar dari kamar nya.
Dan Aaron terkesiap mendengar jika Almira mengira ia memperlakukannya seperti itu. Dan ia lebih shock lagi saat melihat Almira yang berlari secepat kilat. Ia mengejar Almira, istrinya salah paham dengan nya.
"Al bukan seperti itu sayang."
Almira tak menggubris teriakan Aaron padanya. Ia berlari dengan kaki kecilnya berbelok ke ruang kerja Aaron dan menguncinya.
"Al sayang buka pintunya, bukan seperti itu maksud Om sayang, ayo buka pintu nya sayang."
.