
Zoya masih di sibukkan dengan putrinya yang rewel. Sepertinya Almira sakit, mungkin ia belum terbiasa dengan perjalanan jauh. Dan sekarang balita ini demam.
"Zoy, bawa ke rumah sakit saja sayang.."
"Iya bunda, tunggu mas David pulang."
"Ayo gak usah nunggu suamimu pulang, sama bunda saja dulu."
Zoya mengangguk mengiyakan. Mereka bertiga pergi ke rumah sakit terdekat. Sinta tak mau jika anak sambung David kenapa napa. Ia sendiri trauma saat David kecil dulu, dia pernah demam tinggi dan akhirnya ia kejang. Ia tak mau menunda nunda untuk berobat sekarang.
Sampai di rumah sakit, Zoya tak sengaja melihat Reza. Tapi bunda mengagetkannya, agar ia segera membawa Almira ke dalam. Akhirnya ia tak menyapa pria yang sudah ia anggap sebagai kakak. Mungkin lain kali ia akan bertemu dengan nya. Bukankah dia teman suaminya.
Sementara di lobi rumah sakit Reza bertemu dengan Kartika. Ia langsung menghentikan langkah nya. Dan mencekal tangan wanita yang di cintai nya.
"Tika,"
Kartika menoleh dan menyentak tangan yang di pegang Reza.
"Za, lepaskan! Kita sudah tak punya hubungan apa apa lagi."
"Aku baru saja menjenguk ayahmu!"
Reza menatap wajah Kartika. Sudah hampir empat tahun mereka menjalin kasih. Dan tak lama Kartika memutuskan dirinya begitu saja. Hanya karna David, pria yang baru di kenalnya.
"kenapa kau harus memaksakan kehendak mu Tika. David sudah menikah.."
Tanpa perduli jika Kartika marah, Reza masih berharap Kartika membatalkan keinginan nya.
Sedangkan Kartika memalingkan wajahnya. Ia benci jika Reza mengasihani nya,. apalagi mengejeknya.
"Itu bukan urusan mu."
Kartika berlalu pergi dari hadapan Reza. Tapi lagi lagi Reza menghentikan langkahnya.
"Ayah mu sakit karna memikirkan kamu yang terlalu mengharap David. David tak akan bisa kau miliki."
Kartika berbalik dan menatap wajah Reza benci.
"Aku yakin, David tak akan mempermalukan aku dan ibunya tentunya."
Setelah mengatakan itu Kartika berbalik, melanjutkan langkahnya. Di mana ayahnya di rawat. Ayah nya sudah di rawat seminggu yang lalu di sini. Gara gara memikirkan bagaimana jika ia yang akan gagal bertunangan dengan David. Tentu saja ia malu sebagai orang tua. Sedangkan dirinya akan di cap sebagai perawan tua. Ya umur Kartika sudah lumayan tua. Dua puluh sembilan tahun.
Reza menatap tak percaya kepergian Kartika. Ia mengepalkan tangannya melihat Kartika masih saja mengharapkan David.
"Kenapa harus David dan David. Kau memang sangat beruntung Dav. Dari dulu hanya kau yang mereka inginkan."
Clek...
"Dari mana saja Tika, Daddy mu sakit dan kau baru datang.??"
Ibunya langsung memberondong dengan pertanyaan. Dari semalam putrinya tak kemari.
"Aku habis menemui David, aku ingin kejelasan dari nya mom."
Kartika menggeret kursi dan mendudukkan tubuhnya di sana.
"Lalu bagaimana tanggapan nya. Apa kau juga ke rumah nya, dan bertemu Sinta."
Kartika menggelengkan kepalanya, ia memang belum ke rumah David dan bertemu dengan ibu David. Biar bagaimanapun mereka tak bisa seperti ini terhadapnya.
"Besok aku akan ke sana mom,"
Mommynya hanya mengangguk mengiyakan. Mereka sangat kaget sekaligus shock mendengar jika David menikah. Mereka sendiri tak tau wanita seperti apa yang David nikahi.
"Untuk apa kau ke sana Tika?"
Kartika menoleh ia pikir ayahnya nya tidur. Ternyata dia mendengar pembicaraan ia dan ibunya.
"Tika gak bisa di permalukan seperti ini Dad. Bagaimana dengan teman teman Tika, mereka akan mengejek Tika. Sudah tiga tahun yang mereka tau, jika aku dan David punya hubungan spesial. Lalu bagaimana jika mereka dengar tiba tiba saja kami tak jadi bertunangan dan menikah."
Kartika menatap wajah ayah nya nanar. Ia sungguh akan sangat malu nantinya.
Ditia menutup kembali mulutnya yang akan berbicara. Sedangkan Kartika mengusap pipinya, kemudian berdiri berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Assalamualaikum..."
Wajah yang tadinya sedih berganti dengan senyum lebar. Kartika tak menyangka ibunda David datang menjenguk Daddy nya.
"Waalaikumsalam salam, tante ayo masuk."
Sinta mengangguk mengiyakan dan masuk bersama Kartika. Ia tadi tak sengaja melihat Kartika dari luar dan ia mengikuti nya. Ternyata temannya sedang di rawat di rumah sakit ini juga.
"Mbak Sinta, apa kabar..?"
"Baik.."
"Ayo sini,"
Sinta mengangguk dan duduk di samping Kartika.
"Dari mana kau tau Sin, kalau aku sakit. Terima kasih kau sudah datang kemari menjengukku."
Ditia menyambut baik sahabat nya. Sementara Sinta tersenyum tipis, ia sungguh tak enak dengan mereka semua. Ia sungguh tak ingin mereka berharap banyak, apalagi Kartika.
"Aku tak sengaja melihat Kartika. Jadi aku mengikutinya, rupanya kau sakit Ditia."
Mereka menjawab oh dan mengangguk. Begitu juga dengan Kartika, dia menawarkan calon mertuanya minum. Tak lama ia hendak beranjak berdiri, tapi Sinta mencegahnya.
"Tidak usah Tika," Kartika menurut dan kembali duduk.
"Mbak melihat Tika disini tadi, emang nya mbak dari mana?"
"Kebetulan cucu ku sakit, dia di rawat di ruang tak jauh dari sini."
Mereka semua mengerutkan keningnya mendengar penuturan wanita paruh baya tersebut.
"Anak David sakit, Aku baru saja membawanya kemari."
Seketika senyum Kartika menghilang dari bibir merahnya. Apalagi orang tua Kartika, mereka tak menanggapi nya sama sekali.
"Tante, David menikah dengan janda?"
Sinta tersenyum dan mengangguk, ia tak marah ataupun kecewa saat Kartika bertanya, jika putranya menikah dengan janda.
"Sebulan lebih yang lalu, mereka menikah."
David menikah dengan janda punya anak. Kartika hendak bertanya lagi, tapi ibu David lebih dulu berbicara, yang membuat dadanya sakit.
"Maaf sepertinya pertunangan kalian harus batal, David sudah menikah. Dan aku minta maaf yang sebesar besarnya."
Ditia yang mendengarnya mengepalkan tangannya. Matanya memerah di permalukan seperti ini.
"Bagaimana dengan undangan yang sudah tersebar."
Sinta shock mendengar bahwa Ditia sudah menyebarkan undangan. Ya memang pertunangan mereka akan di gelar dua minggu lagi.
"Maafkan kami Ditia, aku tak bisa memisahkan David dan Zoya. Mereka berdua saling mencintai. Aku akan mengklarifikasi tentang pembatalan pertunangan nya."
"Tante, tak bisa kah David menceraikan wanita itu. Aku sudah lama menunggu nya tante. Tante sendiri yang memberikanku harapan pada David. Jika David membatalkan pertunangan kami. Apa yang akan saya lakukan. Pasti semua orang dan teman saya akan mengejek saya tante."
Kartika menyela ucapan ibu David. Bagaimana dia yang dulu memberinya harapan padanya. Jika David akan menikahi nya.
Sinta menghembuskan nafasnya perlahan. Ini adalah salahnya, bukan salah David.
"Tapi maaf, tante tak bisa berbuat banyak. David memang sudah menikah, dan tante tak bertanya dulu saat menyetujui pertunangan kalian. Sekali lagi tante minta maaf. Jika kau merasa di rugikan, tante akan mengadakan konferensi pers di media."
Kartika menatap tak percaya, sebenarnya seperti apa istri David saat ini. Sehingga David dan ibunya mempertahankan wanita janda itu.
.
.