Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2. 43


"Al..."


Aaron menatap punggung kecil yang tertutup jilbab menjauh dari nya.


Ia menggelengkan kepalanya melihat Almira yang terisak sambil berjalan. Ia tak bisa seperti ini, Almira tak boleh pergi meninggalkan nya.


Almira sendiri meneteskan air mata nya, apa ini yang di katakan bundanya jika jodoh sudah di takdirkan tuhan. Dengan siapa ia menikah tak ada yang tau. Tapi kenapa ia merasa bahwa Aaron sengaja menjebaknya. Mendatangi nya di sekolahnya, mencium dirinya di depan teman temannya. Dan membawanya ke hotel tempat nya menginap, hingga dirinya di nikahi tanpa sepengetahuan ia dan keluarganya.


"Al..."


Aaron mengencangkan pelukannya pada Almira, ia tak ingin Almira marah pada nya dan meninggalkan nya begitu saja.


Mendapat pelukan dari suaminya, Almira semakin terisak. Aaron membalikkan tubuh Almira dan memeluknya.


"Om Al mau pulang.."


Aaron menggelengkan kepalanya, ia tak akan membawa Almira pulang ke rumah David. David pasti akan menyuruhnya untuk menceraikan istrinya. Tidak, ia tak akan pernah membiarkan nya terjadi.


Aaron membopong tubuh kecil Almira kembali lagi ke dalam kamar milik nya. Sedangkan Almira sendiri menyembunyikan Isak tangis nya di dada bidang Aaron. Ia kecewa jika Aaron tak jujur padanya sejak awal.


"Om jahat..."


Aaron mengangguk mengiyakan ucapan istrinya. Ia mengecup kepala yang terbalut hijab itu. Membawanya ke ranjang kamar hotel, dan membaringkan nya perlahan.


Aaron sendiri juga membaringkan tubuhnya di samping Almira. Tak melepaskan pelukannya pada istrinya yang memeluknya erat.


Dadanya bergemuruh mendengar suara Isak tangis Almira. Ia tak menyangka kebejatan dirinya menyakiti wanita yang sangat di cintai nya ini. Padahal ia melakukan nya juga sebelum ia mengenal Almira, mungkin saja ia pertama kali mengenal wanita saat Almira baru lahir. Entah sudah berapa banyak wanita yang tidur dengan nya, ia sendiri tak mengingat sama sekali.


Tangan nya tak berhenti mengusap kepala istrinya yang masih tertutup jilbab.


"Al, jangan tinggalkan Om, maafkan Om jika Om bukan pria yang baik. Tapi Om janji, tak akan melakukan nya lagi. Hanya Al yang berhak sama Om."


Almira masih terisak, tangan Aaron mengangkat wajah Almira. Ia mengusap wajah istrinya yang basah. Matanya berkaca-kaca, saat mata cantik Almira terlihat sembab.


Cup.. Cup...


Aaron mengecup mata dan seluruh wajah Almira. Ia tak menyangka jika keegoisan dirinya menyakiti Almira.


"Om jahat sama Al.."


Aaron mengangguk lagi ia tak bisa mengontrol dirinya saat dekat dengan wajah Almira. Ia mencium lagi bibir Almira berulang kali dan terakhir menyesapnya sebentar.


Meluknya kembali, menyembunyikan wajah Almira di dada bidang nya. Almira sendiri yang masih terisak diam saja. Hingga setengah jam kemudian Aaron mendengar dengkuran halus dan Isak tangis Almira.


"Maafkan Om.."


*


Aaron membawa Almira dalam gendongan nya memasuki rumah David. Asraf dan Arhas sendiri membuka mulutnya hendak bertanya kenapa dengan kakak nya. Tapi Aaron lebih dulu menyuruh nya diam.


David menatap datar Aaron yang baru pulang ke rumah. Pembantu nya tadi mangatakan jika Aaron sudah sejak pagi pergi keluar rumah bersama Almira.


Dan Aaron melangkah menaiki anak tangga menuju kamar Almira berada. Sama sekali tak menyapa David yang berpapasan dengan nya di anak tangga.


Cup...


Ia membaringkan tubuhnya di samping Almira. Tak perduli ada di mana dan sungkan pada mertua. Ia tak ingin Almira bangun nanti tak ada dirinya di sampingnya.


*


Queen berjalan masuk ke dalam rumah Omanya. Dirga dan Cristi menatap wajah putrinya yang seperti nya baru menangis.


Queen menatap kedua orang tua nya, tak lama kemudian ia menggelengkan kepalanya.


"Queen akan di sini,. Queen akan bicara pada Aaron. Aku yakin Aaron hanya penasaran dengan nya, dia akan kembali padaku nanti Dad."


Dirga dan Cristi menatap nanar pada putrinya yang berjalan menaiki tangga. Mereka berdua tau jika Aaron memang pria yang suka Gonta ganti wanita. Tapi mereka tak menyangka jika putrinya salah satu dari koleksi Aaron.


Queen membaringkan tubuhnya di atas ranjang nya. Ia menatap nanar foto Aaron di dalam ponsel miliknya.


"Aku akan menunggu mu, aku tau kau hanya penasaran padanya. Kau hanya milikku, bukan gadis belia itu."


*


Almira mengerjapkan matanya saat perut nya berbunyi. Ia menatap di sekeliling nya, ternyata mereka sudah berada di kamar nya. Kapan suaminya membawanya pulang, mendongak menatap wajah suaminya yang memeluknya erat. Menyingkirkan perlahan tangan besarnya. Tapi Aaron sama sekali tak membiarkan Almira beranjak sedikit pun dari nya. Ia justru mengencangkan pelukannya pada Almira.


"Om,...."


Aaron mengerjapkan mata nya mendengar Almira memanggil nya.


"Ya sayang..."


"Al mau bangun.."


"Sebentar lagi Al..."


Aaron menyembunyikan wajahnya di leher Almira yang tertutup jilbab. Ia belum tahu bagaimana cantik nya istrinya saat tak memakai jilbab. Ia tak ingin memaksa Almira membukanya untuk nya. Biarkan saja Almira sendiri yang menginginkan nya.


Tak lama kemudian ia melepaskan pelukannya pada Almira. Kemarin ia membeli boneka dan ia belum memberikannya pada Almira.


Aaron bangkit dari ranjang nya dan Almira menatap suaminya yang melangkah ke arah lemari. Ia tau apa yang Aaron cari, ia sudah melihatnya kemarin saat mengambil baju.


Aaron tersenyum lebar saat mengambil boneka berwarna pink yang ia beli kemarin malam. Mengeluarkannya dan membawa pada Almira dengan senyum lebarnya.


"Om beli boneka baru.."


Aaron mengangguk mengiyakan, tak lama kemudian ia memberikan nya pada Almira.


"Lucukan,"


Almira menatap wajah Aaron, ia tak menyangka akan menikah dengan pria dewasa seperti nya. Di tambah lagi jika pria itu suka tidur bersama banyak wanita.


Aaron menatap wajah Almira yang menatapnya, bibir nya kelu di tatap dengan mata bundar Almira. Mungkin kah istrinya akan meminta cerai darinya, karna tau kebrengsekan nya. Apalagi Almira sama sekali tak merespon bagaimana dengan boneka yang berada di tangan nya.


"Al..."


"Ayo kita pulang Om.."


Aaron menatap wajah Almira intens, ia tak tau apa maksud ucapannya. Pulang, bukankah mereka ada di rumah David.


"Apa Om datang kemari karna pekerjaan Om atau karna ingin menikahi Al.?"


Aaron masih tak menjawab ucapan Almira, ia tak tau apa yang ada di pikiran istrinya.


Sedangkan Almira, ia akan menerima takdirnya. Apapun masa lalu Aaron dia suaminya, menerimanya dengan sepenuh hati. Lagi pula, ia tak ingin menekan suaminya dengan tinggal di rumah David. Dia bukan pria pengangguran, yang akan berdiam diri, ia tau itu.


"Ayo bawa Al pulang ke rumah Om, Al siap menjadi istri Om jika Om mencintai Al."


.


.