
"Siapa yang datang, Pa? kenapa Papa memintaku untuk tidak turun?" tanya Ayunda setelah Papanya mengabari kalau tamunya sudah pulang.
"Michelle dan Bimo," sahut Adrian papanya Ayunda santai.
"Lho, kenapa mereka papa suruh pulang?" Ayunda mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Karena papa hanya ingin memenuhi keinginanmu," sahut Adrian lagi, yang membuat Ayunda semakin bingung.
"Maksud Papa apa sih? aku benar-benar bingung Pa. Tadi Papa juga memintaku untuk tidak jadi terbang. Bisa papa jelaskan sekarang?"
Ya, tadi pagi Ayunda memang sudah berangkat ke bandara dan sudah check in menuju Amerika serikat,tapi setelah selesau Check in, sang papa memintanya untuk keluar lagi dari bandara dan memintanya untum batal terbang.
"Kamu duduk dulu, biar papa jelaskan!"
Dengan raut wajah yang masih bingung, Ayunda mendaratkan tubuhnya duduk di atad sofa persis di depan Adrian papanya.
"Aku sudah duduk, Pa. Kenapa Papa belum mulai juga?" nada bicara Ayu terdengar semakin menuntut.
"Kamu sabar dulu! Papa juga perlu narik napas dulu kan?"Adrian dengan sengaja menunda untuk melihat wajah kesal sang putri. Karena pria itu memang sangat menyukai wajah kesal putri sulungnya itu. Baginya wajah Ayunda akan terlihat semakin menggemaskan kalau sedang kesal.
"Buruan, Pa!" desak Ayu dengan bibir yang mengerucut,membuat Adrian terkekeh.
"Baiklah, akan papa jelaskan! Papa kira kamu akan mengerti ternyata tidak sama sekali. Kenapa Papa memintamu untuk tidak jadi terbang, itu tujuannya untuk mengelabui mereka dan alasan papa tadi melarang kamu turun menemui Michelle dan Bimo tujuannya, untuk membuat keinginanmu yang tidak ingin ada yang tahu kemana kamu pergi semakin sempurna, Ayu."
"Pa, tolong jangan mutar-mutar! Aku semakin bingung, Pa!" protes Ayunda tidak sabar.
Adrian mengembuskan napasnya, merasa kesal dengan putrinya yang masih belum mengerti tentang rencananya.
" Ayu, coba deh kamu pikirkan dengan baik maksud rencana papa itu. Begini, biar papa jelaskan dengan detail. Kamu tahu sendiri kan kalau mereka itu bukan orang bodoh, jadi Papa yakin kalau mereka akan memeriksa daftar manifest pesawat atas namamu setelah papa kasih tahu kalau kamu sudah berangkat ke luar negeri. Kamu tahu kan artinya kalau mereka sampai memeriksa nama-nama daftar penumpang? Itu berarti mereka akan dengan mudah tahu di mana keberadaamu, dan bisa jadi mereka akan menyusulmu ke sana. Nah__"
"Tunggu, Pa biar aku tebak!" Ayunda dengan cepat memotong ucapan papanya.
"Jadi, maksud Papa, mereka akan mengira aku pergi ke Amerika, dan mereka akan menyusulku ke sana. Tapi ternyata aku tidak ada di sana karena aku tidak jadi berangkat. Begitukan maksud Papa?"
"Akhirnya kamu mengerti juga, Nak!" Adrian mengembuskan napas lega. "Jadi untuk sementara ini, kamu jangan kemana-mana dulu, sampai kita tahu apakah Bima, Bimo Tristan dan Michelle akan ke Amerika atau tidak. Kalau mereka ke sana, itu berarti kamu pergi ke negara yang berbeda dengan mereka. Terserah kamu,mau tetap di sini atau tetap kuliah di luar negeri itu semua ada di tanganmu. Tapi, saran Papa kalau mereka menyusulmu ke Amerika, kamu lebih baik ke London atau kalau kamu tidak mau terlalu jauh,kamu bisa kuliah di negara tetangga kita ini, Singapura," ucap Adrian panjang lebar tanpa jeda.
"Emm,jadi berarti selama kita tidak tahu, apakah mereka akan menyusulku ke Amerika atau tidak, aku harus stay di rumah saja, tidak boleh kemana-mana, gitu Pa?" ulang Ayunda memastikan.
"Iya," singkat padat dan jelas.
"Ke mall, ke supermarket atau hanya jalan-jalan di taman sekitar sini juga tidak bisa ya, Pa?"
"Jadi, aku harus ngapain aja di rumah? Pasti aku akan merasa bosan, Pa!" protes Ayu, dengan bibir yang mengerucut.
"Tapi,itu harus kamu lakukan demi tercapainya tujuanmu yang ingin bisa lepas dari Bima. Kalau kamu tetap keluar jalan-jalan, tidak tertutup kemungkinan kamu bisa bertemu dengan mereka, bahkan kamu bisa juga bertemu dengan Tante Clara. Jadi, saran papa untuk meminimalisir itu kejadian, kamu ikuti saja saran Papa dengan tetap stay di rumah. Kamu paham kan?"
Dengan lemas, Ayunda akhirnya menganggukan kepalanya. Belum apa-apa bau-bau kesehariannya yang pastinya akan membosankan sudah mulai terasa.
"Jangan cemberut seperti itu! Ini kan kemauanmu sendiri. Jadi, kamu harus siap dengan konsekuensinya. Salah satunya ya, keseharian kamu yang pasti membosankan tanpa Michelle, belum lagi konsekuensi lainnya. Anggap saja ini latihan buat kamu, untuk bisa hidup tanpa adanya sahabatmu itu. Papa pergi dulu!" pungkas Adrian sembari berlalu pergi.
Ya, Ayunda memang berniat untuk tidak berhubungan lagi dengan siapapun yang mempunyai hubungan dekat dengan Bima, termrmasuk Michelle, walaupun gadis itu adalah sahabat dekatnya.
Ayunda melakukan hal itu bukan karena benci pada sahabatnya itu, tapi gadis itu hanya tidak ingin, kalau masih berhubungan dengan Michelle, dia tidak tahan untuk tidak bertanya tentang Bima. Kalau sudah seperti itu, bisa-bisa dia akan kesulitan untuk melupakan laki-laki itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Dari mana kamu, Bima?" tegur Clara, ketika dirinya berpapasan dengan putranya itu.
"A-aku tidak ke mana-mana, Ma. Aku hanya ke supermarket sebentar ingin membeli minuman dan cemilan," sahut Bima dengan gugup sembari memalingkan tatapannya ke arah lain.
Mata Clara sontak memicing menatap ekspresi wajah Bima dengan tatapan tidak percaya.
"Kamu bohong ya ke Mama? Kalau iya, mana minuman dan cemilan yang kamu maksud? Kenapa tidak ada satupun yang kamu tenteng?"
Tenggorokan Bima seketika seperti tercekat, bahkan untuk menelan air liurnya saja, pemuda itu kesulitan.
"Kenapa kamu diam, Bima? Kamu bohongkan ke Mama?" Clara terlihat semakin curiga.
"Emm, ng-nggak kok, Ma. Aku memang beli minuman dan cemilan tadi. Tapi, sudah habis aku makan dan minum, makanya tidak ada yang aku bawa," Bima masih berusaha untuk meyakinkan mamanya itu.
Clara kemudian tersenyum simpul, semakin yakin kalau putranya itu sedang berbohong.
"Bima, kamu memang pintar, tapi kalau urusan berbohong kamu itu bukan ahlinya. Kamu buruk dalam hal itu Nak. Kamu lupa, kalau di rumah ini stok minuman dan makanan ringan itu masih banyak? Kamu sendiri kan teman mama belanja itu semua dua hari yang lalu? Dan kamu sudah membeli banyak minuman dan makanan ringan yang kamu suka. Sekarang, kamu jujur sama Mama. Kamu pergi menyusul Bimo dan Michelle ke rumah Ayu, kan?" tukas Clara dengan sangat yakin.
Bima bergeming,memutuskan untuk tidak menjawab.
"Emm, terserah Mama mau percaya atau tidak. Aku mau masuk kamar dulu ya,Ma. Aku capek, mau istirahat" pungkas Bima sembari berlalu pergi.
Tbc