
Bima terlihat sibuk berusaha ingin memperbaiki telepon, tapi karena tidak memiliki peralatan, seberapa keras dia berusaha tetap tidak bisa juga.
Pria itu kini hanya bisa pasrah dan menyenderkan tubuhnya di kasur. Sementara Ayunda dari atas ranjang sibuk memperhatikan Bima sembari menggigit-gigit bibirnya sendiri.Wanita itu bingung, apa yang terjadi pada mereka sekarang termasuk berkah atau musibah? yang jelas wanita itu kini merasa jantungnya sudah berdetak tidak karuan. Ini pertama kalinya dia bisa sedekat ini dengan pria yang terlihat frustasi itu.
"Kamu tidurlah lebih dulu, tidak usah menatapku terus!" celetuk Bima, membuat Ayunda tersentak kaget. Dia tidak menyangka kalau pria itu tenyata mengetahui kalau ia memperhatikan pria itu.
"Ta-tapi ___"
"Kamu jangan khawtir! Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendiri di sini. Kalau aku nanti sudah menemukan solusi agar kita bisa keluar dari sini, aku akan membangunkanmu," belum selesai Ayu bicara,Bima sudah menyela lebih dulu.
Mendengar ucapan Bima, Ayunda mulai merebahkan tubuhnya, lalu menarik selimut, menutupi sampai ke dadanya. Namun, wanita itu benar-benar tidak bisa tidur. Ekor matanya kembali bergerak melirik ke arah Bima.
"Kenapa kamu belum menutup matamu? Kalau kamu takut aku akan berbuat macam-macam, singkirkan pemikiran kotormu itu! Aku sama sekali tidak berminat!"
Ayunda mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Bima.
"Tanpa kamu katakan, aku juga sudah tahu kalau kamu tidak berminat! Jadi tidak usah diucapkan lagi, karena aku sudah tahu dari dulu. Cuma aku penasaran, dari mana kamu tahu kalau aku diculik dan dibawa ke sini? Okelah kalau masalah diculik kamu bisa tahu dari Michelle karena dia melihatku waktu diculik, tapi kalau masalah kemana aku dibawa penculik kamu kenapa bisa tahu?"
"Karena aku bukan orang bodoh! Banyak cara untuk mengetahui kamu dibawa kemana." sahut Bima, tanpa menoleh ke arah Ayunda.
"Tapi kenapa kamu mau menolongku? Kamu kan tidak me__"
"Kamu bisa diam tidak? Jangan cerewet lagi. Tidurlah!" dengan cepat Bima memotong ucapan Ayunda sebelum wanita itu semakin banyak bicara.
Ayunda sontak terdiam dengan bibir yang semakin maju ke depan. Wanita itu benar-benar belum puas karena belum mendapatkan jawaban dari pria dingin yang duduk di lantai itu.
Keheningan terjeda cukup lama di antara dua insan itu.Mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing. Mata Ayunda menerawang menatap langit-langit kamar tapi tetap sesekali melirik ke arah Bima.
"Em, Bim kamu sudah tidur?" Ayunda kembali mencoba untuk bersuara.
"Ada apa lagi? Bicaralah!" lagi-lagi Bima menyahut tanpa menoleh ke arah Ayu.
"Em,aku haus!" desis Ayunda lirih.
Bima bergeming untuk beberapa detik. Kemudian dia bangun berdiri melangkah ke pintu dan mencoba menggedor-gedor pintu dari dalam.
"Hei, siapapun yang ada di luar! Tolong kami terkunci di sini!" teriak Bima. Pria itu kemudian menempelkan telinganya ke pintu, untuk memastikan apakah ada yang merespon teriakannya atau tidak. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar dan mengembuskan napas kesal, begitu mengetahui tidak ada siapun di luar sana.
Pria itu benar-benar kesal, karena baru kali ini dia merasa jadi orang tidak berguna.
Pria itu kembali melangkah ke arah ranjang. Tanpa sengaja mata pria itu melihat ke arah r
"Kenapa ini semua ada di sini? Apa ada sengaja melakukan ini?" Bima memicingkan matanya, berpikir keras.
"Ah, sudahlah,nanti saja aku pikirkan!" Bima meraih satu botol air mineral itu dan berjalan ke arah ranjang."Nih minum! Kalau kamu lapar kamu bisa makan ini!" Bima melemparkan botol berisi air dan roti itu, tepat ke arah pamgkuan Ayunda.
"Terima kasih!" sahut Ayunda lirih.
Bima tidak menyahut lagi. Pria itu kembali duduk di lantai menyenderkan tubuhnya ke ranjang.
"Benar-benar sialan yang melakukan ini semua! Apa maksudnya melakukan ini? Bahkan sofa saja disingkirkan dari kamar ini. Bagaimana aku bisa tidur? Tidak mungkin aku tidur di ranjang yang sama dengan Ayu?" Bima kembali mengusap wajahnya dengan kasar dan frustasi.
"Bima, apa kamu tidak masalah duduk di lantai itu? Bukannya lantai itu dingin?"
"Tidak apa-apa! Aku tidak merasa kedinginan sama sekali. Kalau kamu sudah selesai minum, kamu sebaiknya kamu tidur saja!" Bima menyahut dengan lagi-lagi tanpa melihat ke arah Ayunda.
Terdengar helaan napas berat dari mulut wanita di belakangnya dan Bima tetap berusaha untuk tidak menoleh. Entah apa alasan pria itu tidak mau melihat ke arah Ayu, hanya dialah yang tahu, tapi yang jelas itu membuat Ayunda merasa tidak nyaman.
"Bima, kenapa kamu tidak mau melihatku saat bicara? Apa aku terlalu menjijikan di matamu?" akhirnya Ayunda tidak bisa menahan lagi rasa penasarannya.
"Sudah aku katakan,kamu tidur saja dan jangan banyak berpikir yang macam-macam yang membuat kamu merasa sakit sendiri!" Bima tetap melihat ke depan.
"Kamu tidak tahu bagaimana kerasnya aku berusaha menahan diri untuk menghalau bisikan setan di telingaku sekarang! Aku takut khilaf kalau aku melihat ke arahmu! ingatan dua benda sialan yang menempel ke dadaku tadi sangat sulit aku halau dari pikiranku!" bisik Bima pada dirinya sendiri.
Ya, itulah penyebab Bima tidak mau melihat ke arah Ayunda. Pria itu benar-benar takut khilaf. Karena kalau dia melihat ke arah wanita itu, matanya tidak bisa dia kontrol untuk tidak melihat ke arah benda kembar yang tadi menempel di dadanya saat ia memeluk wanita itu. Kalau sudah dilihat alhasil akan membuat pikirannya jadi traveling kemana-mana.
Malam semakin larut, Bima sudah mulai merasakan kantuk. Selain itu pria itu sudah mulai merasa kedinginan.
Pria itu menutup matanya dan melipat ke dua tangannya di dada, berusaha untuk menghalau rasa dingin. Namun, sama sekali tidak ada gunanya.
Dari atas ranjang, Ayunda yang sama sekali tidak bisa tidur, memperhatikan dengan jelas kalau pria yang menyender ke ranjang itu sedang gelisah. Wanita itu mengembuskan napasnya dan meraih selimut yang menutupi tubuhnya. Dia pun berinisiatif turun dari ranjang dan membawa selimut itu ke arah Bima.
Ayu melihat mata Bima tertutup, dengan sangat hati-hati dia menutupi tubuh pria itu dengan selimut.
Merasa ada sesuatu yang menyentuh tubuhnya, Bima yang belum tertidur tersentak kaget dan refleks membuka matanya.
"Apa yang kamu lakukan!" seru Bima tiba-tiba, membuat Ayu yang kini tersentak kaget, hingga tak bisa dihindari lagi, ia pun terjerembab jatuh menimpa dada Bima. Dua-duanya benar-benar kaget, dan mata merekapun saling beradu panjang cukup lama.
Tbc