Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Aku tidak ingin dikasihani


Tristan yang merasa kalau dirinya perlu untuk menenangkan pikiran, akhirnya memilih untuk keluar dari kamarnya dan berniat untuk keluar jalan-jalan.


Namun baru saja kakinya menginjak lantai bawah, tiba-tiba dari arah pintu, tampak seorang gadis berseragam SMA masuk.


"Hai, Kak Tristan!" sapa gadis remaja itu dengan riangnya.


Tristan sontak menghela napasnya dengan lemas, karena kalau gadis itu sudah muncul itu berarti bisa dipastikan dia tidak akan pernah bisa bebas. Gadis itu akan selalu menguntitnya.


Gadis SMA itu bernama Selena, putri Arumi dan Satya yang kini berusia 18 tahun atau 8


tahun lebih muda dari dia.


"Kak Tristan sepertinya mau pergi, kakak mau kemana? Aku boleh ikut?" tanya gadis itu beruntun.


"kakak tidak kemana-mana, kakak hanya mau jalan- jalan sebentar,"


"Katanya nggak kemana-mana, tapi mau keluar jalan-jalan. Yang benar yang mana sih Kak?"


"Mau jalan- jalan," jawab Tristan singkat.


"Aku mau ikut!"


"Tidak boleh!" lagi-lagi singkat.


"Aku aduin ke Tante Clara nanti," Salena sudah mulai memasang jurus terakhirnya. Mata gadis remaja itu juga sudah mulai berkaca-kaca. Dan kalau sudah begitu Tristan sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, selain menuruti.


"Ya udah, ayo!" pungkasnya sembari melangkah pergi.


"Yee, Kak Tristan baik deh!" sorak Selena dengan wajah berbinar. Air mata yang hampir keluar, hilang entah kemana.


Belum sampai di pintu, Tristan tiba-tiba berhenti karena handphonenya tiba-tiba berbunyi.


Tristan merogoh sakunya dan melihat kalau yang sedang menghubunginya adalah Satya, papa dari gadis di sampingnya.


"Hallo, Om!" sapa Tristan dengan sopan.


"Apa Selena ada di sana, Tristan? Soalnya kata mamanya seharusnya dia sudah sampai di rumah setelah pulang sekolah, tapi sampai jam segini. Supir yang menjemputnya ke sekolah juga sudah kewalahan mencarinya,x


Tristan menoleh ke arah Selena yang melambai-lambaikan tangannya,memberikan isyarat agar Tristan tutup mulut.


"Dia ada di sini, Om. Nih lagi di sampingku!" Tristan sama sekali tidak mengindahkan permintaan Selena.


"Sudah kuduga! Kasih dulu handphonemu ke dia, om mau bicara sama dia!"


Tristan dengan senyum meledek,memberikan ponsel di tangannya pada Selena, yang tentu saja sudah mengerucutkan bibirnya.


"Kakak, ih ... rese!" Selena menggerutu, kesal dan Tristan hanya terkekeh.


"Hallo, Pa!" sapa Selena dengan suara yang sangat pelan dan hati-hati.


"Kamu ya, kebiasaan main kabur-kaburan dari supir. Kasihan Pak Tino, Selena!" suara Satya terdengar meninggi, hingga mengharuskan Selena harus menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Maaf, Pa! Aku bosan di rumah. Papa kerja, mama juga sering ke rumah sakit, kalau Aris suka rese. Jadi mending ke rumah tante Clara, buat gangguin kak Tristan. Mumpung dia belum punya pacar," sahut Selena, membuat Tristan berdecak menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Mumpung kakak belum ada pacar. Kalau sudah punya, aku hanya ganggu kalau pas pacar kakak nggak ada aja. Takut, kalau nanti rambutku yang indah ini ditarik sama pacar Kakak," sahut Selena dengan wajah polosnya.


"Kalau begitu mulai besok, Kakak akan cari pacar," goda Tristan.


"Aku doakan, dapatnya setelah aku juga diizinkan pacaran sama Papa, biar gak bosan, dan gak cari Kak Tristan lagi," ucap Selena yang tidak menyadari kalau ponsel Tristan masih terhubung ke Satya papanya.


"Selena! Nggak ada yang namanya pacaran-pacaran! Setelah lulus SMA,kamu kuliah dulu!" bentak Satya dari ujung sana.


"Papa ih, Nggak seru! Macam tidak pernah remaja saja," protes Selena dengan bibir yang mengerucut.


"Papa bilang tidak boleh ya tidak boleh! Sebentar lagi, Bima dan Bimo akan pulang dari Amerika, berarti kamu punya tiga kakak laki-laki yang akan papa perintahkan untuk menghalau semua jantan yang berani mendekatimu!" bibir Selena semakin mengerucut, membuat tawa Tristan pecah. Perasaan gundahnya tadi seketika langsung menguap pergi.


"Sudah ya,Papa masih ada kerjaan. Kalau kamu melihat ada Om Bara di sana, bilang kalau kerja itu iklas,jangan kasih papaku terus yang kerja. Punya anak laki-laki tiga orang ya dimanfaatin untuk kerja," sepertinya Satya memang lagi kesal di ujung sana.


"Papa sendiri yang ngomong ke Om Bara! kalau tidak nih ada Kak Tristan. Minta tolong sama Kak Tristan buat nyampein pesan Papa ke Om Bara.


"Sudahlah,papa hanya bercanda! Teleponnya papa tutup ya! Nanti kamu harus ingat pulang," panggilan pun terputus setelah Satya memutusakan dari ujung sana.


"Ayo Kak kita jalan sekarang!" Selena meraih tangan Tristan dan merangkul lengan pria itu.


"Kak Tristan!" sebelum Tristan dan Selena melangkah, terdengar suara Bima memanggil.


Tristan dan Selena sontak menoleh ke belakang dan melihat Bima sudah berdiri di anak tangga paling bawah, dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana.


Tristan tidak menyahut sama sekali. Entah apa yang ada di pikiran pria itu sekarang Sementara itu, Selena langsung berteriak histeris,menghambur ke arah Bima.


"Tunggu dulu ,ini Kak Bima atau Kak Bimo?" Selena mengurungkan niatnya untuk memeluk Bima karena dia kesulitan untuk membedakan yang mana Bima dan yang mana Bimo, mengingat sudah lama mereka tidak bertemu.


"Kamu siapa?" Bima balik bertanya, guna menggoda gadis remaja yang dulu selalu mengganggunya, dan yang membuatnya tutup telinga setiap Selena berteriak.


"Emm, aku tahu,pasti ini kak Bima. Dari nada bicaranya sih sudah tidak bisa diragukan lagi," tebak Selena. "Kak Bima masa sudah lupa sih sama aku? Aku Selena, Kak!"


"Emm,Maaf aku tidak kenal siapa itu Selena," Bima masih saja berpura-pura tidak kenal, membuat Selena semakin kesal.


"Ih, Kak Bima! Kalau Kak Ayu pulang, aku bilangin Kak Ayu nanti, biar gak mau sama Kak Bima!" ucap Selena yang memang tidak tahu -menahu dengan apa yang terjadi, mengingat dia masih berusia 10 tahun saat mereka semua berangkat ke luar negri untuk kuliah.


Mendengar nama Ayunda,Bima dan Tristan sontak saling pandang.


"Emm, sudah jangan berisik lagi! katanya mau jalan-jalan, ayo kita pergi!" Tristan akhirnya buka suara, untuk menghentikan gadis itu bicara yang tidak- tidak lagi.


"Kak, kalian mau kemana?" tanya Bima, dengan alis bertaut, bingung melihat sikap Tristan yang menurutnya aneh dan dingin padanya.


"Tidak kemana-mana! Hanya mau keluar sebentar," sahut Tristan berusaha untuk melawan bisikan hatinya yang sebenarnya sangat ingin memeluk Bima.


"Kak, aku ada salah ya, sampai kamu tidak mau memelukku?" Bima sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.


"Kamu tidak salah apa-apa! Hanya saja aku, tidak ingin selalu dikasihani,"


Bima seketika bergeming mendengar ucapan Tristan. Pria itu langsung bisa menyimpulkan kalau Tristan mendengar semua pembicaraan nya dengan Papa dan Mama mereka, dan kakanya itu salah menangkap maksud ucapannya.


Tbc