Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Kabar menyedihkan buat Clara


Matahari kini sudah kembali menyapa, walaupun memang masih terkesan malu-malu.


Meja makan di kediaman keluarga Bara juga kini sudah dipenuhi oleh anggota keluarga yang akan melakukan sarapan seperi biasa.


Pagi ini, Bimo juga sudah ikut bergabung untuk sarapan, tidak seperti kemarin. Hal itu membuat Clara sedikit merasa lega. Namun rasa lega itu sama sekali tidak tampak di wajah wanita paruh baya itu, karena kebetulan ada sesuatu yang mengganjal dan sepertinya membuat wanita itu sedih.


Suasana sarapan pagi ini terdengar hening seperti biasa, karena memang sudah peraturan tidak ada yang boleh bicara kalau sedang makan.


"Kenapa wajah mama ditekuk seperti itu ya? tidak seperti biasanya. Apa Mama dan Papa sedang berantem ya?" bisik Bima pada dirinya sendiri, sembari melihat Clara dan Bara bergantian.


"Lanjutkan makanmu, Bima!" ternyata mata Bara sangat awas, walaupun terkesan serius sedang makan.


Bima sontak kembali fokus pada makanan di depannya dan sesekali sudut matanya tetap melirik ke arah papa dan mamanya itu.


Bara yang sepertinya sudah selesai makan, meletakkan sendok dan garpunya terbalik di atas piringnya yang sudah kosong dan mendorong sedikit menjauh darinya. Kemudian, pria paruh baya yang masih gagah itu menaruh kedua tangannya menumpu di dagunya menunggu anggota keluarganya selesai makan.


Tidak berselang lama, Clara dan Tristan juga terlihat sudah selesai makan. Hal yang sama juga dilakukan oleh Clara dan Tristan. Setelah itu menyusul Bimo dan diakhiri Bima.


"Sepertinya semua sudah selesai makan. Ada sesuatu yang harus papa sampaikan," Bara mulai buka suara, dan yang lainnya seketika antusias untuk mendengarkan, kecuali Clara yang terlihat semakin sedih.


Bara tidak langsung buka suara. Pria itu menarik napas lebih dulu dan mengembuskan kembali ke udara dengan cukup berat.


"Papa, tadi malam menerima telepon dari Om Adrian. Om Adrian minta maaf karena Ayunda sudah meminta untuk membatalkan perjodohan dengan Bima, karena tidak mau membuat Bima terbebani dengan perjodohan itu,"


Kabar yang baru saja dilontarkan oleh Bara sontak membuat Bima, Bimo dan Tristan kaget. Namun, seperti biasa Bima tetap mempertontonkan wajah datar seperti tidak terjadi apa-apa.


"Akhirnya, dia mundur juga! Tristan pasti bahagia sekarang!" batin Bima dengan ekor mata yang melirik ke arah pemuda itu. namun tidak tampak sedikitpun senyuman di bibir kakaknya itu, justru yang terlihat adalah kerutan di keningnya.


"Kenapa ekspresi Tristan seperti itu? harusnya dia senang kan, karena sekarang dia sudah ada kesempatan untuk mendekati Ayu," Bima lanjut berbicara pada dirinya sendiri.


"Mama sedih, karena Ayu tidak menjadi menantu mama. Padahal mama sudah membayangkan kalau keluarga kita akan semakin berwarna kalau ada dia. Rumah ini akan dipenuhi dengan canda tawa tidak kaku seperti biasanya," Clara akhirnya buka suara. Ya, hal inilah yang membuat wajah wanita paruh baya itu terlihat murung.


Tanpa mereka sadari, atau tanpa sadar juga, Bima mengepalkan kedua tangannya dengan kencang di bawah meja. Entah apa yang dipikirkan oleh pemuda itu hingga melakukan hal itu. Tindakan yang biasanya dilakukan untuk mengekspresikan sebuah kekesalan akan sesuatu hal yang terjadi. "Berani juga dia melakukan itu ya? ternyata dia memenuhi apa yang diucapkannya tadi malam." Bima asik bermonolog pada dirinya sendiri.


"Bima, sekarang kamu pasti sudah senang kan, Nak? apa yang kamu inginkan selama ini sudah dipenuhi oleh Ayunda. Katanya dia tidak ingin membebani kamu lagi dan kamu dibebaskan untuk mencari seseorang yang kamu suka," Clara kembali buka suara menatap putranya dengan tatapan yang sukar untuk dibaca, antara kesal, sedih dan pasrah bercampur menjadi satu.


Bima tidak menjawab sama sekali. Pemuda itu seketika merasa sedih melihat ekspresi kecewa yang terlukis jelas pada wajah wanita yang melahirkannya itu.


"Sudahlah, Sayang! kalau kamu berbicara seperti itu, kesannya kamu menyalahkan Bima atas kegagalan perjodohan mereka. Padahal sebenarnya yang salah itu adalah perjodohan mereka, karena ada satu pihak yang terpaksa menerimanya dulu,"


Clara sontak menoleh ke arah Bara suaminya dengan tatapan kesal. "Aku tahu kamu mengatakan seperti itu karena mengingat perjodohan yang tidak kamu inginkan dulu dengan ...." Clara tiba-tiba menggantung ucapannya karena langsung tersadar, kalau wanita yang hendak dia bicarakan adalah wanita yang melahirkan Tristan.


"Emm, maksud aku, sebenarnya tidak ada yang salah dengan perjodohan kalau diterima dengan ikhlas dan ada niat untuk belajar melihat kelebihan pasangan yang dijodohkan dengan kita. Aku yakin kalau seperti itu, cinta akan hadir dengan sendirinya." dengan cepat Clara mengalihkan ucapannya.


"Janganlah kita selalu melihat kekurangan orang yang dijodohkan dengan kita, karena kalau seperti itu, ya pasti akan sulit menimbulkan rasa cinta. Kalau seandainya Bima tidak memupuk kekesalannya pada Ayu selama ini,aku yakin akan mudah baginya untuk mencintai Ayu, karena pribadi Ayu sangat menyenangkan. Asal kalian tahu, keluarga ini butuh warna baru dan warna itu ada pada Ayunda. Aku pusing kalau setiap hari dikelilingi dengan orang-orang dingin seperti kalian!"


Bara dan yang lainnya tidak ada yang berani membantah luapan emosi Clara. Mereka hanya bisa melihat wanita itu sibuk berceloteh.


Sementara itu, kabar mengejutkan yang baru saja didengar oleh Bimo, justru menimbulkan ketakutan baginya. Pemuda itu tiba-tiba merasa takut kalau kesempatannya untuk bisa bersama dengan Michelle akan semakin jauh. Dia memang sudah tahu kalau Bima mengatakan hanya menyukai sifat Michelle bukan orangnya, tapi dia berpikir kalau orang menyukai seseorang pasti dari sifatnya dulu baru orangnya. Jadi tidak tertutup kemungkinan kalau Bima akan menyukai Michelle juga nantinya.


"Sayang, sudahlah! jangan marah-marah lagi! lagian anak-anak semuanya masih muda kan? urusan jodoh siapa yang tahu. Walaupun perjodohan batal, belum tentu Ayunda batal menjadi menantumu. Kali aja, ada keajaiban nantinya yang membuat Ayu jadi menantu kita, siapa tahu kan?" Bara kembali buka suara setelah Clara berhenti berceloteh.


Clara tercenung, merasa kalau yang diucapkan oleh suaminya itu benar. "Ya udahlah! kalaupun nantinya Ayu tidak jadi menantuku, aku bisa menganggapnya sebagai putriku," pungkas Clara akhirnya dengan seulas senyum yang masih terkesan terpaksa.


"Kalau perjodohan Ayu dengan Bima, batal, kalau Ayunda bersedia, aku rela menggantikan Bima demi mama!"


Semua yang berada di tempat itu, terlebih Bima terjengkit kaget dan menatap ke arah Bimo. Ya, yang baru saja berbicara dengan tegas itu adalah Bimo, bukan Tristan.


tbc