
"Kak Tristan!" gumam Bima.
"Boleh aku masuk?" tanya Tristan sembari tersenyum.
"Tentu saja bisa, Kak!" Bima membuka pintu lebar-lebar untuk memberikan jalan untuk Tristan.
Kemudian, Bima menghampiri Tristan, yang duduk di sofa, lupa menutup pintu.
"Kamu sedang apa di dalam kamar? apa kamu tidur, sampai aku ketuk pintunya berkali-kali, kamu tidak dengar sama sekali," cecar Tristan yang terlihat sangat santai.
"Aneh, kenapa Kak Tristan terlihat santai? harusnya dia marah kan, karena masalah tadi malam?" bisik Bima pada dirinya sendiri dengan kening berkerut.
Bima,kenapa kamu diam? apa kamu tadi tidur?"ulang Tristan memastikan.
"Oh, iya Kak. Aku tadi ketiduran. Maaf kalau sempat tidak dengar kalau kakak mengetuk pintu," pungkas Bima akhirnya berbohong.
Tristan mengangguk-anggukan kepalanya dan kembali tersenyum.
"Oh ya, Bima, selamat ya. Sebentar lagi ternyata kamu akan menikah dengan Ayunda," Tristan menepuk-nepuk pundak Bima dengan lembut.
Bima terdiam. Pria itu menundukkan kepalanya, karena tiba-tiba rasa bersalah kembali datang menghampirinya.
"Kenapa kamu diam? kamu tidak mau menanggapi ucapan selamatku?"
Bima kemudian kembali mengangkat kepalanya,dan menoleh menatap Tristan.
"Kak, Maaf!" desis Bima lirih.
"Maaf? maaf untuk apa? aku rasa kamu tidak punya salah apapun yang mengharuskan kamu untuk minta maaf," Tristan berpura-pura tidak mengerti arah pembicaraan Bima.
"Aku merasa kalau aku sudah membuat kamu kehilangan wanita yang kamu cintai. Tapi, sumpah demi apapun aku tidak mengingikan hal ini terjadi. Aku sudah berusaha untuk mengatakan kalau tidak terjadi apapun antara aku dan Ayu, tapi tidak satupun yang mau percaya. Demi hubungan persahabatan orang tua kita dengan Om Adrian, aku terpaksa memilih menikah dengan Ayunda," tutur Bima dengan raut wajah sendu.
"Bima, mau sampai kapan kamu mau membohongi perasaanmu? kenapa kamu mengatakan kalau keinginanmu untuk menikah dengan Ayunda demi supaya hubungan persahabatan papa dan Om Adrian tidak hancur? kenapa kamu tidak mengatakan kalau itu murni demi kebahagianmu?"
Bima terdiam untuk sepersekian detik, dengan alis yang bertaut. "Tapi memang__"
" Tolong jangan bohongi lagi perasaanmu!" Tristan dengan cepat memotong ucapan Bima. "Asal kamu tahu, sebenarnya aku sudah lama tahu kalau sikap ketus, dingin dan kasar yang kamu tunjukkan pada Ayu, tidak sesuai dari keinginanmu. Tapi, kamu melakukannya karena kamu mengira kalau aku mencintai Ayu, benar bukan?"
Bima tercenung tidak menyangka kalau pria yang lebih tua satu tahun darinya itu, sudah tahu yang sebenarnya.
"Bima, apa yang kamu pikirkan selama ini sebenarnya salah. Aku menyayangi Ayu, ya itu benar. Tapi aku sama sekali tidak memiliki perasaan lain selain sayang. Dulu aku mengatakan kalau aku akan memperjuangkannya, aku hanya ingin membuat kamu menyadari bagaimana perasaanmu yang sebenarnya, ketika ada pria yang ingin mendapatkan hati Ayu. Aku tahu, kalau mulai dari saat itu kamu sudah mulai menyadari perasaanmu, tapi karena kamu pikir aku mencintainya, kamu malah memilih untuk menutup rapat-rapat perasaanmu, benar kan Bim?"
Bima lagi-lagi terdiam, tidak mengiyakan tapi juga tidak membantah.
"Kamu tahu dari mana aku bisa tahu perasaan kamu sebenarnya?" Bima menggelengkan kepalanya, pelan.
"Aku mendengar semua yang kamu bicarakan dengan mama saat ketika ada kesalahpahaman di mana Ayu mengira kamu mencintai Michelle," mata Bima membesar mendengar pengakuan Tristan.
"Jadi sudah cukup lama, tapi kenapa Kakak hari itu __"
"Kenapa hari itu aku tidak langsung mengatakan jujur padamu? begitu?" Bima menganggukkan kepalanya.
"Itu karena permintaan Om Adrian," sahut Tristan, ambigu.
"Maksudnya?" Bima mengrenyitkan keningnya.
Bibir Tristan kembali melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman. Kemudian, dia menceritakan bagaimana dia datang ke rumah Adrian dulu dan apa yang akhirnya diminta oleh papanya Ayu, yang mana memintanya untuk merahasiakan semuanya dari Ayu dan tetap bersikap seperti dulu seakan dia memang memiliki perasaan pada Ayu. Tristan juga tidak lupa menceritakan apa alasan Adrian sampai memintanya melakukan hal itu.
"Tu-tunggu dulu! jadi itu berarti Om Adrian sudah tahu selama ini?" Tristan menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
"Om Adrian dan aku juga sudah bisa menebak kalau sosok yang berjasa di balik penyelamatan Ayu saat itu adalah kamu, tapi kamu mengatasnamakan aku. Kamu mau tahu kenapa akhirnya aku memilih untuk melanjutkan pendidikan S2 ku di Singapura? itu karena aku merasa Ayu sudah aman, dijaga oleh anak buah yang kamu perintahkan untuk menjaga Ayu. Sekaligus, aku tidak ingin Ayu salah paham terus- terusan karena masih menganggap aku pahlawannya. Tujuanku juga selain itu, aku tidak ingin kalau aku nantinya bisa jatuh cinta beneran pada Ayu, saking terlalu sering bersama. Jadi, ya itu tadi ... aku memilih untuk kuliah di negara lain," jelas Tristan dengan panjang lebar tanpa jeda sembari memamerkan deretan giginya yang tertata tapi.
Bima diam cukup lama, memikirkan pengakuan Tristan dan menghubungkannya ke kejadian yang memang cukup membingungkan tadi malam.
Tawa Tristan sontak pecah. Tawa Tristan juga terdengar bersambung dari arah pintu.
Bima sontak menatap ke arah pintu dan melihat sosok Bimo yang sudah berdiri di sana sembari tertawa sambil memegang perutnya.
"Argh, jadi ini pekerjaan kalian semua!" pekik Bima sembari melemparkan bantal sofa ke arah Bimo dan Tristan.
"Ya, mau bagaimana lagi? pria gengsian seperti kamu, memang pantas mendapatkan hal seperti itu. Kalau tidak, tidak tahu sampai kapan kamu bertahan hidup dalam kepura-puraan! " sahut Bimo di sela-sela tawanya.
"Sialan kalian berdua! kalian tidak tahu bagaimana rasanya seperti orang yang dituduh melakukan kesalahan yang sama sekali tidak dilakukan! kalau tidak mengingat kalau kalian berdua saudaraku, aku tidak akan segan mematahkan tangan kalian berdua!" Bima menggerutu, benar-benar kesal karena baru kali ini dia bisa seperti jadi orang bodoh.
"Ralat, Bima! bukan hanya kami berdua tapi ada mama, papa, Om Adrian dan Tante Tiara. Oh ya, bahkan Radit tahu juga masalah ini," Bimo kembali tertawa.
Mata Bima sontak membesar terkesiap kaget mendengar kenyataan baru yang dia peroleh.
"Apa? jadi ekspresi kecewa marah yang diperlihatkan Om Adrian tadi ternyata palsu? mama dan Papa juga?" pekik Bima, dan lagi-lagi Bimo dan Tristan menganggukkan kepala di sela-sela tawa mereka yang tidak kunjung reda.
"Arghh, kalian semua benar-benar ya!" Bima mengepalkan tangannya, sudah tidak tahu mau berkata apa lagi.
"Tadi malam benar-benar lucu kan Kak Tristan? Ada pria pintar yang sampai berpikir kejauhan, menduga kalau yang menjebaknya itu saingan bisnis yang ingin melihat kehancuran keluarga Prayoga,"
"Iya, iya aku ingat itu!" sambut Tristan, kembali tertawa pecah.
"Tunggu, tunggu! dari mana kalian bisa tahu itu? apa kalian benar-benar meletakkan kamera tersembunyi?" tukas Bima dengan mata memicing.
"Menurutmu? bahkan kami melihatmu menarik Ayunda ke pelukanmu dan kamu mencium keningnya. Bukan hanya kami berdua yang lihat tapi Om Adrian juga. Apa kamu juga mau melihatnya?" terang Bimo.
"Arghhhh! Aku tidak mau tahu lagi. Kalian berdua benar-benar akan aku beri pelajaran!"teriak Bima sembari menghambur ke arah Tristan. Namun Tristan dengan cepat melompat ke atas tempat tidur. Karena Tristan berhasil menghindar, Bima menghambur ke arah Bimo yang juga dengan cekatan melompat ke balik sofa.
Untuk beberapa saat, kamar Bima yang memang luas dipenuhi dengan aksi kejar-kejaran dan gelak tawa.
"Bimo hapus videonya cepat!" titah Bima.
"Ogah!" Bimo menjulurkan lidahnya ke arah Bima.
"Bimo, aku perintahkan sekali lagi, hapus videonya!" suara Bima semakin meninggi.
"Iya, nanti akan aku hapus, tapi aku kirim dulu ke Ayu. Kasihan dia kalau tidak melihat apa yang dilakukan oleh sang pujaan hati padanya," Bimo dengan sengaja mengeluarkan handphonenya.
"Bimoooo! awas kalau sampai kamu mengirim video itu!" dengan gerakan kilat dan tidak bisa dihindari lagi Bima sudah berhasil merampas handphone milik Bimo.
"Kamu mau menghapusnya silakan! tapi jangan lupa, rekaman video itu, juga ada di I'm Adrian."
Mendengar ucapan Bimo, Bima akhirnya hanya bisa mengacak-acak rambutnya lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Kemudian pria itu akhirnya menghempaskan tubuhnya duduk di sofa dengan wajah pasrah.
"Kalau begitu berarti aku akan mendatangi Om Adrian untuk membatalkan pernikahan ini. Karena ternyata ini hanya rencana kalian semua,"
Tristan dan Bimo sontak saling pandang dan tiba-tiba panik. Mereka berdua langsung menghambur mendekati Bima.
"Tidak! kamu tidak mungkin melakukannya kan? jelas-jelas kamu mencintai Ayu, tapi kenapa kamu malah mau batal menikahinya?" ujar Tristan.
"Iya, Bima. Justru ini kesempatan kamu untuk tetap bisa menikahi Ayu," Bimo menimpali ucapan Tristan.
"Aku merasa kalau kebohongan yang kalian lakukan ini sangat keterlaluan. Aku tidak bisa terima!" Wajah Bima terlihat mulai mengeras.
"Kalau untuk hal itu kami minta maaf. Sumpah kami hanya ingin menyatukan kamu dan Ayu, walaupun memang cara kami salah. Cuma kami kesal melihat sikap kamu yang gengsi dan kami tidak sabar menunggu kamu mengungkapkan perasaanmu. Tolong maafkan kami," wajah Bimo terlihat memelas.
"Kena kalian!" sorak Bima sembari tertawa lepas.
"Sialan! kamu mengerjai kami?" Kali ini dua lemparan bantal sekaligus mengenai wajah Bima.
Tbc