
Bara, mengayunkan kakinya, melangkah menghampiri mobilnya. Kemudian pria itu membuka pintu mobil dan masuk.
"Nih,bunga pesananmu!" Bara memberikan dua buket bunga itu ke tangan Bima.
"Pa, kenapa bunganya ada dua buket?" tanya Bima, dengan tangan yang menerima bunga-bunga itu dari tangan Bara.
"Bukannya kamu tadi minta dua?" Bara mengrenyitkan keningnya.
Bima menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku minta Papa pilih salah satunya. Bisa bunga mawar merah atau lili putih, bukan dua-duanya," Bima berdecak, kemudian mengembuskan napasnya dengan sekali hentakan.
"Sudahlah! tidak ada salahnya kan, beli dua. Ayo kita pergi dari sini!" tanpa mau mendengar protes yang diajukan putranya itu, Bara langsung menjalankan mobilnya kembali. Sementara Clara menatap kepergian mobil Bara dengan tatapan sendu dan mata yang berair.
"Ma, Mama kenapa?" Clara tersentak kaget, karena tiba-tiba Bimo sudah berdiri di sampingnya.
"Mama tidak apa-apa! mata Mama tadi hanya kelilipan terkena debu. Kamu ngapain ke sini, Nak?" Clara langsung mengalihkan pembicaraan.
"Aku, merasa bosan di rumah. Jadi aku memutuskan untuk ke sini," ucap Bimo, sembari tersenyum.
"Oh, begitu? kamu sudah makan siang?" Bimo, menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan mamanya.
"Kalau begitu kamu masuk saja ke ruangan mama. Kamu bisa bermain games di ruangan itu," lanjut Clara lagi dan Bimo kembali mengiyakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Pa, berhenti dulu di depan itu!" celetuk Bima tiba-tiba sembari menunjuk ke arah seorang pria memakai jaket hijau, yang dia yakini adalah ojek online dan sepertinya pria itu sedang menunggu orderan.
"Kenapa kita berhenti di sini?" Bara menoleh ke arah Bima dengan kening yang berkerut.
"Abang itu sepertinya ojek online, aku mau menitipkan bunga ini padanya agar dikirim ke alamat guruku," sahut Bima, menjelaskan.
"Pa, minta uang dong!" sambung Bima lagi sembari menengadahkan tangannya.
"Buat apa?" tanya Bara, tapi tetap dengan yang merogoh sakunya mengeluarkan dompet.
"Buat ongkos pengirimannya lah, Pa. Tidak mungkin kan dia mau mengirimkan bunga-bunga ini, tanpa dibayar?"
Bara menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Pria itu benar-benar merasa seperti orang bodoh di depan Bima. Mungkin karena dia belum pernah naik ojek online.
Bara kemudian memberikan dua lembar uang seratus ribuan ke tangan putranya itu dengan bertanya, uangnya sudah cukup atau belum.
"Bang, boleh tidak mengantarkan ini ke alamat ini, pada wanita bernama Clara?" Bima memberikan dua buket bunga itu ke tangan pria itu yang tentu saj menerimanya dengan semangat. Karena mungkin ini adalah orderan pertama untuknya. Walaupun memang secara offline.
Namun setelah menerima bunga dan alamat yang diberikan oleh anak kecil di depannya itu, kening pria itu terlihat berkerut, dan sedikit bingung. Bagaimana tidak, alamat pengirimannya tidak lah jauh apalagi melihat kalau anak itu keluar dari mobil mewah.
"Ini ongkosnya,Bang. Aku harap bunganya sampai dengan keadaan baik," Bima memberikan semua uang yang diberikan oleh Bara.
"Uangnya banyak sekali, Dek?" ucap abang ojek itu.
"Tidak apa-apa, Bang. Yang penting bunganya sampai dengan selamat. Tolong katakan, bunga ini dari Bapak Bara ya!" Bima melemparkan senyumnya ke arah abang ojek itu.
Tukang ojek itupun dengan semangat langsung menyanggupi dan naik ke atas motornya dan melajukannya dengan kecepatan sedang.
Hanya lima menit waktu berlalu, ojek itu pun berhenti di alamat yang diberikan oleh Bima. Alangkah kaget sekaligus bingung melihat alamat itu ternyata toko bunga juga.
"Apa-apaan ini? anak tadi sengaja mengerjaiku atau tidak?
bagaimana aku mengirimkan bunga,ke toko bunga?" tukang ojek online itupun menggaruk-garuk kepalanya, bingung.
"Ah, bodo amatlah! yang penting bunganya sampai," pungkas pria itu memutuskan untuk melangkah masuk ke dalam toko.
"Permisi, Mbak. Apa ada di sini yang bernama Clara?" tanya ojol itu dengan sopan.
"Iya,aku sendiri, Bang. Ada apa ya?" tanya Clara tidak kalah sopan. Tapi, matanya mengarah kepada dua buket bunga yang sangat dia kenal.
"Ini ada kiriman dari Bapak Bara, untuk Mbak!" Abang ojol itu memberikan dua bunga itu ke tangan Clara yang terlihat sangat kebingungan.
"Permisi, Mbak!" lanjut pria itu lagi sembari beranjak keluar.
Dengan raut wajah kebingungan dan perasaan yang campur aduk, Clara mengambil kartu berbentuk hati, berwarna pink yang ditempelkan di kartu itu dan membaca pesannya.
'Selamat Ulang Tahun, Wanita kuat. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu. Satu hal yang pasti perasaanku tidak pernah berubah. Walaupun Kamu mungkin memegang tanganku untuk sementara waktu, tetapi kamu memegang hatiku selamanya.Sekarang doaku bukan lagi menjadikanmu pasangan hidupku, tetapi aku berdoa agar dapat menjadi pasangan sesurga bersamamu.' Aku harap kamu senang menerima bunga-bunga ini, karena aku tahu kamu sangat menyukai bunga, terlebih mawar merah dan lili putih yang berarti mengucapkan cinta sejati.'
Salam penuh cinta dariku 'Bara Eduardo Prayoga'
Clara sontak tercenung dan membeku membaca pesan romantis yang tertuang di dalam kartu itu. Yang tidak dia tahu kalau kata-kata itu dicomot oleh Bima dari sebuah pencarian di internet.
Tbc