
"Apa ini benar rumahnya?" batin Ayunda sembari menatap gedung rumah yang cukup mewah, tidak semewah yang dia pikiran selama ini. Padahal dia berpikir kalau kediaman Harold pasti berupa mansion yang sangat mewah layaknya sebuah istana, mengingat kalau pria itu adalah putra bangsawan.
"Tapi mungkin aja sih. Mungkin Harold keturunan yang ke sekian, dan tidak terlalu dikenal," batin Ayunda lagi, mengingat dia pernah membaca kalau George V yang merupakan Raja Inggris dari tahun 1910 -1936, pernah mengeluarkan aturan di tahun 1917, bahwa pemakaian gelar kerajaan dan tunjangan untuk anggota keluarga kerajaan sangat dibatasi. Hanya mereka yang menyandang gelar pangeran dan putri yang dibiayai oleh negara, sekaligus menjalankan berbagai tugas kerajaan, seperti menjadi patron yayasan kemanusiaan dan seni. Di luar dari pangeran dan putri, sekalipun mereka cucu dan cicit penguasa, tidak boleh menerima uang saku kerajaan Jadi, bisa dipastikan kalau Harold termasuk yang tidak mendapatkan gelar pangeran dan tidak mendapatkan uang saku dari kerajaan. Atau istilah kasarnya, hanya bangsawan biasa.
Merasa yakin dengan apa yang dia pikirkan, Ayunda menghubungi Harold dan mengatakan kalau dirinya sudah berada di depan kediaman pria itu.
Tidak menunggu lama, tampak seorang pria yang tidak lain adalah Harold berlari kecil untuk menyambut kedatangan Ayunda.
"Akhirnya kamu datang juga. Kamu datang sendiri kan?" Harold mengedarkan pandangannya, seperti takut kalau ada yang mengikuti Ayunda.
"Aku datang sendiri kok. Emangnya kenapa?" Ayunda mengrenyitkan keningnya, curiga.
"Ah,tidak kenapa-napa. Aku cuma tidak mau pria pengganggu itu, datang mengganggu,"
"Nama dia Tristan, bukan pria pengganggu!" cetus Ayunda yang merasa kesal mendengar ucapan Harold. Walaupun kadang dia tidak menyukai sikap Tristan yang menurutnya over protektive padanya, tapi ia tetap saja tidak suka kalau ada yang mengtakan hal jelek tentang pria itu.
"So-sorry! Ya, maksud aku Tristan," Harold dengan sigap merubah panggilannya, walaupun sebenarnya dia tidak suka mendengar pembelaan wanita itu pada pria yang dia anggap penghalang itu.
"Ya udah, ayo kita masuk!" Harold, mencoba meraih tangan Ayunda, tapi dengab halus ditepis oleh wanita itu.
"Maaf, aku tadi refleks!" ucap Harold.
"Tidak apa-apa! Ayo, kita masuk ke dalam!" Ayunda mengayunkan kaki, melangkah masuk ke dalam. Sementara itu, Harold menutup pintu pagar, lalu berjalan menyusul Ayunda. Dari belakang,pria itu menatap punggung Ayunda dengan sudut bibit yang tersenyum misterius.
Di depan sana, Ayunda mengedarkan tatapannya, merasa ada sesuatu yang janggal. Di mana dia hanya melihat dua mobil saja yang terparkir di pekarangan rumah itu. Karena penasaran sekaligus mulai takut, Ayunda memutar tubuhnya menoleh kembali ke arah Harord.
"Harold, maaf. Aku mau tanya, kenapa masih sepi? bukannya tadi malam kamu mengatakan kalau akan banyak yang hadir di pestamu? Tapi kenapa masih hanya ada dua mobil di sini? Apa mereka belum pada datang?" tanya Ayunda beruntun dengan sudut kanan alis yang naik ke atas, menyelidik.
"Oh, mereka seperti kamu. Mereka datang menggunakan taksi. Kamu tenang saja, di dalam sudah banyak orang baik pria maupun perempuan," Harold berusaha meyakinkan Ayunda, walalupun sedikit gugup.
"Oh, begitu?" Ayunda menganggukkan kepalanya.
"Ya udah,ayo kita masuk ke dalam!" Harold memutar handle,membuka pintu dengan lebar-lebar.
"Masuk!" tiba-tiba dan tanpa bisa dihindari, tubuh Ayunda terdorong keras ke dalam, akibat dorongan Harold.
"Harold, a-ada apa ini?" wajah Ayunda seketika berubah pucat, melihat ke sekeliling ternyata tidak seperti yang dikatakan oleh Harold di luar sana. Tidak tampak sama sekali keramaian dan tanda-tanda akan ada pesta. Yang dia lihat justru beberapa pria yang berjumlah 5 orang, sedang duduk dan menatap dirinya dengan tatapan penuh maksud.
"Wah, ternyata dia gadis yang cantik, Harold!" ujar salah satu dari lima pria itu, yang memiliki tubuh tinggi besar.
"Iyalah! Aku tidak mungkin membawa yang asal-asalan,"
Jawaban Harold barusan mendapat gelak tawa dari lima pria itu. Sementara Ayunda sudah mulai ketakutan.
Tawa Harold sontak pecah demikian juga dengan yang lainnya, mendengar ucapan Ayunda.
"Kamu pikir aku serius mengatakan itu? kamu salah,Ayu! Kamu itu ternyata sangat mudah dibohongi. Asal kamu tahu, itu semua hanya alasanku saja, supaya kamu mau datang," Harold menyeringai sinis ke arah Ayunda.
"Kamu mau tahu, aku memang mengadakan pesta, yaitu pesta yang bisa membuat kami terbang. Kamu mau tahu pesta apa?" Harold mencondongkan tubuhya ke arah Ayunda.
*kami akan berpersta dengan berbagi tubuhmu ini!" bisik Harold sembari membelai lembut pipi Ayunda yang benar- benar seperti mayat hidup.
"Ha-Harold, kamu jangan macam-macam! Ingat kalau kamu sampai melakukannya, nama baik keluargamu akan tercoreng!" di sela-sela rasa takutnya, Ayunda masih berusaha untuk mengingatkan Harold akan statusnya.
Tawa, Harold kembali pecah dan kali ini lebih keras dari sebelumnya.
"Aku tidak peduli! Lagian kamu kira setelah kami semua menikmati tubuhmu, kamu akan kami biarkan hidup? Oh tidak akan!" Setelah kami puas, nyawamu akan kami habisi, setelah itu mayatmu akan kami buang jauh, sampai tidak ada orang yang bisa menemukan mayatmu. Seiring berjalannya waktu, kasus hilangnya kamu akan hilang begitu saja," Harold kembali tertawa setelah menyelesaikan ucapannya.
Mendengar ucapan Harold membuat jantung Ayunda berdetak tidak karuan. Wanita itu benar-benar sudah sangat ketakutan sekarang.
"Ha-Harold, kenapa kamu tega melakukan ini?"
"Kenapa aku tega? Apa kamu tidak bisa menyimpulkan sendiri kenapa aku melakukan ini?" Harold mendengus, merasa wanita di depanya itu, hanya pura-pura tidak tahu.
"Baiklah, biar aku kasih tahu ke kamu. Alasannya karena kamu, berani menolakku dan penolakanmu benar-benar melukai harga diriku. Aku tidak pernah bisa menerima penolakan, Ayu. Bagiku itu adalah sebuah penghinaan dan setiap penghinaan yang aku dapat akan aku balas lebih parah," tutur Harold,membuat tubuh Ayunda semakin bergetar ketakutan.
"To-tolong jangan lakukan itu, Harold! Maafkan aku! Tapi cinta memang tidak bisa dipaksakan kan?"
"Diam!" bentak Harold, sembari menarik kencang rambut Ayunda ke belakang. "Kamu sudah kehilangan hak untuk memohon padaku,Ayu. Karena aku tidak akan mau mendengar permohonanmu lagi!" sambung Harold lagi dengan seringaian sinis di bibirnya.
"Harold, sudah jangan banyak bicara lagi,mari kita eksekusi dia! aku sudah tidak sabar. Sesuai perjanjian di awal, kalau kamu yang lebih dulu, setelah itu aku, selaku pemilik rumah ini sebagai hadiah karena sudah bersedia rumahku dipakai. Setelah itu, terserah mau siapa saja. Tergantung kesepakatan kalian ber-empat," ucap salah satu pria di dalam ruangan itu, yang ternyata adalah sang pemilik rumah. Pantas saja, rumahnya tidak terlihat seperti rumah seorang bangsawan.
Mendengar ucapan pria itu, Ayunda semakin ketakutan, mengetahui kalau dirinya akan digilir.
Ayunda seketika merasa menyesal, karena sudah mengabaikan peringatan Tristan.
"Ma, Pa tolong, Ayu!" desis Ayunda, lirih. M
"Maafin Ayu Kak Tristan, karena sudah keras kepala," gumam Ayu lagi dengan air mata yang sudah menetes membasahi pipinya.
"Bima, tolong aku!" tiba-tiba tanpa sadar Ayunda memanggil nama yang sudah berusaha dilupakannya.
Tbc