
Waktu berlalu begitu cepat. Bima dan Bimo kini sudah berada di Amerika untuk melanjutkan pendidikan mereka. Demikian juga dengan Michelle yang memang memutuskan untuk berkuliah di tempat yang sama dengan pria pujaannya, Bimo.
Harvard university ... Ya, mereka bertiga akan kuliah di universitas ini, yaitu salah satu universitas terbaik yang selalu masuk dalam urutan sepuluh besar di dunia dan bahkan tahun ini ada di urutan ke tiga setelah Massachusetts Institute Of Technology, di urutan pertama dan Stanford university di ututan ke dua.
Setelah berpikir cukup lama dan merasa kalau dia sanggup akhirnya Bima memutuskan untuk berkuliah juga di Massachusetts Institute Of Technology, seperti yang disarankan oleh Bara papanya, karena memang kedua universitas itu lokasinya tidak terlalu jauh dan berada di kawasan yang sama yaitu cambridge dan tentu saja,Bimo juga mengikuti jejak saudara kembarnya itu.
Bima baru saja tiba di apartemen yang mereka sewa selama berada di Amerika. Wajah pemuda itu terlihat kusut dan tidak bersemangat.
Pemuda itu menghempaskan tas ranselnya begitu saja di atas sofa, demikian juga dengan tubuhnya yang terlihat sangat lelah.
Di saat bersamaan terdengar bunyi pintu terbuka dan Bimo masuk. Wajah pemuda itu terlihat tidak kalah kusutnya dari wajah Bima.
"Kamu dari mana saja? Kenapa terlihat lelah sekali?" tegur Bima, sembari menegakkan punggungnya.
Bimo tidak langsung menjawab. Pemuda itu menarik napas lebih dulu kemudian mengembuskannhnya kembali.
"Aku dan Michelle capek mencari Ayu tapi sama sekali tidak ketemu," sahut Bimo, lirih.
"Apa kalian berdua sudah gila? Bagaimana mungkin kalian bisa mencarinya di negara seluas ini? Itu sama saja kalau kalian mencari jarum di tumpukan jerami," Bima berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi kan tidak mungkin Ayu kuliah di universitas yang tidak ternama? Jadi kita mencoba mencari dia universitas ternama yang masih satu wilayah dengan kita. Aku rasa itu bukan sesuatu yang gila," protes Bimo.
"Kalian tidak perlu susah-susah mencarinya lagi, karena bisa dipastikan kalian tidak akan menemukannya di manapun di negara ini,"
Bimo sontak mengrenyitkan keningnya,menatap Bima dengan tatapan pemuh tanya. "Dari mana kamu bisa tahu? apa itu maksudnya kamu sudah tahu di mana keberadaannya?" cecar Bimo, penasaran.
"Aku sama sekali tidak tahu di mana dia. Tapi tadi aku sudah ke bandara dan menanyakan apa ada visa dari Indonesia atas nama Ayunda yang masuk ke negara ini pada hari dan tanggal di mana dia terbang dulu. Mereka menjawab tidak ada. Untuk memastikannya, aku juga sudah ke KBBRI, untuk menanyakannya, dan jawabannya juga sama," jelas Bima dengan santai.
Bukannya merasa kecewa mendengar penuturan Bima, tawa Bimo justru pecah.
"Wah, berarti secara tidak langsung kamu sudah mengakui kalau benar tujuanmu ke sini selain untuk kuliah, tapi sekaligus mencari keberadaan Ayunda. Kamu sudah kangen ya ke dia?" ledek Bimo, menggoda Bima.
"Kamu bisa diam nggak? Aku hanya ingin membantu kalian berdua yang tiba-tiba jadi bodoh karena cinta. Aku melihat kalian apalagi kamu,jadi bodoh hingga pemikiran kamu tidak bisa sampai untuk bertanya ke KBBRI. Padahal kamu kan tahu sendiri, siapapun yang masuk ke negara ini dengan resmi, akan tercatat di KBBRI. Kalian berdua rela capek-capek keliling universitas mencari perempuan itu,bukankah itu hal yang bodoh?"
"Iya, iya, Ayunda." ucap Bima sembari berdiri dari tempat dia duduk, hendak beranjak dari depan Bimo.
"Bima,Bima, masih saja kamu munafik, bilang kalau kamu hanya ingin membantu kami, padahal kamu melakukannya karena kamu juga ingin tahu kan di mana dia? Kamu tidak usah bawa-bawa nama kami deh. Tolong akui dengan jujur!"
Bima yang nyaris pergi, seketika mengurungkan niatnya dan menoleh ke arah Bimo.
"Sudah berapa kali aku katakan , jangan sok tahu! Niatku benar-benar hanya ingin membantu kalian berdua," Bima berusaha menyangkal.
"Terserah kamu mau memberikan alasan apapun itu. Tapi, yang aku lihat di matamu, kamu itu sekarang sedang merasa kecewa, karena ternyata Ayu tidak ada ni Negara ini. Kamu sekarang benar-benar merasa egomu terhina kan? Kamu merasa kesal karena perempuan yang dulu dengan gila mengejar-ngejarmu, akhirnya benar-benar memlilih untuk menyerah, hal yang sama sekali tidak pernah kamu kira. Tapi ya ... Penyesalan kan memang selalu datangnya terlambat, kalau di awal namanya pendaftaran," tutur Bimo panjang lebar dan tanpa jeda.
Bima terdiam untuk beberapa saat, setelah mendengar penuturan saudara kembarnya itu. Namun, seperti biasa, diamnya dia hanya bisa bertahan sebentar. Detik berikutnya, ekpresi wajah datarnya dan sikap dinginnya kembali lagi.
"Terserah kamu mau mengatakan apa. Aku mau ke kamar dulu!" Bima akhirnya memilih untuk menghindar. Kalau tidak, adiknya itu akan semakin mengoceh yang pastinya akan selalu menyudutkannya.
"Emm, kalau Ayu tidak ke Amerika, jadi berarti dia sudah berhasil mengecoh kita. Emm, jadi sebenarnya kemana ya dia?" Bimo masih tetap lanjut berbicara,membuat langkah Bima kembali terhenti.
"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Sekarang, tolong kamu berhenti bertanya, aku capek dan mai istirahat," nada bicara Bima terdengar mulai kesal.
"Hmm, atau jangan-jangan, dia ke Paris. Kan dia dari dulu sangat ingin jadi seorang fashion designer. Tapi syarat ke sana kan, harus bisa bahas Prancis ya,walaupun bisa bahasa Inggris. Nah, Ayunda kan tidak bisa bahasa Prancis, jadi tidak mungkin dia kuliah design di sana," Bimo tetap saja melanjutkan ocehannya, tidak peduli dengan kekesalan yang ditunjukkan oleh Bima. Yang jelas, sikap Bima justru membuat Bimo semakin bersemangat untu melanjutkan ocehannya. Karena apa? Karena kakak kembarnya itu, tetap berdiri di tempatnya, padahal kalau pria itu mau, bisa saja dia langsung pergi, tapi anehnya Bima tidak melakukannya.
"Atau jangan-jangan Ayu ke London, karena di sana juga kan ada kampus fashion terkenal di dunia. Namanya London College of Fashion iya kan? bisa jadi sih?" Bimo bertanya, tapi dia juga yang menjawab. Bahkan pria itu sampai mengangguk-anggukan kepalanya membenarkan dugaannya sendiri.
"Tapi nggak juga sih, di negara Italia juga kan ada. Jepang, China,New york juga ada kampus Fashion yang sangat terkenal. Tidak mungkin kan kamu pergi ke semua negara itu untuk menanyakan tentang Ayu?" walaupun Bima tidak memberikan tanggapan apapun, Bimo tetap saja melanjutkan ocehannya karena dia yakin kalau kakak kembarnya itu tetap mendengar semua yang dia ucapkan.
"Atau jangan-jangan setelah mendengar ucapanku, kamu punya niat untu mencari dia ke negara-negara yang aku sebutkan tadi?" ledek Bimo sembari mengerlingkan matanya menggoda Bima.
"Jangan mengada-ngada! Aku tidak akan melalukan hal bodoh itu!" pungkas Bima yang kali ini benar-benar pergi.
"Kak sampai kapan kamu bersikap tertutup seperti ini padaku? kenapa kamu tidak bisa seterbuka dulu, mengungkapkan apa saja yang kamu rasakan. Apa sekarang aku sudah menjadi orang asing bagimu?" celetuk Bimo, membuat langkah Bima langsung terhenti.
Tbc