
"Oma, Pa, Kalian berdua ingin tahu kan siapa Papa kandung Tristan? ini dia baru datang!" Bima menunjuk ke arah Dito, membuat pria itu kaget sampai tersungkur sedikit ke belakang.
"Bimo,kamu jangan mengada-ada! jangan membuat fitnah. Karena fitnah itu lebih keji dari pembunuhan. Aku berani bersumpah kalau Tristan bukan anaknya
Dito!" pekik Tania yang masih berusaha untuk mengelak.
Bima Sontak berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Waduh anda masih sanggup untuk mengucapkan kata sumpah,Ibu Tania? apa anda tidak takut akan azab?" ucap Bima dengan senyuman yang masih terlihat sinis di sudut bibirnya.
"Tapi, memang yang dikatakan oleh ibu Tania itu benar. Tristan bukan anakku. Coba berpikirlah secara logika, tidak mungkin seorang Ibu Tania mau memiliki hubungan dengan orang rendahan seperti saya yang tidak bisa dibandingkan dengan Tuan Bara yang hebat segala-galanya," Dito kini berhasil menguasai rasa gugupnya dan menimpali ucapan Tania.
"Om Dito, apa sih yang tidak mungkin terjadi di dunia ini? Ibu Tania tidak pernah mendapatkan rasa cinta dari papa Bara, makanya untuk memuaskan dahaganya dia akhirnya memilih Om Dito. Maaf kira-kira seperti itulah yang dikatakan Pak Jono." jelas Bima dengan lugas dan gamblang.
"Untuk dahaga seperti apa, aku sama sekali tidak mengerti apa maksudnya. Karena kalau aku tanya Pak Jono,dia selalu bilang anak kecil tidak perlu tahu," imbuh Bima kembali sembari memukul jidatnya.
Tania dan Dito sontak menatap ke arah Jono, seperti meminta penjelasan.
"Jangan tatap pak Jono seperti itu! biar aku saja yang menjelaskan," celetuk Bima.
"Pak Jono sebenarnya tidak ada di pihak kalian berdua, tapi aku yang memintanya untuk berpura-pura berada di pihak kalian. Tujuannya apa? ya supaya lebih mudah aja, untuk mengumpulkan bukti-bukti perselingkuhan kalian berdua," ucap Bima masih dengan sikap santainya.
"Om Dito ingatkan sewaktu Pak Jono ingin mencuci mobil yang sering kamu pakai? Pak Jono sama sekali tidak kekurangan uang sat itu. Itu Semua memang sudah direncanakan. Di saat dia mencuci mobil, aku meminta Pak Jono untuk memasang kamera kecil di dalam mobil dan alat penyadap. Jadi aku akan tahu apa yang kalian berikan bicarakan dan kemana kalian akan pergi,"
"Kurang ajar kamu Jono!" pekik Tania sembari ingin menghambur ke arah Jono.
"Eits, tenang dulu Ibu Tania!" cegah Bima yang langsung berdiri menghadang pergerakan Tania.
"Sebenarnya bukan hanya itu saja kejutan yang akan ibu dan Om Dito dapatkan hari ini. Adalagi ... dan kejutan lain ini pasti membuat anda tidak bisa mengelak lagi," ucap Bima ambigu.
"Pak Jono, bawa semua ke sini bukti yang kita punya!" titah Bima tanpa melihat ke arah Jono.
Jono mengayunkan kakinya melangkah mendekati Bima dan menyerahkan map yang berisi bukti-bukti yang dia punya pada anak itu.
Kemudian Bima melangkah ke arah Bara yang dari tadi diam saja, fokus mendengar keterangan Bima.
"Pah,di dalam sini aku menyimpan semua bukti-bukti perselingkuhan mereka, dan. termasuk hasil Test DNA Tristan dengan Papa dan Tristan dengan Om Dito. Papa bisa lihat sendiri!"
Sementara itu, Elva juga tidak mau ketinggalan. Dia juga meraih map itu dari yang Bara dan melihat semuanya.
"Kamu benar-benar ular, Tania! selama ini kamu sudah berhasil membohongi mama dengan semua drama-dramamu! Apa yang kamu lakukan ini benar-benar sudah tidak bisa dimaafkan lagi, mau tidak mau, kamu harus berpisah dengan Bara dan pergi dari rumah ini!" bentak Elva dengan suara tinggi dan tatapan membunuh.
"Tidak,Ma. Aku tidak mau! Mama jangan percaya dengan ucapan Bimo, karena Mas Bara dulu kan sudah pernah melakukan test DNA dengan Tristan dan hasilnya mama tahu sendiri Kalau Tristan 99,9 persen anaknya Mas Bara," Tania masih berusaha untuk menyangkal.
"TANIA!" suara Bara menggelegar, hingga membuat Tania beringsut ketakutan.
"Beraninya kamu masih mau menyangkal. Di Chating-an kamu dengan Dito di sini sudah terbukti kalau sebelum hasil test itu ada di tanganku, kamu dan Dito sudah lebih dulu membayar dokter untuk merubah hasilnya. Kamu masih mau menyangkal, hah!" suara Bara semakin menggelar.
Mendengar ucapan Bara, sontak membuat Tania terkesiap kaget. Karena sebenarnya tadinya dia tidak tahu kalau bukti yang diberikan Bima tadi adalah hasil chat dia dengan Dito di media sosial. Dia kira hanya hasil test DNA saja. Kebingungan sontak menghampiri wanita itu. Dia bingung dari mana Bima bisa mendapatkan hasil Chat di media sosialnya.
"Tidak usah bingung Ibu Tania. Sudah aku bilang, jangan main-main denganku. Asal ku tahu, media sosialmu dan Om Dito sudah berhasil diretas oleh Bimo," celetuk Bima begitu melihat kebingungan wanita itu. Bima bahkan tidak menyadari menyebutkan nama Bimo
"Diretas sama Bimo? maksudmu kamu yang meretasnya?" celetuk Bara, dengan alis bertaut, karena sepanjang yang dia tahu kalau putranya itu tidak pernah menyebut namanya sendiri ketika sedang membicarakan dirinya sendiri. Selalunya, pasti bilang 'aku'.
"Bu ...." Bima menggantung ucapannya,. karena kalau dia menceritakan tentang dirinya yang bukan Bimo tapi Bima, mungkin yang ada di ruangan itu akan menganggapnya mengada-ada, mengingat Bimo yang belum juga muncul.
"I-iya, Pa!" ucap Bima akhirnya, mengiyakan.
"Dan untuk masalah dokter yang kamu bawa ini, kamu belum menjelaskan apa hubungannya dengan Amnesia papa. Boleh kamu jelaskan?"
Bima tersenyum smirk dan kembali menatap ke arah Tania dan Dito, yang semakin ketakutan.
"Baiklah, Pa. Akan aku jelaskan. Tapi, lebih dulu aku mau minta maaf karena mungkin papa membayar tagihan kartu kredit ibu Tania yang besar. Itu karena Bimo juga sudah berhasil membobol kartu kredit itu dan mentransfer ke rekening pak Jono. Uang itu lah yang aku gunakan untuk membeli kamera dan alat penyadap yang diletakkan di mobil yang sering dipakai Om Dito serta biaya untuk test DNA, " Bima cengengesan. "Papa tidak marah kan?" imbuh Bima lagi.
"Apa? kamu membobol kartu kredit? Papa tidak salah dengar?" Bara benar-benar kagum tidak menyangka kelebihan putranya. Bukan hanya Bara yang kaget, Tania selaku yang memiliki kartu kredit juga kaget karena dia sama sekali tidak menyadari kalau kartu kreditnya dibobol.
"Bukan aku, Pa, tapi Bimo!" sahut Bima yang sayangnya hanya dia ucapkan dalam hati saja.
"Papa tidak marah, Bimo. Sekarang kamu jelaskan apa hubungan dokter ini dengan Amnesia Papa?" tanya Bara lagi tidak sabaran.
tbc