
Sky Hotel
Di ball room sudah terlihat mulai rame. Karena para alumni banyak yang membawa pasangan masing-masing. Bahkan ada yang sudah menikah dan membawa anak.
Di ruangan itu tampak juga Tristan yang sudah hadir lebih dulu dibandingkan Bima dan Bimo. Oh ya, kesalahpahaman dirinya dan Bima tentu saja sudah teraratasi dan sekarang hubungannya dengan adiknya itu sudah baik-baik saja. Jadi kenapa dia lebih dulu datanga ke acara dibandingkan Bima dan Bimo, kalau memang sudah baik-baik saja? Itu karena pria itu harus menjemput Salena. Ya, pria itu memutuskan untuk mengajak Salena, karena dia tidak mau terlihat miris nanti di tempat itu karena tidak memiliki pasangan.
"Kak, aku mau makan itu boleh?" bisik Selena sembari menunjuk ke arah sate yang dijejerkan begitu rapi dan estetik.
"Kamu mau makan itu? bukannya tadi kamu sudah makan banyak ya? Kamu kok nggak kenyang-kenyang sih?" Tristan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Bagaimana tidak acara belum dimulai, gadis remaja yang dia bawa sudah makan dari tadi.
"Emangnya kenapa sih kak? Tuh makanan kan masih banyak,mubazir kalau tidak dimakan," Salena mengerucutkan bibirnya.
"Haish, mubazir bagaimana? Tuh makanan sekarang masih terlihat banyak, karena masih banyak yang belum hadir, Alena! kamu tidak malu, mulai dari tadi kita tiba di sini,kamu sudah asik makan,"
"Buat apa malu? Kalau lapar ya makanlah. Yang malu itu udah tahu lapar, tapi sok gengsi gak mau makan," sahut Salena, dengan sudut bibir yang sedikit terangkat ke atas
"Ya, Tuhan sepertinya keputusanku bawa dia ke acara ini adalah keputusan yang salah," Tristan menggerutu dalam hati.
"Kak, kenapa masih bengong di sini sih? Boleh kan aku makan itu?" ulang Salena dengan puppy eyes-nya.
"Salena yang cantik dan menggemaskan, Kakak minta jangan dulu ya! Kasihan teman-teman yang lain, kalau nanti makanan kurang gara-gara dihabiskan sama kamu," bujuk Tristan dengan lembut.
Mendengar ucapan Tristan, Salena hanya bisa mengembuskan napas kesal dan mengerucutkan bibirnya. "Pesta mewah dan berkelas seperti ini, tidak mungkin makanannya sedikit. Emang dasar kakak saja yang nggak mau aku makan lagi, karena malu dilihatin teman-teman kakak, bawa gadis yang seperti tidak penah makan, iya kan?" tukas Salena,membuat Tristan tertawa.
"Excatly!" pungkas pria itu di sela-sela tawanya.
"Tuh kan benar!" bibir Salena semakin maju ke depan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ruangan temlat diadakannya reuni terlihat semakin ramai, bahkan Bima dan Bimo serta Michelle juga sudah tampak hadir. Tentu saja si kembar tetap menjadi pusat perhatian, tidak jauh berbeda ketika mereka masih SMA.
"Sayang, kenapa Ayunda belum datang ya?" Michelle mengedarkan tatapannya untuk mencari keberadaan Ayu. "Katanya dia akan datang kan?" sambungnya lagi, karena tidak mendengar jawaban dari Bimo.
"Entah! Kalau katanya sih akan datang. Tapa aku gak tahu kalau dia tiba-tiba berubah pikiran," Bimo juga mengedarkan pandangannya ke segala sudut ruangan mencari wanita yang mereka maksud.
"Aku penasaran,bagaimana wajah kekasihnya itu? Tampan pasti ya?" ekor mata Michelle bergerak melirik ke arah Bima untuk melihat bagaimana reaksi pria itu. Tapi, apa yang dia lihat? Benar-benar di luar ekpektasi, hingga membuat wanita itu mengembuskan napas kesal. Bagaimana tidak, Bima tampak bersikap biasa saja, bahkan terkesan tidak antusias untuk ikut mencari keberadaan wanita yang sedang dibicarakannya dan Bimo. Justru pria itu terlihat sedang serius berbicara dengan Radit, sahabat mereka mulai dari SMA bahkan sudah menjadi tangan kanan Bima sekarang.
"Bima,bisa tidak kamu jauh-jauh dariku?" protes Radit, entah serius atau bercanda,hanya dialah yang tahu.
"Emangnya kenapa?" raut wajag Bima, tetap seperti biasa, dingin dan datar.
"Kamu masih berani bertanya? Aku tuh tidak mau dianggap menyimpang gara-gara selalu bersamamu.Aku tuh masih penyuka kue lupis bukan pentungan,"
Bima menatap Radit dengan tatapan yang sangat dingin. "Kenapa harus aku yang pergi, kenapa bukan kamu? Kamu kira aku juga menyukaimu di sampingku?" nada bicara Bima terdengar sangat ketus, hingga membuat Radit bingung, kenapa sahabatnya itu bisa seketus itu, karena sedingin-dinginnya pria itu,ia tidak pernah menjawab dengan seketus itu.
"Hei, kenapa kamu jadi ketus seperti itu? Kamu kan tahu kalau aku hanya bercanda,"
Bima tercenung, seketika tersadar kalau sikapnya tadi memang buruk. "Maaf!" ucapnya, singkat, membuat Radit berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa kamu baik-baik saja? Atau kamu sedang kesal mendengar ucapan Michelle tadi, yang mengatakan kalau Ayu sudah punya kekasih dan akan datang berdua ke sini?" bisik Radit, yang tentu saja langsung mendapat tatapan tajam dari yang bersangkutan.
"Tidak sama sekali! Jangan sembarangan kalau bicara!" sangkal Bima.
"Eh, itu Ayu sudah datang!" seru Michelle dengan wajah berbinar.
Tampak Ayunda datang dengan balutan gaun panjang berwarna merah. Wanita itu berjalan menuruni tangga dengan begitu anggunnya.
"Wah, Ayu kenapa jadi secantik dan seanggun itu?" gumam Radit, tanpa sadar berdecak kagum. Dengan ekor matanya, Radit melirik ke arah Bima, untuk melihat reaksi sahabatnya itu, apakah sekagum dia atau biasa saja. Namun, apa yang dilihatnya? Sahabatnya itu justru tampak cuek sembari memainkan ponselnya.
"Cih, dasar pria kutub. Gengsi aja digedein!" umpat Radit yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati.
Sementara itu tampak Bimo memicingkan matanya, menatap ke arah Ayunda,karena menurutnya ada sesuatu yang janggal.
"Katanya dia akan datang bersama pacarnya, tapi di mana? Kok dia datang sendiri?" tanya Bimo yang langsung ditanggapi dengan anggukan kepala, serta senyuman samar di bibir Bima.
"Iya ya? Di mana kekasih yang dia katakan itu?" Di saat Michelle menyelesaikan pertanyaaannya, wanita itu langsung menemukan jawaban ketika melihat seorang pria tampan berlari kecil dari belakang Ayunda dan langsung menggandeng tangan wanita itu.
"Wah, ternyata benar! Ayu sudah punya kekasih, mana tampan lagi!" Michelle kembali berseru.
"Beraninya kamu memuji laki-laki lain di depan kekasihmu sendiri!" bisik Bimo, dengan wajah jengkel.
"Maaf! Gitu aja sewot! Walaupun dia tampan, tapi kamu tetap yang paling tampan bagiku," sebuah senyuman lebar sempurna langsung menghiasi bibir Bimo, mendengar ucapan sang kekasih.
"Lihat, sepertinya Ayu sedang mencari kita!" Michelle melambai-lambaikan tangannya ke arah Ayunda yang sedang celingukan.
Sementara itu, Ayunda yang memang sedang mencari keberadaan Michelle dan Bimo, merasa mendengar ada yang memanggil namanya. Wanita itu sontak melihat ke arah datangnya suara dan melihat Michelle yang melambaikan tangan ke arahnya.
"Ayo kita ke sana!" ajak Ayunda pada pria yang merupakan sahabat adiknya itu.
"Iya, Kak!"
Ayunda sontak menatap pria itu dengan tatapan kesal. "Bukannya tadi aku sudah berulang kali mengingatkan mu Farel, jangan panggil aku kakak, tapi panggil aku 'sayang'. Setelah itu kalau usia kamu ditanya, bilang saja 24 tahun.Pokoknya ingat, apa saja yang sudah aku katakan tadi padamu," pria itu, menganggukkan kepalanya dan terlihat tampak tertekan.
"Aku hanya berharap, tidak ada orang dekat pacarku di sini. Kalau tidak, habis aku kalau dia mengadu ke pacarku.Kalau bukan karena ancaman Arya, yang bilang akan menarik investasi dari perusahaan papa, aku tidak akan pernah melakukan uji nyali seperti ini!" guman Farell yang tentu saja masih bisa didengar jelas oleh wanita itu.
"Udah, jangan ngoceh lagi! Nanti kalau pacarmu salah paham, aku dan Arya akan membantumu menjelaskan padanya," pungkas Ayunda sembari melangkah dan diikuti oleh Farell.
"Hai, Ayunda! aku kira kamu tidak akan datang!" Michelle langsung memeluk Ayunda setelah wanita itu sudah dekat.
"Tidak mungkin aku tidak datang!" ucap Ayunda yang berusaha menahan gejolak perasaan dan keinginannya untuk tidak melihat ke arah Bima.
"Hai, Ayunda!" celetuk Radit melambaikan tanganya ke arah Ayu sembari melemparkan senyum lebarnya.
"H-hai juga Radit!" demi membalas, sapaan Radit, Ayunda terpaksa menoleh ke arah pria itu, sehingga tidak bisa dihindari lagi, matanya juga menatap Bima yang memang berada tepat di samping Radit.
Tampak jelas Bima menatapnya dengan tatapan yang sangat dingin namun begitu dalam.
Untuk beberapa waktu yang lumayan lama, Bima dan Ayunda sibuk beradu pandang. Namun, kemudian pria itu mengalihkan tatapannya ke arah pria yang mendampingi Ayunda.
"Sial, kenapa dia melihatku seperti itu? Dia sepertinya siap untuk memakanku hidup-hidup. Kalau tahu begini, mending aku gak mau tadi. Gak papa deh kalau investasinya ditarik" Farell menggerutu dalam hati.
Tbc