
Tania benar-benar murka setelah melihat postingan karyawan Bara. Wanita itu semakin marah ketika melihat ada sebuah postingan yang berupa sebuah video, di mana Bara dengan bahagianya bermain bersama Bima di sebuah pusat permainan yang dikenal orang-orang dengan sebutan 'timezone'.
"Argghhhh! Brengsek!" Tania menghamburkan barang-barang yang ada di kamarnya.
"Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan. Anak sialan itu benar-benar sudah menjadi ancaman berat bagiku. Aku harus segera bertindak, kalau tidak, suatu saat nanti dia akan merasa berkuasa di rumah ini dan mengintimidasi Tristan, gumam wanita itu dengan mata yang berapi-api.
"Aku harus memikirkan bagaimana caranya. Tapi bagaimana ya? anak itu sekarang sudah berubah sangat cerdik," Tania berjalan mondar-mandir di dalam kamar sembari berpikir keras.
Mata wanita itu tiba-tiba membesar dan berbinar. Senyum di bibirnya juga terbit dengan sempurna. "Aku sepertinya menemukan cara yang tepat. Aku tidak akan menyerang anak sialan itu, tapi sekarang yang akan aku serang itu Bara. Bagaimanapun aku harus memberikan efek jera pada pria itu. Dengan cara ini aku yakin, dia tidak akan berani mengabaikan kami lagi. Ini saatnya kamu bertindak Tania!" Sudut bibir Tania, sedikit naik ke atas membentuk senyuman licik.
"Sebaiknya aku bertindak sendiri saja sekarang. Rasanya Dito tidak aku perlukan untuk melakukan hal ini," lanjut Tania lagi, mengajak hatinya untuk berbicara.
Tania kemudian meraih ponselnya dan tanpa berpikir panjang, wanita itu meng-upload ulang video Bara dan Bima di Timezone, dan photo ketika di perusahaan yang sebelumnya dia sudah simpan lebih dulu. Dia menuliskan kata-kata yang bisa membuat orang-orang merasa simpati padanya.
"Sedih hatiku melihat ini. Istri mana dan ibu mana yang tidak sedih melihat suami sendiri lebih mementingkan anak angkatnya dibandingkan anak kandung sendiri. Selama ini, aku sudah menjadi istri yang baik dan sangat sabar melihat ketidakadilan ini di depan mataku. Kalau dia bersikap tidak adil padaku, aku masih bisa terima, tapi kenapa juga harus pada anakku?" tulis Tania yang disertai dengan emoticon menangis.
Kemudian, wanita itu kembali meng-upload photo Tristan dan dirinya sendiri. Lalu dia tidak lupa juga menuliskan caption pada photo itu. Wanita itu menuliskan permintaan untuk dirinya sendiri dan Tristan anaknya, agar selalu bersabar menerima perlakuan tidak adil dari Bara yang lebih mementingkan anak angkatnya daripada anak kandungnya sendiri.
Tidak membutuhkan waktu lama, postingannya itu langsung mendapat respon dari para pengguna media sosial. Banyak yang menaruh simpati dan menyayangkan perbuatan Bara yang benar-benar tidak pernah mereka sangka-sangka.
"Sabar, ya Mba. Anak ganteng. Kami akan selalu mendukungmu!"
"Dasar laki-laki tidak tahu diri. Ternyata ketampanannya hanya luarnya saja. Tapi di dalam benar-benar kejam. Masa dia lebih mementingkan anak orang yang dipungut, dari pada anak sendiri?"
"Menyayangi anak yatim memang mulia. Tapi alangkah baiknya kalau jangan mengesampingkan anak kandung sendiri. Benar-benar pria tidak punya akhlak!"
"Hei, Tuan Bara! cepatlah bertobat dan minta maaf pada anak dan istrimu. Asal kamu tahu, bisa-bisa nanti anak angkatmu itu yang akan membawamu ke kehancuran!"
Begitulah sebagian dari komentar-komentar yang terpancing dengan postingan Tania. Melihat hal itu, Tania benar-benar merasa puas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bara, coba kamu lihat ini!" pekik Satya memotong pembicaraan serius antara Bara dan Adrian.
Mata Bara sontak menatap Satya dengan tatapan yang sangat tajam bak sebilah belati yang siap menghujam jantung. Pria itu benar-benar tidak suka kalau ada yang memotong pembicaraannya di saat sedang serius.
"Kamu jangan menatapku seperti itu! ini memang benar-benar serius. Tania memposting sesuatu yang bisa membuat reputasimu di depan publik bisa jelek. Kalau para klien-klien kita tahu, bisa-bisa mereka nanti akan membatalkan kerja sama dengan perusahaan kita," jelas Satya dengan panjang lebar tanpa jeda, tidak peduli dengan tatapan tajam Bara.
Mendengar ucapan dari sahabat sekaligus asistennya itu, Bara sontak meringis ponselnya untuk bisa melihat sendiri.
"Sial! akun dia aku blokir ternyata. Jadi aku tidak bisa melihat apapun postingannya. Sini ponsel kamu,aku mau lihat!" Bara merampas handphone Satya dari tangan pria itu.
Bara sontak menggeram sembari mengepalkan tangannya dengan kencang. Benar-benar marah dengan apa yang dia lihat.
"Brengsek! ini benar-benar keterlaluan." umpat Bara sembari menggertakan giginya dan tanpa sadar memukul ujung meja kerjanya dengan keras hingga mengeluarkan darah.
Satya dengan sigap langsung meraih Tissue dan memberikannya pada Bara.
Karena amarahnya sudah berada di puncak,Bara sama sekali tidak merasakan rasa sakitnya lagi. Namun, dia tetap menerima tissue itu dan melap tetesan darahnya.
"Satya, kamu langsung bergerak, minta video dan photo itu di takedown. Aku akan pulang sekarang, dan meminta penjelasan dari wanita itu! Tolong, nanti kamu antarkan Bimo pulang, karena aku tidak mau nanti dia ketakutan ketika aku bawa mobil dengan kencang!" titah Bara lagi dan langsung beranjak pergi meninggalkan ruangan itu tanpa pamit lagi pada Adrian yang kebingungan.
"Sat, emangnya ada masalah apa sih?" tanya Adrian setelah tubuh Bara menghilang di balik pintu.
Satya kemudian menunjukkan postingan Tania pada Adrian. "Jadi, Bimo bukan anak kandung Bara?" pekik Pria itu dan Satya menganggukkan kepalanya.
"Tapi, kenapa mereka bisa sangat mirip?"
"Aku juga tidak tahu, Ian. Yang aku bingung, justru Bara tidak memiliki kemiripan sama sekali dengan anak kandungnya itu. Sebenarnya aku merasa curiga kalau anak itu justru bukan anak kandung Bara. Kamu tahu sendiri kan kalau mereka menikah dulu hanya karena perjodohan? dan kamu tahu juga kan bagaimana sikap Bara pada wanita yang sama sekali tidak dia sukai. Di bar saja dia digoda sama wanita-wanita seksi, dia tidak pernah tergoda." Satya berhenti sejenak dan mengembuskan napas dengan berat. "Tapi,aku sama sekali tidak punya kesempatan untuk membuktikan kecurigaanku itu," imbuh Satya lagi.
"Ah, sudahlah! sekarang sebaiknya aku melihat Bimo dulu ke kamar. Kamu di sini dulu! kalau kamu berkenan, tolong hubungi pusat center dari platform media sosial itu, untuk meminta mereka, agar semua postingan mengenai Bara dan Bimo tadi di-takedown. Mudah-mudahan masih belum banyak tersebar kemana-mana!" Satya mengayunkan kakinya melangkah menuju ruangan tempat Bima berada.
Satya dengan perlahan membuka pintu dan melihat ke dalam. Pria itu melihat Bima yang ternyata tertidur lelap dia sofa, sedangkan tv menyala di depannya.
"Sepertinya dia, kelelahan. Sebaiknya aku biarkan dia tidur dulu," batin Satya. Kemudian pria itu, berniat untuk menutup pintu kembali.
Ketika pintu sudah tertutup dengan sempurna, tiba-tiba ponselnya berbunyi, pertanda ada panggilan masuk.
Satya mengayunkan kakinya melangkah untuk mengambil Handphone-nya yang tadi diletakkan di atas meja oleh Bara.
"Nomor siapa ini?" Satya mengrenyitkan keningnya, saat ada nomor yang tidak dikenal sedang menghubunginya.
"Halo!" sapa Satya dengan nada dingin.
"Halo, apa ini benar dengan Satya?" terdengar suara seorang wanita dari ujung telepon. Dan dari suaranya terdengar seperti sedang gugup.
"Iya,saya sendiri. Kamu siapa?"nada suara Satya masih terdengar sangat dingin.
"Namaku Arumi. Aku mendapatkan nomormu dari Bimo,"
Satya mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Bimo? apa maksudnya memberikan nomorku pada seorang wanita? apa dia bermaksud menjodohkanku dengan wanita ini? benar-benar kurang kerjaan!" batin Satya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Maaf, apapun tentang aku yang kamu dengarkan dari Bimo jangan kamu dengar. Aku memang masih sendiri, tapi aku masih bisa mencari calon istriku sendiri," ucap Satya,yang berniat untuk membuat wanita di ujung sana, mundur sendiri.
"Hei, Tuan Satya yang terhormat! emangnya yang mau melamar jadi calon istrimu siapa?" bentak Arumi dari telepon, hingga membuat Satya menjauhkan Handphonenya dari telinganya. "Sial, suaranya benar-benar bisa buat gendang telingaku pecah," umpat Satya dalam hati.
"Jadi tujuanmu menghubungiku apa?" tanya Satya, setelah menempelkan kembali handphone ke telinganya.
" Aku hanya mau bertemu denganmu, karena aku sangat butuh bantuanmu!"
"Meminta bantuan? bantuan apa? kalau bantuan uang, aku tidak bisa kasih," lagi-lagi Satya menduga-duga.
"Hei,aku tidak butuh uangmu. Aku juga punya banyak uang. Apa Bara ada bersamamu sekarang?"
Satya sontak menggelengkan kepalanya, tidak menyadari kalau lawan bicaranya tidak ada di depannya.
"Tuan,Satya kenapa anda diam? apa Bara sekarang ada bersamamu?" ulang Arumi.
"Eh, maaf. Bara baru saja pergi. Ada urusan apa emangnya? Kenapa kamu menanyakan keberadaan Bara?" Satya kembali curiga.
"Karena aku tidak mau ada Bara. Karena tujuanku meminta bantuanmu, untuk membongkar kebohongan dan kejahatan Tania, istrinya Bara. Kamu bisa kan turun ke bawah? karena aku sudah ada di depan perusahaan Bara,"
Mendengar ucapan Arumi, Satya mendadak langsung begitu antusias.
"Kamu naik saja. Aku berada di ruangan Bara,di lantai 33. Aku akan menghubungi resepsionis agar mereka mengizinkanmu naik!"
Panggilan seketika terputus. Satya kemudian menghampiri Adrian yang sedang sibuk dengan notebooknya.
"Bagaimana? apa sudah selesai?" Tanya Satya seraya mendaratkan tubuhnya duduk di samping Adrian.
"Masih dalam proses. Emailku masih belum mendapat balasan. Mudah-mudahan postingan itu secepatnya langsung terhapus. Tapi, asal kamu tahu, emailku kan belum mendapat balasan, tapi postingan Tania, tiba-tiba sudah hilang. Aku bingung kenapa bisa langsung hilang? apa Bara sudah tiba di rumahnya dan meminta dihapus ya? tapi rasanya tidak mungkin dia sudah tiba di rumah," ucap Adrian dengan kening berkerut sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Tbc