Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Terjawab sudah


Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Bima memutuskan untuk masuk ke dalam kamar menyusul Ayunda.


Seperti dugaan Tristan, wanita itu sama sekali tidak berbaring di atas ranjang tapi duduk di sofa dengan posisi tangan masih menenteng tasnya. Sikap istrinya itu benar-benar seperti orang asing.


"Kenapa kamu duduk di sana? bukannya aku memintamu untuk istirahat di kasur?" tanya Bima berusaha menahan kekesalannya.


Ayunda mengerjab-erjabkan matanya dan menatap bingung ke arah Bima. "Emangnya, kamu mengizinkan aku naik ke ranjang itu?"


"Ayunda, stop bersikap seperti orang asing!" tanpa sadar, saking kesalnya Bima meninggikan suaranya, hingga membuat Ayunda terjengkit kaget. Wajah wanita itu seketika berubah pucat, seperti tidak dialiri oleh darah sama sekali.


"Ma-maaf! tapi aku memang ...." Ayunda menggantung ucapannya karena tiba-tiba tubuhnya ditarik oleh Bima ke dalam pelukannya.


"Maaf, maaf, Sayang!" untuk pertama kalinya, Bima memanggil Ayu dengan sebutkan sayang, membuat mata Ayu membesar karena kaget.


"Sayang? dia benaran memanggilku sayang kan? atau aku salah dengar?" batin Ayunda, dengan alis yang sudah bertaut.


Setelah memeluk cukup lama, Bima kemudian melerai pelukannya agar bisa menatap wajah sang istri.


"Aku benar-benar minta maaf ya! Aku tadi hanya merasa kesal, karena kamu bersikap seolah-olah kamu ini orang asing. Ingat, ini kamar kita sekarang, bukan hanya kamarku! jadi


kamu bebas mau ngapain saja. Kamu mau lompat-lompat di atas ranjang, kamu menata ulang kamar ini sesuai yang kamu suka, itu juga terserah kamu. Aku tidak akan melarang. Lakukan semua sesuai yang kamu mau," tutur Bima panjang lebar dengan senyum yang tidak pernah memudar dari bibirnya.


Bukannya merasa bahagia, mendengar semua ucapan Bima, Ayunda justru terlihat semakin kebingungan. "kenapa mendengar dia berbicara seperti itu, aku merasa dia aneh ya? apa ini benaran Bima?" gumam Ayunda yang tentu saja masih bisa didengar oleh Bima.


"Hei, tentu saja aku Bima. Kenapa kamu jadi meragukanku?"


" Lho, kamu kok bisa dengar, apa yang aku katakan? bukannya aku tadi bicara dalam hati?" Ayunda memicingkan sedikit kepalanya, memasang wajah polos, hingga membuat Bima merasa gemas sendiri.


"Ayunda, dengar ya ... aku belum tuli, jadi aku masih bisa mendengar walaupun kamu berbicara dengan suara yang sangat pelan. Kamu tadi bergumam, bukan bicara dalam hati,"


Ayunda terdiam seketika merasa malu. Wanita kini merasa kalau dirinya berubah jadi orang bodoh di depan Bima.


"Kenapa kamu jadi bengong? ayo duduk di sini!" Bima meraih tangan Ayunda, dan membantu wanita itu duduk di atas ranjang.


"Sekarang aku mau tanya, selama kamu kuliah apa kamu menemukan pria yang lebih tampan dariku, seperti yang kamu katakan dulu?" Bima mulai menggoda Ayu.


"Te-tentu saja, ada!" sahut Ayunda dengan gugup.


"Masa sih? tapi aku yakin setampan apapun mereka, akulah tetap yang tertampan di antara mereka di matamu, iya kan?" goda Bima lagi sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Ayunda yang sudah memerah.


"Kamu terlalu percaya diri! tentu saja yang aku temui itu lebih tampan dari kamu," Ayunda masih berusaha menyangkal.


"Oh ya? tapi mereka rata-rata brengsek seperti Harold yang hampir saja melecehkanmu dengan teman-temannya iya kan?"


Mata Ayunda sontak membesar terkesiap kaget mendengar ucapan Bima. "Da-dari mana kamu tahu? apa kamu tahu masalah itu dari kak Tristan?" Ayunda menatap Bima dengan tatapan menyelidik.


Bima menerbitkan seulas senyuman dan menggelengkan kepalanya.


"Tebakan kamu benar-benar salah. Kak Tristan tidak pernah bercerita masalah itu padaku, tapi memang aku tahu sendiri. kamu mau tahu, dari mana aku tahu?" tanya Bima penuh teka-teki.


Ayunda menganggukkan kepala di tengah kebingungannya.


"Ok, aku akan menghubungi seseorang eh mungkin empat orang. Jadi, setelah berbicara dengan mereka, aku yakin kamu akan bisa menyimpulkan sendiri," lagi-lagi Bima seperti melakukan teka-teki.


"Halo, Tuan!" terdengar suara seorang pria dari arah ponsel, dan dari cara berbicaranya, bisa dipastikan kalau pemilik suara itu bukanlah orang Indonesia.


"Hai, Alex. Ini ada seseorang yang ingin bicara denganmu!" Bima mengarahkan layar ponselnya ke arah Ayunda, hingga memperlihatkan wajah pria yang dihubungi oleh Bima.


"A- Alex!" seru Ayunda, terkesiap kaget begitu melihat wajah pria yang sangat dikenalnya. Pria yang bersama anak buahnya, menolong dia ketika hendak dilecehkan oleh pria bernama Harold.


"Hello, Nona Ayu!" pria bernama Alex itu tersenyum ke arahnya.


"Hello, Nona Ayu!" tiba-tiba dari arah belakang Alex, muncul tiga wajah lagi yang memang benar-benar tidak akan pernah dilupakan oleh Ayunda.


"Ka-kalian berempat, kenapa bisa mengenal Bima?" Ayunda benar-benar belum bisa membuat kesimpulan.


"Ya, itu karena kami adalah anak buah Tuan Bima yang diminta Tuan itu untuk melindungi Nona selama di London. Bahkan kami juga dibawa serta ke Indonesia agar tetap bisa menjaga Nona dari jauh," terang Alex.


Mata Ayunda kembali membesar dan sontak menatap ke arah Bima yang kini masih tetap tersenyum ke arahnya.


"Ja-jadi mereka semua anak buahmu?" tanya Ayunda memastikan, dan Bima lagi-lagi tersenyum menganggukkan kepalanya.


Sembari menganggukkan kepalanya, Bima juga langsung mengambil ponsel dari tangan Ayunda dan memutuskan panggilan video itu secara sepihak.


"Bagaimana? apa kamu sudah bisa menyimpulkan? atau kamu mau berpura-pura tidak bisa membuat kesimpulan? goda Bima dengan kembali mencondongkan wajahnya ke wajah Ayunda, hingga membuat Ayunda memundurkan kepalanya


"Jadi selama ini kamu ...."


"Ya, selama ini aku tahu kamu ada di mana dan aku meminta orang-orang itu untuk melindungimu. Kamu mau tahu dari mana aku bisa tahu keberadaanmu?"


" Pasti dari Kak Tristan!" tukas Ayunda membuat Bima kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Lagi-lagi kamu salah! aku tahu dari akun media sosial kamu di aplikasi ini," Bima menunjukkan aplikasi buatannya ke istrinya itu.


"Ini adalah aplikasi buatanku. Semua data-datamu ada padaku, termasuk nomor yang kamu pakai di London. Aku bisa tahu semua aktivitas kamu di sana, termasuk pria-pria yang ingin mendekatimu. Aku juga akhirnya meretas nomor pria bernama Harold, makanya aku bisa tahu ketika dia berkomunikasi dengan teman-temannya untuk menjebakmu. Karena itu aku langsung memerintahkan Alex dan anak buahnya untuk menolongmu," tutur Bima yang membuat Ayunda semakin tercengang.


"Ta-tapi, kenapa ketika aku tanya mereka, mereka mengatakan kalau mereka suruhan Kak Tristan?"


"Itu karena aku yang minta. Aku ingin membuat hubungan kalian berdua yang sempat renggang menjadi membaik kembali. Bagaimana? keren kan aku?" untuk pertama kalinya Bima membanggakan dirinya.


Ayunda seketika tercenung. Ingin sekali dia bertanya kenapa pria yang dia tahu dulu sangat membencinya itu melakukan hal itu, tapi dia sama sekali tidak berani untuk bertanya.


"Kamu mau tahu juga, siapa yang menciptakan game yang sering kamu mainkan itu?" Bima kembali bersuara.


"Jangan bilang kalau itu juga ciptaanmu?" tebak Ayunda, dengan mata memicing.


"Sayangnya, itu benar buatanku. Makanya nama game itu menggunakan nama kamu. Selain itu game yang sering dimainkan oleh pria brengsek itu juga adalah buatanku. Aku selalu menyabotase game yang dimainkan pria bernama. Harold itu, hingga dia sering kalah," raut wajah Bima seketika berubah menakutkan ketika membicarakan pria bernama Harold itu.


Mendengar semua penuturan Bima, akhirnya kejanggalan-kejanggalan yang dia rasakan selama ini ketika memainkan gamenya, terjawab sudah. Mulai dari poinnya yang tiba-tiba banyak padahal dia tidak memainkanya, dia yang tidak bisa top up tapi saldonya tiba-tiba terisi, semuanya kini terjawab sudah.


"Kamu mau tahu, kenapa aku melakukan semua itu? itu karena aku mencitaimu!"


Mata Ayunda sontak membesar dan wanita itu pun berkata "Jangan lupa, like, Komen dan vote! kasih hadiah juga boleh!"


Tbc