
Sementara itu, jauh di sebuah kampung tepatnya di kampung halaman Clara, Tampak seorang anak laki-laki yang tidak lain adalah Bimo. Dia terlihat tidak tenang dan berkali-kali melihat ke arah Clara mamanya yang sedang menabur bunga di atas sebuah makam yang baru saja dia tahu kalau itu adalah makam dari nenek mamanya, yang berarti adalah nenek buyutnya.
"Bima, kamu kenapa masih berdiri di sana,Nak? kami tidak mau ya, menabur bunga di atas makan nenek buyutmu?" panggil Clara dengan nada lembut. Mata wanita itu terlihat sembab setelah mengungkapkan isi hatinya sembari menangis di pusara nenek yang sudah merawatnya dari kecil.
Bimo menghela napasnya dengan cukup berat. Bukannya dia tidak mau menabur bunga,tapi pemikirannya sekarang sangat tidak tenang, mengingat pesan yang baru saja dikirimkan oleh Bima, yang mengatakan kalau siang ini kakak kembarnya itu akan mengungkapkan semua kebohongan dan kejahatan Tania, untuk menggagalkan penandatanganan surat warisan.
"Bima, apa kamu mendengar mama? kenapa kamu masih berdiri di sana? ayo ke sini!" Clara kembali bersuara dengan mata yang memicing.
"I-iya, Ma." Dengan cepat Bimo langsung beranjak mendekati Clara mamanya.
"Ayo sekarang giliran kamu. Kamu tabur bunga dan tuang airnya," Clara memberikan kantongan plastik berisi bunga dan meletakkan sebotol air di dekat kaki Bimo.
Bimo akhirnya melakukan semua sesuai permintaan Clara mamanya.
"Ma, kita langsung pulang kan setelah pulang dari makam ini?" tanya Bimo dengan harapan mamanya akan menjawab iya, walaupun memang sangat mustahil mamanya akan menjawab seperti itu.
"Kenapa harus terburu-buru? bukannya mama sudah bilang kalau kita akan pulang siang nanti?" persis seperti dugaan Bimo, kalau mamanya pasti tidak akan menjawab 'iya'.
"Iya sih,Ma. Tapi aku ada sesuatu hal penting yang harus aku kerjakan. Jadi aku ingin langsung pulang," sahut Bimo memberikan alasan.
Clara terdiam untuk sejenak. Tidak langsung mengiyakan permintaan putranya.
"Hal penting apa yang harus kamu kerjakan itu? apa butuh waktu lama, hingga kamu tidak bisa menunggu sampai sore nanti kita sampai di rumah? mama sudah lama tidak pulang kampung, tidak etis rasanya kalau langsung pulang sekarang, Bima."
Bimo Tidak memberikan tanggapan sama sekali karena apa yang dikatakan mamanya itu benar adanya. Seandainya kalau bukan karena hal yang ingin dilakukan Bima siang ini, dia pun ingin tetap berlama-lama di kampung mamanya ini, karena dia sangat menyukai kampung yang terasa sangat adem dan penuh kekeluargaan antar tetangga.
"Tapi, Ma yang ingin aku lakukan ini sangat penting, jadi kita langsung pulang ya. Lain kali kita kan masih bisa kembali ke sini," mohon Bimo yang membuat Clara semakin curiga.
"Kamu kenapa sih, sangat ingin sekali pulang? baiklah, kita bisa langsung pulang, tapi kamu kasih tahu dulu, hal penting apa yang membuat kita harus pulang," selidik Clara, dengan antusias.
Keringat dingin mulai mengalir di pelipis Bimo. Ingin rasanya dia berterus terang tapi, dia berusaha untuk menahannya.
"Kenapa kamu diam, Nak? apa kamu__"
"Clara, Clara!" ucapan Clara terhenti tiba-tiba karena seseorang berteriak memanggil namanya.
Clara sontak menoleh ke arah datangnya suara dan melihat seorang wanita cantik yang merupakan anak perempuan dari tetangganya dan merupakan Sahabatnya sewaktu di kampung.
"Ada apa, Rin? kenapa kamu berlari seperti itu?" tanya Clara pada sahabatnya yang bernama Karin itu.
Karin tidak langsung menjawab. Wanita I berusaha mengatur napasnya lebih dulu karena lelah berlari.
"A-ada laki-laki yang datang mencarimu. Katanya dia dari Jakarta dan mau menjemputmu pulang," tutur Karin dengan napas yang masih sedikit ngos-ngosan.
"Siapa?" alis Clara bertaut.
"Aku juga tidak kenal. Tapi dia mengaku kalau dia itu dekat dengan kamu. Ayo pulang dulu, soalnya mama mulai berpikiran buruk, mengira kamu tadi malam hanya berbohong kalau Bara suamimu, tidak ikut pulang karena harus bekerja. Mama sudah berpikir kalau Bara suamimu sudah meninggalkanmu," jelas Karin kembali membuat mata Clara membesar dan langsung berlari meninggalkan makam disusul oleh Bimo dan Karin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kak Theo!" seru Clara begitu melihat siapa sosok laki-laki yang dimaksud oleh Karin.
"Da-dari mana Kakak tahu aku ada di sini?" tanya Clara dengan gugup dan penuh tanya.
Theo menerbitkan seulas senyum dan menghampiri Clara yang masih berdiri di ambang pintu.
"Ya siapa lagi kalau bukan dan Arumi. Dari kemarin aku mencarimu untuk mengucapkan selamat ulang tahun sekaligus mengajak makan malam, tapi ternyata kamu katanya pulang kampung. Jadi tadi malam langsung berangkat ke sini dan tidur di mobil. Aku mau tahu kampungmu sekaligus menjemputmu pulang," jelas Theo santai dan dibarengi dengan senyum lebar, berharap Clara terkesan dengan usahanya.
"Clara? apa kamu berselingkuh di belakang suamimu dengan laki-laki ini?" belum sempat Clara buka mulut hendak menanggapi ucapan Theo, seorang wanita paruh baya yang merupakan keponakan dari neneknya, atau mamanya Karin menyeletuk dengan tatapan tajam menuntut penjelasan.
"Selingkuh?" gumam Theo. "Eh, Ibu jangan salah sangka dulu! aku dan Clara tidak pernah melakukan perselingkuhan. Aku yang mendekatinya karena dia memang sudah bercerai dengan suaminya,"
"Kenapa? aku benar kan? kamu dan laki-laki itu sudah bercerai bahkan sebelum anak kamu lahir?" lanjut Theo lagi, tidak menyadari kalau wanita setengah baya tadi sudah menangis demikian juga dengan Karin.
"Kenapa kamu menyembunyikan apa yang kamu alami, Clara? apa kamu tidak menganggap kami keluargamu lagi?" wanita paruh baya itu kini sesunggukan.
"Ti-tidak seperti itu, Bude. Aku hanya tidak mau Bude dan yang lainnya sedih dan kepikiran. Aku merasa kalau aku masih mampu melewati semua masalahku," ucap Clara sembari memeluk wanita paruh baya yang sudah dia anggap seperti ibu kandungnya sendiri.
"Apa dia meninggalkanmu, setelah ingatannya pulih? dan ternyata dia sudah memiliki wanita lain yang dicintai?" tanya wanita itu lagi.
"Bukan wanita yang dicintai tapi mantan suami Clara ternyata sudah punya istri dan anak,jadi dia__"
"Kak Theo! tadi kamu bilang mau menjemputku kan? ya udah kita pulang saja sekarang. Karena Bima juga katanya ada urusan penting yang harus dia kerjakan di Jakarta!" sambar Clara, sebelum Theo semakin panjang lebar mengungkapkan semua yang dia sembunyikan dari orang-orang yang disayanginya itu. Selain itu juga dia tidak mau karena kebablasan, Theo jadi tahu kalau mantan suaminya adalah Bara yang merupakan suami dari adiknya, Tania.
"Wah, ini kesempatanku untuk bisa pulang secepatnya. Setidaknya, kami tidak perlu untuk menunggu bus berangkat," batin Bimo, yang wajahnya seketika berubah cerah.
"Iya,Om. Sebaiknya kita langsung pulang saja sekarang. Aku ambil tasku dan tas mama dulu ya!" untuk mempersingkat waktu, tanpa menunggu jawaban dan seakan tidak mementingkan jawaban, Bimo langsung berlari untuk mengambil tas mamanya dan tasnya juga. Bimo merasa kalau kedatangan Theo adalah atas kehendak Tuhan yang ingin mempermudah mereka bisa kembali ke Jakarta dengan cepat tanpa kendala.
"Bude, kami pulang dulu ya! lain kali kamu akan ke sini lagi. Bude tenang saja,aku baik-baik saja sekarang dan sudah punya usaha. Aku juga bahagia sekarang Bude!" ucap Clara sembari memeluk wanita paruh baya itu.
"Baiklah, Nak! Tapi lain kali Bude mohon apapun yang menimpa kamu, tolong kasih tahu bude dan Karin," ucap wanita itu sembari menyeka air matanya dan mengelus lembut pipi Clara.
Ketika dia hendak memeluk Karin, sahabatnya itu melengos seakan menghindar Clara.
"Rin, kamu marah ya? please jangan marah dong!" nada suara Clara terdengar memelas. Karena dia tahu sahabatnya itu paling tidak bisa melihatnya sedih. Bahkan dia juga dulu sempat menyukai Bara, tapi dia memaksakan perasaannya demi kebahagiaan Clara.
Mendengar nada bicara Clara, membuat Karin. seketika menangis dan memeluk Clara.
"Aku kesal,kamu tidak memberitahukanku semua yang terjadi. Aku merasa kamu tidak menganggapku lagi!"protes Karin di sela-sela tangisnya.
"Maaf! lain kali aku janji akan memberitahukan apapun masalahku padamu!" Clara memaksa untuk tersenyum.
"Janji ya!" ucap Karin yang diangguki kepala oleh Clara.
"Ayo,Ma kita pulang sekarang!" celetuk Bimo yang memang tidak sabar lagi.
Sementara itu, Theo sama sekali tidak mempermasalahkan kenapa Clara tiba-tiba yang mengajaknya untuk pulang, karena tertutup dengan perasaan bahagia. Apalagi begitu melihat Bimo yang biasanya selalu berusaha menjauhkan dirinya dan sang ibu kini dia sendiri yang mengajak untuk ikut dengan mobilnya. Theo merasa kalau langkahnya untuk mendapatkan hati Clara sudah mendapatkan lampu hijau.
Mereka bertiga akhirnya melangkah bersama menuju mobil Theo yang terparkir tidak jauh.
Ketika Clara ingin duduk di bangku belakang bersama Bimo, anak laki-laki itu melihat guratan kekecewaan di wajah pria maskulin itu. Bimo merasa tidak ada salahnya membuat pria itu bahagia walaupun hanya untuk sementara.
"Ma, sebaiknya Mama duduk di depan saja dengan Om Theo. Biar aku sendiri di belakang. Kasian Om Theo sendiri!"
Ucapan Bimo barusan sontak membuat alis Clara bertaut, bingung karena melihat perubahan putranya yang seakan menginginkan dirinya bisa dekat dengan Theo. Padahal yang dia tahu setiap pria itu datang ke rumahnya,Bimo selalu memasang wajah bengis dan selalu ketus dalam berucap.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Theo. Kali ini dia benar-benar merasa kalau anak Clara itu sudah memberikan lampu hijau padanya.
"Maafkan aku,Om Theo. Aku terpaksa memanfaatkanmu. Ini semua agar kita bisa tiba di Jakarta tepat waktu," bisik Bimo pada dirinya sendiri.
"Eh tunggu sebentar, Ma, Om! ada sesuatu yang tertinggal!" ucap Bimo tiba-tiba sembari berlari masuk kembali masuk ke rumah dan masuk ke kamar.
"Ada apa, Bima? apa ada yang tertinggal?" tanya Karin dengan alis bertaut.
"Iya, Tante! aku lupa membawa kalung yang diberikan nenek Munah tadi," sahut Bimo sembari memasukkan kalung ke dalam tas backpacknya dan kembali berlari keluar rumah.
tbc
tbc