
Tristan mengemudikan mobilnya memecah jalanan yang sudah mulai sepi. Sesekali pria itu melirik ke arah Salena yang masih setia dengan mata terpejam .
Tristan tiba-tiba menepikan mobilnya dan melepaskan sabuk pengaman yang melekat di tubuhnya. Kemudian pria itu menatap wajah cantik Salena dengan intens dan cukup lama. Tangan Tristan tanpa sadar terulur membelai pipi Salena yang lembut.
"Sepertinya aku sudah jatuh cinta padamu, Salena! lucu memang, aku bisa jatuh cinta pada gadis remaja barbar seperti kamu. Tahu tidak bagaimana takutnya aku seandainya aku tidak tepat waktu. Aku pasti tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri." bisik Tristan dengan lembut, walaupun dia tahu gadis itu tidak mungkin mendengar bisikannya.
Karena terlalu lama menatap wajah cantik Salena, tanpa sadar Tristan mulai mengikis jarak, mulai mendekatkan bibirnya ke bibir gadis remaja berusia 18 tahun itu. Namun, belum juga bibirnya mendarat sempurna di bibir Salena, tiba-tiba terdengar suara lenguhan lirih dari mulut Salena. Sepertinya pengaruh obat bius sudah mulai habis.
Menyadari hal itu, Tristan sontak menarik tubuhnya menjauh dari tubuh Salena, dengan raut wajah gugup dan langsung menjalankan mobilnya, Pura-pura fokus menatap ke depan.
Benar saja, tubuh Salena mulai bergerak demikian juga dengan kelopak matanya.
Tidak perlu menunggu lama mata Salena mulai terbuka dengan perlahan dan dia seketika langsung meringis sembari memijat-mijat kepalanya yang pusing.
Raut wajah wanita itu untuk sementara terlihat bingung sembari menatap ke depan, sambil mengingat-ingat apa yang terjadi.
"Sudah bangun kamu?" celetuk Tristan tiba-tiba membuat Salena tersentak kaget dan langsung menoleh ke samping, ke arah Tristan yang matanya fokus ke depan.
"K-kak Tristan? i-ini benaran kamu?" pekik Salena sembari mengedip-edipkan matanya, lalu mengusap-usap, ragu kalau yang sedang mengemudi mobil itu adalah Tristan.
Sementara itu, Tristan tidak menjawab sama sekali, karena tiba-tiba pria itu merasa kesal mengingat Salena yang memenuhi permintaan pemuda brengsek seperti Reno, dan apalagi mengingat kalau ternyata Salena menjalin hubungan kekasih dengan pria itu. Kekesalan Tristan semakin menjadi mengingat Salena hampir saja di nodai oleh pria remaja itu
"Emm, sepertinya aku sedang bermimpi. Tidak mungkin kan Kak Tristan ada di sini? dia kan ada di Bali dan besok baru pulang. Apa yang kulihat tadi hanya halusinasi saja, Dan itu karena aku merindukannya?"gumam Salena yang seketika membuat bibir Tristan melengkung membentuk senyuman manis. Semburat merah seketika menghiasi pipi pria itu, berbunga-bunga layaknya seorang remaja yang sedang jatuh cinta.
"Sial, kenapa aku bisa tersipu seperti ini? benar-benar memalukan!" umpat Tristan, sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ahhh, Kak Tristan aku kangen! kenapa lama sih di Bali?" Salena mengerucutkan bibirnya, masih belum menyadari kalau pria yang sedang mengemudi mobil itu, benar-benar Tristan.
"Tiga hari saja rasanya seperti tiga Abad, apalagi seminggu, sebulan atau bahkan setahun. Aku bisa uring-uringan terus pastinya," Salena masih lanjut mengoceh sembari memejamkan matanya kembali. Jangan lupakan Tristan yang semakin tersenyum lebar mendengar ucapan Salena yang sepertinya masih sedikit terpengaruh dengan obat bius.
Salena kemudian kembali membuka matanya, dan kembali menggerakkan kepalanya dengan cepat ke arah Tristan. "Tuh kan, aku lihat kakak lagi di sini!" sungut Salena.
"Ini memang nyata aku. Bukan bayangan seperti yang kamu maksud, " Celetuk Tristan, yang akhirnya mulai jengah dianggap hanya bayangan oleh Salena.
Mata Salena sontak membesar terkesiap kaget mendengar ucapan Tristan. Wanita itu sontak menoleh kembali ke arah Tristan yang menunjukkan raut wajah matamya.
"Ti-tidak mungkin! aku pasti sedang bermipi sekarang!"
"Awww, sakit! pekik Salena kemudian sembari mengusap -usap pipinya bekas cubitan pria di sampingnya itu.
"Bagaimana? sakit? apa kamu masih mengira kalau kamu sedang bermimpi?" Tristan kembali bersuara.
Setelah memastikan kalau yang duduk di sampingnya itu memang benar Tristan, gadis itu langsung memekik antara tidak percaya, bahagia dan malu mengingat sikapnya tadi.
"Ahh, jadi kamu benar-benar Kak Tristan?"
"Jadi kamu pikir siapa?" tanya Tristan balik.
Salena tidak menjawab sama sekali. Gadis itu justru menundukkan kepalanya, benar-benar malu untuk menatap wajah pria yang selalu dia panggil kakak itu. Namun, tiba-tiba Salena mengangkat kepalanya kembali dengan mata yang membesar dengan wajah panik, begitu ingatan tentang dirinya yang tadi tiba-tiba tidak sadarkan diri.
"K-kak, apa yang terjadi padaku? apa aku __" dengan gerakan refleks gadis itu menyilangkan tangan di dadanya.
"Menurutmu, apa yang terjadi?" tiba-tiba Tristan berubah dingin. Bukan tanpa alasan, dia bisa berubah dingin seperti sekarang. Itu karena dia kembali mengingat kejadian tadi di hotel. Kekesalan kembali menghampirinya karena tidak bisa membayangkan seandainya dia tidak datang tepat waktu tadi.
"Kak, tolong jelaskan padaku, aku belum diapa-apain kan sama Reno?" desak Salena masih dengan wajah yang panik.
"Kalau tadi aku tidak datang tepat waktu, mungkin kamu sudah habis oleh pria brengsek itu dan kemungkinan juga sekarang si brengsek itu sudah habis di tanganku dan tinggal nama," tutur Tristan sembari mencengkram kuat kemudi mobilnya, dan rahang yang mengeras.
Salena, mengembuskan napas lega, karena dari penuturan pria di sampingnya itu dia bisa menyimpulkan kalau Reno belum sempat melakukan sesuatu yang menjijikan atasnya.
"Kalau untuk masalah itu kamu tidak perlu tahu. Yang jelas kamu selamat," sahut Tristan yang tidak ingin memberitahukan kalau dirinya bisa dipastikan gagal memenangkan tender. Pria itu tidak ingin Salena menjadi merasa bersalah.
Keheningan tercipta untuk beberapa saat di antara mereka berdua, sampai tiba-tiba Tristan menepikan mobil dan menghentikannya dengan sedikit kasar.
"Selama kamu menjalin hubungan dengan si brengsek itu, kalian sudah ngapain saja?" kini Tristan menatap Salena tepat depan wajahnya. Tampak jelas raut kecemburuan di raut wajah pria itu.
"Ti-tidak pernah ngapa-ngapain, Kak," sahut Salena dengan suara bergetar. Baru kali ini dia melihat tatapan penuh amarah dari pria yang selama ini selalu bersikap lembut padanya.
"Apa yang kamu katakan itu benar?" Tristan memicingkan matanya, menyelidik.
"Sumpah, Kak, aku tidak bohong! bahkan aku sama sekali belum pernah kencan dengan dia?" ucap Salena berusaha meyakinkan Tristan.
Tristan kembali memicingkan matanya, menatap tepat pada manik mata Salena, guna mencari kebenaran ucapan gadis remaja itu. Tatapan Tristan sontak membuat tenggorokan Salena seperti tercekat, dan merasa kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri.
Setelah tidak menemukan kebohongan di mata Salena, Tristan kemudian kembali menarik wajahnya menjauh dari wajah gadis remaja itu.
"Tidak pernah kencan di luar, tapi bagaimana saat di sekolah dan kalau kalian berdua sedang teleponan, apa saja yang kalian bicarakan? apa kalian pernah melakukan Video call yang tidak wajar?" selidiki Tristan lagi, merasa enggan menyebut kata VCS pada Salena yang dia anggap masih terlalu polos.
"Kami tidak pernah melakukan Video call yang tidak wajar kak. Biasa saja, say hello, dan bercerita-cerita hal yang sangat membosankan. Dan itupun hanya sebentar saja," sesuai dugaan Tristan, dari jawaban gadis di sampingnya itu, Tristan bisa menarik kesimpulan kalau Salena belum mengerti maksudnya Dan itu pertanda kalau gadis itu masih awam masalah kata VCS. Tristan kini kembali menjalankan mobilnya, dengan kecepatan sedang.
"Kenapa kakak bertanya seperti itu? apa kakak cemburu? tenang saja Kak, aku tidak akan bertindak aneh-aneh pada laki-laki lain karena aku tahu kalau aku ini calon istrimu!"
Tristan menghentikan mobilnya tiba-tiba, karena kaget mendengar ucapan Salena.
"Kak, hati-hati dong! kakak mau kita mati?" protes Salena dengan bibir yang mengerucut.
"Ka-kamu sudah tahu? dari mana kamu tahu?" cecar Tristan, tidak peduli dengan protes yang dilayangkan oleh gadis itu.
"Ya, aku tahulah. Aku mendengar sendiri waktu kakak pertama kali mengambil alih tugas pak Sandi untuk mengantar jemput aku. Tapi, aku berpura-pura tidak tahu." Salena cengengesan memamerkan deretan giginya yang tertata rapi.
Tristan bergeming, benar-benar kehabisan kata-kata.
"Jadi kamu tidak protes sama sekali? kamu kan masih muda, yang kebanyakan tidak terima dengan yang namanya perjodohan,"
"Buat apa aku protes, Kak? justru aku sangat bahagia dan akhirnya membuat cita-citanya utamaku yang ingin jadi pengacara langsung berubah," tutur Salena, ambigu.
Tristan mengrenyitkan keningnya bingung dengan maksud perkatan gadis remaja itu.
" Maksud kamu ...kamu tidak ingin jadi pengacara lagi?" tanya Tristan.
"Bukan seperti itu maksudnya, Kak. Hanya berganti posisi saja. Itu cita-cita keduaku, dan cita-cita utamaku sekarang itu, menikah muda denganmu," sahut Salena sembari mengerlingkan matanya, menggoda, hingga menimbulkan semburat merah di pipi Tristan.
"Sial, bisa-bisanya aku tersipu malu dibuat seorang remaja," umpat Tristan sembari memalingkan wajahnya ke tempat lain.
"Kakak kenapa lihat ke sana? kakak malu ya?" goda Salena kembali sembari mencolek-colek pinggang Tristan.
"Salena, hentikan! jangan buat aku khilaf!" pekik Tristan, membuat tawa Salena pecah.
"Tapi, tunggu dulu!" seru Tristan tiba-tiba. "Kamu sudah tahu kalau aku calon suamimu, tapi kenapa kamu masih melanjutkan hubunganmu dengan laki-laki brengsek tadi?" tatapan Tristan kembali tajam.
"Emm, itu karena aku tidak mau seperti Kakak, Kak Bima dan Kak Bimo, yang tidak memiliki mantan pacar. Gak seru, nanti kalau ditanya anak-anak. Kan malu, kalau anak tanya, apa kita punya mantan pacar atau tidak, kita malah jawab 'tidak ada'. Haish, cantik-cantik begini tidak punya mantan kan, harga diriku mau ditaruh di mana?" sahut Salena, santai.
Tristan tercengang dengan mulut yang sedikit terbuka mendengar jawaban Salena yang absurd.
tbc