
Matahari kini sudah semakin tinggi pertanda pagi akan berganti menjadi siang.
Tania kini sudah terlihat rapi dan wajahnya benar-benar berbinar bahagia, walaupun memang permintaan Bara akhirnya dituruti, yaitu nama Bimo tetap dibuat menjadi pewaris, tetapi hanya seperempat saja. Tania merasa biarlah kali ini dia mengalah, karena nanti dia sudah memikirkan cara agar warisan yang seperempat itu, jadi milik Tristan seluruhnya dan yakin kalau kali ini anak yang dia anggap penghalang itu, tidak akan kembali dengan selamat lagi ke rumah ini.
Tania melirik ke arah jam di dinding, untuk memastikan jam pulangnya Bimo.
"Masih dua jam lagi anak itu pulang sekolah dan pengacara akan di ke sini 30 menit lagi. Aku yakin kalau rencanaku kali ini akan berhasil tanpa ada halangan lagi," Tania terkekeh, benar-benar merasa kemenangan sudah ada di depan matanya.
Wanita itu kemudian meraih ponselnya dan meletakkan ponsel itu ke telinganya karena dia ingin menghubungi seseorang.
"Halo, kalian sudah standby kan di depan sekolah?" tanya Tania to the point. Ya, wanita itu menghubungi orang suruhannya.
"Iya, Bu sudah. Jono supir yang ibu katakan itu juga tidak ada di sini seperti yang Ibu katakan," sahut orang suruhan Tania dari ujung sana.
"Kalau itu, aku yang memintanya untuk langsung pergi setelah mengantarkan Bimo. Jadi sewaktu dia asik menunggu Jono, kalian bisa pura-pura mendekatinya dan langsung bius dia, agar dia tidak bisa melawan," sahut Tania yang masih sangat yakin kalau Jono ada di pihaknya.
"Pokoknya kalian tunggu saja di depan sekolah ya! jangan biarkan dia lolos kali ini!" lanjut Tania kembali sembari memutuskan panggilan secara sepihak.
Tania baru saja hendak mendaratkan tubuhnya duduk di atas ranjang, tapi dia mengurungkannya karena tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Tania mengayunkan kakinya melangkah untuk membuka pintu. Tampak seorang asisten rumah tangga berdiri di depan kamarnya dengan tubuh yang sedikit membungkuk.
"Nyonya, Nyonya dipanggil Ibu Elva ke bawah karena pengacaranya sudah datang," ucap pembantu itu dengan sangat hati-hati.
Mata Tania sontak berbinar bahagia mendengar informasi yang baru saja terlontar dari mulut pembantu itu.
"Baiklah, aku akan turun! Apa Tuan Bara juga sudah ada di bawah?" tanya Tania memastikan.
"Belum, Nyonya!" senyum Tania seketika menyurut mendengar jawaban yang diberikan oleh pembantu itu. Karena tadinya dia berharap kalau Bara juga sudah datang agar proses penandatanganan cepat selesai.
"oh ya udah. Kamu pergi saja dari sini!" Tania mengusir pembantu itu enyah dari hadapannya dengan menggunakan gerakan tangan.
Pembantu itu kemudian memutar tubuhnya dan berlalu pergi sembari memasang wajah bengis, karena memang dia sama sekali tidak menyukai Tania.
Setelah tubuh pembantu itu sudah hilang dari pandangan, Tania mulai membenarkan penampilannya lagi, dan akhirnya melangkah turun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bibir Tania penuh dengan senyuman ketika wanita itu mendaratkan tubuhnya duduk di samping Elva mama mertuanya.
"Tania, kamu sapa dulu pengacara keluarga kita!" tegur Elva dengan nada suara pelan tapi penuh tekanan.
"Eh, iya Ma. Maaf!" sahut Tania dan langsung berdiri kembali.
"Selamat siang, Pak Rahmat!" Tania mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan pria yang merupakan pengacara keluarga Prayoga itu.
"Silakan duduk kembali Pak Rahmat!" Tania menunjuk ke arah sofa setelah jabatan mereka terlepas dan Tania kembali duduk di samping Mama mertuanya.
"Ma, Mas Bara kenapa belum datang ya?" tanya Tania dengan mata yang menatap ke arah pintu. Jujur, perasaan Tania belum benar-benar tenang selama Bara belum datang dan surat warisan benar-benar sudah ditandatangani.
"Tunggu saja dulu! Bara tadi bilang kalau dia sudah di jalan. Mungkin sebentar lagi dia akan sampai," sahut Elva, membuat Tania merasa sedikit
lega.
Benar saja, seperti yang dikatakan oleh Elva tadi, tampak Bara muncul di ambang pintu dan langsung berjalan menuju sofa.
"Yes, akhirnya dia sudah datang. Dalam hitungan menit, Tristan akan sah menjadi pewaris dan dalam hitungan jam,Bimo akan tinggal nama. Aku benar-benar beruntung dalam hidup ini," sorak Tania dalam hati, begitu bahagia melihat kehadiran Bara.
"Mas, kamu sudah datang ya! Mas duduk di sini!" Tania berdiri dari tempat dia duduk dan berakting seakan-akan merupakan istri yang baik.
"Tidak perlu! aku akan duduk di sini!" sahut Bata dengan wajah datar dan nada dingin.
Tania sontak pura-pura memasang wajah sedih untuk menarik rasa simpati mama mertuanya.
"Bara, kalau pun kamu tidak mau duduk di tempat yang ditunjuk oleh Tania, setidaknya kamu tolak dengan sopan!" akting Tania lagi-lagi berhasil menarik simpati dari Elva mama mertuanya, membunuh sudut bibir Tania, tersenyum tipis.
"Sudahlah,Ma tidak perlu berbasa-basi lagi. Aku tidak suka melakukan hal yang sangat terpaksa. Aku merasa kalau aku terlihat buruk kalau aku harus tersenyum padahal aku sama sekali tidak ingin tersenyum!" ucap Bara, yang lagi-lagi bersikap apatis.
Kemudian perhatian Bara beralih ke arah Rahmat sang pengacara.
"Bagaimana, Pak Rahmat? apa yang aku perintahkan sudah kamu lakukan?" tanya Bara to the point.
"Sudah Tuan Bara. Semuanya sesuai dengan perintah. Tuan bisa lihat dulu sebentar, kasih tahu mana yang kurang biar aku bisa memperbaikinya. Kalau sudah tidak ada, Tuan tinggal menandatangani saja," Rahmat membuka dokumen dan menyerahkannya ke depan Bara untuk dibaca lebih dulu
Untuk beberapa saat Bara terlihat serius membaca dokumen-dokumen yang ada di tangannya dengan sangat teliti. Pria itu tidak mau ada sesuatu kecurangan sedikitpun dan tidak sesuai seperti yang dia minta.
"Baiklah! semuanya sudah sesuai dengan yang aku inginkan. Tapi sebelum aku menandatanganinya aku juga ingin memastikan sesuatu," ucap Bara ambigu sembari menatap ke arah Tania.
Tania yang merasa ditatap seketika merasa mengerti kalau Bara hendak mengucapkan sesuatu padanya. "Apa itu,Mas?" tanya Tania dengan suara lembut.
"Aku ingin kamu berjanji kalau setelah ini, jangan pernah menganggu hak waris Bimo lagi. Apalagi kalau sudah dewasa nanti, apa yang dimilikinya bisa dua kali lipat lebih besar dari milik Tristan. Karena aku yakin,. walaupun hanya seperempat, Bimo pasti akan bisa melampaui Tristan," ucap Bara yang sama sekali tidak merasa bersalah kalau yang sedang diragukannya itu adalah anaknya sendiri.
"Bara, apa-apa kamu! bagaimana mungkin kamu lebih yakin pada anak angkat yang tidak punya hubungan darah sama sekali denganmu dibandingkan dengan anak kandungmu sendiri. Harusnya kamu yakin kemampuan Tristan akan sama sepertimu karena yang pasti mewarisi kehebatanmu itu pasti yang ada hubungan darah denganmu," protes Elva, yang merasa tidak terima.
"Tapi sayangnya, Tristan sama sekali tidak punya hubungan darah dengan papa! jadi sangat pantas papa meragukannya!" terdengar suara anak laki-laki yang menimpali ucapan Elva. Siapa lagi dia kalau bukan Bima.
tbc