Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Bertemu


Dengan sedikit berlari Bima keluar dari area sekolah dan menghampiri mobil Bara papanya yang sudah menunggunya di luar.


"Bagaimana, sekolahnya hari ini?" tanya Bara berbasa-basi lebih dulu sebelum menjalankan mobilnya.


"Semuanya berjalan baik seperti biasanya, Pa," sahut Bima dengan senyuman lebar.


"Ya udah, kita langsung pulang sekarang atau kamu ada rencana mau jalan-jalan lebih dulu?"


"Apa Papa benar-benar punya waktu hari ini?" tanya Bima memastikan.


Bara menoleh ke arah Bima dan tersenyum. "Tentu saja, Papa ada waktu. Kalau tidak, tidak mungkin papa bisa ada di sini bersamamu kan? Papa tadi sudah menyerahkan semua pekerjaan pada Satya, karena memang hari ini Papa juga tidak ada jadwal untuk bertemu dengan klien," tutur Bara dengan senyum yang tidak memudar dari bibirnya.


Mata Bima berbinar. Dia merasa rencananya hari ini benar-benar direstui oleh Tuhan.


"Sebenarnya aku ingin bermain sepuasnya di Timezone berdua dengan Papa. Tapi sebelumnya aku ingin membeli bunga untuk guruku yang kebetulan berulang tahun hari ini, Pa. Tapi aku mau membeli bunganya di toko bunga di jalan Angkasa. Karena di sana bunganya segar-segar dan katanya pemiliknya sangat bagus dalam merangkai bunga, apa Papa mau membawaku ke sana?" Bima memiringkan kepalanya ke kanan, dan memasang puppy eyes sehingga terlihat menggemaskan.


Bara tidak langsung menolak maupun mengiyakan. Karena sejujurnya pikirannya sedang melalang buana begitu mendengar kalau hari ini adalah ulang tahun wali kelas Bimo. Bagaimana tidak, pria itu ingat betul kalau hari ini adalah hari ulang tahun wanita yang selalu menempati hatinya sampai sekarang, terlebih orang yang ada di pikirannya itu juga sangat menyukai bunga.


"Kenapa, Papa diam? apa Papa keberatan?" tanya Bima dengan perasaan was-was.


Mendengar pertanyaan Bima, sontak saja membuat Bara tersadar dari lamunannya.


"Oh, ti-tidak sama sekali. Hari ini Papa akan kasih waktu penuh ke kamu. Ayo kita ke toko bunga itu!" pungkas Bara akhirnya dengan tersenyum.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Pa, berhenti di depan itu, Pa! Itu toko bunganya!" Bima menunjuk sebuah toko bunga sederhana dan bersebelahan dengan toko kue.


"Oh, itu tokonya? baiklah!" ucap Bara sembari menepikan mobilnya di depan toko itu.


Setelah mobil sudah berhenti dengan sempurna, Bara menoleh ke arah putranya. Alis pria itu sontak bertaut melihat tidak ada tanda-tanda Bima akan keluar dari dalam mobil.


"Bimo, kenapa kamu tidak turun? bukannya katamu, kamu mau membeli bunga untuk wali kelasmu dan mengirimkannya sebagai hadiah ucapan selamat ulang tahun?" tanya Bara, penuh tanya.


"Emm, aku tidak punya uang, Pa," Bima terlihat nyengir kuda.


"Kalau tidak punya, kan kamu bisa minta ke Papa?" Bara merogoh sakunya dan mengeluarkan dompetnya dari dalam.


"Nih, uangnya. Apa segini cukup?" Bara mengeluarkan beberapa lembar uang seratusan dari dalam dompetnya itu. "Kalau tidak cukup,kamu bawa kartu ini, kamu bisa bayar pakai kartu ini," imbuh Bara lagi sembari mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam.


Bima sontak menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali dan anak laki-laki itu sama sekali tidak mengambil uang dan kartu yang disodorkan papanya itu.


"Bimo, kenapa tidak diambil? ayo ambil!" desak Bara dengan tangan yang semakin didorong ke arah Bima.


"Pa, aku malu. Bisa tidak Papa saja yang ke sana membelinya untukku? bilang saja agar dirangkai sebuket bunga lili putih? kalau tidak ada bunga mawar merah saja juga tidak apa-apa," ucap Bima dengan wajah memelas.


"Lili putih? mawar merah?" gumam Bara yang masih bisa didengar oleh telinga Bima.


"Kenapa kedua bunga itu sama persis dengan bunga kesukaan Clara?" bisik Bara pada dirinya sendiri.


"Pa, apa Papa bisa? kalau tidak bisa ya, kita pulang saja kalau begitu," Bima memasang wajah sendunya.


"Baiklah, Papa yang akan turun untuk membelinya." Bara membuka pintu mobil dan bersiap untuk turun.


" Apa perlu dituliskan pesan di bunga itu? seperti ucapan selamat ulang tahun atau doa dan harapan misalnya?" tanya Bara memastikan.


"Tidak perlu, Pa. Aku sudah menuliskannya di kartu ini!" Bima menunjukkan sebuah kartu berwarna pink.


Senyum Bara sontak terbit menghiasi bibirnya. Pria itu tampak menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa kalau putra yang diangkatnya itu cukup romantis. Bagaimana tidak, Bara tahu benar kalau bunga lili putih itu terkenal sebagai tanaman yang menjadi simbol cinta sejati yang murni dan demikian juga dengan bunga mawar merah yang melambangkan cinta sejati.


Bara kemudian mengayunkan kakinya melangkah masuk ke dalam toko bunga sementara Bima mengintip dari dalam mobil.


Bara kini sudah berada di dalam toko bunga. Aroma bunga-bunga langsung menyeruak membelai indera penciumannya. Di depannya Tampak seorang wanita yang sedang membelakanginya dan sepertinya wanita itu sedang fokus merangkai sebuah bunga.


"Permisi, Nona! aku mau pesan bunga," sapa Bara dengan nada suara yang dingin.


"Oh, Iya, Tuan. Mau bu ...." suara wanita itu tiba-tiba menggantung di udara, tenggorokannya seakan tercekat, begitu melihat sosok Bara. Bukan hanya wanita itu yang kaget, Bara juga tidak kalah kaget, karena sosok wanita yang ada di depannya adalah wanita yang selama ini ada di pikirannya. Siapa lagi wanita itu kalau bukan Clara.


"M-Mas Bara?"


"C-Clara?"


Gumam dua orang berlainan jenis itu bersamaan.


Pandangan keduanya cukup lama saling terkunci. Tampak jelas, di mata Clara ada kilauan cairan bening seperti lautan yang terkena pantulan sinar matahari. Dan sumpah demi apapun, Bara ingin sekali menyelam di dalamnya.


"Oh, Ma-maaf. Ta-tadi mau pesan apa, Mas? mau pesan bunga ya?" tanya Clara berusaha untuk membuang rasa canggungnya.


"Aku mau pesan, bunga. Tolong rangkaikan sebuket bunga lili putih dan sebuket lagi bunga mawar merah!" ucap Bara berusaha untuk tetap bersikap biasa, seakan tidak terpengaruh dengan keberadaan Clara di depannya.


"Untuk siapa?" tanya Clara tanpa sengaja.


Bara tidak menjawab sama sekali. Justru Pria itu malah menatap wajah Clara dengan tatapan yang sukar untuk dibaca. Sementara itu, Clara sontak salah mengartikan tatapan Bara. Dia merasa pria di depannya itu, sama sekali tidak suka dengan pernyataannya yang memang cukup tidak pantas untuk ditanyakan mengingat mereka sudah tidak punya hubungan lagi.


"Ma-maaf, bukan maksudku ingin tahu. Aku hanya ingin memerlukannya untuk aku tulis di kartu nanti," Clara dengan sigap memberikan alasan yang cukup masuk akal.


"Sepertinya tidak perlu. Karena kartu ucapannya sudah ada. Kamu hanya perlu merangkainya saja!" sahut Bara dengan nada yang masih dingin, berusaha untuk menyembunyikan debaran jantungnya yang sekarang benar-benar sukar untuk dikendalikan.


Clara menganggukkan kepalanya dengan raut wajah sendu. Dan segera bergerak untuk mengambil bunga pesanan Bara. "Ini pasti untuk istrinya. Dia benar-benar sudah melupakan cintanya padaku dan sekarang cintanya sudah benar-benar ke istrinya. Mungkin ingatannya sudah kembali," batin Clara dengan setitik cairan yang jatuh tiba-tiba dan buru-buru dia seka.


Sementara itu, tampak Bimo yang mengayuh sepeda memasuki area toko bunga Clara. Matanya sontak membesar melihat ada mobil yang sangat dikenalnya ada di depan toko bunga mamanya.


"Ini kan mobilnya Papa? apa mungkin Papa ada di sini? tapi kenapa bisa?" batin Bimo bertanya-tanya.


"Stttt!,Bimo!" Bimo terkesiap kaget mendengar ada suara yang memanggil namanya dengan suara yang samar-samar.


Anak laki-laki itu, semakin kaget begitu melihat sosok Bima yang berada di dalam mobil itu.


"Bima, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Bimo seraya menghampiri mobil itu.


"Kamu jangan terlihat dulu! ada papa di dalam sana. Nanti aku akan kasih tahu kamu alasan kenapa aku membawa papa ke sini. Sekarang kamu sembunyi dulu dan masuk setelah kami pergi, ok!"


Walaupun Bimo masih sangat bingung dan penasaran, anak kecil itu tetap saja menganggukkan kepalanya dan menyingkir dari tempat itu.


Tbc