Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Selamat ulang tahun


"Kamu apa kabar?" akhirnya Bara kembali membuka suara, setelah cukup lama terdiam, memperhatikan Clara yang fokus merangkai bunga pesanannya.


Clara mengalihkan perhatiannya dari bunga ke arah Bara untuk sejenak kemudian kembali lagi fokus merangkai bunga-bunga itu dengan tangan lincahnya. "Seperti yang Mas lihat. Aku baik-baik saja. Dan yang aku lihat, Mas juga sepertinya juga baik-baik saja," sahut Clara tanpa menatap lagi ke arah Bara.


"Apa toko ini milikmu?" tanya Bara kembali sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


"Iya. Hanya kecil-kecilan tapi cukup untuk membiayai hidupku dan an ...." Clara hampir saja keceplosan mengungkapkan kalau dia memiliki anak hasil dari pernikahan mereka dulu.


"Dan an apa?" Bara memicingkan matanya, curiga.


Clara sontak memutar tubuhnya, berpura-pura seakan-akan sedang ingin mengambil sesuatu, agar fokus Bara sedikit terganggu dan melupakan ucapan yang tergantung di tenggorokannya tadi. Clara dengan sengaja mengambil sekuntum bunga mawar merah lagi, padahal sebenarnya jumlah sebelumnya sudah cukup.


"Nih, akhirnya sudah selesai!" Clara memberikan dua buket bunga yang sudah selesai dia rangkai Deny sangat apik dan begitu indah.


Bara tidak mau melanjutkan pertanyaannya tadi. Sepertinya cara Clara untuk membuat perhatian pria itu teralih benar-benar berhasil. Pria itu mengulurkan tangannya untuk mengambil bunga-bunga itu dari tangan Clara. Tangan pria itu terjulur mengambil bunga, tapi matanya tidak pernah lepas dari wajah Clara.


Merasa ditatap oleh Bara dengan intens, membuat Clara salah tingkah. Wanita itu dengan sengaja mengalihkan tatapannya ke arah lain.


"Apa kamu sudah menikah lagi?" tanya Bara lagi untuk menghentikan kecanggungan yang sempat tercipta. Kenapa dia bisa bertanya seperti itu? itu karena tiba-tiba pria itu mengingat kalau dia pernah melihat Clara bersama dengan seorang pria di restoran, yang membuat moodnya hancur hari itu.


Clara tidak menyahut. Namun,kepala wanita itu yang menggeleng pertanda kalau dirinya memberikan tanggapan atas pertanyaan mantan suaminya itu.


"Kenapa?" alis Bara bertaut tajam, menyelidik. Entah kenapa ada perasaan lega yang timbul di hatinya begitu mendapati kenyataan kalau ternyata Clara belum menikah lagi.


Clara menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara. "Itu karena mungkin belum saatnya saja. Kalau sudah tiba saatnya mungkin aku juga tidak akan menampik kalau aku akan menikah lagi," sahut Clara, dengan nada lirih.


Mendengar jawaban yang diberikan oleh wanita di depannya itu, ada sedikit kekecewaan yang timbul di hatinya. Padahal tadinya dia berharap, Clara menjawab kalau dia belum bisa membuka hati pada pria lain dikarenakan perasaan cintanya masih sama seperti dulu.


"Oh, seperti itu? Baiklah! aku harap kamu bisa menemukan yang terbaik. Bunganya ini berapa?" Bara akhirnya memutuskan untuk cepat-cepat berlalu dari tempat itu. Tangan pria itu terlihat merogoh sakunya dan mengeluarkan dompetnya. Dompet yang sama seperti ketika mereka berdua masih bersama dulu. Dompet yang harganya murah, dan dibelikan oleh Clara.


Sementara itu,Bara yang melihat tatapan Clara ke arah dompetnya, seketika wajahnya berubah merah.


"Oh ini aku masih memakainya karena aku belum sempat beli dompet yang baru. Aku terlalu sibuk sampai tiba kepikiran untuk mengganti dompet," tanpa ditanya, Bara langsung membuat klarifikasi sendiri tanpa menyadari kalau alasan yang dilontarkannya tadi, itu benar-benar tidak masuk akal. Bagaimana mungkin sebelum dia bertemu dengan Clara dulu dan sebelum mengalami amnesia, dia tidak memiliki koleksi dompet mahal dulu.


"Oh, seperti itu? lagian aku tidak bertanya akan hal itu kok, Mas," Clara berusaha menahan tawanya.


"Eh,be-berapa ini tadi?" dengan gugup Bara kembali mengulangi pertanyaannya.


"Bawa aja,Mas! anggap saja ini hadiahku untuk istrimu," Clara berusaha untuk tersenyum. Padahal siapapun bisa melihat kalau senyumnya itu terlihat sangat getir.


"Istri? bunga ini sama sekali bukan untuk istriku," ucap Bara. "Haish, aku benci menyebut kata istriku pada wanita itu," lanjut Bara kembali, tapi tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati.


"Oh, bukan ya?" maaf kalau aku salah,"


"Bunga ini diminta oleh anakku, karena dia mau memberikannya sebagai hadiah pada gurunya yang ulang tahun hari ini," tanpa ditanya lagi, Bara dengan senang hati menjelaskan seakan ada rasa takut pria itu kalau Clara salah paham padanya.


"Oh, seperti itu? ya, kalau begitu bawa saja bunganya tidak perlu bayar. Aku kasih gratis buat anak kamu,"


"Tidak bisa seperti itu! ini bisnis kamu, jadi bagaimanapun aku harus tetap bayar. Ini uangnya, cukup kan?" Bara meletakkan uang r seratus ribuan kira-kira 10 lembar, dan berlalu pergi sebelum mantan istrinya itu menolak kembali.


"Mas Bara ini terlalu banyak!" seru Clara, mencegah pria itu pergi.


Bara menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya kembali menoleh ke arah Clara.


"Ambil saja! Soalnya kamu pasti lebih butuh uang dibandingkan aku. Oh ya, Selamat ulang tahun!" pungkas pria itu, dan kemudian melanjutkan langkahnya kembali, meninggalkan Clara yang seketika membeku di tempatnya.


Tbc