
Baiklah, akan aku jelaskan! dokter ini adalah dokter yang dibayar oleh wanita itu dengan Om Dito untuk memberikan obat yang salah, yang bisa membuat ingatan papa sulit untuk kembali," jelas Bima, membuat wajah Bara kembali memerah. "Tapi, obat yang belakangan dikonsumsi papa itu adalah obat yang benar, karena aku sudah berhasil menukarnya. Aku tidak menyangka, kalau papa bisa ingat secepat ini,"
Flash back On
Bima merebahkan tubuhnya karena merasa lelah. Tapi dia benar senang karena mendengar Jono yang sudah berhasil memasang kamera dan penyadap di mobil Tania.
Tiba-tiba ponsel anak itu berbunyi pertanda ada yang sedang menghubunginya. Bima sontak meraih ponsel yang dia letakkan tidak jauh dari tubuhnya.
Kening anak kecil itu berkerut begitu melihat bahwa orang yang menghubunginya adalah Bimo adik kembarnya.
"Ada apa, Bimo?" tanpa basa-basi terlebih dulu,Bimo langsung bertanya.
"Bima, Tante Tania dan Dito hari ini akan keluar, aku rasa kamu perlu__"
"Tidak perlu sama sekali aku mengikuti mereka. Karena seperti yang aku katakan tadi malam, kalau aku akan meminta pak Jono memasang alat penyadap yang memakai GPS tracking yang sudah aku hubungkan ke handphone, di mobil mereka. Bukan hanya posisi mereka yang bisa kita tahu, suara mereka juga bisa kita dengar. Selain itu aku juga sudah meminta Pak Jono untuk meletakkan kamera kecil di mobil itu, agar aku bisa memantau apa saja yang mereka lakukan di dalam mobil itu," Bima seketika menyela ucapan Bimo sebelum adiknya itu selesai bicara.
Ya, kemarin ketika Bima keluar dengan diantar oleh Jono, dia ingin membeli kamera kecil dan alat penyadap dengan menggunakan uang yang ditransfer oleh Bimo dari kartu kredit Tania yang berhasil dibobol oleh adiknya itu.
"Jangan potong apa yang akan aku bicarakan dulu, Bima! itu benar-benar tidak sopan,". protes Bimo dari ujung sana. Bisa dipastikan kalau raut wajah Bimo pasti sedang cemberut sekarang.
"Maaf! apa yang akan kamu katakan lagi? ayo katakan saja, aku pasti akan mendengarnya,"
"Kalau masalah di dalam mobil, informasinya boleh saja kamu dapatkan. Tapi bagaimana kalau setelah itu? Hari ini, mereka akan pergi ke rumah sakit tempat mereka meminta obat yang membuat Amnesia Papa susah disembuhkan. Padahal kesembuhan papa bisa jadi bukti juga kalau Tristan bukan anaknya. Kalau kamu bisa, kamu coba ikuti mereka diam-diam," Bimo melanjutkan ucapannya yang sempat tertunda tadi.
Bima mengangguk-anggukan kepalanya, padahal Bimo sama sekali tidak bisa melihat apa yang dia lakukan sekarang.
"Tapi, Bima mereka mengenali mobil yang khusus untukku. Jadi sangat besar kemungkinan kalau aku dan Pak Jono akan ketahuan, mengikuti mereka," Bima kembali buka suara setelah diam beberapa saat.
Keheningan kemudian tercipta di antara dua. anak kembar itu. Keduanya tampak berpikir keras bagaimana caranya agar mereka tidak ketahuan membuntuti mobil Tania yang dikemudikan oleh Dito nanti.
"Kalau aku memesan taksi,bisa jadi sebelum taksinya datang, mereka sudah lebih dulu pergi.Boleh saja aku tahu ke rumah sakit mana mereka pergi, tapi bisa jadi aku akan telat dah kehilangan informasi penting," batin Bima, sembari memejamkan matanya sekilas.
"Oh,aku tahu bagaimana caranya!" sorak. Bima tiba-tiba dengan raut wajah yang berbinar.
"Bagaimana?" tanya Bimo, antusias.
Dengan semangat, Bima mengutarakan bagaimana caranya dia akan bisa membuntuti Tania dan Dito tanpa ketahuan.
"Seperti itu. Mudah-mudahan cara ini berhasil," ucap Bima mengakhiri ucapannya.
"Emm, sepertinya memang hanya itu cara yang paling tepat," ucap Bima, menyanggupi saran Bimo.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesuai saran Bimo, dibantu oleh Pak Jono, Bima masuk ke dalam bagasi mobil yang akan dikemudikan oleh Dito, sebelum kedua orang itu masuk mobil.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh,Bima melihat dan mendengar apa yang mereka bicarakan, di mana Tania meminta dokter itu untuk menaikkan dosis agar Bara selamanya tidak ingat akan masa lalunya. Seakan tidak mau kehilangan momen, Bima mengambil video interaksi ke tiga orang itu sebagai alat untuk mengancam sang dokter.
Tania tersenyum bahagia begitu mendapatkan obat yang dia mau. Dia dan Dito langsung meninggalkan tempat itu dan keluar dari rumah sakit.
Melihat situasi sudah aman, Bima melangkah mendekati sang dokter.
"Wah, wah hebat sekali anda ya, Dok? anda benar-benar sudah melanggar sumpah dokter yang sudah anda ucapkan," ucap Bima tanpa basa-basi.
"Hei,anak kecil apa yang kami bicarakan ini? jangan asal bicara!" dokter itu terlihat murka.
"Anda jangan menyangkal lagi, Dok! ini apa?". Bima langsung memutar video yang sudah dia rekam tadi, sehingga membuat dokter itu pucat.
"Lancang sekali kamu! ini bukan urusanmu! jangan sekali-kali kamu mencampuri urusan yang bukan urusanmu! kamu masih anak kecil tapi tidak punya sopan santun!" bentak dokter itu setelah bisa keluar dari rasa takutnya mengingat yang dihadapinya hanyalah seorang anak kecil yang ingin tahu urusan orang tua.
Bima tersenyum smirk dan menatap dokter itu dengan tatapan meledek. "Dokter, tentu saja ini urusanku karena obat yang anda kasih ke tante Tania itu untuk papaku. Jadi hati-hati saja, aku bisa membuat karir kedokteran anda hancur dengan video ini!". ancam Bima yang membuat dokter itu kembali ketakutan.
"Hapus video itu! kalau tidak aku akan memberikan pelajaran padamu!" dokter itu balik mengancam.
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?" tantang Bima, yang tetap dibarengi dengan senyum tipisnya.
"Aku bilang hapus ya hapus. Kalau kamu tidak mau hapus, aku sendiri yang akan menghapusnya!" dokter itu berusaha untuk merebut handphone yang ada di tangan Bima. Namun alih-alih mendapatkan handphone, tangannya justru langsung ditangkap dan dipelintir oleh Bima, hingga membuat dokter itu meringis kesakitan.
"Jangan main-main denganku! walaupun aku masih kecil, aku ini pemegang sabuk hitam taekwondo. Tangan kamu ini bisa patah sekarang juga aku buat," bisik Bima penuh tekanan.
"Iya,iya maaf! sekarang tolong lepaskan tanganku dan katakan apa maumu!"
"Permintaanku mudah. . Kalau kamu mau karirmu masih aman, sekarang kamu berikan aku obat yang benar yang bisa menyembuhkan ingatan papa. dan dosisnya lebih tinggi dari obat yang anda berikan pada Tante Tania!" ucap Bima, tegas.
"Baik,baik. Aku akan kasih Obat itu! tapi jangan sebarkan video itu dan tolong lepaskan tanganku ini!" sahut dokter itu, masih dengan wajah yang meringis ketakutan.
Bima melepaskan pelintiran tangannya dengan cara menyentak dengan kuat sehingga lagi-lagi pria itu mengerang kesakitan.
"Sekarang, ambil obat yang aku mau! dan jangan coba-coba berbohong. Aku bisa cek keaslian obatnya," ucap Bima, sedikit melebih-lebihkan kemampuannya, padahal bagaimana mungkin dia bisa mengecek keaslian obat.
"Ba-baik aku ambil dulu obatnya! kamu tunggu di sini!" dokter itu berbalik dan masuk ke dalam ruangannya.
Sementara itu Bima langsung melakukan panggilan ke Pak Jono dan meminta pria itu untuk menjemputnya di rumah sakit.
tbc
Mulai dari tadi malam aku demam. Rencananya tidak up, tapi aku tetap usahakan untuk menulis. Jadi, kalau kurang greget, aku minta maaf ya, Guys 🙏🏻