Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Pindah sekolah


Pagi ini Bima mematut dirinya di depan cermin yang menggunakan seragam sekolah yang berbeda dari seragam sekolah sebelumnya. Tampak jelas wajah anak laki-laki itu terlihat sangat gembira. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari kedua dia berada di sekolahnya yang baru. Ya, karena permintaannya, Bima akhirnya dipindahkan ke sekolah yang sama dengan Bimo dan Tristan.


Kenapa,anak kecil itu bisa begitu bahagianya, karena dia merasa hari-harinya nyaman tanpa mendengar celotehan Ayunda.


"Ah, nyamannya tampa si berisik itu!" gumam Bima sembari membenarkan dasi sekolahnya.


"Bima, sudah belum? ayo turun ke bawah!" seru Bimo sembari meraih tas sekolahnya.


"Aku sudah siap juga. Ayo turun!" hal yang sama juga dilakukan oleh Bima.


Sebelum mencapai anak tangga, kedua bocah kembar itu lebih dulu mengetuk kamar Tristan untuk mengajak anak laki-laki itu turun juga bersama mereka. Belakangan ini Tristan yang dulunya canggung kini sudah terlihat lebih terbuka pada si kembar.


Sembari bercanda tawa tiga anak kecil itu, turun bersama dan langsung menuju meja makan untuk sarapan bersama seperti biasa.


"Wah, cucu-cucu Oma sudah datang. Ayo duduk semua! Mama kalian tadi sudah memasak makanan kesukaan kalian," ucap Elva, menyambut ke tiga cucunya.


Ya, walaupun Tristan merupakan anak dari Tania dan bukan cucu kandung Elva, wanita itu tetap memperlakukan Tristan sama seperti dia memperlakukan Bima dan Bimo.


"Wah, asyik!" seru ketiganya hampir bersamaan.


Melihat kegembiraan ketiga anak laki-lakinya itu, Clara pun ikut tersenyum dan dengan bahagia mengisi piring ke tiga putranya itu dengan makanan.


"Sayang, kenapa mereka yang didahulukan? aku kan juga sudah lapar!" protes Bara, yang berpura-pura memasang wajah kusutnya.


"Mereka kan mau sekolah, Mas. Nanti Pak Jamal kelamaan nunggu mereka," sahut Clara, santai.


Ya, Jamal kini kembali menjadi supir di keluarga Bara, dan ditugaskan sebagai supir pribadi tiga bocah laki-laki itu. Dimana Jono? Sedangkan Jono, kini kembali bekerja kantoran dan mendapatkan jabatan yang lumayan tinggi di perusahaan Bara.


Setelah piring ketiga bocah itu terisi, Clara kini melayani Bara, yang wajahnya kembali berbinar.


"Oh ya, karena hari ini Papa tidak terlalu sibuk, jadi papa yang akan mengantarkan kalian bke sekolah. Dan kalaupun nanti siang Papa juga tidak sibuk, papa juga yang akan menjemput kalian bertiga," celetuk Bara, sebelum pria itu memasukan makanan ke dalam mulutnya.


"Benar, Pa?" tanya Bimo memastikan.


"Iya, tentu saja. Kapan Papa berbohong?"


"Dua hari lalu, bukannya Papa berbohong? katanya akan bawa kami jalan-jalan, eh ternyata malah hanya jalan berdua sama Mama. Kami terlupakan!" celetuk Bima, tersenyum miring.


Bara sontak terdiam, tidak membantah ucapan putranya itu,karena memang saat itu dia benar-benar lupa, kalau dia sudah berjanji pada putra-putranya, saking ingin jalan berduaan dengan sang istri.


"Maaf deh. Kali ini Papa tidak akan lupa lagi!" pungkas Bara akhirnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bima, Bimo dan Tristan keluar dari dalamnya mobil Bara. Setelah melambaikan tangan, ketiga bocah laki-laki itu, berjalan masuk ke dalam area sekolah dan langsung menuju kelas mereka.


Dari arah yang tidak terlalu jauh, tampak teman-teman yang dulu akrab dengan Tristan, menatap sinis ke arah anak kecil itu. Semenjak mereka tahu status Tristan yang sebenarnya, tidak ada sama sekali yang mau berteman dengannya. Bukan karena tidak mau, tapi karena perintah dari orang tua masing-masing. Beruntungnya, Bima selalu berdiri di depan dan jadi pembela kalau ada yang berani menghina Tristan.


Tidak menunggu beberapa lama,bel tanda masuk berbunyi. Semua anak yang tadinya berada di luar sudah masuk ke dalam kelas dan bersiap untuk menerima pelajaran.


"Selamat pagi anak-anak!" sapa Miss Sinta yang selalu tidak lupa untuk tersenyum.


"Pagi juga, Miss!" sahut semua murid dengan kompak.


"Hari ini, Miss ada pengumuman. Kelas kita kedatangan murid baru lagi ... ayo, Nak Ayu, masuk!"


Mata Bimo sontak membesar, ketika melihat seorang gadis kecil yang sangat dia hindari berjalan masuk ke dalam kelas dengan penuh percaya diri, tidak malu-malu seperti murid baru pada umumnya.


"Ayo, Nak Ayu, kenalkan dirimu pada teman-teman barumu!" titah Miss Sinta dengan sangat lembut.


"Hallo semua! perkenalkan namaku Ayunda. Halo Bima!" dengan penuh semangat Ayunda melambaikan tangannya ke arah Bima.


Semua mata sontak menoleh ke arah Bima, yang seketika langsung meringis sembari menundukkan kepalanya.


"Kenapa dia bisa pindah juga ke sini? astaga, selamat tinggal kenyamananku!" Bima menggerutu di dalam hati.


"Kamu mengenal Bima ya?" terdengar suara Miss Sinta bertanya.


"Iya dong, Miss Dia teman sekelasku di sekolah yang lama. Dia teman baikku, makanya aku minta pindah juga ke sekolah barunya," sahut Ayunda tanpa mengurangi keceriaannya.


"What? aku? teman baiknya? sejak kapan?" batin Bima, sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Ya, udah. Sekarang kamu duduk di samping Bima!" titah Miss Sinta, yang membuat Bima dengan cepat mengangkat kepalanya terkesiap kaget.


"Miss, bisa tidak dia jangan duduk denganku? dia itu berisik!" Bima dengan lantang, menolak Ayunda duduk di dekatnya.


"Jadi, dia mau duduk di mana? kursi yang kosong kan hanya di sampingmu saja. Lagian, kalian berdua kan sudah saling kenal, Miss rasa tidak masalah sama sekali kalau dia duduk di sampingmu," ucap Miss Sinta.


Bima sontak terdiam, karena memang kursi kosong hanya berada di sampingnya.


"Entah tuh, si Bima, Miss. Padahal kan aku imut kata Papa dan Mamaku. Dia seharusnya beruntung duduk dekat anak imut sepertiku," ucap Ayunda dengan polosnya membuat tawa Miss Sinta seketika pecah.


"Sudah, sudah! Miss tidak mau dengar penolakan apapun. Ayo Ayu, kamu duduk, supaya kita mulai belajar!"


Ayunda menganggukkan kepalanya dan langsung berjalan ke arah meja Bima.


Di saat Ayunda melangkah mendekati mejanya, Bima dengan sengaja menatap Ayunda dengan tatapan setajam mungkin. Namun, bukan Ayunda namanya kalau takut. Bagi gadis kecil itu, tatapan tajam Bima sudah makanannya sehari-hari.


"Kenapa kamu harus pindah ke sini?" tanya Bima dengan ketus, begitu Ayunda sudah duduk di sampingnya.


"Karena kata Papa, aku lebih cocok sekolah di sini." jawab Ayunda, asal.


Setelah semuanya sudah duduk rapi, akhirnya Miss Sinta memulai pelajaran. Guru wanita yang baru saja menikah itu seperti biasa menerangkan pelajaran dengan sangat detail dan mudah di mengerti.


"Baiklah, Miss yakin kalian semua sudah mengerti, jadi sekarang tolong dikerjakan soal-soal yang berkaitan dengan pelajaran hari ini. Nanti langsung dikumpulkan!"


Semua murid menyahut, menyanggupi perintah wali kelas mereka itu.


Semua murid kini terlihat fokus menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Miss Sinta, kecuali Ayunda yang dari tadi sibuk bertanya pada Bima.


"Bim, jangan pelit -pelit dong! tolong ajari aku, karena aku belum paham!" Ayunda mengguncang-guncang tubuh Bima.


Bima yang dari tadi berusaha menahan rasa kesalnya, kali ini sudah tidak bisa lagi. Anak laki-laki itu berdiri, keluar dari kursinya dan berjalan menghampiri Bimo.


"Bimo, kamu pindah ke kursiku! biarkan aku yang duduk di samping Michelle. Kupingku sakit mendengar si berisik itu!"


"Tapi, aku ...." Bimo berpaling menatap Michelle, meminta pendapat.


"Biarkan Bimo tetap duduk di sini,Bima. Karena aku ingin dia mengajariku!" ucap Michelle, keberatan kalau Bimo pindah.


"Aku yang akan mengajarimu! aku juga tidak bodoh!" ucap Bima bersikeras.


"Tapi,aku lebih nyaman belajar dengan Bimo," ucap Michelle yang sayangnya hanya berani dia ucapkan dalam hati.


"Bimo, tolong dong! kepalaku benar-benar ingin pecah di sana!" kali ini Bima terlihat memohon, sehingga Bimo merasa tidak kuasa untuk menolak.


"Baiklah, tapi cuma hari ini saja!" pungkas Bimo akhirnya mengalah.


Bimo, mengayunkan kakinya, melangkah ke meja Bima sebelumnya dan duduk di dekat Ayunda yang menatap ke arah Bima dengan bibir yang mengerucut.


"Mana yang tidak kamu mengerti? biar aku jelaskan!" Bimo mencoba buka suara.


"Tidak perlu! aku bisa kok!" sahut Ayunda sembari mulai menyelesaikan tugasnya. Gadis kecil itu terlihat serius menyelesaikan soal-soal yang ada di depannya, padahal jujur saja, banyak yang sama sekali kurang dia mengerti.


Sementara di tempat Bima duduk sekarang, Michelle juga berusaha mengerjakan sendiri, padahal ada beberapa soal yang kurang dia mengerti. Karena, dia benar-benar kurang nyaman pada Bima yang hari ini terlihat lebih dingin dari biasanya.


"Kenapa kamu melirik-lirik aku? apa ada yang kurang kamu mengerti? tanya saja yang mana! aku akan coba menjelaskan!" celetuk Bima yang ternyata peka dengan lirikan Michelle.


Dengan suara gemetar, Michelle akhirnya memberanikan diri untuk bertanya dan Bima dengan lugas menjelaskan, bahkan lebih mudah dimengerti dari pada penjelasan Miss Sinta.


"Sudah paham?" tanya Bima, memastikan.


"Sudah. Terima kasih ya!" ucap Michelle, tersenyum manis dan Bima menganggukkan kepalanya.


"Ihh, kenapa dia mau mengajari Michelle, sedangkan ke aku tidak mau?" dari kursi belakang, Ayunda menggerutu kesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dari mana Adrian? kenapa kamu bisa telat ke sini?" tanya Bara, begitu Adrian masuk ke dalam ruangannya.


"Tadi aku harus mengantarkan Ayunda ke sekolah yang sama dengan Bima anakmu. Kemarin, dia merengek-rengek minta dipindahkan. Entah apa yang menarik pada anakmu itu, makanya dia memaksa ingin sekolah di sekolah yang sama dengan Bima. Masih kecil saja, sudah buat aku pusing." keluh Adrian yang membuat tawa Bara dan Satya pecah.


Tbc