Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Aku punya alasan untuk itu


Hari berlalu begitu cepat. Tidak terasa sudah hampir seminggu lamanya, semenjak kebohongan Tania terungkap dan Bara mengetahui kalau dirinya memiliki dua anak kembar dari Clara.


Bima baru saja pulang dari sekolah. Anak kecil itu turun dari sepeda dan melangkah masuk ke dalam rumah. Wajah anak sulung Clara dan Bima itu tampak tidak bercahaya, pandangannya gelap, sehingga raut wajahnya tampak jelas sangat murung.


Sementara itu Clara yang hari ini memilih untuk tidak pergi ke toko, mengrenyitkan keningnya melihat Bima melangkah dengan tatapan ke depan, tidak menyadari kalau ternyata mamanya ada di rumah.


Setelah, masuk ke dalam kamarnya, tanpa mengganti seragam sekolahnya, Bima langsung merebahkan tubuhnya, terlentang menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran yang kosong. Kenapa anak kecil itu bisa berubah murung? itu karena dirinya merasa apa yang dia lakukan selama ini untuk menyatukan kedua orang tuanya, sia-sia, karena ternyata mamanya belum bersedia untuk kembali lagi bersama dengan papanya. Sehingga mau tidak mau mereka tidak bisa hidup di bawah atap yang sama. Kehidupan mereka tetap kembali seperti dulu. Bimo tinggal dengan Bara papa mereka dan dia dengan Clara.


Tiba-tiba, ponsel Bima berbunyi pertanda ada yang sedang menghubunginya, dan anak laki-laki itu sangat yakin kalau yang menghubunginya itu adalah Bimo, adik kembarnya.


Benar saja, seperti i dugaannya, yang sedang menghubunginya adalah Bimo sang adik.


"Ada apa? apa ada yang penting?" tanya Bima dengan malas dan terkesan dingin.


"Kenapa nada bicaramu seperti itu? apa kamu malas menerima teleponku?" terdengar nada tidak suka dari Bimo. Bisa dipastikan kalau bibir anak laki-laki di seberang sana, pasti sedang mengerucut sekarang.


Bima mengembuskan napasnya dan tersenyum tipis, walaupun Bima sama sekali tidak bisa melihat senyumannya.


"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Mungkin karena perasaanku masih sama seperti yang kemarin-kemarin. Aku benar-benar kecewa dengan keputusan Mama kita, yang belum bersedia kembali bersama dengan papa lagi. Aku tahu, kalau kita memang tidak boleh memaksakan kehendak, tapi jujur saja, aku merasa apa yang kita lakukan selama ini untuk menyatukan mereka, sia-sia. Padahal, aku benar-benar ingin memiliki sebuah keluarga yang utuh. Ada mama, papa dan kamu. Tapi, ya sepertinya apa yang kita harapkan tidak terkabul," tutur Bima panjang lebar.


Terdengar helaan napas dari ujung telepon. Pertanda kalau Bimo yang ada di seberang, merasakan hal yang sama-sama seperti yang dirasakan oleh Bima.


"Kamu tidak boleh putus harapan. Mama hanya belum bersedia, bukan tidak bersedia. Itu berarti ada indikasi, kalau suatu saat kata belum itu berubah 'iya bersedia'. Jadi kamu jangan pesimis dulu," sahut Bimo dengan bijaksana.


"Iya,kamu benar. Bagaimanapun kita tidak boleh putus harapan," sahut Bima yang wajahnya kembali ceria.


Sementara itu, Clara yang awalnya ingin menyapa putranya itu, mendengar semua yang dibicarakan oleh Bima dengan Bimo di telepon. Wanita itu mengembuskan napasnya dan berjalan menjauh dari kamar Bima.


"Apa aku sudah terlalu egois, tidak memikirkan perasaan anak-anakku? bagaimanapun mereka selama ini sudah terlalu banyak berusaha, tapi dengan teganya aku mematahkan harapan mereka. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" batin Clara sembari mendaratkan tubuhnya duduk di sofa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, Bara terlihat memutar-mutar kursinya dengan tatapan kosong. Terlihat jelas kalau pria itu benar-benar kehilangan semangat. Satya yang melihat apa yang dilakukan sahabatnya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, sembari merapikan dokumen yang sebentar lagi akan mereka pakai untuk membicarakan kerja sama dengan seorang klien besar.


Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel Bara yabg tergeletak di atas meja, berdering. Bara menghentikan putaran kursinya dan langsung meraih Handphonenya itu. Wajah pria itu yang tadinya kusut tiba-tiba berbinar, begitu melihat siapa yang sedang menghubunginya. Siapa lagi, yang bisa membuat pria itu bahagia kalau bukan Clara.


"Halo, Cla!" sapa pria itu berusaha membuat suaranya terdengar biasa saja.


"Hmm, apa kamu sibuk?" suara Clara terdengar sangat hati-hati dari ujung sana.


"Tidak, sama sekali. Emangnya ada apa?"


"Tidak, tidak sama sekali! tentu saja kita bisa ketemu. Kamu kirimkan saja alamat di mana kita akan ketemu," dengan sigap Bara sontak berdiri dari kursinya, seakan tidak mau kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan Clara.


Bara memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya dengan bibir yang tidak berhenti tersenyum, setelah dirinya selesai bicara dengan Clara. Kemudian, pria itu meraih jasnya yang dia gantungkan di kursinya, lalu mengenakannya.


"Kamu mau pergi kemana?" tanya Satya dengan alis bertaut.


"Oh, aku mau bertemu dengan Clara," jawab Bara singkat.


"Bara, bagaimana bisa kamu menemui Clara sekarang? kamu tidak lupa kan kalau sebentar lagi kita akan ada pertemuan dengan Pak Dimas? dia klien yang sangat penting, Bar!" Satya mencoba mengingatkan.


"Tidak ada yang lebih penting dengan apa yang akan dibicarakan oleh Clara. Untuk masalah Pak Dimas, kamu kan bisa menanganinya sendiri?" ujar Bara sembari melangkahkan kakinya menuju pintu.


Satya, dengan sigap langsung berdiri di depan pintu, mencegah agar Bara tidak pergi.


"Bar, please jangan anggap main-main klien kita kali ini. Kamu tahu sendiri,Pak Dimas sudah turun sendiri untuk membicarakan kerja sama ini. Biasanya dia hanya memerintahkan orang kepercayaannya saja.Tapi, sekarang dia mengistimewakanmu, Bara.


"Tolong jangan halangi aku, Sat. Untuk saat ini, tidak ada yang lebih penting dari Clara. Kalau aku memang harus kehilangan kerja sama dengannya, karena dianggap tidak profesional, aku sudah pasrah. Yang jelas, yang aku tidak mau itu, kalau aku harus kehilangan Clara. Tolong kamu maklum akan hal itu. Kamu mungkin menganggapku berlebihan, tapi setelah kamu nantinya menemukan orang yang kamu cintai, kamu akan mengerti apa yang aku rasakan," tutur Bara panjang lebar tanpa jeda.


Mendengar untuk Bara, Satya hanya bisa mengembuskan napasnya dan akhirnya memberikan jalan pada Bara.


"Haish, bagaimana ini? padahal aku juga ada janji dengan Arumi siang ini, untuk mendatangi rumah Pak Teguh. Kalau begini, bagaimana aku bisa ke sana? Aku harus mencari alasan yang masuk akal pada Pak Dimas, kenapa Bara tidak bisa hadir. Dan itu pasti cukup memakan waktu," Satya menghela napasnya dengan sekali hentakan dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


Di saat Satya ingin beranjak keluar dari ruangan Bara, tiba-tiba ponsel pria itu berbunyi. Satya langsung menjawab, karena dia mengenal nomor yang menghubunginya adalah nomor sekretaris dari Dimas.


"Ya, Halo, Nona Luna. Aku baru saja mau berangkat. Ada apa?"


"Emm, maaf Pak Satya. Pak Dimas, tiba-tiba ada urusan keluarga yang sangat penting. Putrinya tiba-tiba sakit dan harus dibawa ke dokter. Jadi, pertemuan kali ini,ditunda sampai besok. Apa boleh?" nada suara sekretaris Dimas, terdengar merasa tidak enak.


Bukannya merasa kesal mendengar penundaan itu, Satya justru bersorak kegirangan di dalam hati, karena dia tidak perlu lagi capek-capek untuk mencari alasan ketidakhadiran Bara, dan dia bisa melakukan rencananya dengan Arumi, yang hendak mendatangi kediaman Teguh.


"Baiklah, Nona Luna. Tidak masalah sama sekali. Untuk membicarakan kerjasamanya kita bisa atur ulang jadwalnya!" ucap Satya dengan lugas, dan tetap terdengar tegas.


Baru saja panggilan terputus dan Satya ingin memasukkan ponselnya ke dalam saku, ponselnya itu kembali berdering dan panggilan itu dari Arumi.


"Aku sudah keluar dari rumah sakit dan dalam perjalanan ke rumah Pak de Teguh. Bagaimana dengan kamu? jangan bilang kalau kamu ingin menundanya lagi! kalau pun kamu mau menundanya, aku tidak peduli. Aku akan tetap ke sana sendiri," cerocos Arumi, tanpa memberikan kesempatan pada Satya untuk buka mulut lebih dulu.


"Bisa tidak, kamu kalau bicara jangan pakai otot? sapa dulu orangnya, baru nyerocos!" protes Satya. "Aku akan ke sana juga sekarang. Untuk masalah kenapa aku meminta kamu menundanya kemarin-kemarin, itu karena ada alasannya. Nanti kamu akan tahu apa alasannya. Sampai bertemu di sana!" Satya langsung memutuskan panggilan secara sepihak, tanpa menunggu Arumi buka mulut lagi.


Tbc