Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Jadi kamu menungguku?


Matahari kini sudah semakin naik, karena jam sudah mulai menunjukkan pukul 11. Semenjak Bimo mengungkapkan keinginannya, suasana kediaman Bara tampak hening. Ketiga pemuda remaja penghuni rumah itu tampak berdiam di kamar masing-masing dan Bara sudah berangkat ke kantor.


Sementara itu, Clara duduk bersantai di ruang tamu sembari memikirkan niat Bimo di ruang makan tadi pagi.


Ya, walaupun Clara sangat menginginkan Ayunda menjadi menantunya, tapi dia tetap tidak mau jadi seorang ibu yang egois. Wanita itu jelas-jelas menolak permintaan putranya itu, karena dia tidak mau putra keduanya itu, melakukan hal itu hanya demi dirinya.


"Hmm, sebaiknya aku buat kue saja untuk cemilan, daripada aku pusing memikirkan masalah remaja-remaja itu. Baru remaja saja sudah pusing mikirin cinta, apalagi kalau dewasa nanti," baru saja Clara berdiri dari tempat duduknya dan hendak melangkah, terdengar suara seorang perempuan yang mengucapkan salam dari arah pintu.


Clara sontak menoleh ke arah pintu dan melihat kemunculan sosok gadis remaja yang membuat putra keduanya, galau sepanjang malam tadi. Siapa lagi gadis itu kalau bukan Michelle.


"Michelle? dengan siapa kamu ke sini, Sayang?" tanya Clara sembari menatap ke arah belakang Michelle, berharap gadis itu datang bersama Ayunda.


"Emm, aku sendiri aja, Tante. Ayu tidak ikut!" seola, mengerti maksud tatapan wanita paruh baya di depannya itu, Michelle langsung saja menjawab sebelum wanita itu bertanya soal Ayu.


"Oh, begitu. Kamu cari siapa, Chell?"


"Bimonya ada Tante?" tanya Michelle dengan sangat hati-hati.


"Oh, dia ada di kamarnya. Ada sesuatu yang penting ya?"


Michelle tidak langsung menjawab. Ada rasa malu dan ragu yang terlihat di mata gadis itu untuk memberitahukan alasannya mencari Bimo.


"Michelle, kamu dengar Tante, tidak?" Clara kembali buka suara, hingga membuat Michelle sedikit kaget.


"Emm, de-dengar kok Tante. Aku hanya ingin meluruskan sesuatu. Dari tadi malam sampai sekarang aku berkali-kali kirim pesan ke dia, tapi satupun tidak dibalas. Aku juga sudah berkali-kali menghubunginya, tapi tidak dijawab juga, Tante," sahut Michele dengan suara bergetar menahan tangis sembari menggigit bibirnya.


"Emm, kalau Tante boleh tahu, hal apa yang harus kamu luruskan itu? apa masalahnya sangat berat sampai dia tidak mau menerima telepon dan membalas pesanmu? karena kalau dipikir-pikir, tidak masuk akal rasanya kalau Bimo bisa sampai tidak peduli dengan pesan-pesan yang kamu kirimkan," Clara berpura-pura tidak tahu apa yang sedang terjadi.


"Emm, gimana ya Tan ...." Michelle menggantung ucapannya sembari menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


"Apanya yang gimana? bisa kamu bicara dengan jelas, Chell?" suara Clara memang tersenyum lembut, tapi penuh tuntutan.


Michelle menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan napas dengan cukup panjang dan berat. Kemudian, gadis itu tersenyum tipis ke arah Clara.


"Tante, sebenarnya Bimo tadi malam sangat marah padaku karena katanya aku tidak peka pada perasaannya dan dia mengatakan itu semua karena aku menyukai Bima. Dia mengatakan juga, kalau Bima dan aku sama-sama munafik. Dia merasa jadi orang yang bodoh dan seperti orang yang dikasihani, Tante," suara Michelle kembali bergetar karena gadis itu kembali berusaha menahan agar air matanya tidak keluar. Dia sudah cukup puas menangis semalaman karena pesan dan panggilannya dicueki oleh Bimo.


Clara tersenyum tipis dan membelai lembut pundak gadis yang juga disayanginya sama seperti Ayunda.


"Kita duduk dulu yuk! kamu mungkin sudah capek berdiri terus dari tadi!" Clara menuntun Michelle dan membantu gadis itu untuk duduk, kemudian dia pun ikut duduk di samping Michelle.


"Semalaman sepertinya kamu menangis ya?nih mata cantik kamu jadi sembab begini? atau jangan-jangan semalaman kamu juga tidak bisa tidur?" tebak Clara, membuat Michelle semakin malu dan menundukkan wajahnya, malu.


Michelle sontak mengangkat kepalanya, kaget mendengar pertanyaan Clara.


" Emm, kenapa Tante bertanya seperti itu? aku__"


"Apa kamu menyukai keduanya?" tukas Clara tanpa menunggu Michelle selesai bicara.


Michelle bergeming, diam seribu bahasa. Gadis itu benar-benar bingung untuk menjawab pertanyaan mamanya si kembar itu.


"Kamu bingung ya? apa kamu merasa kalau Bima juga menyukaimu makanya kamu bingung?" Clara kembali buka suara.


"Eh, kenapa Tante Clara menanyakan hal itu lagi? bukannya dia juga sudah tahu kalau Bima menyukaiku? atau Tante Clara sekarang hanya berpura-pura tidak tahu?" bisik Michelle pada dirinya sendiri.


"Chell, kenapa kamu tidak menjawab Tante?"


"Emm, Tante kenapa bertanya soal itu lagi? bukannya Tante sudah tahu jawabannya kalau Bima menyukaiku juga? maaf Tan, dua hari yang lalu aku dan Ayu datang ke sini dan tidak sengaja mendengar pembicaraan Tante dengan Bima." tutur Michelle dengan sangat hati-hati.


"Oh, seperti itu? jadi apa kamu merasa kalau Bima memang benar-benar menyukaimu sehingga ada rasa bahagia yang timbul di hatimu?"


Michelle sontak terdiam karena apa yang dituduhkan oleh wanita paruh baya didepannya itu benar adanya


"Chell, Tante sebenarnya sudah bisa menyimpulkan siapa sebenarnya yang kamu cintai di antara Bima dan Bimo, tapi kamu sendiri belum bisa menyimpulkan. Tante bisa maklum kalau ada timbul kebanggaan tersendiri di hatimu, karena kamu merasa diperebutkan oleh dua orang pria kakak beradik. Apalagi ketika pria yang biasanya sangat dingin pada orang lain tapi bersikap hangat padamu, membuat kamu merasa dispesialkan.Tante maklum hal itu karena kamu masih remaja yang bisanya kebanyakan masih berjiwa labil dan ingin terlihat wah di depan orang lain. Tapi, kamu harus mulai bersikap dewasa, Sayang ... kamu tidak boleh memiliki niat untuk memiliki keduanya, karena kalau begitu bisa dipastikan satupun tidak akan ada yang kamu miliki." tutur Clara dengan lembut tapi penuh penekanan.


Michelle sama sekali masih bergeming, memikirkan apa yang diucapkan oleh Clara barusan.


"Sebenarnya kamu dan Ayunda sama seperti Bimo yang salah paham, karena tidak mendengarkan pembicaraan kami seluruhnya, Chell. Bima mengatakan kalau dia menyukai wanita yang memiliki sikap sepertimu, tapi bukan berarti dia mencintaimu." lanjut Clara lagi.


"Oh, jadi ini alasan yang membuat Bimo bersikap dingin padaku?" celetuk Bima yang ternyata dari tadi mendengar pembicaraan dua wanita berbeda usia itu. "Ternyata dia salah paham dan kamu juga." imbuh pemuda itu lagi.


"Baiklah, biar aku jelaskan! Sebenarnya sikap hangatku selama ini ke kamu Chell, bukan karena aku jatuh cinta padamu, tapi aku melakukannya karena aku tahu, kalau kamu itu orang yang dicintai oleh Bimo. Aku tidak mau bersikap dingin padamu dan memperlakukanmu sama seperti ke wanita lain itu demi menjaga perasaan Bimo. Aku tidak mau hubungan persaudaraanku dengan adikku sendiri renggang kalau aku dingin padamu, itu saja tidak lebih."


Michelle mengangkat wajahnya dan tersenyum. "Tante, Bima, sebenarnya kalian juga salah paham. Memang benar apa yang dikatakan Tante tadi kalau ada sebuah kebanggaan tersendiri bagiku, karena merasa diperebutkan, tapi jujur saja, aku juga tidak merasa nyaman dengan perasaan itu. Aku justru merasakan hatiku yang sangat sakit karena Bimo mengabaikanku semalaman.


aku sudah menyadari perasaan Bimo padaku dan jujur saja aku juga merasakan hal yang sama. Selama ini aku menunggu Bimo mengungkapkan perasaannya padaku, tapi dia sama sekali tidak pernah mengatakannya. Aku tidak mungkin bisa menyimpulkan karena bisa jadi dugaanku salah selama ini kan Tante? Aku juga berniat ingin mempertanyakannya pada Bimo tapi aku tidak seberani Ayu. Tadi malam, Bimo sama sekali tidak memberikan aku kesempatan untuk berbicara, dia langsung marah-marah dan main pergi saja, Tante." tutur Michelle panjang lebar tanpa jeda.


"Jadi, itu masalahnya? kamu menunggu aku mengungkapkan perasaanku?" tiba-tiba Bimo muncul dengan bibir tersenyum menggoda.


Tbc