
Hari berlalu begitu cepat. Tidak terasa sudah seminggu Dimas dan Bimo di Singapura. Hari ini adalah hari terakhir mereka berada di Singapura dan kini mereka sama-sama sudah berada di dalam pesawat.
Setelah menempuh waktu lebih kurang dua jam, pesawat yang mereka tumpangi akhirnya mendarat dengan selamat dia bandara Soekarno Hatta.
Setelah mengambil koper masing-masing, mereka berdua berjalan bersama keluar dari area bandara.
"Bimo, apa kamu dijemput? kalau tidak, kamu bisa ikut mobil Om. Karena kebetulan Ok dijemput.
"Terima kasih, Om! tapi aku lebih baik naik taksi saja, karena arah perjalanan kita tidak semarah," tolak Bimo secara halus.
"Emm, baiklah kalau begitu mau kamu. Om duluan ya, supirku sudah datang!" Dimas beranjak pergi, setelah Bimo mengiyakan.
"Oh ya, Bimo, ingat untuk menghubungi Michelle! seminggu ini dia selalu menghubungiku, dan menanyakanmu," Sebelum mobil yang menjemput Dimas papanya Michele, pergi, pria paruh baya itu masih sempat membuka jendela mobilnya dan menyampaikan pesannya.
Bimo tidak menjawab sama sekali. Pria itu hanya cukup menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Papa sudah pulang?" Michelle dengan wajah berbinar menyambut kedatangan papanya.
"Wah, tumben kamu menyambut papa langsung. Ini pasti ada maunya," goda Dimas, membuat Michelle mengerucutkan bibirnya.
" Apa salah kalau aku menyambut papanya sendiri?" cetus Michelle masih dengan bibir yang mengerucut.
"Tidak salah sih, tapi tumben saja. Biasanya kan Papa yang langsung peluk putri papa ini," Dimas masih saja menggoda.
Michelle semakin mengerucutkan bibirnya, membuat tawa Dimas pecah.
Sementara itu, ada sesuatu hal yang membuat Michelle seakan sulit untuk tersenyum. Entah kenapa melihat tawa papanya yang begitu lepas, ada rasa khawatir yang timbul di hatinya. Dia merasa kalau sang papa saat ini sedang sangat bahagia dan Michelle merasa kalau kebahagian papanya ada hubungannya dengan hasil proyek di Singapura.
"Pa, siapa yang mendapatkan proyek besar itu?" tanya Michelle dengan sangat hati-hati.
"Menurut kamu siapa?"Dimas balik bertanya.
"Yang bersaing ada papa dan Bimo ... papa mau tanya kamu berharap siapa yang menang?"
Michelle terdiam, sulit untuk menjawab. Ini sekali dia menjawab, kalau dia sangat menginginkan Bimo yang menang, tapi dia tidak membuat papanya itu merasa tersaingi oleh Bimo.
"Kenapa kamu diam, Sayang? papa tanya, siapa yang kamu dukung?" ulang Dimas lagi.
"Emm, aku dukung kalian berdua,. Pa, karena kalian berdua sama-sama pria penting padaku," sahut Michelle, akhirnya.
"Oh, seperti itu?" Dimas tersenyum sembari mengangguk-anggukan kepalanya.
"Pa ... Papa belum jawab pertanyaanku. Siapa yang memenangkan tender proyeknya? Bimo kan? " Michelle kembali ke topik awal dan tanpa sadar justru memperlihatkan kalau dia lebih menginginkan Bimo yang menang.
"Heh? kenapa kamu malah terkesan sangat menginginkan Bimo yang menang?" Dimas mengrenyitkan keningnya.
"Bu-bukan seperti itu, Pa. Aku hanya__"
"Ternyata, kamu sekarang lebih Sayang Bimo dari pada Papa. jangan-jangan selama seminggu ini kamu sama sekali tidak pernah mendoakan papa, tapi justru mendoakan Bimo yang menang. Apa benar seperti itu?" tukas Dimas dengan tatapan penuh tuntutan.
"Emm, a-aku doain, Papa kok," sangkal Michelle dengan cepat tapi gugup.
"Ya, kamu pasti doain papa cuma agar diberi kesehatan saja, tapi doa untuk menjadi pemenang proyek, kamu lebih mendoakan Bimo yang menang, iya kan?" selidik Dimas, membuat Michelle semakin gugup.
"Tapi, maaf sekali, Sayang, yang memenangkan tender itu papa bukan Bimo. Karena menurut me Hansel, jam terbang Bimo masih baru belum bisa menyaingi papa," sahut Dimas, tersenyum.
Alih-alih bersorak gembira, Michelle justru lemas, mendengar ucapan Dimas papanya.
"Lho, kenapa kamu diam, Nak? apa. kamu tidak mau mengucapkan selamat pada papamu ini?"
Michele menghela napasnya dengan cukup berat dan tersenyum terpaksa.
"Selamat, Pa!"ucap Michelle, lirih.