Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Kekagetan Arumi


Sudahlah, Rumi. Untuk sekarang aku mohon agar kamu jangan menemui Mas Bara dan menceritakan tentang Bima dan Bimo pada mereka. Aku benar-benar belum siap untuk hal itu." pungkas Clara sembari beranjak meninggalkan Arumi dan Bimo yang sedari tadi tidak mau buka suara.


Arumi bergeming, diam seribu bahasa dan menatap kepergian Clara sampai menghilang di balik pintu.


"Kenapa Tante suka memaksakan kehendak sih?" celetuk Bimo setelah memastikan kalau mamanya itu sudah benar-benar masuk ke dalam kamar.


"Sebenarnya Tante tidak ingin memaksakan kehendak Tante,Bima. Tapi, Tante benar-benar ingin kamu dan saudara kembarmu yang hilang itu, mendapatkan pengakuan dari keluarga papa kalian. Karena bagaimanapun kalian berdua itu keturunan Prayoga.


Bimo memicingkan matanya, menatap Arumi dengan tatapan seperti sedang menilai. Ya, anak kecil itu tentu saja sedang menilai apakah sahabat mamanya itu serius dengan ucapannya atau hanya bohong belaka.


"Hei, kenapa kamu menatapku seperti itu?" Arumi seketika merasa risih mendapat tatapan menyelidik dari Bimo.


"Tante, apa benar itu benar-benar niat yang tulus dari hati Tante, bukan seperti yang diduga mamaku di awal, yang mengatakan kalau Tante ingin memberitahukan papa tentang keberadaanku dan saudara kembarku itu,hanya karena ingin membalas perbuatan Tante Tania?


"Ya Tuhan! Tante memang tidak mau munafik, kalau Tante ingin melihat kekesalan sepupu Tante yang sombong itu. Tapi sumpah demi apapun, Bima, yang lebih Tante inginkan itu, kamu dan adikmu itu punya identitas yang jelas," ucap Arumi dengan tegas dan jujur.


"Sudahlah, mungkin sekarang mamamu belum mau, tapi Tante yakin, kalau dalam waktu dekat ini, mama kamu akan berubah pikiran. Kamu tenang saja, Tante akan berjuang untuk mempertemukan kamu dan keluarga papamu," pungkas Arumi, sembari mengelus-elus rambut Bimo dengan lembut. Kemudian, wanita itu meraih kue yang tadi dia bawa dan berjalan menuju dapur untuk menyimpan kue itu ke dalam kulkas.


"Tapi, aku juga tidak mau Tante memberitahukan papa tentang kami berdua, Tante!" celetuk Bimo tiba-tiba, membuat langkah Arumi seketika terhenti.


Arumi kembali memutar tubuhnya dan menatap Bimo dengan tatapan penuh tanya.


"Kenapa kamu tidak mau? bukannya kamu juga butuh diakui? harusnya kamu setuju dengan apa yang akan Tante lakukan." ucap Arumi, yang memang benar-benar tidak habis pikir, kenapa Bima tidak mau dia menemui Bara.


"Ya, aku memang butuh pengakuan. Tapi,ini belum saatnya. Aku dan Bima masih sedang mengumpulkan bukti-bukti kejahatan yang dilakukan oleh Tante Tania, Tante. Tinggal sedikit lagi, biar sempurna. Jadi, kalau Tante memberitahukan tentang keberadaanku dan Kak Bima, semua yang kami rencanakan tidak akan sempurna," ucap Bimo yang membuat kening Arumi berkerut berusaha memahami ucapan anak sahabatnya itu.


"Kamu bicara apa sih, Bima? kamu dari tadi menyebut, aku dan kak Bima, kan kamu yang Bima!" Arumi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


Bimo tersenyum misterius dan menggelengkan kepalanya. "Aku Bimo bukan Bima. Aku dan Kak Bima sedang bertukar posisi," ucap Bimo akhirnya mengakui


Mata Arumi membesar, terkesiap kaget mendengar pengakuan Bimo. Wanita itu melangkah mendekat kembali ke arah Bimo dan memperhatikan anak laki-laki itu dengan sangat teliti. Mata wanita itu kembali membesar ketika tidak menemukan adanya tahi lalat di belakang telinga Bimo.


Bimo akhirnya menceritakan bagaimana bisa dia bertemu dengan Bima, sampai mereka memutuskan untuk bertukar posisi, akhirnya tahu kalau mereka itu Kembar setelah bertukar posisi. Bimo juga tidak lupa menceritakan kalau dia dulu ditemukan oleh Bara dan diangkat anak.


"Apa!" pekik Arumi dengan nada suara tinggi.


"Sttt, Tante! jangan keras-keras! nanti mama bisa dengar!" Bimo meletakkan jari telunjuk di bibirnya.


"Maaf! jadi selama ini kamu justru dirawat sama papa kandungmu sendiri?"


Bimo menganggukan kepalanya, mengiyakan. "Aku mohon agar Tante bisa merahasiakannya dulu, sampai misi kami berdua selesai. Please jangan kasih tahu papa Bara dulu tentang kami ya!" Bimo menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya.


"Tergantung kamu mau jujur atau tidak pada Tante. Sebenarnya misi apa yang sedang kalian lakukan? tadi Tante mendengar kalau kalian ingin mengumpulkan bukti-bukti kejahatan Tania. Kalau boleh tahu, emangnya kejahatan Tania, selain kebohongannya tentang papa yang mengatakan kalau papa kalian dulu mencintainya? kalau kamu menceritakannya, Tante janji tidak akan menemui papa kalian. Dan Tante juga bersedia untuk membantu jika kalian berdua butuh bantuan,"


Mau tidak mau akhirnya Bimo menceritakan semua kelicikan Tania yang menyebabkan kecelakaan Bara, tentang hubungan wanita itu dengan supir pribadinya dan tentang Tristan yang bukan anak kandung Bara.


Arumi benar-benar tidak bisa berkata-kata apapun lagi, mendengar cerita Bimo. Dia benar-benar tidak menyangka kalau sepupunya itu lebih buruk dari yang dia kira selama ini.


"Tante tadi mengatakan siap membantu kami,apa Tante benar-benar mau membantu?" tanya Bimo, mengingatkan kembali ucapan Arumi.


"Ya, tentu saja, Tante mau bantu. Apa kalian sedang butuh bantuan?" tanya Arumi dengan lembut.


"Tentu saja Tante. Dan aku benar-benar butuh. Aku tidak mau Bima bekerja sendiri, jadi aku mau membantunya. Aku yakin,Bima pasti tidak berpikir untuk melakukan hal ini," ucap Bimo ambigu.


"Apa yang kamu butuhkan? kalau Tante mampu, Tante akan membantu semampu Tante," jawab Arumi dengan mantap.


Dengan tersenyum malu-malu, akhirnya Bimo mengungkapkan keinginannya.


"Oh, itu saja? tenang saja,Tante akan bantu!" pungkas Arumi tegas dan mantap.


Tbc