
Acara demi acara berjalan dengan lancar dan meriah. Semua para tamu tampak tersenyum lebar kecuali seorang wanita yang tidak lain adalah Michelle.
Sikap Michelle ini tentu saja juga berpengaruh pada mood pria yang selalu berdiri di sampingnya yang tidak lain adalah Bimo.
"Kamu kenapa sih, Sayang? kamu jelasin dong, jangan cemberut terus! aku ada salah ya?"tanya Bimo yang sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk bertanya lagi, setelah sekian Kali bertanya tapi tidak menemukan jawaban.
"Tidak apa-apa!"sahut Michelle, singkat, tanpa sedikitpun menoleh ke arah Bimo
"Kamu selalu bilang tidak apa-apa, tapi kamu selalu dingin dan ketus padaku. Aku benar-benar bingung di mana letak kesalahanku," wajah Bimo terlihat frustasi.
"Sudahlah! aku bilang tidak apa-apa ya tidak apa-apa. Sekarang lebih baik kamu nikmati saja pestanya. Kan kamu ada andil untuk membuat mereka bersatu, jadi harusnya kamu jangan memikirkan hal remeh tameh tentang aku," ujar Michelle, ketus dan penuh penekanan. Kalimat terakhirnya, menyiratkan makna tertentu.
"Arghh, bagaimana aku bisa menikmati pestanya kalau kamu saja uring-uringan ke aku? lagian kalau kamu begini bukan masalah remeh lagi tapi masalah besar bagiku. Bagaimana aku mau bahagia di pesta kakakku kalau begini?"
"Sudahlah, aku sudah bilang kamu jangan terlalu memikirkan aku!" cetus Michelle lagi.
Perdebatan pasangan kekasih itu tentu saja tidak luput dari perhatian Tristan dan Michelle. Kedua orang itu dari tadi sibuk menatap ke arah Michelle dan Bimo secara. bergantian, kemudian mereka berdua juga saling pandang dan bertanya melalui sorot mata mereka tentang apa yang terjadi pada pasangan itu. Namun, tidak ada satu pun di antara mereka berdua yang bisa memberikan jawaban.
"Sayang, kalau sikap kamu tadinya kamu tunjukkan pada semua orang, mungkin aku tidak seresah ini. Tapi, sikap dinginmu, justru kamu tunjukkan hanya ke aku saja. t
Tolong jelaskan apa salahku, karena aku merasa tidak melakukan kesalahan dari kemarin hingga hari ini,"
"Mungkin karena Kak Michelle ragu sama hubungan kalian berdua Kali?" celetuk Salena tiba-tiba, membuat semua mata yang ada di meja mereka mengarah ke arahnya.
"Ragu bagaimana? kami sudah pacaran 6 tahun lebih dan bahkan hampir 7 tahun, masa masih ragu?" ujar Bimo dengan alis bertaut.
"Nah, justru itu. 6 tahun pacaran tapi nggak dinikahin buat apa? boro-boro dinikahin, diajak nikah saja nggak kan? emangnya mau pacaran sampai berapa lama lagi? mau satu, dua atau tiga tahun lagi? tuh lihat kak Ayu, gak dipacarin eh langsung dinikahin. Beruntung kan kak Ayu?" tutur Salena tanpa beban, tidak peduli dengan raut wajah Michelle yang semakin ditekuk.
"Emangnya apa gunanya sih pacaran lama-lama, Kak? apa itu adalah sebuah prestasi yang harus dibanggakan? kalau bagiku sih itu suatu kebodohan," tutur Salena lagi dengan santai sembari menyuapkan es buah ke dalam mulutnya.
Bimo sontak bergeming dan melirik ke arah Michelle yang kebetulan juga melirik dengan lirikan tajam.
"Tuh anak kecil aja bisa tahu," batin Michelle.
"Tapi kan kami saat itu masih kuliah?" ujar Bimo.
"Nah, sekarang kan nggak kuliah lagi. Nggak ada rencana gitu mau melamar kak Michelle? mau sampai berapa lama lagi pacarannya?"
Mendengar ucapan Salena, Bimo sontak nyengir sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Jadi kamu menikah denganku?" Bimo mengerlingkan matanya ke arah Michelle.
"Kamu sudah bicaranya? kamu masih kecil, tahu apa kamu masalah pernikahan? kamu sekolah dulu yang benar," Tristan yang dari tadi diam sama akhirnya buka suara, menegor Salena.
"Eh, apaan sih kak? siapa yang masih anak kecil? ingat, aku ini udah mau lulus SMA, bukan anak kecil lagi. Bahkan aku sudah bisa buat anak kecil asal kakak tahu!" protes Salena dengan bibir yang mengerucut.
Tristan yang tadinya sedang menyeruput minumannya, tiba-tiba terbatuk-batuk mendengar ucapan Salena yang menurutnya sedikit vulgar.
"Tuh kan, kakak batuk jadinya. Kualat sih bilang aku anak kecil," Salena menepuk-nepuk punggung Tristan.
"Makanya jangan bicara yang aneh-aneh! kamu masih bau kencur tapi sudah bicara bikin anak," ucap Tristan setelah batuknya sudah mereda.
"Aku tidak bicara aneh-aneh! kan Kakak sendiri yang lebih dulu bilang aku anak kecil, apa aku salah kalau aku tidak terima dibilang anak kecil? Aku tuh sudah mengalami yang namanya datang bulan, dada juga sudah bertumbuh, dan hmppp!" Salena tiba-tiba berhenti bicara karena mulutnya tiba-tiba ditutup oleh Tristan.
"Stop, stop kamu jangan bicara lagi!" ucap Tristan yang dengan tangan ke mulut Salena dan mata mengarah ke dada.
Memang Tristan mengakui, walaupun gadis itu masih remaja, tapi tidak bisa dipungkiri kalau gadis itu memiliki ukuran dada yang tidak terlalu besar tapi juga tidak bisa dikatakan kecil.
"Gawat nih anak, kalau dibiarkan bicara terus. Bicaranya mulus aja kaya jalan tol, tanpa ada tanjakan," umpat Tristan dalam hati.
"Makanya, kakak jangan bilang aku anak kecil lagi! aku tuh sudah gadis yang sudah bisa bikin anak kecil,"
"Iya, itu benar! nanti buat anak kecilnya sama aku kan?" tiba-tiba Arya muncul bersama Farell, menimpali ucapan Salena.
Tristan sontak berdiri dan menatap Arya dengan tatapan tajam.
"Kamu jangan berbicara terlalu vulgar di sini. Jangan kotori pikirannya!" ucap Tristan dengan suara pelan mengingat ini masih di acara pernikahan Bima. Namun walaupun suaranya pelan, tapi terdengar sangat tegas dan penuh penekanan.
"Kenapa kamu jadi marah? aku kan bicaranya sama Salena. Dia aja nggak marah ini, iya kan Sal? kamu nantinya akan jadi istriku kan? Aku akan sabar menunggumu kok sampai sekolahmu selesai," Arya mengerlingkan matanya, terlihat seperti bercanda tapi terselip keseriusan di balik ucapannya.
Tristan tanpa sadar mengepalkan tangannya dengan kencang. Rahang pria itu bahkan sudah mengeras. kalau saja dia tidak memikirkan kalau ini acara adiknya, mungkin tangannya sudah melayang ke wajah Arya.
Tristan sendiri sebenarnya juga cukup bingung kenapa dia bisa semarah itu. Tapi, dia menganggap kalau dia hanya tidak suka ada pria yang terlalu bicara vulgar pada seorang gadis yang menurutnya masih terlalu dini untuk berbicara pembicaraan orang dewasa seperti itu, apalagi Salena yang dia anggap adik.
"Salena, tidak perlu dijawab sebaiknya kita pergi dari sini!" Tristan meraih tangan Salena yang terlihat bingung.
"Eh, kenapa kak Tristan jadi marah begini sih? kalau kakak mau pergi ya pergi aja, jangan ajak-ajak Salena!" cegah Arya, berdiri tepat di depan Tristan dan Salena.
tbc