Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
AKCA season 2 ( Biar aku yang menjaganya)


Ayunda mengangkat kakinya ke atas meja dengan mata yang asik menatap Handpone yang ada di tangannya dan mulut yang asik mengunyah makanan ringan.


Tiba-tiba gadis itu meletakkan ponselnya dan mengembuskan napas beratnya.


"Belum sehari tapi rasanya sudah membosankan begini. Apa aku bisa menjalani hari-hariku nanti tanpa Michelle, Bima, Bimo dan kak Tristan?" gumam gadis itu sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Sudah, kamu terima nasib saja. Itu kan kemauanmu! lagian lama-lama kamu juga bakal terbiasa," tiba-tiba seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik yang tidak lain adalah Tiara mamanya Ayu, muncul disusul oleh Adrian dari belakangnya.


Ayunda tidak menjawab sama sekali, karena tidak ada yang perlu dibantah dari ucapan mamanya itu.


"Emm, aku mau ke kamar dulu ya,Ma. Mending aku menonton drama kesukaanku, untuk mengusir kebosanan," sebelum beranjak pergi, Ayunda lebih dulu meraih ponselnya dari atas meja dan langsung berdiri dari tempat dia duduk. Namun, belum sempat melangkah, tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari mengucapkan salam dari arah pintu masuk.


Semua mata yang berada di ruangan itu sontak menoleh ke arah pintu dan terkesiap kaget melihat kedatangan pemuda yang tidak lain adalah Tristan. Raut wajah kaget tidak hanya terlihat di wajah Ayunda dan kedua orangtuanya, tapi juga terlihat di raut wajah Tristan.


"Tristan, ada urusan apa kamu datang ke sini?" Adrian mencoba untuk bersikap biasa saja di depan pemuda itu.


"Aku datang ke sini sebenarnya karena mendengar dari Bimo dan Michelle, kalau Ayu sudah pergi ke luar negri, tapi Om dan Tante tidak mau memberitahukan ke negara bagian mana Ayu pergi. Jadi, aku hanya ingin mencoba keberuntunganku, kali aja Om dan Tante mau memberitahukan padaku, tapi apa-apa an ini? Kenapa Ayu masih ada di sini,Om? Apa Om dan Tante berbohong pada Bimo dan Michelle?" cecar Tristan, menuntut penjelasan.


Adrian, Tiara dan Ayu saling silang pandang, bingung memberikan jawaban.


"Ya, Om memang berbohong, tapi Om punya alasan untuk itu dan maaf, Om tidak ingin memberitahukan alasannya padamu. Jadi, Om harap kamu jangan sampai membocorkan hal ini pada siapapun, baik itu pada kedua orangtuamu sekalipun," akhirnya Adrian yang buka suara.


"Aku tidak akan membocorkannya Om, tapi tergantung alasannya juga." ucap Tristan dengan tegas.


"Bukannya Om tadi sudah mengatakan kalau tidak akan memberitahukan alasannya padamu? jadi, tolong jangan memaksa Om untuk mengatakannya!"


"Kalau begitu, jangan paksa aku juga Om untuk tidak membocorkan kebohongan kalian pada keluargaku," Tristan tidak mau kalah.


Adrian menghela napas dengan sekali hentakan. Pemuda yang ada di depannya memang bukan anak kandung Bara sahabatnya, tapi karena pemuda itu dibesarkan oleh Bara dan Clara dari kecil, membuat karakter Bara sedikit menurun pada pemuda itu.


"Sebenarnya tujuanku ke sini selain ingin menanyakan keberadaan Ayu, aku juga ingin menyampaikan sesuatu tentang Bima. Jadi, berhubung ternyata masih ada di sini,aku akan menyampaikan langsung pada Ayu," ucap Tristan dengan lugas dan tegas.


"Kamu katakan saja pada Om! Ayo, kamu ikut Om!" sambar Adrian dengan cepat, mencegah Tristan bicara pada Ayu.


"Kenapa aku hanya mengatakan sama Om saja? Aku hanya ingin menyampaikannya pada Ayu, bukan pada Om!" Tristan benar-benar terlihat berani untuk menentang Adrian kali ini, tapi sebenarnya, pemuda itu menyimpan rasa takut yang amat sangat.


"Bukannya kamu ingin tahu juga apa alasan Om berbohong pada Bimo dan Michelle tadi? Kalau kamu mau tahu, kamu ikut Om!"


Tristan yang memang penasaran apa alasan papanya Ayunda itu, akhirnya memutuskan untuk mengikuti pria itu menjauh dari ruangan itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Apa yang ingin kamu sampaikan tentang Bima?" tanya Adrian, tanpa basa-basi.


"Om, dulu yang kasih tahu apa alasan Om berbohong." Tristan balik bertanya, tidak mau kalau nantinya Adrian tidak jadi memberitahukan alasannya, setelah pria itu memperoleh informasi yang dia mau.


Adrian mengembuskan napasnya, merasa akan buang-buang waktu kalau mereka berdua saling lempar siapa duluan yang akan bicara. Akhirnya pria paruh baya itupun menjelaskan alasannya membuat kebohongan itu.


"Om sudah mengatakan alasan Om. Sekarang giliran kamu, menjelaskan, apa yang ingin kamu sampaikan tentang Bima." ucap Adrian setelah berbicara panjang lebar, tanpa jeda.


Setelah Tristan selesai dengan ceritanya, Adrian mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti.


"Ternyata begitu ya?"


"Iya, Om." sahut Tristan singkat.


"Apa kamu bisa dipercaya?" tanya Adrian lagi, memastikan.


"Tentu saja, Om. Aku berani bersumpah kalau aku tidak bohong,"


Adrian menatap mata Tristan dengan cukup lama, untuk melihat apakah ada kebohongan di sana atau tidak. Namun, ternyata yang dia lihat, ada kejujuran di mata pemuda itu.


"Jadi bagaimana keputusannya, Om? Apa Om akan tetap__"


"Tentu saja. Ayu harus tetap akan ke luar negeri dan tidak ada satupun yang boleh tahu, ke negara mana dia akan pergi," tanpa menunggu Tristan selesai bicara,Adrian sudah lebih dulu memotong ucapan pemuda itu.


"Tapi kenapa harus seperti itu, Om?"


Adrian kembali mengembuskan napasnya dan menjelaskan kembali apa alasan pria itu, untuk tetap mengirimkan Ayu kuliah di negara yang berbeda dengan Bima, Bimo dan Michelle.


"Kamu bisa paham kan, Tristan maksudnya Om?" Tristan menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


"Iya, Om aku paham," sahut Tristan, mantap.


"Baguslah kalau kamu sudah paham!" Adrian menepuk-nepuk pundak Tristan dengan lembut.


"Om, aku ada permintaan, itupun kalau Om tidak keberatan," Tristan berbicara dengan sangat hati-hati kali ini.


"Katakan saja, kamu tidak perlu sungkan!"


"Kalau Om tidak keberatan, tolong izinkan aku untuk kuliah di tempat yang sama dengan Ayu. Kalau papa dan mama nanti menanyakan alasan kenapa aku memilih kuliah di tempat yang berbeda dengan Biman dan Bimo, aku akan cari sendiri alasannya. Om setuju kan?" Tristan menatap Adrian dengan tatapan penuh harap, berharap pria paruh baya itu, mengiyakan.


"Apa alasanmu ingin kuliah di tempat yang sama dengan Ayu?" alis Adrian sedikit naik ke atas, menatap Tristan dengan tatapan curiga.


"Tujuanku, hanya agar aku bisa menjaga dia. Itu saja, Om tidak lebih!"


"Kamu serius?" tanya Adrian, memastikan.


"Seribu persen serius, Om!" sahut Tristan tegas dan mantap.


"Baiklah, kalau begitu. Aku percaya padamu, kalau kamu tidak akan melanggar komitmen yang sudah kamu katakan padaku," pungkas Adrian akhirnya, menyetujui permintaan Tristan.


"Terima kasih, sudah mempercayaiku, Om! Om bisa pegang kata-kataku ini. Aku tegaskan sekali lagi, kalau aku hanya akan menjaga Ayu dan tidak akan berharap lebih!" ucap Tristan dengan sangat tegas.


Tbc


Apa sih yang disampaikan Tristan tentang Bima pada Adrian?