Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Melakukan Test DNA


Bima masuk ke dalam kamarnya dan melemparkan tasnya begitu saja ke atas ranjang. Anak kecil itu juga menghempaskan tubuhnya, baring terlentang di atas ranjang dengan mata yang berkilat-kilat penuh amarah.


"Sial, Tante Tania sepertinya sudah berhasil menghasut Oma Elva,makanya Oma bersikap dingin padaku, dan ketus saat aku sapa," Bima menggerutu dalam hati mengingat apa yang dia alami barusan, di mana saat dia masuk ke dalam rumah dan berpapasan dengan neneknya itu, wanita itu menatapnya dengan sangat dingin dan bahkan menjawab sapaannya dengan sangat ketus.


"Tadi aku mendengar kalau ada video yang diupload oleh Tante Tania, dan sudah di take down. Video apa ya?" batin Bima penasaran, sembari duduk kembali.


"Aku rasa, Bimo tahu. Aku sebaiknya tanya dia saja,"


Anak kecil itu, kemudian meraih tasnya untuk mengambil handphonenya. Namun, ketika handphone sudah di tangannya dia tiba-tiba teringat kalau adik kembarnya itu lagi dalam perjalanan menuju kampung halaman Mama mereka, bersama dengan sang mama.


"Emm, mereka pasti belum tiba di kampung mama. Kalau aku menghubunginya sekarang, juga pasti dia tidak akan angkat. Emm, sebaiknya aku kirim pesan saja," Bima, mulai menyalakan ponselnya. Alangkah kagetnya dia melihat banyak pesan masuk yang semuanya berasal dari Bimo.


Bima kemudian membaca satu persatu pesan dari adiknya itu yang menceritakan tentang Tania yang ternyata saudara sepupu Tante Arumi, dan juga merupakan adiknya Theo.


"Tapi kamu tidak perlu khawatir dan merasa berat hati, karena merasa bersalah lada Tante Arumi, kalau kita membongkar kebohongan Tante Tania, karena ternyata hubungan mereka juga sama sekali tidak baik sebagai sepupu. Justru Tante Tania juga sudah memfitnah Tante Arumi pada Oma Elva," salah satu pesan dari Bimo yang membuat ada rasa lega di hati Bima. Karena memang di saat dirinya mengetahui kalau Arumi adalah saudara sepupu Tania, anak kecil itu sedikit merasa bersalah kalau harus membuat kebusukan Tania terbongkar, yang berarti secara tidak langsung, membuat wanita itu jatuh. Kenapa merasa bersalah? karena dia tahu kalau Arumi lah selama ini yang selalu ada untuk mamanya. Bima takut kalau nantinya Tante Arumi dan orang tuanya, menganggap dia tidak tahu balas Budi.


Bima kemudian membuka pesan-pesan lainnya termasuk berupa video yang di-posting oleh Tania di akun media sosialnya. "Tapi, kamu tenang saja, aku sudah menghapus postingan itu, walaupun emang sudah banyak yang membagikan. sepertinya kita tidak boleh menunda-nunda waktu lagi. Lagian kita sudah punya cukup bukti kan? aku rasa itu semua sudah cukup," itulah pesan terakhir yang dikirimkan oleh Bimo.


"Sebenarnya sih sudah cukup, tapi masih ada satu lagi yang benar-benar aku tunggu. Coba aku tanya Pak Jono dulu, apa Bapak itu sudah berhasil menemukannya dan apa barang bukti itu masih ada?" batin Bima.


Tanpa membalas pesan-pesan Bimo, Bima langsung berinisiatif menghubungi Jono.


"Iya, Tuan muda ada apa?" terdengar suara Jono, dari ujung sana.


"Apa Bapak sudah melakukan yang aku minta, Pak? dan apa Bapak menemukan handphonenya?" tanya Bima to the point.


"Sudah, Tuan! Tadi aku pura-pura mau pinjam charger handphone ke Dito. Nah kebetulan ini Tania menghubunginya, Dito keluar dari kamarnya, untuk menjawab panggilan itu. Aku kemudian langsung mencari Handphone yang kita butuhkan itu, dan aku memang berhasil menemukan handphone itu, tapi setelah aku periksa, videonya sudah dihapus," terdengar nada suara Jono yang putus asa.


"Sudah dihapus ya?" Bima juga kemudian lemas. "Ya udah deh, Pak. Tidak apa-apa. Sebenarnya Bukti-bukti yang ada padaku sudah lumayan cukup. Video yang ada di handphone itu sebenarnya hanya sebagai bukti pendukung, tapi kalau seandainya video itu ada, itu bisa dijadikan bukti kuat," suara Bima terdengar sangat lirih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah mengantarkan Bima pulang, Satya, langsung keluar dari kediaman Bara dan melajukan mobil dengan kecepatan yang lumayan tinggi, menuju rumah sakit tempat Arumi melakukan test DNA antara Bara dan Bima.


Memang, Arumi tidak meminta agar wanita itu kembali menemuinya, tapi Satya benar-benar penasaran dan antusias untuk mengetahui hasilnya. Antusias untuk mengetahui hasilnya atau ada tujuan lain hanya dialah yang tahu.


Sesampainya di rumah sakit, Satya langi berlari masuk. Pria itu mengedarkan pandangannya dengan raut wajah bingung, hendak menuju ruangan mana. "Emm, kenapa aku begitu bodoh ya? kenapa aku tidak menghubungi wanita itu dulu untuk menanyakan dia ada di mana," Satya merutuki kebodohannya, sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


Di saat ingin melakukan panggilan, matanya tiba-tiba menangkap sosok yang dia cari sedang berjalan dengan anggunnya. Wanita itu tampak memakai jas putih, khas seorang dokter. "Emm, ternyata dia seorang dokter juga," batin Satya sembari berjalan menghampiri Arumi.


"Hei,apa semuanya berjalan lancar?" tanya Satya, langsung tanpa berbasa-basi lebih dulu.


Mendengar seseorang sedang berbicara padanya, sontak membuat Arumi menoleh dan kaget melihat keberadaan Satya di tempat itu.


"Kamu? kenapa kamu berada di sini?" tanya Arumi dengan kerutan di keningnya.


"Kenapa pertanyaanmu terdengar aneh ya? tentu saja aku ke sini karena ingin tahu hasilnya. Apa hasilnya sudah keluar?" tanya Satya dengan tidak sabar.


Arumi berdecak kesal, pada makhluk yang dia anggap menyebalkan di depannya itu.


"Kamu kira test DNA, itu seperti main sulap. Banyak prosedur yang harus dilakukan. Biasanya hasilnya akan bisa keluar 1-2 hari, tergantung biayanya. Semakin mahal, ya hasilnya semakin cepat keluar," sahut Arumi.


"Kalau begitu, kamu sebutkan saja berapa biaya yang termahalnya, aku akan bayar, agar hasilnya bisa keluar hari ini juga," desak Satya yang membuat Arumi semakin kesal.


"Apa jabatan kamu di rumah sakit ini?" tanya Satya ambigu.


Arumi mengrenyitkan keningnya, bingung dengan maksud Satya bertanya seperti itu.


"Apa kamu dokter kepala, atau kamu termasuk yang berpengaruh di rumah sakit ini?" ulang Satya, memperjelas pertanyaannya.


"Tidak ada sama sekali. Aku hanya dokter kandungan yang bekerja di sini. Kenapa kamu bisa bertanya seperti itu?"


Satya berdecak dan mengembuskan napasnya merasa geram melihat Arumi yang tidak mengerti maksud pertanyaannya.


"Nona Arumi, apa kamu yakin kalau yang bertanggung jawab untuk melakukan test DNA yang kamu minta akan langsung mereka lakukan, dengan posisimu yang hanya dokter kandungan? apalagi kamu katakan tadi kalau biayanya dikasih keringanan? kalau kamu dokter kepala atau orang yang berpengaruh, mungkin mereka akan cepat melakukannya. Tapi dengan posisimu,aku yakin kalau sekarang mereka belum bergerak untuk melakukannya, dan pastinya mengutamakan yang membayar mahal."


Arumi terdiam tidak bisa membantah karena yang dikatakan oleh Satya itu benar adanya. Wanita itu benar-benar malu, karena tidak berpikir sampai ke arah sana.


"Jadi, maksud aku, biarlah aku yang membayar semua biayanya semahal apapun itu, agar test DNA antara Bara dan Bima langsung dilakukan dan hasilnya keluar malam ini juga," lanjut Satya lagi.


"Emm, baiklah! mari kita kembali ke sana," pungkas Arumi sembari melangkah kembali menuju ruang laboratorium.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Baiklah, sekarang aku pulang dulu! kita akan kembali ke sini nanti malam!" ucap Satya setelah mereka sudah keluar dari rumah sakit.


Arumi menganggukkan kepalanya, mengiyakan. "Kalau begitu aku pulang dulu!" ucap Arumi, yang diangguki kepala oleh Satya.


Arumi belum terlalu jauh melangkah, dia memutar tubuhnya untuk melihat apakah Satya masih berdiri di tempatnya atau sudah masuk ke dalam mobil. Namun, ternyata dia melihat Satya melangkah mendekati dua orang pria tinggi besar, berpakaian hitam.


"Aku mau kalian berdua menunggu di depan ruangan laboratorium. Kalian harus mengawasi apa ada sesuatu yang mencurigakan. Aku tidak mau nantinya ada yang akan mensabotase hasil testnya!" titah Satya dengan sangat tegas, sehingga aura pria itu terlihat sangat mengagumkan. Sikapnya yang menyebalkan di mata Arumi seketika menguap entah kemana.


Arumi sontak mengurungkan niatnya untuk pergi. Wanita itu,. melangkah kembali menghampiri Satya.


"Kenapa kamu kembali lagi?" tanya Satya dengan kening berkerut.


"Kenapa kamu meminta mereka berjaga-jaga? apa kamu __"


"Aku tidak mencurigaimu!" sambar Satya dengan cepat. Karena dia tahu kalau wanita di depannya itu, mulai salah paham.


"Aku hanya mengantisipasi saja. Tidak ada salahnya kan kita mengantisipasi sebelum terjadi? bisa saja hal yang kita sudah sangat yakin akan berhasil, ternyata gagal karena kita terlalu menyepelekan hal kecil yang tidak pernah kita duga. Jadi, ada baiknya kita meminimalisir resiko yang bisa saja terjadi. Toh tidak ada ruginya, kan?" imbuh pria itu lagu menjelaskan.


Rasa kagum Arumi semakin bertambah melihat aura pria di depannya itu yang semakin terpancar.


"Arumi!"


Arumi dan Satya sontak menoleh ke arah datangnya suara. Tampak seorang pria tampan keluar dari dalam mobil.


"Kak Theo?" gumam Arumi, sedikit kaget melihat kedatangan Theo.


"Satya aku pergi dulu ya! nanti malam kita bertemu di sini lagi!" ucap Arumi dengan tergesa-gesa dan langsung berlari untuk menghampiri Theo.


"Ternyata dia sudah punya kekasih. Segitu takutnya dia, kalau kekasihnya marah," batin Satya sembari masuk ke dalam mobilnya.


tbc