
"Kenapa Kakak yang antar aku sekolah?" Salena langsung saja to the point begitu mobil yang dikemudikan oleh Tristan keluar dari area rumahnya.
"Biar kamu tidak kabur-kaburan lagi," sahut Tristan santai.
"Kabur-kaburan? maksudnya?" Salena mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Jangan kira aku tidak tahu kalau setiap pulang sekolah kamu selalu kabur dari supir kamu. Kakak tidak tahu alasan kamu apa, tapi yang jelas kamu sudah nyusahin orang yang sudah tua. Kasihan kan?"
Salena cengengesan mendengar ucapan Tristan yang memang benar adanya.
"Jadi mulai sekarang, aku yang akan mengantar kamu sekolah dan kalau aku tidak punya banyak pekerjaan, aku juga akan menjemputmu,"
Mata Salena membesar terkesiap kaget mendengar ucapan Tristan. "Jangan gitu dong kak. Kasihan Pak Tino dong, kehilangan pekerjaan gara-gara Kakak. Kakak emangnya mau membiayai hidup mereka sekeluarga?" protes Salena.
Tristan melirik Salena sekilas dan tersenyum. "Untuk masalah itu, kamu tidak perlu khawatir karena Pak Tino akan jadi supir pribadi papa kamu sendiri. Selama ini kan Om Satya nyetir sendiri jadi sekarang sudah saatnya Om Satya disupirin," Salena seketika mengerucutkan bibirnya, merasa kesal mendengar Tristan.
"Kenapa kamu cemberut seperti itu? apa kamu tidak suka kalau aku menggantikan tugas Pak Tino? harusnya kamu senang dong, setiap. hari kamu duduk di dekat disupirin sama cowok tampan?"
"Cih, percaya diri sekali!"
Bibir Salena semakin mengerucut mendengar ucapan Tristan yang menurutnya terlalu percaya diri. "Tapi memang Tampan sih?" imbuhnya lagi, membuat Tristan terkekeh.
Sebenarnya, Salena bukannya tidak suka kalau Tristan yang mengantar dan menjemputnya sekolah, tapi masalahnya, wanita itu merasa kalau kebebasannya akan semakin berkurang. Ia sudah membayangkan kalau hidupnya akan berkutat di seputaran rumah dan sekolah saja nantinya.
Keheningan terjebak untuk beberapa saat di antara mereka berdua. Tristan fokus ke jalanan yang semakin ramai, sementara Salena fokus dengan pemikirannya sendiri.
"Astaga, aku lupa!" pekik Salena tiba-tiba membuat Tristan tersentak kaget, dan berhenti mendadak, yang tentu saja menimbulkan kebisingan klakson mobil di belakang mobilnya.
"Kak Tristan apa an sih? kenapa berhenti mendadak? kakak mau membunuhku?" protes Salena sembari mengusap-usap jidatnya yang sedikit kebentur ke dashboard mobil.
"Bukan aku yang mau membunuhmu, tapi kamu yang mau membunuh kita. Kamu kenapa tiba-tiba teriak? apa yang kamu lupakan?" ucap Tristan berusaha menekan nada suaranya agar Salena tidak takut.
Salena sontak cengengesan, memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Aku lupa, rapi-rapi. Kakak kan tahu sendiri kalau sekarang aku sama sekali tidak rapi,"
Tristan berdecak menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali melajukan mobilnya.
Setelah mobil sudah kembali berjalan, dengan tidak malunya Salena membuka kancing kemeja yang dia pakai karena dia hendak membenarkan kancing yang tadi dia pakai asal-asalan.
"Hei, apa yang kamu lakukan?" pekik Tristan yang hampir saja kehilangan keseimbangan.
"Rapikan kancing kemejanya lah. Kakak kan lihat sendiri tadi kalau aku mengancingkannya panjang pendek,"
Tristan sontak menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, melihat kepolosan gadis remaja di sampingnya itu.
"Kamu kan bisa buka satu-satu kancingnnya Salena. Jangan langsung sekaligus. Kamu bisa mulai dari bawah dulu," tutur Tristan dengan nada lembut sama seperti seorang kakak yang mengajari adiknya.
"Belum pernah sih! kan baru ini mama nggak bangunin aku. Jadi, baru ini juga buru-burunya," Tristan seketika mengembuskan napas, lega.
"Lagian kenapa sih, Kak? kenapa Kakak terlihat panik begitu?" Salena memicingkan matanya, curiga.
"Tidak ada apa-apa! lain kali jangan lakukan hal seperti tadi di depan laki-laki lain, kamu mengerti!" Tristan mencondongkan wajahnya ke wajah Salena yang membuat gadis itu refleks memundurkan kepalanya.
"I-iya, mengerti, Kak!" sahut Salena tiba-tiba gugup. "K-kak, bisa tidak jauhkan wajahmu! tolong lihat jalan. Aku tidak mau mati konyol," raut wajah Salena terlihat memucat.
"Astaga!"pekik Tristan yang seketika tersadar kalau mereka sedang ada di jalan.
Setelah wajah Tristan sudah menjauh dari wajahnya, Salena mengusap-usap dadanya untuk meredam detak jantungnya yang tadi sempat berdetak dua kali lebih cepat dari detak jantung normal.
"Kak, kak, berhenti di sini saja!" teriak Salena tiba-tiba sembari memukul-mukul pundak Tristan.
"Kenapa berhenti di sini? bukannya sekolah kamu masih di sana?" Tristan mengrenyitkan keningnya, curiga.
"Emm, iya sih, tapi aku mau turun di sini,"
"Kenapa harus turun di sini? apa ada yang kamu sembunyikan?" sudut alis sebelah kanan Tristan naik sedikit ke atas, menyelidik.
"Aaahh, kelamaan kalau dijelaskan sekarang. Nanti aku bisa telat. Aku janji, nanti aku akan jelaskan ya, Kak. Jadi, aku mau turun dulu!" Salena baru saja hendak membuka pintu mobil, tapi tiba-tiba ditahan oleh Tristan.
"Aku akan tetap mengantarkanmu sampai depan sekolahmu. Lagian sudah tidak ada waktu lagi. 5 menit lagi kamu tidak tiba di sana, kamu akan telat!"
"Tapi, Kak, aku__"
" Tidak ada tapi-tapi!"Tristan kembali melajukan mobilnya, tidak mengindahkan permintaan Salena.
Salena menghela napasnya dengan sekali hentakan. Kini gadis itu terlihat pasrah, karena dia tahu kalau ucapan pria di sampingnya itu sudah tidak terbantahkan lagi.
"Huft, Mudah-mudahan dia tidak melihatku turun dari mobil," bisik Salena pada dirinya sendiri sembari memejamkan matanya. Sikap Salena tentu saja membuat Tristan semakin penasaran dengan apa yang disembunyikan oleh gadis itu.
"Apa Salena sudah memiliki pacar, makanya dia takut kalau pacarnya nanti akan salah paham?" Tristan mulai berasumsi sendiri.
"kalau dia memang sudah punya pacar aku akan melihat siapa pemuda itu. Dan kalau diperlukan aku akan bersaing dengannya!" raut wajah Tristan terlihat mengeras, saat membisikkan tekadnya itu sendiri. "Astaga, haruskah aku bersaing dengan remaja yang jauh di bawah usiaku?" Tristan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Di depan Tristan kini sudah terlihat sebuah gedung sekolah yang sangat besar dan terlihat mewah. Pria itu sontak menepikan mobil tepat di depan pintu gerbang.
"Kamu sudah sampai. Sekarang kamu boleh turun!" titah Tristan.
Bukannya langsung turun, Salena justru sama sekali tidak mau beranjak dari tempat duduknya. Raut wajah gadis itu justru terlihat cemas melihat ke seseorang yang berdiri tepat di depan pintu gerbang. Sosok yang berdiri di pintu pagar itu terlihat cemas sembari celingukan mencari seseorang. Salena tahu benar kalau sosok itu pasti sedang mencemaskannya yang tidak kunjung datang
"Kenapa kamu belum turun juga? apa kamu mau telat?dan kenapa wajahmu pucat seperti itu?" ucap Tristan dengan kening berkerut.
Tbc