Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Aku tidak suka aromanya.


Hari berganti begitu cepat, tidak terasa sudah sebulan lamanya berlalu, semenjak acara lamaran romantis Bimo berlangsung. Acara pernikahan keduanya memang direncanakan akan dilangsungkan dua bulan setelah lamaran karena Bimo. Jadi, sekarang tersisa tinggal sebulan lagi. Kenapa ditunda selama itu? itu karena Bimo harus kembali sibuk, untuk mempertanggungjawabkan proyek besar yang dia menangkan. Artinya dia harus fokus pada proyek itu lebih dulu, minimal selesai 50 persen.


Namun, walaupun ditunda, segala persiapan demi persiapan tentu saja tetap dilakukan.


Pagi ini seperti biasa tampak tiga putra keluarga Prayoga sudah rapi dengan pakaian kerja masing-masing. Namun yang terlihat buru-buru hanya dua orang yakni Tristan dan Bimo. Sedangkan Bima tampak sangat santai seperti tidak akan pergi kemana-mana.


"Sayang, kenapa kamu masih saja santai? kamu tidak bekerja hari ini?" tanya Ayunda yang juga sudah tampak rapi dan sepertinya siap untuk berangkat ke butiknya.


"Emm, hari ini aku tidak terlalu banyak pekerjaan. Semuanya sudah aku serahkan ke Radit. Apa kamu mau berangkat ke butik?"


Ayunda menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


"Apa hari ini kamu bisa tidak usah pergi ke butik? aku ingin kamu temani satu harian ini!" ucap Bima yang membuat Ayunda mengrenyitkan keningnya, bingung.


"Kamu kenapa sih, Sayang? kamu baik-baik saja kan?" tanya Ayunda, khawatir karena sikap suaminya itu tidak seperti biasanya.


"Tentu saja aku baik-baik saja. Aku hanya ingin kamu temani, emangnya itu salah?" tanya Bima, balik.


"Tidak salah sih, cuma aneh saja! kamu kan tidak biasanya seperti ini,"


"Itu kan biasanya ... luar biasanya ya seperti ini," sahut Bima sembari memeluk Ayunda dan mulai mengendus-endus leher istrinya itu.


"Sayang kamu kenapa wangi sekali sih? beda denganku yang bau," ucap Bima lagi, tidak berhenti mengendus leher, dan pakaian Ayunda.


"Yang bilang kamu bau siapa? kamu wangi kok seperti biasanya," Ayunda mencondongkan tubuhnya mencium kemeja yang dipakai oleh suaminya itu.


"Kamu wangi, Sayang. Hanya saja memang kurang wangi, mungkin karena kamu belum menyemprotkan parfum ke pakaianmu. Mau aku semprotkan?" Ayunda mengayunkan kakinya melangkah berjalan ke arah meja rias, tempat parfum yang biasa dipakai oleh Bima.


"Aku tidak mau memakai parfum itu, Sayang. Aku mau pakai parfum kamu!" tolak Bima dengan cepat sebelum Ayunda menyemprotkan parfum ke tubuhnya.


"Heh? parfumku?" lagi-lagi Ayunda mengrenyitkan keningnya, bingung.


"Itu baunya lembut khusus untuk wanita, Sayang. Tidak ada bau maskulin sama sekali," imbuh Ayunda lagi.


"Tapi aku mau pakai itu, biar wanginya serasa kamu ada di dekat ku terus, karena aku selalu mencium wangi kamu terus," sahut Bima yang membuat Ayunda semakin bingung.


"Sayang, sekali lagi aku mau tanya, kamu baik-baik saja kan? kepalamu tidak terbentur sesuatu benda keras kan? sumpah kamu itu benar-benar aneh," Ayunda tidak bisa lagi menyembunyikan kegusaran hatinya.


"Sayang,kamu kenapa bertanya seperti itu? aku ini baik-baik saja, dan kepalaku sama sekali tidak terbentur apapun. Kamu melihat aku aneh dari mananya sih?"


"Ya, anehlah! kemarin-kemarin kamu merasa kalau kamu lebih nyaman dan percaya diri dengan parfum mahalmu itu, karena katamu, aromanya mampu memberikan energi positif bagi mereka yang menciumnya. Dan kamu juga bilang kalau aromanya juga identik dengan pribadi yang sporty dan optimistis. Ada keseimbangan antara ketenangan dan kesegaran yang tercipta.  Kenapa sekarang kamu jadi tidak menyukai aromanya? Lagian kamu kan kamu tidak mungkin memakai parfum aroma floral seperti yang aku pakai. Nanti kamu diketawain karyawanmu lagi," ujar Ayunda, panjang lebar dan tanpa jeda.


"Kenapa kamu jadi cerewet sih? emangnya salah kalau aku pakai perfume kamu. Lagian hari ini kan aku sudah bilang mau menghabiskan waktu denganmu, jadi aku tidak akan pergi ke kantor. Tapi, seandainya aku ke kantor pun, tidak akan ada yang berani menertawaiku. Jadi kamu tenang saja!" ucap Bima, kembali menarik tubuh Ayunda dan kembali mengendus-endus leher istrinya itu.


"Bima, geli!" seru Ayunda, yang seluruh tubuhnya kini sudah merinding. Wanita itu berusaha untuk mendorong tubuh Bima, namun sama sekali tidak berhasil. Suaminya itu, bahkan memeluknya semakin erat.


"Sayang,jangan ke butik ya! mending kamu temani aku!" ucap Bima yang hari ini benar-benar bersikap manja.


"Iya, iya, aku gak akan ke butik, tapi lepaskan dulu pelukanmu!" ucap Ayunda dengan lembut, seperti layaknya seorang ibu yang membujuk putranya.


Baru saja Bima melepaskan pelukannya, ponselnya tiba-tiba berbunyi pertanda ada yang sedang menghubunginya.


"Halo," nada Bima tiba-tiba berubah dingin tidak seperti sikap manjanya seperti tadi.


"....."


"Oh, Oke! Sebentar lagi kamu akan ke sana. Terima kasih buat informasinya!" Bima memutuskan panggilan dan Kali ini memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


Sementara itu, Ayunda tampak membuka lemari dan mengeluarkan pakaian rumahanya. Seperti yang dia katakan tadi kalau dirinya hari ini tidak akan ke butik, tapi menemani Bima di rumah.


Tiba-tiba pinggangnya ada dua tangan kekar yang melingkar. Siapa lagi pemilik tangan itu kalau bukan Bima sang suami.


Pria itu kembali mengendus-endus leher Ayunda, seakan dia menemukan sesuatu yang sangat menarik di leher istrinya itu.


"Sayang, jangan seperti ini ah! geli tahu!" Ayunda mulai protes karena bulu kuduknya kembali berdiri, akibat ulah Bima.


Bukannya berhenti, Bima semakin gencar melakukannya dan juga berkali-kali mencium pundak Ayunda.


"Sayang, kenapa kamu keluarkan pakaian itu?" tanya Bima, melihat ke arah pakaian yang ada di tangan Ayu.


Ayunda menggertakkan giginya, merasa kesal mendengar pertanyaan Bima.


"Lho, Kamu ini bagaimana sih, Bima? bukannya kamu yang bilang kalau aku tidak perlu pergi ke butik sekarang? jadi aku mau ganti pakaian yang aku pakai ini ke pakaian santai. Tidak mungkin kan aku pakai gaun di rumah," sahut Ayunda, berusaha menahan kekesalannya.


"Kamu tidak usah ganti pakaian, Sayang. Soalnya aku mau mengajakmu keluar. Ayo!" Bima melepaskan pelukannya, mengambil pakaian yang sempat diambil Ayu tadi dan memasukkan kembali ke dalam lemari. Setelah itu, pria itu meraih tangan Ayunda dan mengajak istrinya itu melangkah ke luar. Sementara itu, Ayunda hanya bisa diam dan menurut saja kemanapun suaminya itu mengajak dia pergi.


Belum sampai di pintu, tiba-tiba Bima menyurutkan langkahnya, membuat Ayunda kembali bingung.


"Ada apa lagi, Sayang? apa ada yang ketinggalan?" tanya Ayunda.


"Iya, ada! aku belum pakai parfummu!" Bima berbalik dan melangkah kembali ke tempat di mana Ayunda meletakkan parfum miliknya. Setelah menemukan parfum itu, Bima menyemprotkannya ke seluruh tubuhnya sembari menghirup udara, seakan sedang menikmati aroma parfum itu. Setelah itu, pria itu meraih botol parfumnya sendiri, dan tanpa beban langsung memasukkan botol parfum itu ke tempat sampah.


"Sayang, kenapa kamu membuang parfummu? itu masih banyak lho!" protes Ayunda.


"Biarkan saja! aku tidak suka aromanya lagi."


"Ya, walaupun kamu tidak suka,kan bisa kami kasih ke Bimo atau ke Tristan. Itu parfum mahal lho. Kalau tidak kamu bisa kasih ke satpam depan!" Ayunda kembali protes.


"Kalau aku kasih ke Tristan ataupun ke Bimo, mereka juga punya. Kalau aku kasih ke satpam , tidak adil kalau aku tidak kasih juga ke supir mama, juga tukang kebun. Yang ada akan timbul iri di antara mereka. Jadi, lebih baik dibuang saja," tutur Bima.


"Ambil lagi, Nggak! setidaknya kalau kamu tidak mau pakai, jangan dibuang, tapi disimpan saja! itu sama saja kamu buang-buang uang!" titah Ayunda dengan mata yang menatap sangat tajam.


"Iya, iya, aku ambil lagi!" melihat tatapan istrinya yang seperti hendak memakannya hidup-hidup, Bima akhirnya mau tidak mau mengambil kembali botol parfumnya itu dengan satu tangan yang menutup hidungnya. Kemudian pria itu meletakkan kembali di atas meja.


"Aku sudah mengambilnya kembali, Sayang. Kalau kamu mau menyimpannya, tolong simpan jauh-jauh ya! aku benar-benar tidak suka aromanya. Aromanya itu benar-benar membuatku mual!" ucap Bima, membuat Ayunda kembali mengrenyitkan keningnya.


"Nanti, temani aku membeli parfum seperti milikmu, ya," lanjut Bima lagi.


tbc