Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Luapan hati Bima


"Bima, papa benar-benar kecewa pada kamu. Persahabatan Papa dan Om Adrian terancam akan hancur. Papa tidak mau kalau reputasi keluarga Prayoga yang selama ini terjaga dengan baik, hancur hanya karena masalah ini," Bara terduduk lemas di atas ranjang.


Bima kembali mengacak-acak kepalanya hingga membuat rambutnya semakin berantakan. Pria itu benar-benar terlihat kalut sekarang.


Bima kemudian melangkah menghampiri Bara dan berlutut di depan papanya itu.


"Pa, maaf kalau aku sudah membuat semuanya hancur. Tapi, tolong percaya padaku. Aku dan Ayu sama sekali tidak melakukan apa-apa!" Tanpa merasa malu lagi, setitik cairan bening menetes keluar dari sudut mata Bima, tapi langsung disekanya.


"Bima, sebagai orang tuamu, papa ingin sekali mempercayaimu, tapi sulit, Nak. Semuanya terjadi jelas di depan mata papa dan mama. Papa tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya, seandainya kami tidak datang tadi,"


"Arghhh!" Bima bangun berdiri dari sujudnya. "Kenapa sih tidak ada yang percaya padaku? Aku ini anak Papa dan mama kan? Apa kalian tidak tahu karekter anak sendiri? Kenapa segitunya kalian mencurigaiku? Ok, untuk masalah yang tadi ... Itu juga tidak akan terjadi kalau kalian semua tidak datang tiba-tiba. Itu semua terjadi karena reaksi kaget kami!" suara Bima meninggi. Pria itu kini berbicara dengan sangat berapi-api.


"Papa dan mama apa tidak bisa melihat kondisiku sekarang? Lihat Pa,lihat Ma, aku masih berpakaian lengkap kan? Bagaimana kalian bisa menuduhku dengan pakaian masih menempel di tubuhku?" napas Bima sudah terlihat memburu,benar-bernar tidak tahu caranya lagi untuk menjelaskan pada kedua orang tuanya itu.


"Bima! Turunkan suaramu! bagaimana kamu bisa berbicara begitu tinggi di depan kedua orang tuamu? Hah!" kini suara Bara ikut menggelegar, untuk mengimbangi suara Bima.


"Kenapa? Kenapa aku tidak bisa meninggikan suara? Apa dengan begitu aku akan dianggap anak kurang ajar?" Bima benar-benar sudah tidak terkontrol lagi.


"Ma, Pa, aku tahu kalau kita memang harus sopan dan santun pada orang tua, tapi tidak selamanya anak itu harus begitu,Pa. Kita sebagai anak juga harus berani bersuara untuk melakukan pembelaan diri, selagi kita merasa benar. Bukan berarti kalau begitu kita sudah kurang ajar pada orang tua. Itulah yang aku lakukan sekarang,aku hanya ingin kalian percaya kalau aku sama sekali tidak melakukan apa-apa pada Ayunda. Kami murni sama-sama terjebak di kamar ini, Pa!" Bima mulai merendahkan suaranya.


Bara bergeming, diam seribu bahasa. Dia benar-benar merasa kalau putranya itu adalah cerminan dirinya.


"Bima, maafkan Papa! baiklah, papa percaya kamu tidak melakukannya. Tapi, masalahnya bagaimana dengan Om Adrian? kamu lihat sendiri, dia benar-benar murka tadi. Bagaimanapun caranya kamu membantah, papa yakin kalau Om Adrian tidak akan mau mendengar apa yang kamu katakan. Dia sudah terlanjur kecewa, Nak," akhirnya Bara menurunkan egonya. Karena dia tahu kalau dia tetap berbicara dengan nada tinggi dan dibalas tinggi lagi oleh Bima, masalah tidak akan pernah selesai.


"Benar kata Papamu, Nak. Om Adrian sudah terlanjur kecewa. Bagi seorang ayah, anak perempuanya merupakan tuan putri baginya. Dan kalau harga diri anak perempuannya tercoreng, itu sama saja melukai harga dirinya sebagai seorang ayah," Clara yang dari tadi hanya diam, akhirnya buka suara.


Bima tercenung. Pria itu benar-benar tidak semangat sekarang. "Jadi apa yang harus aku lakukan agar semuanya membaik? Haruskah aku berlutut di kaki Om Adrian? Kalau hanya dengan cara itu semuanya membaim,aku akan lakukan!"


Bima menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bukan dengan cara itu. Tapi satu-satunya jalan, kamu harus menikahi Ayunda!"


Bagai disambar petir di siang bolong, Bima terksiap kaget mendengar ucapan papanya.


"Bima, benar-benar sudah tidak ada waktu lagi. Kamu perlu waktu untuk mencari semua bukti, tapi asal kamu tahu dalam hitungan jam, bahkan dalam hitungan menit, keluarga kita bisa kehilangan reputasi kalau Om Adrian sudah bertindak," terang,Bara dengan wajah sendu. "Papa benar-benar tidak mau kalau perusahaan yang Papa perjuangkan mati-matian dari dulu, hancur begitu cepat. Karena sekali saja kabar ini tersebar, harga saham kita pasti akan anjlok," lanjut Bara lagi.


Bima bergeming, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Yang terlihat hanya wajah frustasinya.


"Apa hanya pernikahan jalan satu-satunya, Pa? apa tidak ada jalan lain lagi?" suara Bima kini sudah terdengar lirih.


"Iya, Nak. Hanya itu jalan satu-satunya," kali ini Clara yang menyahut.


Bima menggusak-gusak rambutnya kembali duduk bersandar di tembok.


"Ma,Mama tahu sendiri kan alasanku sebenarnya selama ini menolak perjodohan dengan Ayu?"


Clara menganggukan kepalanya dan berjongkok di samping putranya itu.


"Bukan hanya mamamu, papa juga sebenarnya sudah tahu," celetuk Bara. "Tapi mau bagaimana lagi, mungkin memang sudah takdir kalau kalian berdua memang berjodoh," lanjut Bara lagi.


Tiba-tiba Bima, meninju tembok dengan keras, hingga mengeluarkan darah. Pria yang biasa terlihat tegar ini, akhirnya menangis sesunggukan dan memeluk Clara mamanya. "Ma, apa mama tahu? Sekarang aku merasa sudah menjadi orang yang gagal, Ma ... aku benar-benar sudah gagal. Perjuanganku selama ini untuk menjauh, supaya Kak Tristan bisa dekat dengan Ayu, sia-sia. Aku benar-benar merasa seperti orang yang tidak berguna sekarang!" Bima akhirnya meluapkan kegundahan hatinya


Tanpa bisa dihindari,dari sudut mata Clara juga menetes cairan berning melihat kondisi putranya itu.


"Nak, kamu tidak boleh berkata seperti itu! Kamu mungkin sudah berusaha keras, tapi mungkin Ayu tetap jadi takdirmu. Kamu bukan tidak berguna, Nak, karena kalau Tuhan sudah berkehendak, bagaimanapun caramu untuk membuat mereka bersatu, pasti tidak akan bisa, karena lawanmu itu Tuhan Sang Pemegang dunia ini," Clara mengelus-elus lembut kepala Bima yang ada diperutnya. Untuk pertama kalinya wanita itu melihat putranya itu terlihat seperti orang lemah.


"Bima,mama kamu benar. Yakinlah, Tristan juga tidak akan mempermasalahkan kalau kamu menikah dengan Ayu. Dia pasti bisa menerima dengan lapang dada," Bara menimpali ucapan Clara istrinya.


"Aku hanya ingin, membuat Kak Tristan tidak merasa tersisih di kelurga kita dan selalu merasa rendah diri karena dia bukan anak kandung. Aku hanya ingin memberikan kebahagiaan yang dia inginkan dan aku tahu kalau kebahagiaannya itu Ayunda. Selama ini aku merasa berdosa dan merasa kalau kitalah yang membuat dia kehilangan wanita yang melahirkannya, makanya aku bertekad untuk mengorbankan kebahagiaanku untuk menebus sedikit rasa bersalahku, tapi semuanya sia-sia, Ma. Aku benar-benar merasa buruk sekarang!" Bima menangis sembari memukul-mukul dadanya sendiri.


Dari luar Tristan yang mendengar semuanya, juga tidak bisa menahan air matanya lagi. Walaupun dia memang sebenarnya sudah tahu dari dulu alasan Bima menolak, perjodohan dengan Ayunda, tetap saja dia merasa sedih mendengar semua luapan hati Bima. Karena sudah tidak kuat, Tristan akhirnya memilih untuk pergi.


Tbc