Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
cara licik


Setelah mengantarkan Salena pulang, Tristan tidak langsung pulang ke rumah, akan tetapi pria itu memutuskan untuk menginap di hotel. Itu dia lakukan karena dia belum sanggup menghadapi papanya yang dia yakin pasti kecewa.


Sesampainya di kamar hotel, Tristan merebahkan tubuhnya terlentang di atas kasur dengan mata yang menerawang menatap langit-langit kamar.


"Ini adalah debut pertamaku dikasih kepercayaan oleh Papa, tapi aku sudah mengecewakannya. Aku juga telah kehilangan waktu untuk membuktikan kemampuanku. Mungkin kalau aku gagal setelah menyelesaikan presentase, papa tidak akan kecewa karena hal seperti itu memang biasa, tapi masalahnya aku pergi tanpa presentase, itu sama saja seperti aku kalah sebelum perang. Sekarang apa yang harus aku lakukan?" Tristan membatin sembari membuang napasnya dengan berat.


"Jangan jadi pengecut, Tristan! papamu pasti tidak akan marah kalau dia tahu alasan kamu sebenarnya," bisik Tristan menghibur dirinya sendiri.


Tristan mulai mencoba memejamkan matanya. Namun tiba-tiba bayangan yang terjadi di dalam mobilnya tadi seketika berkelebat ke dalam pikirannya, di mana sebelum Salena turun, Tristan tanpa sadar mencuri ciuman di bibir gadis remaja itu untuk pertama kalinya.


"Kenapa rasanya masih terasa sampai sekarang ya?"Tristan menyentuh bibirnya dan jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Jujur, tadi dia hanya ingin mengecup saja, tapi karena tidak ada perlawanan, Tristan jadi kebablasan, hingga dia mencium bahkan sampai melakukan ******* dan durasinya juga cukup lama.


Beruntungnya, dia masih punya sedikit kesadaran, sehingga dia akhirnya berhenti, tidak sampai melakukan hal yang lebih dari itu.


"Sial! udah tahu begini rasanya, bisa-bisa aku langsung merasa kesetrum kalau nanti dekat-dekat, Salena," bisik Tristan pada dirinya sendiri. Untuk sementara, pria itu melupakan masalah tender yang sangat dia yakini sudah gagal itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, di tempat lain, tepatnya di negara Singapura, tampak seorang pria yang tidak lain adalah Bimo berjalan gontai di koridor hotel untuk menuju kamar tempat dia menginap. Raut wajah pria itu memperlihatkan kalau dia sangat lelah. Kalau boleh dikatakan yang paling memberatkannya adalah beban pikiran yang sekarang benar-benar bercabang, antara masalah pekerjaan dan putus hubungannya dengan Michelle. Sudah dua hari ini , dia sengaja tidak mengaktifkan ponselnya karena memang dia ingin fokus memenangkan tender besar ini. Namun, dia akui sekeras apapun dia berusaha untuk tidak terlalu memikirkan masalahnya dengan wanita yang dia cintai itu, tetap saja dia tidak bisa untuk tidak memikirkannya.


Bimo kini sudah sampai di depan kamarnya. Pria itu langsung membuka pintu kamar dan langsung masuk ke dalam. Kemudian, dia melonggarkan dasinya dan melepaskannya, lalu pria itu mengayunkan kakinya melangkah ke kamar mandi. Belum juga dia masuk, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk oleh seseorang dari luar. Jadi, mau tidak mau pria itu pun melangkah untuk membukakan pintu.


Mata Bimo seketika memicing, melihat seorang wanita yang berpakaian seksi berdiri di depan kamarnya. Ia mengenal wanita itu yang tidak lain adalah sekretaris salah satu pengusaha dari Indonesia juga, yang merupakan saingannya.


"Ada apa, Nona Silvi? ada yang bisa saya bantu?" tanya Bimo dengan sangat sopan sangat hati-hati.


"Auh, kepalaku sangat sakit, Tuan Bimo!" wanita itu dengan sengaja menjatuhkan dirinya ke pelukan Bimo dan berpura-pura pingsan.


"Brengsek! apa yang mau kamu lakukan?" bentak Bimo.


"Tuan, Bimo please tidak usah sok menghindar. Aku yakin kalau kamu sangat butuh kehangatan malam ini. Aku bisa melihat dari wajahmu, kamu itu cukup lelah. Jadi, aku pikir kamu butuh untuk menyegarkan pikiranmu, dan aku dengan senang hati mau membantumu," ucap Silvi dengan nada yang sangat lembut dan mendayu-dayu.


Bimo tersenyum miring dan menatap Silvi dengan tatapan sinis. "Wah, apa CEO kamu sengaja membawamu ke sini khusus untuk memuaskannya dan memuaskan para pesaingnya?" tanya Bimo seakan dia tertarik dengan tawaran wanita itu.


"Emm,sama sekali tidak, Tuan Bimo. Hanya saja begitu pertama kali aku melihatmu, aku merasa tertarik padamu. Tadi, aku melihat sepanjang hari ini kamu terlihat murung dan tersenyum di saat-saat penting saja, jadi aku yakin kalau kamu itu lagi butuh penyegaran. Aku merasa kalau aku tidak akan rugi jika harus bercinta dengan pria tampan sepertimu," suara Silvi terdengar semakin lembut dan dengan sengaja membuka satu kancing lagi kemejanya, hingga memperlihatkan gundukan benda kembar yang menempel di dadanya.


"Ya, kamu memang pasti tidak akan rugi, Nona Silvi. Justru yang rugi itu adalah aku. Aku bukan pria yang gampang tertarik melihat tubuh seorang wanita. Sekalipun kamu polos di depanku, aku sama sekali tidak tertarik, karena aku hanya akan tertarik pada wanita yang aku cintai. Jadi, aku sarankan, sebaiknya kamu keluar dari sini!" nada bicara Bimo terdengar sangat dingin. Tatapan pria itu juga sangat tajam bak sebilah belati yang siap menghujam jantung.


Bukannya merasa takut dengan tatapan Bimo, wanita bernama Silvi itu tiba-tiba tertawa pecah. "Tuan Bimo, Tuan Bimo ... kamu itu benar-benar munafik dan bodoh. Dikasih tubuh indah begini, kamu tolak. Aku jadi meragukan kenormalanmu,"


Bimo tersenyum smirk. Dia sama sekali tidak terpancing dengan ucapan Silvi, karena dia yakin kalau wanita itu memang sengaja mengatakan hal itu, untuk memancing amarahnya. Karena pada umumnya laki-laki tidak bisa menerima sebuah penghinaan, apalagi itu mengangkut masalah kejanntanan.


Para pria biasanya akan merasa sangat terhina kalau kenormalannya diragukan. Para laki-laki, tidak mau harga dirinya sebagai laki-laki normal diinjak-injak, sehingga hanya karena ingin membuktikan kalau mereka normal, mereka tanpa sadar melakukannya dengan wanita yang meragukannya itu. Para pria itu sama sekali tidak menyadari kalau mereka sudah masuk dalam jebakan.


"Terserah apapun yang anda katakan Nona Silvi. Anda mau meragukan aku normal atau tidak, aku bodo amat. Aku yang tahu diriku bukan orang lain. Yang aku tahu, kalau tubuhku tahu mana yang mahal dan mana yang murah. Tubuhku tidak akan pernah tertarik pada wanita murahan yang hanya mengobral tubuhnya. Jadi, sebelum aku marah dan menarik paksa kamu untuk keluar, silakan keluar sendiri!" Bimo memberikan isyarat menggunakan jarinya, meminta Silvi untuk keluar.


Silvi menggeram kesal mendengar ucapan Bimo yang jelas-jelas memang merendahkannya.


"Tuan Bimo, kamu bisa saja menghinaku seperti ini sekarang. Tapi, lihat saja besok kamu akan akan buat malu dan bisa dipastikan kalau kamu akan gagal mendapatkan tender itu. Asal kamu tahu, aku sudah meminta seseorang untuk mengambil photo saat aku jatuh dipelukanmu dan saat aku masuk ke dalam kamarmu. Aku yakin dengan aku memperlihatkan photo-photo itu nanti, kamu bisa tidak punya kesempatan untuk memenangkan tender. Jadi sebaiknya kamu jangan macam-macam padaku," Silvi tersenyum penuh kemenangan.


"Brengsek kamu! kamu benar-benar perempuan murahan. Aku yakin kalau ini adalah salah satu cara licik yang diperintahkan atasanmu, untuk menjatuhkan lawan!"


"Ah, akhirnya kamu tahu juga! tapi gak pa-pa deh, yang penting sudah ada photo-photo itu. Aku yakin kalau photo-photo itu sudah cukup jadi bukti. Bye, Tuan Bimo!" Silvi memutar tubuhnya dan dengan sengaja melenggak-lenggokan tub saat berjalan menuju pintu keluar.