Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Kembali menjadi suami istri


Hari berlalu begitu cepat, tidak terasa kalau sudah sebulan lamanya waktu berlalu semenjak Tania pergi meninggalkan dunia ini. Clara menepati janjinya, selama belum menikah dengan Bara, Tristan ada bersamanya dan dia didik dengan baik, walaupun memang masih sulit untuk melakukan pendekatan dengan anak kecil itu, karena sepertinya anak itu masih memiliki rasa sungkan pada Clara.


Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan sekaligus sangat ditunggu-tunggu, oleh Bara dan Clara. Di mana hari ini, mereka berdua akan meresmikan kembali hubungan mereka menjadi suami istri, sama seperti dulu.


Pagi tadi keduanya sudah mengucap janji sehidup semati, yang berarti keduanya sudah sah menjadi sepasang suami istri.


Jam sudah menunjukkan pukul 18.45, yang berarti 15 menit lagi acara resepsi kedua insan itu akan segara dimulai.


"Kamu cantik sekali, Clara!" puji Arumi dengan manik mata yang berkilat-kilat karena sudah penuh dengan cairan bening yang siap ditumpahkan dari wadahnya. Wanita itu tidak pernah menyangka kalau sahabatnya itu sekarang sudah kembali sah menjadi seorang istri seorang pengusaha sukses. Walaupun Clara selalu mengatakan kalau semua ini hanya demi kedua anaknya bisa mendapatkan identitas dan masa depan yang cerah, tapi semua orang yang melihat tahu kalau alasan Clara bersedia kembali bersama dengan Bara, juga karena wanita itu masih sangat mencintai pria itu.


Mendengar pujian Arumi, Clara tersenyum lebar dan melirik ke arah kaca. Benar saja, wanita itu melihat dirinya yang terlihat sangat cantik malam ini.


"Apa ini aku? kenapa aku bisa secantik ini?" tanya Clara yang tampak takjub pada dirinya sendiri.


"Kamu kan memang cantik. Kamu aja yang tidak menyadarinya," sahut Arumi seraya mengulum senyumnya.


Senyum di bibir Clara kembali terbit dan lebih lebar dari sebelumnya. "Terima kasih, Rumi. Asal kamu tahu, kamu juga tampak sangat cantik malam ini!" Clara balik memuji dengan jujur sambil memeluk sahabat sekaligus sepupunya itu.


"Hmm, gaun ini hadiah dari Tante Elva dan aku dirias sama MUA yang disiapkan oleh Tante itu juga, " sahut Arumi yang juga tampak mengagumi penampilannya yang benar-benar sesuai dengan kemauannya. Sederhana tapi elegan.


"Wah, sepertinya Mama Elva masih menyimpan keinginan besar, untuk menjadikanmu menantunya," Clara berpura-pura memasang wajah sedih.


Arumi, mendengus dan mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Clara. "Kamu ini, becandanya tidak lucu. Jika pilihannya ada kamu, Tante Elva pasti akan lebih memilihmu, karena dia akan rugi kalau tidak memiliki menantu sepertimu," ucap Arumi, jujur.


"Kamu terlalu berlebihan, Rumi. Asal kamu tahu, pria yang akan jadi suamimu nanti juga akan beruntung memiliki wanita sepertimu. Kamu itu benar-benar istri dan menantu idaman,"


"Istri dan menantu idaman bagaimana? aku sama sekali tidak pintar memasak, tidak seperti kamu," Arumi memasang raut wajah sedih.


"Kalian berdua dari tadi bicara berdua saja. Kalian sama sekali tidak mengajakku bicara. Apa aku makhluk tidak kasat mata di sini?" celetuk seorang wanita dengan bibir mengerucut, yang tidak lain adalah Karin, putri dari Munah sekaligus sahabat Arumi di kampung.


Clara dan Arumi sontak menoleh ke arah Karin, dan tawa mereka seketika pecah melihat mimik wajah kesal Karin.


"Maaf, Rin. Bukannya kamu tidak melihatmu, hanya saja, dari tadi kamu hanya diam saja, jadi kami kira kamu tidak mau ikut-ikutan dengan obrolan kami yang sama sekali tidak berfaedah," ucap Clara di sela-sela tawanya.


"Dih, alasan! aku kesal nih, tidak ada yang memujiku cantik," Lagi-lagi Karin mengerucutkan bibirnya, berpura-pura masih kesal.


Clara dan Arumi sontak kembali tertawa.


"Kamu tenang saja, Rin. Nanti Kak Theo pasti akan memujimu, cantik."


Alis Karin sontak bertaut mendengar ucapan Clara. "Kenapa kamu jadi membawa-bawa nama Kak Theo? apa hubungannya?" cetus Karin dengan alis yang masih bertaut.


"Oh, nggak ada hubungannya ya? oh mungkin sebentar lagi akan ada hubungannya," ucap Clara ambigu dan disambut dengan tawa oleh Arumi.


Karinpun mendengus dan mengangkat bahunya. "Kalian berdua aneh," pungkas Karin sembari mendaratkan tubuhnya duduk di sofa.


Suara pintu yang dibuka seseorang mengalihkan perhatian tiga wanita cantik yang ada di dalam ruangan itu. Setelah terbuka, tampak sosok pria tampan yang tidak lain adalah Bara, masuk dengan sebuah senyuman di bibirnya. Senyuman yang sama sekali tidak pernah dilihat oleh Arumi dan Karin.


"Ternyata kamu tidak buruk kalau tersenyum, Bara. Jadi, mulai sekarang banyak-banyaklah tersenyum!" celetuk Arumi yang membuat senyum Bara menyurut dan kembali memasang wajah datar.


"Aku akan selalu tersenyum, tapi aku pastikan senyumku hanya untuk Clara dan tidak aku bagi-bagi pada wanita lain kecuali mamaku," sahut Bara, dingin.


Arumi sontak berdecih dengan sudut bibir yang baik ke atas. "Aku kira gunung es nya sudah mencair, ternyata masih sama saja!" cetus Arumi, kesal. "Ayo,Rin kita keluar!" imbuhnya kembali sembari beranjak keluar disusul oleh Karin.


Setelah tiba di ambang pintu dan hendak keluar, kepala Arumi membentur sebuah dada yang bidang dan dari aroma yang dia cium, dia tahu siapa pemilik dada itu.


"Kamu bisa tidak kalau mau masuk, bersuara lebih dulu?" ucap Arumi ketus, sembari mengelus-elus jidatnya. "Lagian, itu dada atau batu sih? keras amat!" lanjutnya.


"Kenapa dia bisa jadi semakin cantik?" bisik Satya pada dirinya sendiri, tidak sengaja memuji.


"Hei, kamu bisa mendengarku nggak?" teriak Arumi yang membuat Satya tersentak kaget.


"Suara kamu bisa tidak dikecilkan sedikit? aku tidak tuli, jadi kamu tidak perlu teriak-teriak!" ucap Satya sembari mengusap-usap telinganya.


"Makanya kalau orang lagi bicara itu, dijawab bukan didiamkan!"


"Aku tidak punya tanggung jawab kan, harus menjawabmu. Aku punya hak untuk memilih, menjawab atau tidak," ekspresi Satya terlihat sangat dingin, membuat Arumi menggeram.


"Sabar, Rum. Jangan emosi! nanti cantik kamu hilang!" Karin yang melihat Arumi sudah mulai terbakar emosi, mengelus-elus pundak wanita itu, berusaha untuk menenangkan.


Arumi menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara, berusaha meredam emosinya. "Kamu ke sini mau ngapain?" tanyanya kemudian, setelah sedikit berhasil meredam emosinya.


"Tentu saja bukan untuk kamu," sahut Satya asal, membuat Arumi kembali menggeram.


"Aku ke sini mau memanggil pengantin, karena acara akan dimulai," sebelum Arumi semakin marah, Satya akhirnya memutuskan untuk memperbaiki jawabannya.


"Mereka ada di dalam! kamu panggil saja! ayo, Rin!" dengan sengaja Arumi menyenggol pundak Satya dan berlalu pergi.


"Sialan! beraninya dia!" umpat Satya, kesal.


"Tunggu dulu!" panggil Satya kembali, mencegah Arumi pergi.


Arumi menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menoleh ke arah Satya. Wanita itu masih tetap memasang wajah berperang tentunya.


"Pakaian apa yang kamu pakai itu? kamu memakainya, sengaja ingin menggoda pria ya? kamu sudah bosan sendiri, makanya kamu ingin menggoda pria dengan memperlihatkan kulitmu. Iya kan?" tukas Satya, yang entah kenapa tidak suka melihat Arumi memakai gaun yang mengekspos kulit pundaknya.


"Bukan urusanmu!" cetus Arumi sembari kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan Satya yang menggeram sembari mengepalkan tangannya.


Pria itu kemi mengembuskan napasnya dengan sangat keras, berharap kekesalannya ikut terbuang dengan embusan napasnya. Setelah dia merasa sudah sedikit tenang, Ia kemudian melangkah masuk hendak melanjutkan tujuannya untuk memanggil Bara dan Clara.


"Astaga, apa yang kalian berdua lakukan! bisa tidak kalian melakukannya di tempat yang benar?" ucap Satya yang kaget melihat Bara dan Clara sedang perang bibir.


Bara dan Clara yang tersentak kaget sontak melepaskan pagutan mereka. Dua ekspresi berbeda sontak ditunjukkan oleh pasangan suami istri itu. Bara yang memperlihatkan ekspresi wajah datar seperti tidak terjadi sesuatu dan Clara dengan wajah memerahnya.


"Kenapa? apa ada masalah kalau aku mencium istri sendiri? makanya, kamu cepat cari istri biar tahu rasanya, susahnya menahan diri kalau sudah dekat dengan istri," ucap Bara santai dan lugas.


Satya mendengus kesal. "Jangan selalu membawa-bawa status sendiriku. Kalaupun memang harus seperti itu, kamu harus tetap bisa lihat waktu dan tempat. Jangan sembarangan melakukan di asal tempat saja. Coba bayangkan kalau yang masuk tadi, Bima, Bimo dan Tristan."


Bara terdiam, karena memang tidak ada yang bisa dibantah dari ucapan Satya barusan.


"Sudahlah! aku ke sini mau memanggil kalian berdua karena acaranya sebentar lagi akan mulai. Aku pergi dulu!" Satya berbalik hendak melangkah pergi. Namun, pria itu kembali memutar tubuhnya menghadap ke arah Bara dan Clara.


"Ingat, kalian jangan melakukan hal itu lagi sekarang. Kalian bisa saja kebablasan yang akhirnya membiarkan tamu undangan menunggu lama! kalian segeralah turun karena masih banyak waktu untuk kalian nanti untuk melepaskan kerinduan kalian berdua!" ucap Satya, yang terkesan seperti memerintahkan bawahannya. Kali ini pria itu benar-benar pergi meninggalkan Bara yang menggeram kesal.


"Sial! beraninya dia memerintahkanku. Kalau tadi dia bukan sahabatku, sudah aku cabein mulutnya!" Bara mengumpat kesal.


Namun, kekesalannya hanya bertahan sebentar. Pria itu kemudian menoleh ke arah Clara yang wajahnya masih memerah malu.


"Sayang,apa kamu sudah siap?" tanya Bara dengan lembut.


"Seharusnya sih sudah siap. Tapi gara-gara kamu, aku harus memoles lipstik lagi di bibirku. Kamu juga perlu membersihkan bekas lipstik di bibirmu itu,"


Tbc