
"Rumah kamu di mana sih? dari tadi kamu bilang sudah dekat, sudah dekat. Tapi ternyata sampai sekarang belum ketemu juga!" Arya mulai protes. Terlihat jelas kalau pria itu sudah sangat kesal.
"Berhenti di sini saja, Kak! Itu rumahku!" Renata menunjuk sebuah rumah petak yang sangat kecil, membuat Arya diam seribu bahasa. Pria itu benar-benar bingung bagaimana bisa gadis remaja itu bisa sekolah di sekolah yang sangat mahal, padahal kondisi rumah yang ditempatinya cukup memprihatinkan.
"Aku bisa sekolah di sana karena Bea siswa, jadi kakak tidak perlu bingung lagi!" celetuk Renata yang sepertinya bisa membaca raut wajah bingung dari Arya itu.
"Aku turun dulu, Ka! terima kasih buat tumpangannya!" tanpa menunggu jawaban dari Arya, Renata keluar dari dalam mobil, meninggalkan Arya yang masih diam terpaku. Entah kenapa, ada rasa bersalah dalam dirinya ketika tadi di dalam mobil ia selalu berbicara ketus dengan gadis itu.
"Ahh, bodo amat lah!" pungkas Arya akhirnya sembari kembali melajukan mobilnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Langit kini sudah mulai berganti warna menjadi jingga. Matahari kini sudah mulai kembali ke peraduannya, dan memanggil bulan untuk menggantikan tugasnya untuk memberikan sedikit cahaya pada gelapnya malam.
Sebuah mobil tampak berhenti di depan kediaman keluarga Prayoga. Tampak dua orang yang merupakan pasangan suami istri baru keluar dari dalam mobil itu dan berjalan masuk ke dalam rumah.
"Wah, kalian berdua sudah pulang ya? kenapa tidak lanjut menginap di hotel aja, untuk beberapa hari lagi?" sapa Clara basa-basi, menyambut penggantin baru, Bima dan Ayunda.
"Kalau masih di sana, bisa gempor aku dihajar terus-terusan," ucap Ayu yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati.
"Maunya sih begitu, Ma, tapi Ayu sudah meminta untuk pulang," Clara sontak menoleh ke arah Ayu yang dari raut wajahnya terlihat lelah.
"Astaga, kamu apakan menantu mama, Bima? kamu hajar dia habis-habisan ya?"
Bima tidak menjawab sama sekali. Pria itu hanya cengengesan dan menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
Melihat ekspresi wajah putranya, Clara tidak memerlukan jawaban lagi, karena tanpa dijawab, wanita paruh baya itu sudah bisa menyimpulkan.
Clara kemudian mendengus ke arah Bima, lalu menghampiri Ayunda.
"Sayang, kamu naik ke atas, masuk ke kamar Bima yang sekarang juga kamar kamu. Kamu istirahat aja dulu ya!" suara Clara terdengar lembut seperti biasa sembari mengelus-elus lembut pundak Ayunda.
"Iya, Tante!" sahut Ayunda, malu-malu.
"Kok manggil Tante lagi sih? sekarang kamu itu sudah jadi menantu mama, jadi kamu juga harus panggil mama seperti Bima," ucap Clara tanpa mengubah nada suaranya.
"Iya, Tan eh Ma!" Ayunda tersenyum manis.
"Baiklah, sekarang kamu naik ke atas! Bima kamu bawa istri kamu ke atas!" titah Clara.
"Emm, Ayu bisa kamu naik sendiri dulu? nanti aku akan menyusulmu! aku mau ke dapur sebentar untuk mengambilkan minum untukmu!"
"Biar aku sendiri yang ambil, Bim. Kamu tunggu saja di sini!" Ayunda hendak melangkahkan kakinya menuju dapur. Namun, tangan Bima seketika menahan tubuhnya, sehingga dia mengurungkan niatnya untuk melangkah.
"Biar aku saja! kamu naik saja dan langsung berbaring!" tanpa menunggu jawaban dari Ayunda, Bima langsung beranjak pergi meninggalkan Ayunda dan mamanya.
"Sudah, sudah! kamu ikuti aja perkatan Bima, Sayang. Kamu naik ke atas dan istirahat! mama nanti akan panggil kalian kalau akan makan malam. Mama tinggal dulu ya!" Clara beranjak pergi, ketika melihat menantunya itu mengangukkan kepala.
Setelah suami dan mertuanya pergi, Clara menatap ke arah lantai dua, di mana kamar Bima berada. Kamar yang dulu merupakan tempat terlarang untuk dia masuki.
Kemudian, Ayunda mulai melangkahkan kakinya, menaiki tangga dan berhenti tepat di depan kamar Bima. Pintu kamar yang dulunya tertempel kertas yang berisi peringatan, Ayunda dilarang masuk, kini tulisan itu sudah hilang entah kemana.
"Hei, Ayu kalian sudah pulang ternyata!" seru seseorang yang tiba-tiba muncul.
Ayunda sontak menoleh ke arah datangnya suara dan melihat Tristan sudah berdiri di dekatnya. Sepertinya pria itu baru selesai mandi, Karena aroma wangi sabun masih tercium oleh Ayunda.
"I-iya, Kak. Kami baru saja nyampe," sahut Ayunda yang tiba-tiba merasa malu. Entah kenapa wanita itu berpikir kalau setiap orang yang akan ditemuinya nanti akan melihatnya dengan tatapan meledek, mengingat dirinya yang sekarang sudah tidak perawan lagi. Dan satu-satunya orang yang paling ingin dia hindari adalah Bimo, saudara kembar Bima yang pasti rese dan akan selalu meledeknya.
"Di mana Bima?" Tristan mengrenyitkan keningnya, lalu mengedarkan tatapannya ke bawah untuk melihat keberadaan adiknya itu.
"Bima, masih di bawah, Kak. Katanya dia mau mengambil minum dulu,"
Tristan mengangguk-anggukan kepalanya dan tersenyum. "Kalau begitu, kenapa kamu belum masuk ke kamar dari tadi? apa kamu tidak capek berdiri di depan pintu. Kamu sebaiknya menunggu Bima di dalam!"
"Apa aku bisa masuk, Kak?" tanya Ayunda sembari *******-***** tangannya.
"Heh? kenapa tidak bisa? itu kan sudah jadi kamar kamu juga. Bima kan suamimu?" Tristan mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Emm, ta-tapi ...." Ayunda menggantung ucapannya dan menggigit bibirnya.
Tristan kemudian menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya. Pria itu seketika paham, kalau Ayunda masih ragu untuk masuk mengingat masa lalu. "Emm, sepertinya Bima belum juga mengungkapkan perasaannya, makanya Ayu masih takut-takut begini. Dasar anak itu, benar-benar kelewatan!"Triasta menggerutu di dalam hati.
"Eh, Kak Tristan sedang apa di situ?" tiba-tiba Bima muncul dengan sebuah gelas besar berisi air di tangannya.
"Aku hanya ingin menyapa Ayu. Dari tadi dia masih berdiri di depan pintu kamar kalian. Jadi, aku tanya saja kenapa dia tidak masuk,"
Bima sontak menoleh ke arah ayu dengan alis yang bertaut. "Jadi, dari tadi kamu masih berdiri di depan pintu, Yu? ? kenapa kamu belum masuk? pintu itu sama sekali tidak terkunci!"
Ayunda meringis dan tersenyum kaku. " Maaf, aku hanya ragu untuk masuk. Apa aku benar-benar bisa masuk ke dalam?" tanya Ayunda dengan sangat hati-hati sembari menggigit bibirnya.
Mata Bima membesar merasa kaget mendengar pertanyaan istrinya yang menurutnya merupakan pertanyaan bodoh. "Kenapa tidak bisa? itu kan kamarmu juga sekarang. Jadi, kalau kamu mau masuk ya masuk aja!" nada suara Bima sudah terdengar greget.
"Oh, begitu ya? kalau begitu aku masuk ya? kamu tidak akan marah kan?" Bima kini merasa geram mendengar pertanyaan Ayunda. Namun, tiba-tiba dia teringat masa lalu yang melarang wanita itu untuk masuk ke kamarnya.
"Astaga, dia pasti masih mengingat masa lalu. Tapi, kenapa masih harus diingat sih? dulu ya dulu sekarang kan dia sudah jadi istriku," batin Bima sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Ya udah, sekarang kamu masuk dulu ya! nanti aku menyusulmu! nih kamu bawa minumnya juga ke dalam!" Bima membukakan pintu dan memberikan jalan pada istrinya itu untuk masuk. Setelah Ayunda masuk, Bima kembali menutup pintu.
"Kamu belum mengungkapkan perasaanmu padanya ya?" celetuk Tristan setelah tubuh Ayunda hilang di balik pintu.
"Apa hal seperti itu penting ya, Kak? apa tidak cukup dengan perlakukanku saja yang tidak seperti dulu lagi?"
Tristan berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya, penting dong, Bima! kalau kamu tidak mengungkapkannya bagaimana dia bisa tahu perasaanmu? dia bukan cenayang yang bisa tahu isi hatimu. Wanita itu butuh kepastian dan salah satunya ya ... kamu harus mengungkapkan perasaanmu. Kalau kamu tidak mengungkapkannya, itu berarti kamu harus bersiap-siap kalau sikap Ayunda masih seperti tadi. Dia akan terus-terusan merasa ragu dan takut. Bahkan untuk menyentuh barang-barangmu saja tidak berani, takut kalau kamu marah. Dia akan terus-terusan hidup di bawah bayang-bayang ketakutan,"
Bima tercenung mendengar penuturan Tristan yang panjang lebar, tanpa jeda.
"Pikirkan baik-baik kata-kataku ini! kalau kamu ingin dia bisa merasa nyaman di sampingmu, ya kamu harus mengakui bagaimana perasaanmu sebenarnya!" imbuh Tristan, sembari menepuk-nepuk pundak Bima dengan lembut, kemudian beranjak pergi.
Tbc