
Pagi kembali datang menjelang. Di sebuah kamar terdengar isak tangis dari seorang wanita dan si samping wanita itu, tampak seorang pria yang sedang tertidur dengan tubuh tanpa busana.
"Brengsek! Kenapa jadinya begini? Kenapa pria yang menjijikan ini yang datang?" ucap wanita yang tidak lain adalah Viona.
Wanita itu kemudian melihat ke lantai, menatap miris kondisi pakaiannya yang sudah berbentuk lagi.
"Sekarang aku juga terjebak di kamar ini! Aku tidak bisa keluar dengan kondisi pakaian seperti itu," Viona kembali terisak-isak.
Karena merasa terganggu dengan suara tangisan, pria yang tidak lain adalah Brian itu, menggeliat, dan membuka matanya.
"Emm, ternyata kamu masih di sini! Oh ya, terima kasih ya, kamu sudah menolongku tadi malam!"cap Brian dengan wajah puas pada Viona yang masih menangis sesunggukkan.
"Kamu jahat! Aku sudah bilang jangan lakukan, kenapa kamu masih tetap melakukannya, hah!" pekik Viona sembari menutup dadanya dengan selimut.
Brian berdecih, dan menatap Viona dengan tatapan merendahkan. "Kenapa? Bukannya kamu sudah siap untuk melakukannya? Kenapa kamu jadi menangis seperti ini?"
"Tapi harusnya bukan kamu, tapi ...." Viona menggantung ucapannya karena takut ketahuan kalau sebenarnya dia hendak menjebak Bima.
Karena awalnya dia memang berencana membuat situasi seakan dirinya juga dijebak makanya bisa berada di dalam kamar bersama dengan Bima. Itulah alasan kenapa, dia mengirimkan pesan dalam bahasa Inggris di secarik kertas itu, padahal dia tahu jelas kalau Bima orang Indonesia. Gunanya yaitu, agar skenarionya kalau dia juga korban berhasil. Kalau tadinya dia mengirimkan pesan menggunakan bahasa Indonesia, sudah pasti bisa ditebak kalau dia yang berniat menjebak pria itu, karena dialah satu-satunya perempuan Indonesia yang terang-terangan mengejar Bima. Tapi dengan menggunakan bahasa Inggris, dia yakin Bima pasti akan percaya padanya kalau mereka berdua adalah korban jebakan. Tapi ternyata semuanya di luar dari prediksi, pesannya justru jadi bumerang pada dirinya sendiri karena Brian mengerti isi pesan itu.
"Harusnya siapa? Bima ya? tujuanmu mau menjebak Bima kan?" tukas Brian to the point, membuat wajah Viona berubah pucat.
"Jangan sok tahu! Aku__"
"Aku apa? Dugaanku benar kan?" sambar Brian dengan cepat, membuat Viona terdiam.
" Lagian kenapa kamu harus menangis, toh malam tadi kamu juga menikmatinya. Apa kamu lupa kalau tadi malam Kamu seperti wanita bi*nal? Awalnya saja kamu sok menolak,sampai pakaianmu robek. Tapi, setelah itu kamu yang lebih ganas. Benar-benar munafik kamu! Oh ya, ternyata ini juga bukan yang pertama bagimu. Kamu pasti sering melakukannya ya?" sindir Brian masih dengan tatapan merendahkan.
Viona benar-benar mati kutu, tidak bisa membantah ucapan Brian yang memang benar adanya.
"Sudahlah, aku mau mandi dulu!" Brian dengan tidak ada malunya, beranjak turun dari ranjang tanpa menutupi tubuhnya.
"Brian, tunggu!" Brian yang nyaris melangkah, sontak berhenti dan menoleh ke arah Viona.
"Kenapa lagi? Apa kamu masih mau melakukannya? Kalau iya, dengan senang hati aku mau," Brian mengerlingkan matanya, dan menatap Viona dengan mata lapar.
"Ti-tidak! Aku hanya mau minta tolong agar kamu membelikan pakaian padaku. Pakaianku tadi malam benar-benar sudah tidak layak pakai," mohon Viona dengan wajah memelas.
Brian memicingkan matanya dan diam untuk sepersekian detik. "Baiklah! Tapi dengan satu syarat, layani aku sekali lagi!" Brian kembali merangkak naik ke atas ranjang sembari tersenyum, penuh hasrat.
"Jangan! Tolong jangan lakukan lagi!" mohon Viona sembari kembali mengeratkan cengkaraman selimut di dadanya.
"Kalau kamu tidak mau, aku juga tidak akan membelikan pakaian yang kamu mau. Kamu pilih yang mana?" Brian tersenyum licik.
Viona menutup matanya sekilas dan membukanya kembali. Wanita itu kemudian mengembuskan napasnya dan dengan sangat lemah, menganggukkan kepala, mengiyakan.
Melihat anggukan kepala Viona, Brian sontak bersorak dan menyergap tubuh Viona. Hal yang sama juga tentunya terjadi di kamar sebelah, yaitu kamar yang berisi Rini dan Viktor.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Viona kini sudah selesai mandi dan sudah mengenakan pakaian yang sudah dibeli Brian melalui pelayan hotel.
Di atas tempat tidur tampak juga Brian yang sudah berpakaian rapi dan bersiap untuk pergi.
"Tunggu dulu,Brian!" panggil Viona lagi.
Brian yang sudah hampir mencapai pintu, kembali berhenti dan memutar tubuhnya.
"Ada apa lagi?" tanyanya dengan sinis.
"Kalau boleh, aku memohon jangan kasih tahu Bima kalau aku tadi malam berniat menjebaknya, ya! Please ... Tolong bantu aku dengan tutup mulut!" Viona menangkupka. Kedua tangannya di depan dada.
Seulas senyuman licik seketika menghiasi sudut bibir Brian. Pria itu dengan tatapan misterius kembali mengayunkan kakinya melangkah mendekati Viona.
"Boleh diatur! Tapi, kamu harus selalu siap, kalau aku menginginkan tubuhmu ini!" bisik Brian,membuat tubuh Viona meremang.
"Jangan harap!" Viona refleks mendorong tubuh Brian.
"Kalau begitu, siap-siap saja, kalau Bima tahu, kamu berencana hendak menjebaknya," Brian tersenyum miring.
"Ja-jangan!" pekik Viona, panik.
"Jadi, bagaimana?" Brian mengerlingkan matanya.
"Ba-baiklah kalau begitu!" pungkas Viona, akhirnya pasrah.
"Nah, gitu dong!" Brian membelai lembut pipi Viona. "Aku ada urusan sekarang. Kalau tidak, aku sudah memakanmu lagi! Aku pergi dulu ja*langku!" dengan sengaja,Brian mere*mas dua benda kembar milik Viona, baru melangkah kembali menuju pintu.
"Yes, akhirnya aku bisa melakukannya dengan gratis, setiap aku menginginkannya!" Viona masih sempat mendengar ucapan Brian yang secara tersirat, merendahkannya.
Baru saja Brian membuka pintu, tiba-tiba di depannya sudah berdiri dua pria kembar dan di samping mereka ada Rini yang menundukkan kepala ketakutan. Sementara Viktor sepertinya sudah pergi.
"Di mana Viona?" tanya Bima dengan raut wajah datar dan nada suara yang sangat dingin.
"Bima,bagaimana kamu bisa ada di sini?" Brian mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Jawab dulu pertanyaanku, di mana Viona?" tidak mau terkecoh, Bima tetap saja mengulang pertanyaannya dan kali ini dengan sorot mata yang sangat tajam bak sebilah belati yang siap menghujam jantung.
"Di-dia ada di dalam!" sahut Brian akhirnya sembari bergidik melihat tatapan Bima.
"Terima kasih! Kamu boleh pergi Brian!" Brian menganggukkan kepalanya, dan berniat hendak berlalu pergi. Namun lagi-lagi langkahnya terhenti ketika bahunya ditahan oleh Bima.
"Oh ya,maaf ya,kalau terpaksa kamu yang jadi korban tadi malam. Aku juga tidak menduga kalau itu akan terjadi. Aku tidak menyangka kalau kamu akan meminum juice itu. Aku sebenarnya memang tidak berniat untuk meminumnya karena sebelumnya aku sudah menerima pesan dari orang yang tidak aku kenal, kalau akan ada yang berniat menjebbakku, orang itu memintaku untuk tidak minum pemberian orang. Tapi, sumpah, aku tidak tahu kalau kamu akan meminumnya! Aku kirain kamu tidak akan mau minum minuman orang lain," tutur Bima panjang lebar.
"Tidak apa-apa, Bim! Justru aku senang, karena aku bisa bercinta sepuasnya dengan gratis!" bisik Brian, vulgar.
"Dasar me*sum! Sana kamu pergi!" Bimo yang masih bisa mendengar bisikan Brian, menarik tubuh pria itu dan mendorongnya.
Brian terkekeh dan beranjak pergi. Tapi tiba-tiba dia berhenti lagi.
"Eh, Bima sudah tahu, berarti aku tidak jadi mendapatkan yang gratis lagi. Sial, sial!" Brian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, seraya kembali melangkah.
Sementara itu, di dalam kamar tampak Viona yang bersembunyi karena ketakutan di balik pintu kamar mandi.
Tbc