Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Jangan pernah


Tristan sudah berdiri di depan pintu pagar sekolah Salena. Pria itu berkali-kali melihat jam yang menempel di pergelangan tangannya, merasa waktu berputar begitu lama.


"Perasaan tadi, aku merasa waktu hanya tinggal 10 menit lagi Salena akan keluar tapi kenapa menunggu lima menit saja sudah kaya setahun ya? lama sekali waktu ini! apa aku harus ke dalam, dan mempercepat waktu jam di sekolah?" Tristan menggerutu di dalam hati sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


Tidak menunggu beberapa lama lagi akhirnya bel pertanda jam pulang sekolah sudah berbunyi. Tristan sontak mengembuskan napas lega. Bibir yang tadi terasa kaku kini sudah melengkung membentuk sebuah senyuman.


Sekitar 10 menit Tristan menunggu Salena keluar, membuat pria itu dari tadi kembali menggerutu kesal.


Dari tempatnya berdiri tampak Salena yang berjalan bersama dengan seorang gadis yang dia masih ingat bernama Renata. Dari arah belakang Salena tampak pemuda yang dia lihat tadi pagi mencoba untuk menahan tangan Salena agar berhenti. Pemandangan itu sontak saja membuat Tristan menggeram sembari mengepalkan tangannya dengan kencang.


"Sialan, beraninya dia menyentuh tangan Salena! kalau bukan karena ini area sekolah, ingin aku patahkan tangan bocah itu!" umpat Tristan berusaha untuk menahan dirinya.


"Kenapa sih aku bisa jadi sekesal ini? apa ini artinya aku sudah benar-benar jatuh cinta pada Salena? atau hanya merasa tidak terima saja, dikalahkan sama bocah? tapi kenapa aku juga tidak suka mendengar kenyataan kalau Arya juga menyukai Salena?" pikirkan Tristan benar-benar sedang berkecamuk sekarang.


"Hei, Kak. Kenapa bengong sih?" Tristan tersentak kaget begitu mendapatkan pukulan di lengannya yang tentu saja pelakunya adalah wanita yang menimbulkan kebingungan pada perasaannya sekarang.


"Salena, kamu kenapa buat kakak kaget sih?" tanya Tristan dengan nada suara yang gugup.


"Kakak sendiri yang salah. Aku dari tadi sudah berusaha memanggil, tapi kakak sama sekali tidak dengar. Kakak melamunkan apa sih?" Salena mengerucutkan bibirnya, kesal.


"Oh, itu ... Kakak lagi mikirin pekerjaan. Sekarang kamu masuk ke mobil dan hari ini kita tidak jadi ke mall. Kakak akan bawa kamu ke kantor kakak saja karena ada proposal yang harus kakak selesaikan hari ini juga, Ayo!" Tristan meraih tangan Salena dan mengajak gadis itu melangkah menuju mobil.


"Kak, kenapa terburu-buru sih? Aku belum izin sama Renata," Salena menepis tangan Tristan dengan lembut dan berbalik menoleh ke arah Renata yang tersenyum ke arahnya.


"Sudah, tidak apa-apa! kamu pergi saja, Lena. Sepertinya Kak Tristan memang buru-buru!" belum juga Salena mengucapkan ucapannya, Renata sudah berinisiatif untuk berbicara lebih dulu karena dia tahu apa yang akan dikatakan oleh sahabatnya itu.


"Baiklah! aku pergi dulu ya, Ren, bye! see you tomorrow!" Salena melambaikan tangannya dan juga dibalas oleh Renata.


Sementara itu dari arah yang tidak terlalu jauh tepatnya di dalam sebuah mobil, tampak seorang pria mencengkram kemudi mobilnya dengan sangat kencang. Wajah pria itu juga memerah dan dibarengi dengan rahang yang mengeras, melihat ke arah Tristan dan Salena yang semakin menjauh.


Pria itu tidak lain adalah Arya. Pria itu merasa kesal karena merasa kalah start dari Tristan. "Sial! sepertinya besok aku harus lebih cepat lagi biar tidak keduluan Kak Tristan," batin Arya sembari menjalankan mobilnya kembali dan melewati Renata begitu saja.


Renata yang memang tidak terlalu peduli mengayunkan kakinya melangkah ke arah yang berlawan dari arah perginya mobil Arya. Namun, langkah Renata tiba-tiba berhenti ketika mobil Arya tiba-tiba berhenti di depannya. Ternyata pria itu tidak tega dan memutuskan untuk mundur.


"Ayo naik!" titah Arya dengan tatapan tetap ke depan.


"Kakak mengajak saya?" Renata menunjuk ke dirinya sendiri.


"Jadi, menurutmu siapa lagi yang ada di sini? kan hanya kamu! ayo naik, aku tidak punya banyak waktu!"Arya terlihat mulai kesal.


"Ayo ajak aku lagi dong! lumayan kan, bisa numpang gratis, jadi uang untuk ongkos angkot bisa aku simpan," ternyata walaupun mulut Renata menolak, tapi dalam hatinya sangat ingin diantar pulang.


"Baiklah, kalau kamu tidak mau, aku tidak akan memaksa," Arya bersiap untuk menjalankan kembali mobilnya.


"Baiklah, kalau kamu memaksa, aku akan ikut!" melihat Arya yang nyaris pergi, tidak mau kehilangan kesempatan, Renata membuka pintu dan duduk dengan tatapan ke depan.


"Dasar gadis aneh!" Arya berdecak dan menggelengkan kepalanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Besok dan dua hari ke depannya, Kakak tidak akan bisa mengantarkan dan menjemputmu ke sekolah, karena kakak ada pekerjaan penting ke Bali. Jadi, untuk tiga hari itu kamu akan diantarkan kembali oleh Pak Sandi," ujar Tristan sembari memasuki area kantor. Ya, akhirnya Tristan memutuskan untuk membawa Salena ke kantor.


"Kenapa lama sekali, Kak? kenapa tidak cukup sehari saja?" Salena tiba-tiba cemberut, merasa tidak suka.


"Mau bagaimana lagi? yang akan diajak kerja sama adalah pemilik perusahaan besar dari luar negri dan banyak pengusaha ingin bekerja sama dengan pemilik perusahaan itu. Ini adalah kesempatanku untuk membuktikan kalau aku bisa menang dari kompetitor-kompetitor lainnya. Kamu doakan ya, biar aku bisa memenangkan tendernya," Tristan menoleh ke arah Salena sembari melemparkan seulas senyum manis di bibirnya.


"Tentu dong. Aku akan tetap mendoakan, Kakak. Soalnya kalau Kakak menang tender, aku pasti kecipratan rejekinya. Aku bisa minta ditraktir makan sama Kakak di restoran mewah,"


Tristan menyentil jidat Salena, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kamu ya, makanan saja yang ada di pikiranmu. Kenapa kamu tidak seperti perempuan-perempuan lainnya yang minta dibelikan tas mahal, sepatu mahal atau pakaian mahal?"


"Karena benda-benda itu tidak bisa buat aku kenyang," sahut Salena santai membuat Tristan tawa Tristan pecah.


"Ya udah, ayo kita turun! kamu nanti bisa istirahat di ruangan kakak," Tristan baru saja hendak membuka pintu, tapi tiba-tiba dia urungkan dan menoleh ke arah Salena.


"Salena, selama aku di Bali kamu harus tetap berangkat dan pulang dengan Pak Sandi. Jangan pernah mau kalau siapapun yang menjemputmu, sekalipun itu Arya!" Tristan melakukan penekanan saat menyebutkan nama Arya yang dia anggap saingan terberatnya sekarang.


"Kenapa tidak bisa, Kak? Kak Arya kan __"


"Aku bilang jangan ya jangan!" dengan sigap Tristan langsung memotong Salena yang siap melayangkan protesnya.


"Asal kamu tahu, walaupun aku di Bali, aku pasti akan tahu kalau kamu diantar dan dijemput oleh Arya. Kamu paham kan!"


"Iya, aku paham aja deh. Walaupun sebenarnya aku bingung kenapa Kakak jadi melarang-larang aku dengan dengan pria manapun termasuk Kak Arya. Kaka bersikap seakan-akan Kakak ini pacarku," ujar Salena sembari menatap curiga ke arah Tristan yang sontak saja terhenyak, diam seribu bahasa.


Tbc