Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Yes, berhasil!


Acara berlangsung begitu meriah. Banyak tamu undangan yang mengagumi kecantikan Clara. Bukan hanya Clara yang menarik perhatian, dekorasi pernikahan yang sangat mewah, elegan serta sangat indah juga tidak luput dari perhatian dan kekaguman para tamu undangan.


Di antara para ribuan tamu undangan, tampak tiga anak kecil sedang asik bercengkrama. Dua di antaranya adalah laki-laki dan satunya lagi, seorang perempuan. Siapa lagi mereka kalau bukan si kembar Bima dan Bimo dan Michelle.


Ya, Michelle ternyata adalah putri dari seorang pengusaha yang tidak lain adalah Dimas, pengusaha yang pertemuan mereka sempat tertunda sebulan yang lalu. Namun, dua minggu berikutnya, Bara dan Dimas kembali melakukan pertemuan, dan kini mereka sudah menjalin kerja sama.


"Aku tidak pernah menyangka kalau ternyata kamu punya saudara kembar, Bimo dan hampir sebulan satu kelas denganku. Pantas saja aku merasa kamu sedikit berubah, tidak ramah. Dan pantas saja,berani melawan Tristan. Ternyata dia itu bukan kamu," ucap Michelle, sembari melirik ke arah Bima yang duduk diam dan fokus pada ponsel di tangannya.


"Emm, aku dan dia juga saat itu baru tahu kalau kami kembar, Michelle. Apa Bima dulu suka membuat kamu kesal?" tanya Bimo, ingin tahu.


"Ehem, ehem!" Bima berdehem seraya menatap Bimo dan Michelle bergantian. "Kalau kalian membicarakan orang, jangan di depan orangnya," tegur Bima dengan dingin.


Bimo hanya berdecih dan mendengus mendengar sindiran Bima. "Suka-suka kami lah! mulut kan mulut kami, iya kan Michelle?"


"I-iya!" sahut Michele dengan gugup. Gemetar melihat tatapan Bima yang tajam.


Untuk sejenak keheningan tercipta di antara mereka bertiga. Sampai akhirnya dari belakang kursi Bima muncul seorang anak kecil perempuan lainnya, yang tidak lain adalah Ayunda, gadis kecil yang berisik, yang selalu membuat kepala Bima sering pusing.


"Wow, kalian berdua benar-benar sangat mirip. Tapi aku yakini kalau aku tahu yang mana Bima. Aku bisa duduk kan?" celoteh Ayunda yang langsung duduk, tanpa menunggu jawaban dari salah satu dari tiga anak kecil itu.


"Siapa yang mengizinkanmu untuk duduk?" cetus Bima, memasang wajah dinginnya.


"Nah, kamu pasti Bima. Aku yakin itu!". bukannya merasa tersinggung atas ucapan dingin dari Bima, Ayunda justru bersorak senang, karena menurutnya dia berhasil menebak yang mana Bima.


Bima berdecak, dan mengembuskan napas kesalnya. Sementara Bimo dan Michelle justru terkekeh melihat sikap Ayunda.


Ayunda, kemudian mengalihkan tatapannya ke arah Bimo dan tersenyum ke arah kembaran Bima itu.


"Jadi tebakanku dulu yang mengatakan kalau kamu bukan Bima, itu benar ya?" tanyanya dan langsung direspon dengan anggukan kepala dari Bimo.


"Dari mana kamu tahu bisa membedakan mereka?" Michelle buka suara, penasaran. Karena dirinya dulu sulit membedakan yang mana Bima dan yang mana Bimo. Hingga selama satu bulan itu, dia benar-benar terkecoh.


Ayunda kembali tersenyum. "Gampang saja. Bima ada tahi lalat di belakang kuping sedangkan Bimo, tidak. Selain itu, sikap mereka juga jelas benar-benar berbeda. Di hari pertama Bimo menggantikan Bima di sekolah, tiba-tiba dia ramah dan tersenyum. Kalau Bima kan, sangat sulit untuk tersenyum. Walaupun di hari-hari berikutnya, Bimo berubah dingin, tapi sikap dinginnya itu sama sekali tidak natural, sangat terlihat dipaksakan," jelas Ayunda panjang lebar tanpa jeda.


"Wah, seperti itu kah? kamu detail sekali, sampai letak tahi lalat saja kamu bisa tahu. Tapi, kalau kamu bilang, Bima sulit untuk tersenyum, sepertinya kamu salah deh. Buktinya selama Bima di sekolahku, dia selalu bersikap ramah dan tersenyum padaku,"


Raut wajah Ayunda sontak berubah kecut mendengar penjelasan anak perempuan yang sampai detik ini belum dia tahu namanya itu. Anak perempuan itu sontak kembali menatap ke arah Bima, dengan sudut alis yang terangkat ke atas.


"Jadi, kamu bisa tersenyum ya,Bima? tapi kenapa ke aku kamu selalu ketus? padahal kan aku tidak pernah salah?" tanya Ayunda.


Bima tidak menjawab sama sekali. Anak kecil itu, memilih untuk diam, untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang pasti akan timbul. Ekor mata anak laki-laki itu, tiba-tiba menangkap pemandangan di mana. Tristan sedang duduk menyendiri di pojokan.


"Aku pergi dulu!" ucap Bima, santai sembari berlalu pergi.


Ayunda, sontak berdecak kesal melihat kepergian Bima.


Sementara itu, Bima mengayunkan kakinya, melangkah menghampiri Tristan yang sedang menatap nanar ke arah ramainya tamu undangan.


"Hei, kenapa kamu duduk sendirian di sini? kenapa kamu tidak gabung dengan kita?" tegur Bima yang langsung duduk di samping Tristan.


Tristan pun tersenyum tipis mendengar pertanyaan Bima. "Aku hanya merasa kalau aku tidak pantas bergabung dengan kalian. Kamu lihat saja, teman-temanku dulu saja, ogah mendekat padaku," ucap Tristan dengan lirih dan raut wajah sendu.


"Kamu tidak boleh bicara seperti itu! kalau mereka tidak mau berteman dengan kamu lagi, kan ada aku dan Bimo. Ingat, kita ini saudara sekarang. Kamu akan tetap jadi kakak laki-laki kami," ucap Bima dengan bijaksana sembari menepuk-nepuk pundak Tristan.


"Terima kasih!" suara Tristan masih terdengar lirih.


"Emm, tapi lebih baik kita berdua duduk di sini saja deh. Soalnya aku malas kembali ke tempat dudukku tadi," lanjut Bima lagi dengan ekor mata yang melirik ke tempat dia sebelumnya.


"Kenapa?" Tristan mengrenyitkan keningnya.


"Kamu lihat ke sana! di sana ada anak perempuan yang sangat berisik. Dia akan selalu berceloteh, tanpa merasa capek. Justru aku yang capek dan pusing mendengar celotehannya,"


Tristan kemudian melihat ke arah tempat duduk Bima sebelumnya. Dan melihat sosok anak perempuan yang memang terlihat selalu berbicara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Acara terakhir kini sudah tiba. Saatnya Clara akan melemparkan bunga tangannya pada gadis-gadis dan para pemuda yang menginginkan bisa secepatnya melepaskan masa lajang mereka.


Di bawah panggung sudah terlihat banyak gadis dan pemuda yang siap untuk menangkap bunga tangan Clara. Namun tidak tidak terlihat Arumi, Karin, Satya maupun Theo, ikut berbaur dengan para gadis dan pemuda itu. Mereka berempat justru berdiri di barisan penonton. Dan di belakang mereka juga sudah berdiri Bima dan Bimo. Entah apa yang direncanakan oleh si kembar itu, hanya merekalah yang tahu.


Di atas panggung tampak juga Clara yang sudah berdiri membelakangi para gadis dan pemuda. Wanita itu juga sudah terlihat bersiap untuk melemparkan bunga di tangannya.


Setelah hitungan ke tiga, Clara pun menggunakan tenaganya untuk bisa melemparkan bunga, melewati barisan para perindu pernikahan itu.


bersamaan dengan itu juga Bima dan Bimo saling silang pandang, dengan penuh makna.


"Satu, dua, tiga!" pekik Bima memberikan instruksi. Setelah selesai dengan hitungannya, Bima dengan sigap mendorong tubuh Satya ke depan, sedangkan Bimo mendorong tubuh Arumi.


Arumi yang memakai gaun panjang sampai ke lantai, tanpa sadar menginjak gaunnya hingga wanita itu, hampir terjengkang ke depan. Sementara itu Satya yang melihat apa yang akan terjadi pada Arumi, dengan sigap juga menangkap tubuh wanita itu.


Secara kebetulan atau memang sudah ditakdirkan, bunga tangan yang dilemparkan oleh Clara, jatuh tepat di pangkuan Arumi yang tanpa sengaja juga dipegang oleh Satya.


Mata dua sejoli itu sontak saling menatap dan terkunci cukup lama. Saking kaget dan terpaku, mereka tidak menghiraukan tepuk tangan dari para tamu undangan.


"Yes,berhasil! sorak Bima dan Bimo sembari melakukan tos di udara.


Tbc