Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Tamat


Seorang pria remaja berseragam SMA tampak menuruni tangga dan langsung menuju meja makan. Sedangkan di meja makan tampak dua pria remaja lainnya yang sudah siap untuk sarapan. Siapa lagi tiga remaja laki-laki itu kalau bukan Bima, Bimo dan Tristan.


Ya, waktu sudah berlalu begitu cepat. Kini usia Bima dan Bimo sudah 18 tahun dan Tristan sudah 19 tahun. Mereka bertiga sudah kelas tiga SMA.


Sebenarnya kalau Bima dan Bimo mau, mereka mungkin sudah kuliah atau mungkin sudah lulus kuliah di usia remaja mereka dikarenakan mereka berkali-kal mendapat kesempatan untuk lompat kelas. Namun, Bima dan Bimo memiliki pemikiran sendiri untuk menolak. Di samping karena mereka hanya ingin sama dengan remaja-remaja lainnya, mereka juga tidak ingin meninggalkan Tristan sendiri di SMA. Mereka tidak ingin membuat Tristan semakin merasakan perbedaan dengan mereka berdua. Bagaimana dengan adik? apa mereka memiliki adik lagi? jawabannya sama sekali tidak. Clara memang sempat hamil lagi, tapi mungkin tidak rejeki, Clara mengalami keguguran.


"Lama sekali sih kamu turunnya? kamu lagi sibuk memperhatikan penampilanmu lagi ya?" tanya Bima dengan ketus.


Ya, pria remaja yang baru turun tadi adalah Bimo, remaja yang selalu sibuk dengan penampilannya. Tidak heran memang dia bisa seperti itu. Apalagi alasannya kalau bukan ingin tetap terlihat tampan di depan Michelle yang sudah menarik hatinya mulai dari kecil.


"Apaan sih kamu? kamu kalau iri bilang!" jawab Bimo tidak kalah ketus.


Bima berdecih dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak perlu seperti kamu, karena mau bagaimanapun penampilanku, aku akan tetap terlihat tampan," sahut Bima sembari menyendokkan nasi goreng ke piringnya.


"Sudah, sudah! kalian berdua itu kembar, jadi sama-sama tampan. Sekarang kita mau makan, kalau kata mama, tidak bai ribut di depan makanan," Tristan yang dari tadi hanya diam, akhirnya buka suara. Pria yang setahun lebih tua dibandingkan si kembar, semakin ke sini memang semakin bijaksana dan tentu saja itu tidak lepas dari didikan yang diberikan oleh Clara.


"Benar kata Kakak kalian. Kalian tidak boleh ribut di depan makanan. Sekarang, makan cepat! kalau tidak, nanti kalian akan telat ke sekolah," Bara buka mulut menimpali ucapan Tristan. Hubungan Bara dan Tristan memang sudah tidak seperti waktu Tristan kecil. Kedua pria itu juga sudah dekat sama halnya seperti Bara pada Bima dan Bimo.


Ketiga remaja itu sama sekali tidak ada yang membantah lagi. Mereka kini sudah fokus pada makanan masing-masing.


"Sayang, Mama sudah sarapan?" tanya Bara pada Clara setelah dia menelan makanan yang ada di dalam mulutnya.


"Sudah! aku tadi sudah memberikan mama makan lebih dulu, tapi ya seperti biasa, Mas. Mama hanya makan sedikit, habis itu langsung tidur lagi," jelas Clara dengan raut wajah sendu, mengingat Elva mama mertuanya yang makin ke sini kondisi kesehatannya semakin menurun.


Mendengar ucapan Clara, Bara hanya bisa mengembuskan napasnya. Mereka memang sudah sering kali membawa Elva ke rumah sakit, tapi tidak banyak menolong. Mungkin karena usia wanita itu juga sudah lansia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Halaman belakang rumah Bara sore ini sangat ramai, Karena seperti biasa sekali sebulan,dia dan ke tiga sahabatnya, serta Theo kakak iparnya akan selalu mengadakan party kecil-kecilan agar hubungan persahabatan mereka tetap awet. Kenapa sekarang sahabat Bara ada tiga? karena Dimas yang merupakan papa dari Michelle kini bukan hanya sekedar rekan kerja Bara lagi, tapi kini sudah menjadi sahabatnya juga.


Lima pria itu beserta pasangan masing-masing, pasti akan bergembira dengan party mereka,tapi tidak dengan Bima. Bima akan selalu pusing, karena bisa dipastikan kalau Ayunda akan tidak pernah ketinggalan.


Anak perempuan yang kini sudah bertransformasi menjadi remaja wanita yang sangat cantik itu, hampir tidak pernah tidak hadir di acara kumpul-kumpul seperti ini. Hal lain yang membuat Bima kesal adalah anak perempuan dari Arumi dan Satya yang juga sangat berisik sama seperti Arumi. Kalau untuk putra asisten pribadi papanya itu, sama persis dengan Satya yang tidak banyak bicara,tapi ya itu dia ... anak laki-laki itu masih berusia 8 tahun.


Bagaimana dengan Theo dan Karin? pasangan suami istri itu juga memiliki dua anak laki-laki, satu berusia 10 tahun dan satu lagi 7 tahun. Dan kedua putra Theo akan selalu menjadi target Bima untuk melampiaskan kejahilannya.


Bagaimana dengan Bimo? apa dia juga seperti Bima yang selalu kesal dengan pesta kecil-kecilan papanya? tentu saja 'tidak'. Kenapa? karena saudara kembarnya itu akan bahagia, apalagi alasannya kalau bukan karena dia bisa menghabiskan banyak waktu dengan Michelle, yang merupakan cinta pertamana. Tapi, anehnya dia sama sekali belum berani untuk mengungkapkan perasaannya pada gadis itu.


"Hai,Bima kamu kenapa diam saja dari tadi? kamu tidak mau menyambut princess cantikmu ini?" sapa Ayunda yang seperti biasa selalu percaya diri di depan Bima, pria yang disukainya dari kecil dan bahkan sudah menjadi tunangannya.


Ya, mereka berdua memang sudah dijodohkan, atas permintaan Adrian. Clara yang kebetulan juga sangat menyukai Ayunda yang menurutnya selalu memancarkan aura positif, sangat setuju dengan perjodohan itu. Mungkin hanya Ayunda yang bahagia dengan perjodohan mereka, tapi tidak dengan Bima. Pria itu justru merasa kalau hari-harinya nanti akan dipenuhi dengan sakit kepala kalau dia dan Ayunda menikah nantinya. Namun, dia tidak kuasa menolak perjodohan itu, karena melihat kedekatan Ayunda dengan mamanya. Hanya satu harapannya, mudah-mudahan Ayunda suatu saat berubah pikiran, dan membatalkan sendiri perjodohan mereka, dikarenakan tidak kuat dengan sikap dinginnya.


Seperti biasa kalau melihat kemunculan Ayunda di depannya, Bima pasti menatap Ayunda dengan raut wajah datar dan tajam.


"Mau kamu aku harus bagaimana? apa aku harus melompat kegirangan melihat kamu datang? kamu tahu, itu satu hal yang tidak mungkin. Karena kalau boleh jujur, aku justru menginginkan kamu tidak muncul di depanku. Kamu tahu kenapa? karena kamu itu benar-benar menyebalkan!" sahut Bima dengan nada sarkas, tidak peduli kalau gadis di depannya itu sakit hati dengan ucapannya atau tidak.


"Kamu tidak boleh seperti itu. Nanti kamu akan menyesal dengan ucapanmu sendiri. Aku pastikan kalau kamu nantinya juga akan bisa mencintaiku!" sahut Ayunda penuh percaya diri, walaupun jauh di dalam lubuk hatinya, itu satu hal yang sangat mustahil, mengingat pria itu selalu dingin padanya mulai dari kecil. Anehnya, Bima hanya dingin padanya tapi tidak dengan Michelle. Entah kenapa Ayunda justru merasa kalau Bima menaruh hati pada Michelle sama seperti Bimo, tapi dia selalu berusaha menepis pemikirannya itu.


"Tetap saja bermimpi!" ucap Bima, sembari beranjak pergi.


"Sabar ya, Yu!" tiba-tiba pundak Ayunda ditepuk oleh Michelle dari belakang.


Ayunda menoleh dan seperti biasa, dia tersenyum manis. "Aku sudah terbiasa dengan sikapnya, jadi tidak masalah bagiku," senyum Ayunda tidak memudar walaupun sebenarnya hatinya merasa sakit.


"Kamu lapar tidak? kita makan yuk! aku sangat lapar!" ucap Ayunda, sembari mengusap-usap perutnya yang lapar. Keceriaan gadis itu sudah kembali seperti semula.


"Yuk! aku juga sudah lapar!" sahut Michele, sembari tertawa ringan.


"Tidak usah ke sana! aku sudah mengambil makanan untukmu!" sebelum Ayunda dan Michelle benar-benar pergi, tiba-tiba Bimo sudah muncul dengan piring yang sudah diisi dengan makanan.


"Waduh terima kasih, Bimo!"Michelle tersenyum manis dengan ekor mata yang melirik ke arah Ayunda. Gadis itu benar-benar merasa tidak enak pada sahabatnya itu.


"Kamu hanya mengambil untuk Michelle saja?" Ayunda buka suara.


Bimo tidak menjawab. Pria itu menggaruk-garuk kepalanya, merasa tidak enak juga pada Ayunda. "Emm, maaf, Ayu! tanganku hanya dua, jadinya aku hanya bisa membawa dua piring saja. Tapi, kalau kamu mau, ini ambil punyaku. Aku bisa mengambil lagi untukku," Bimo memberikan piring yang ada di tangannya pada Ayunda.


"Hahaha,aku hanya bercanda,Bimo! aku bisa kok ambil sendiri. Aku ke sana dulu ya!" tanpa menunggu jawaban dari Bimo, Ayunda mengayunkan kakinya melangkah pergi.


Belum terlalu jauh melangkah, gadis itu kembali menghentikan langkahnya karena tiba-tiba Tristan muncul di depannya sembari membawa dua piring makanan.


"Kamu tidak perlu ke sana, Ayu. Aku sudah membawanya makanan untukmu! Ayo kita makan bersama!" Tristan memberikan piring berisi makanan ke arah Ayunda.


"Emm, terima kasih, Tristan!" Ayunda yang merasa tidak enak hati untuk menolak, akhirnya mau tidak mau menerima makanan dari tangan Tristan.


"Kamu jangan bawa hati ya,sikap Bima tadi. Aku yakin kalau suatu saat dia pasti akan bisa mencintaimu, karena aku yakin kamu pasti sanggup menaklukkannya," ucap Tristan dengan lembut.


Sementara itu, di jarak yang tidak terlalu jauh dari para remaja itu, tampak para orang tua mereka sedang tertawa bersama-sama seperti tidak punya beban. Bara yang di depan umum selalu bersikap kaku, sekarang tampak tertawa lepas.


Pria itu benar-benar merasa kalau sekarang kebahagiaannya sudah lengkap, memiliki istri yang cantik, lembut dan baik hati juga memiliki tiga orang putra. Bukan hanya Bara yang tampak bahagia, kebahagiaan juga jelas terlihat di wajah empat pria lainnya yakni Theo, Satya, Adrian dan Dimas.


Tanpa mereka sadari, kebagian mereka tidak lepas dari pandangan seorang wanita berusia lanjut dari balik tirai jendela kamarnya. Siapa lagi pemilik mata itu kalau bukan Elva. Wanita itu tidak berhenti tersenyum dan merasa kalau seandainya dia meninggalkan dunia ini, dia akan pergi dengan tenang.


Tamat


Akhirnya tamat juga. Bara dan Clara sudah bersatu dan hidup bahagia. Demikian juga dengan yang lainnya.


Untuk cerita si kembar aku akan usahakan tetap buat, tapi mungkin di judul baru dan kemungkinan akan rilis tahun depan yang tinggal beberapa hari lagi. Maaf, kalau ceritanya belum bisa membuat kalian semua puas, karena aku tidak pintar memuaskan orang, kecuali suamiku. Hehehehe.


See you di cerita Bima dan Bimo ya Guys. Sekali lagi terima kasih sudah mau mampir 🙏🏻🥰🥰