
Michelle mengrenyitkan keningnya, Karena setelah sampai di halaman rumah sakit, bukannya langsung masuk ke dalam, tapi Bima malah berbelok lewat dari samping gedung rumah sakit.
"Bima, bukannya kita sudah ada di rumah sakit? tapi Kenapa kita tidak masuk? tapi kenapa kita malah ke sini? Bima, tolong jangan main-main! aku benar-benar ingin bertemu Bimo, Bima!" wajah Michelle terlihat memelas.
"Sebaiknya kamu jangan banyak bertanya! kamu ikut aku saja, karena dari sini adalah jalan pintas agar kita bisa cepat sampai di ruangan Bimo."ucap Bima, membuat Michelle semakin kebingungan.
"Kenapa bisa lebih cepat dari sini? ruang UGD kan biasanya ditaruh di depan, karena itu adalah ruang emergency? kamu benar-benar tidak masuk akal, Bima! tolong jangan mempermainkanku!" Raut wajah Michelle kini terlihat sudah kesal. "Lebih baik kamu pergi sendiri saja. Aku akan kembali lewat pintu depan dan nanti aku akan bertanya sendiri di mana ruangan Bimo," sambung Michelle kembali sembari memutar tubuhnya hendak pergi meninggalkan Bima.
"Michelle, tunggu dulu! tolong kamu ikut aku saja! aku sama sekali tidak mempermainkanmu. Hanya tinggal beberapa langkah lagi kamu akan bertemu dengan Bimo," cegah Bima dengan raut wajah meyakinkan.
Michelle diam beberapa saat sebelum memutuskan untuk mengikuti Bima kembali. Setelah berdiam beberapa saat, Michelle akhirnya mengembuskan napasnya lalu menganggukkan kepalanya.
Michelle akhirnya berjalan kembali mengikuti Bima, walaupun sebenarnya rasa kesal dan rasa Khawatir akan kondisi Bimo bercampur jadi satu.
Bima tiba-tiba berhenti di sebuah taman belakang gedung rumah sakit, hingga membuat kepala Michelle yang berjalan dengan menundukkan kepalanya, terbentur ke punggung Bima.
"Bima, kenapa ka ...." ucapan Michelle menggantung di udara, berganti dengan mata yang membesar sempurna dan mulut yang terbuka, tercengang melihat pemandangan di depannya yang dihias dengan begitu indah. Cahaya berkilauan yang berasal dari lampu- lampu kecil yang dipasang di sekeliling, membuat suasana taman itu sangat terang benderang.
Suara kembang api di langit, mengangetkan Michelle dan yang membuat gadis itu semakin tercengang begitu melihat ada kalimat 'Michelle, Will you marry me?' bersamaan dengan kembang api itu.
Saking terpesonanya melihat keindahan di taman itu, tanpa disadarinya, Bimo sekarang sudah berdiri di depannya, dengan gagah dan tangan yang membawa sebuket bunga mawar merah.
"Bi-Bimo? ka-kamu ...." Tenggorokan Michelle seketika seakan tercekat, sehingga gadis itu merasa sulit untuk mengungkapkan kata-kata.
Bimo kemudian menyunggingkan senyuman dan melangkah menghampiri Michelle.
"Hai, Sayang! ini buat kamu!" Bimo memberikan buket bunga itu ke arah Michelle yang masih saja tetap berdiri mematung, tidak menerima ataupun menolak.
"Sayang, apa kamu tidak mau menerima bunganya?" Bimo kembali bersuara dengan hati was-was.
"Huaaaaa!" bukannya menerima bunga dari tangan Bimo, Michelle justru menangis histeris, hingga membuat Bimo panik.
"Sa-sayang, ada apa? kenapa kamu menangis?"
"Kamu jahat Bimo, kamu benar-benar jahat! kamu tahu tidak,. bagaimana paniknya aku tadi mendengar kamu kecelakaan? jantungku benar-benar seperti berhenti berdetak, Bimo! apa kamu kira hal seperti ini lucu? kamu benar-benar bermain dengan nyawa, Bimo!" pekik Michelle sembari memukul-mukul tubuh Bimo.
"Aduh, maaf, maaf! ini semua idenya Bima!" Bimo menunjuk ke arah Bima.
"Lah, kok jadi nyalahin aku? kamu sendiri kan yang buat planing seperti ini?" sangkal Bima, tidak memperhatikan Bimo yang sudah mengedip-edipkan matanya, memberikan isyarat padanya agar mau mengaku saja demi supaya tidak terjadi drama marah dari Michelle, walaupun memang ide itu murni idenya Bimo.
"Aku bahkan sudah bilang ke kamu agar jangan buat seperti ini, karena itu sudah berhubungan dengan nyawa. Bahkan aku sudah mengingatkan kamu aka resikonya, seandainya Michelle punya penyakit jantung, bagaimana? tapi, apa jawabanmu? kamu malah bilang, 'kalau tujuannya baik dan dibarengi dengan minta ampun dulu pada Tuhan, pasti tidak akan terjadi apa-apa' kan begitu yang kamu katakan kemarin? iya kan Kak Tristan?" Bima sama sekali tidak memperhatikan isyarat dari Bimo. Pria itu justru malah semakin berceloteh panjang lebar dan bahkan meminta pembelaan dari Tristan.
Bimo mengembuskan napasnya dan kini hanya bisa pasrah, kena amuk wanita yang kini sudah kembali menatapnya dengan sengit.
"Dasar, saudara dakzal!" umpat Bimo dalam hati.
"Pa-Papa!" seru wanita itu dengan mata yang membesar.
"Kenapa Papa bisa ada di sini juga?" tanya Michelle di sela-sela rasa kagetnya.
"Kenapa tidak bisa? kan tidak mungkin Papa tidak hadir di acara lamaran putri Papa sendiri?" ucap Dimas santai.
"Jadi, Papa juga sudah tahu Semua ini?" Dimas tersenyum dan mengangukkan kepalanya.
"Oh ya satu lagi, papa cuma mau mengatakan kalau sebenarnya yang memenangkan tender itu Bimo bukan Papa," ucap Dimas lagi, membuat Michelle semakin tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Flashback On
Ya, sebenarnya yang memenangkan proyek besar itu adalah Bimo. Ketika dia hampir kena jebakan oleh Surya dan sekretarisnya, Hansel sang pemilik perusahaan besar itu, sudah langsung tertarik dengan Bimo yang langsung tanggap dan pintar membaca sesuatu hal yang akan terjadi dan dengan begitu langsung punya persiapan untuk mengantisipasinya. Hansel sudah sangat yakin dan ingin langsung mempercayakan proyek itu ke tangan Bimo, saat itu juga, tapi karena tidak ingin terkesan tidak profesional dan agar tidak membuat para perwakilan perusahaan-perusahaan yang ingin mengajukan kerja sama dengannya, merasa tidak adil, terpaksa Hansel tetap melakukan sesuai dengan prosedur.
"Selamat ya, Bimo! ini pertama kalinya kamu terjun dalam Hal seperti ini, tapi kamu sudah berhasil mendapatkan proyek besar ini. Om salut ke kamu!" Dimas memberikan selamat sembari mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan calon menantunya itu.
"Terima kasih, Om! tapi ini benar-benar tidak ada campur tangan dari Om kan?" tanya Bimo yang sebenarnya masih belum percaya dengan kemenangannya, mengingat jam terbang Dimas sudah banyak.
"Om berani bersumpah, kalau kemenanganmu sama sekali tidak ada campur tangan dari Om. Ini murni karena kemampuanmu. Kamu jangan berpikir aneh-aneh lagi!" ucap Dimas sembari menepuk-nepuk pundak Bimo.
Bimo menatap wajah Dimas dengan sangat dalam, untuk memastikan apakah yang dikatakan oleh papanya Michele bohong atau tidak. Setelah menemukan tidak adanya kebohongan di raut wajah pria paruh baya itu, Bimo kemudian tersenyum. "Aku percaya, Om! terima kasih atas ucapan selamatnya Om!" pungkas Bimo yang akhirnya merasa lega sekaligus bahagia kalau kemenangannya benar-benar karena kemampuannya sendiri.
"Michelle harus tahu ini. Walaupun papanya tidak menang, dia pasti senang juga kalau kekasihnya yang memenangkan proyek besar ini,"
"Om, ja-jangan kasih tahu dulu!" cegah Bimo, membuat Dimas mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Kenapa tidak boleh?" tanya pria paruh baya itu dengan alis bertaut.
Bimo kemudian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Setelah itu Bimo kemudian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang menjadi harapannya.
"Jadi, apa rencanamu sekarang?" tanya Dimas, setelah Bimo menyelesaikan ceritanya.
"Aku berniat akan melamarnya Om, tapi dengan cara yang unik. Om mau kan membantuku?" tanya Bimo penuh harap.
"Kalau tidak merugikan buat Michelle, Om sama Sekali tidak akan keberatan untuk membantumu. Sekarang kamu jelaskan apa rencanamu!"
Bimo kemudian mulai menceritakan apa rencananya dan berharap papanya Michele itu tidak menolak rencananya itu.
"Baiklah, Om setuju! ide kamu lumayan bagus. Sekarang sebaiknya kita ke bandara, nanti saking asiknya kita bicara, kita ketinggalan pesawat.
Flashback end.
tbc