Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Kami semua menyangimu.


"Astaga, Ayu ... kenapa kamu jadi seperti Zombie?" mata Tiara membesar melihat kondisi putrinya yang memang sangat berantakan. Rambut acak-acakkan dan mata membengkak.


"Ini semua kan gara-gara papa dan mama!" Ayu mengerucutkan bibirnya. "Mana makanannya, Ma?" sambungnya kembali sembari melihat ke tangan mamanya yang kosong.


"Itu ada sama Papamu," Tiara menunjuk ke arah bungkusan yang ada di tangan Adrian. "Tapi, sebelum makan mama sarankan sebaiknya kamu mandi dulu!" imbuhnya.


"Nggak ah, nanti aja mandinya, Ma. Aku sudah lapar!" Ayu kemudian menoleh ke arah sang papa yang terlihat sedang menahan tawa sembari melihat ke arah ponselnya. Entah apa yang yang membuat pria paruh baya itu bersikap seperti itu.


"Pa, boleh aku minta makanannya sekarang? aku benar-benar lapar!"


"Lah, bukannya tadi ada yang bilang, 'biar aja aku sakit, kalau nggak mati aja sekalian! kenapa sekarang malah berubah pikiran?" Adrian masih sempat-sempatnya menyindir.


"Pa, jangan bercanda deh! aku benar-benar sudah lapar!" rengek Ayu.


Dengan tawa pecah, akhirnya Adrian memberikan bungkusan makanan itu ke tangan Ayunda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ma, Pa, Ayu mau tanya ... makanan ini kan dari Bima. Apa ini berarti kalau papa sudah tidak marah lagi padanya?" tanya Ayu, setelah menelan makanan yang baru saja dia kunyah.


"Oh, itu karena dia tadi datang ke sini dan mengatakan kalau dia menikahimu,"


Ayunda sontak menyemburkan makanan yang ada di dalam mulutnya saking kagetnya.


"Pa, tolong jangan bercanda! ini sama sekali tidak lucu!"


"Lah, papa memang tidak lagi bercanda! Bima memang datang dan mengatakan akan menikahimu. Karena dia sudah berniat bertanggung jawab, ya Papa terima dia dengan baik," sahut Adrian santai.


"Aku tidak mau!" celetuk Ayunda tiba-tiba.


"Tidak mau apa?" Adrian mengrenyitkan keningnya.


"Aku tidak mau menikah dengan Bima!" nada bicara Ayu terdengar tegas.


"Kenapa tidak mau, Sayang?" kali ini Tiara yang buka suara.


"Kasihan Bima, Ma. Dia sama sekali tidak melakukan apa-apa padaku. Masa dia harus dihukum menikahiku?"


Adrian dan Tiara sontak saling silang pandang, bingung dengan reaksi Ayunda yang benar-benar di luar prediksi. Padahal awalnya mereka mengira kalau putri mereka itu nantinya akan melompat-lompat kegirangan ketika mendengar dia akan menikah dengan pria yang dia cinta.


Adrian kembali menatap Ayunda yang masih sibuk mengunyah makanannya. Kemudian, ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara.


"Tapi, keputusan sudah disepakati dan sudah bulat, Ayu! kamu memang harus tetap menikah dengan Bima!"


"Papa kok tega sekali sih? Aku kan sudah bilang kalau apa yang terjadi tadi malam itu hanya kesalahpahaman. Aku itu tuh diculik orang, dan Bima hanya berniat menolongku, Pa. Kenapa niat baiknya malah jadi bumerang bagi dia sih? harusnya mama dan Papa tuh berterima kasih padanya, bukan malam memintanya menikahiku," suara Ayunda mulai meninggi.


"Oh, Aku tahu ... papa pasti yang memaksa dia untuk menikahiku kan?" tukas Ayunda dengan mata memerah.


"Papa tidak memaksa dia sama sekali! dia sendiri yang datang ke sini. Jadi, jangan tuduh papa yang tidak-tidak! intinya kalian berdua akan tetap menikah!" tegas Adrian, tidak terbantahkan.


"Ihh, papa jahat!" pekik Ayunda yang kembali mulai menangis.


Karena tidak ingin melihat drama tangisan Ayu, Adrian memutuskan untuk berlalu pergi meninggalkan Ayu yang berada di pelukan Tiara, istrinya.


"Ayu, kamu jangan berpikir yang tidak-tidak! apa yang dikatakan papa kamu tadi itu benar. Papa tidak pernah memaksa Bima, tapi Bima yang datang sendiri," Tiara mengelus-elus kepala putrinya dengan lembut.


"Tapi, dia melakukannya pasti karena paksaan dari Om Bara dan Tante Clara, Ma," Ayunda semakin sesunggukan. Sungguh, dia benar-benar merasa bersalah sekarang pada Bima.


"Tapi, Ma, Bima tidak mencintaiku! aku yakin kalau dia mengatakan inging menikahiku hanya karena tidak mau hubungan persahabatan papa dan Om Bara hancur. Aku capek mencintai sendiri, Ma ... rasanya benar-benar tidak enak!"


Tiara kembali menerbitkan seulas senyuman. Ingin rasanya dia mengungkapkan yang sebenarnya pada putrinya itu. Tapi dia berusaha menahan dirinya mengingat pesan sang suami yang memintanya untuk merahasiakannya lebih dulu, agar Bima sendiri yang mengungkapkan perasaannya pada sang putri. Karena rasa bahagia-nya pasti beda kalau kita mendengarkan pengakuan cinta langsung dari orang yang kita cintai daripada kita mendengar dari orang lain.


"Kamu jangan berpikir terlalu jauh dulu. Mungkin setelah kamu jadi istrinya, Bima akan berubah mencintaimu, iya kan? tetap saja optimis ya?"


Ayunda akhirnya menganggukan kepalanya di sela-sela isak tangisnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di kediaman Bara, tampak Tristan sedang duduk berdiam diri di tepi kolam renang dengan kaki yang menjuntai masuk ke dalam air. Entah apa yang ada di dalam pikiran pria itu sekarang, hingga dia melamun segitu panjangnya. Sehingga dia tidak menyadari kalau Clara sudah berdiri di belakangnya.


"Kamu sedang apa di sini, Nak?" Clara mulai buka suara.


Tristan tersentak kaget, ketika tangan Clara menyentuh pundaknya. Kemudian Pria itu menoleh ke belakang dan melihat Clara tersenyum ke arahnya.


"Eh, Mama! kenapa Mama tiba-tiba ada di sini?" tanya Tristan basa-basi dan tentu saja membalas senyum wanita yang sudah dia anggap mama kandungnya.


"Kok balik nanya, Mama sih? tadi mama yang tanya kamu sedang apa di sini? kamu mama lihat melamun cukup panjang. Kamu ada sesuatu yang dipikirkan ya? ayo cerita ke Mama!" Clara berjongkok di samping Tristan.


"Emm, tidak ada sama sekali, Ma," Tristan bangkit berdiri dan membantu Clara untuk berdiri juga. Kemudian pemuda itu mengajak mamanya itu untuk duduk di sebuah kursi.


"Tristan, kamu jangan bohong ke mama! mama bisa lihat dari raut wajahmu, kalau kamu sedang memikirkan sesuatu. Apa kamu tidak mau berbagi dengan mamamu ini, Sayang?" Clara menatap Tristan dengan lembut tapi penuh tuntutan.


"Ma, aku benar tidak ada apa-apa. Aku hanya merasa bersyukur karena hidupku sangat bahagia bisa memiliki mama dan dua adik yang sangat menyayangiku. Padahal kalau diingat-ingat, aku dulu selalu berbuat jahat pada Bimo, tapi kalian semua berbesar hati memaafkanku dan malah mengangkatku jadi anak. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku seandainya kalian semua membenciku saat itu, mengingat kalau aku ini anak dari Mama Tania dan Om Dito." ucap Tristan.


" Selama ini mama tidak pernah memperlihatkan perbedaan kasih sayang mama ke aku, Bima dan Bimo. Semuanya mama perlakukan sama, sehingga membuat aku merasa tidak berbeda dengan mereka," mata Tristan terlihat mulai berkaca-kaca, mengucapkan kata-katanya.


"Nak, kamu memang bukan terlahir dari rahimku, tapi selama ini mama tetap menganggap kamu itu anak yang terlahir dari rahimku. Tidak ada bedanya kamu dan dua adikmu itu. Jadi, mama harap kamu jangan sampai berpikir semua hal yang mama, papa dan dua adikmu lakukan, hanya karena bentuk rasa kasihan. Semuanya murni karena kami menyayangimu, Sayang!" senyum Clara tidak pernah memudar saat mengucapkan kalimat demi kalimat ucapannya.


"Ma, aku tidak pernah meragukan hal itu! tapi kadang aku merasa kalau papa lah yang tidak sepenuhnya menyayangiku. Aku merasa kalau Papa masih menyimpan dendam pada almarhum mama Tania. Aku juga merasa kalau Papa baik padaku Selama ini karena permintaan Mama, Bima dan Bimo," untuk Kali ini air mata yang tadi berusaha ditahan oleh Tristan, sudah tidak bisa dibendung lagi. Cairan being itu sudah berhasil keluar membasahi pipi pria tampan itu.


"Kamu salah! justru papamu itu sangat menyayangimu dan bahkan saking sayangnya dia tidak mau kamu meninggalkan kami suatu saat,"


Tristan mengrenyitkan keningnya, belum mengerti maksud perkataan mamanya itu.


"Kamu mungkin sulit untuk percaya dengan ucapan mama tadi. Tapi, video ini mungkin bisa membuat kamu tahu kalau papamu itu benar-benar sangat menyayangimu," Clara menunjukkan sebuah video yang ada di handponenya.


Di dalam video itu terdengar jelas suara Bara yang datang menemui Satya dan Arumi untuk memohon pada kedua orang itu agar memberikan Salena menjadi istri Tristan. "Aku sangat minta tolong, Sat. Aku tahu kalau permintaanku ini berlebihan dan tidak masuk akal mengingat Salena masih SMA dan masa depannya masih panjang, tapi pikiranku sudah benar-benar buntu memikirkan cara agar Tristan tidak pergi dari keluarga kita. Aku merasa kalau Tristan menikah dengan Salena, Tristan akan tetap berada di antara kita, mengingat Arumi adalah sepupunya Clara. Aku tidak mau kehilangan anak itu. Walaupun dia bukan anak kandungku, tapi dia sudah aku anggap dia darah dagingku sendiri, karena tangan ini lah yang membesarkan dia,"


Air mata Tristan semakin deras keluar mendengar semua ucapan Bara yang ternyata selama ini menyayanginya. Padahal selama ini, dia menganggap kalau pria itu tidak terlalu menyayanginya.


"Papamu benar-benar menyayangimu, Nak. Hanya saja dia sulit untuk mengungkapkan dengan kata-kata. Kenapa? karena dia merasa justru kamu yang tidak merasa nyaman dengannya," lanjut Clara sembari menghentikan pemutaran Video.


"Iya, Ma. Sekarang aku percaya! ternyata selama ini aku yang terlalu berpikir kejauhan. Terima kasih ya, Ma! Tapi, mengenai permintaan Papa ke Om Satya tadi ...." Tristan menggantung ucapannya sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, bingung mau bagaimana menanggapi keinginan Bara papanya..


"Untuk masalah itu, kami tidak memaksa, karena itu hanya sekedar keinginan saja. Kalau kamu tidak mau, juga tidak apa-apa, karena memang itu hak kamu untuk memilih menikah dengan wanita yang kamu cinta. Kebetulan juga om Satya belum mengiyakan. Bukan karena kamu tidak anak kandung papa Bara,tapi karena Salena masih SMA. Walaupun memang sebentar lagi dia lulus, tapi tetap saja dia masih terlalu muda. Kecuali kamu mau menunggunya 3 atau 4 tahun lagi," Clara mengerlingkan matanya ke arah Tristan


Sementara itu, di dalam sebuah kamar, tampak seorang pria tertawa lepas sembari menatap layar ponselnya. Siapa lagi pria itu kalau bukan Bima.


Di layar ponselnya dia melihat dua buah photo kiriman dari Adrian yang memperlihatkan Ayunda dengan penampilan yang sangat kacau saat keluar dari kamar dan yang satu lagi bagaimana lahapnya wanita itu makan dengan penampilan yang sama.


tbc