
Matahari pagi kini sudah menyapa menyapa dari 1 jam yang lalu. Bahkan Jam sudah mulai menunjukkan pukul 7 pagi. Namun sepasang penggantin baru masih tampak terlelap saling berpelukan.
Karena merasa terganggu oleh cahaya yang membias dari celah-celah tirai tipis Ayunda mulai menggeliat dan mengerjab-erjabkan matanya.
Tidak menunggu lama, mata wanita itu kemudian perlahan-lahan terbuka. Untuk pertama kalinya, dia tersentak kaget dan hampir saja berteriak ketika melihat wajah Bima yang sangat dekat dengan wajahnya. Namun begitu dia ingat kalau sekarang pria itu sudah menjadi suaminya, wanita itu akhirnya urung berteriak.
"Jadi sekarang aku sudah punya suami? dan suamiku si kulkas ini?" Ayunda tersenyum geli saat mengucapkan kata suami.
Tidak ingin melepaskan kesempatan, Ayunda menatap wajah Bima dan benar-benar mengagumi ciptaan Tuhan yang satu ini. Dengan lembut tangannya terulur membelai lembut wajah suaminya itu.
"Apa kamu sudah puas menatap wajahku?" tiba-tiba Bima bersuara dengan mata yang tiba-tiba terbuka, hingga membuat Ayunda tersentak kaget dan hampir kabur.
"Kamu mau kemana?" Bima menarik tangan Ayunda hingga wanita itu terjatuh tepat di atas dadanya.
"Kenapa kamu buru-buru sekali mau pergi? apa kamu tidak mau menikmati lagi wajahku?" goda Bima, sembari mengerlingkan matanya.
Ayunda mengrenyitkan keningnya, merasa bingung dengan sikap pria yang tiba-tiba manis. "Kamu benar-benar Bima yang dulu nggak sih? kenapa kamu bisa berubah semanis ini saat bicara denganku? bukannya dulu kamu__"
Ayunda tiba-tiba berhenti bicara, karena tiba-tiba bibir Bima menempel ke bibirnya.
Untuk beberapa saat, Ayu terpaku dengan mata membesar mendapat serangan Bima yang tiba-tiba.
Bima kemudian menarik kembali bibirnya dan terseyum. "Apa kamu sudah selesai bicara? atau kamu masih mau lanjut lagi?" tanya Bima dengan lembut.
"Astaga, ada apa dengan pria ini? apa kepalanya terbentur sesuatu? kemana sikap dinginnya selama ini?" batin Ayunda sembari mengerjab-erjabkan matanya.
"Jangan bertingkah menggemaskan di depanku, kalau kamu tidak mau mendapat serangan lagi dariku!" ucap Bima membuat Ayunda kembali ingin kabur. Namun lagi-lagi wanita itu gagal kabur karena Bima kembali mengeraskan pelukannya.
"Kamu mau kemana sih?" tanya Bima, dengan nada yang semakin lembut dan tatapan menggoda, hingga membuat Ayunda justru bergidik ngeri merasa yang dilihatnya kini bukanlah Bima.
"Ka-kamu benarnya Bima kan?" tanya Ayunda dengan suara bergetar.
"Jadi menurutmu aku siapa kalau bukan Bima?"
"Kalau kamu itu Bima kenapa kamu jadi berubah manis begini? kamu bahkan tadi sudah menciumku!" alis Ayunda bertaut tajam.
"Apa ada yang salah bersikap manis pada istri sendiri? dan apa salah juga kalau aku mencium istri sendiri? bahkan lebih dari ciuman aku juga berhak kan? dan aku mau bilang ke kamu, kalau mulai dari hari ini kamu harus terbiasa dengan hal itu!"ujar Bima sembari mendaratkan bibirnya kembali ke bibir Ayunda.
"Hei Bima, kamu sudah menciumku dua kali! protes Ayunda dengan bibir mengerucut, yang lagi-lagi mendapatkan ciuman dari Bima.
"Ralat, bukan dua kali tapi lebih! mungkin yang terakhir tadi adalah ciuman yang ke sekian Kali. Aku juga bingung berapa kali aku sudah menciummu," ucap Bima membuat Ayunda semakin bingung.
"Kesekian Kali?" Ayunda menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Karena yang dia tahu Bima baru tiga Kali menciumnya setelah ditambah yang terakhir tadi.
Sementara itu Bima tersenyum geli melihat kebingungan istrinya itu. Ya, memang dia tidak menghitung berapa kali dia mencium istrinya itu tadi malam ketika wanita itu tertidur.
"Ehem, Sepertinya kamu betah berada di atasku apa kamu mau meminta lebih? kalau iya, aku siap kok," goda Bima lagi.
"Jangan pasang wajahmu seperti itu! apa kamu keberatan dicium sama suamimu sendiri?" tanya Bima, Kali ini memasang wajah datarnya.
"Te-tentu saja tidak! ta-tapi jangan tiba-tiba, kan aku belum siap!" ucap Ayunda, gugup.
Bima kemudian mencondongkan wajahnya mendekat ke wajah Ayu.
"Jadi, apa sekarang kamu sudah siap?" tanya Bima membuat Ayunda memundurkan kepalanya tiba-tiba.
"A-aku ...."
"Aku harap kamu sudah siap," Bima mulai mengikis jarak dan mendaratkan bibirnya di bibir istrinya yang sudah seperti candu buatnya. Karena tidak ada perlawanan, bibir yang tadinya hanya menempel kini berubah menjadi lu*matan lembut. Untuk beberapa saat, ciuman Bima tidak mendapatkan balasan, namun itu tidak berlangsung lama karena sikap Ayunda yang tadinya pasif kini sudah mulai melakukan balasan, walaupun memang masih terasa kaku, mengingat ini adalah pengalaman pertama mereka.
Lama-kelamaan, Bima sepertinya mengingikan hal lebih. Tangan pria itu sudah mulai merambah kemana-mana. Namun, tiba-tiba gerakan Bima terhenti karena tangan Ayunda yang tiba-tiba menahan dadanya
"Kamu mau apa?" tanya Ayunda.
Bima mengembuskan napas kesal mendengar pertanyaan Ayunda.
"Aku mau kamu!" sahut pria itu di sela-sela napasnya yang memburu.
"Kenapa kamu mau melakukannya, sementara kamu tidak mengingikannya sama sekali?"
"Aku melakukannya justru karena aku menginginkannya," Bima kembali memegang tengkuk Ayunda dan kembali membenamkan bibirnya ke bibir wanita itu. Namun lagi-lagi Ayunda mendorong pelan dada Bima.
"Kenapa kamu ingin melakukannya denganku, padahal kamu tidak __"
"Baiklah, kamu sepertinya keberatan melakukannya," ucap Bima menyela ucapan Ayu. "Aku tidak akan memaksamu untuk melakukannya sekarang," lanjut Bima lagi seraya bangun, hendak menjauhkan tubuhnya dari Ayu. Namun tangan Ayunda tiba-tiba menahan lengan Bima, membuat Bima tidak berpindah sama sekali.
"Bu-bukan seperti itu, aku hanya tidak ingin kamu melakukannya hanya karena naf*su sesaat," ucap Ayunda dengan lirih dan wajah sendu.
" Tatap mataku! apa kamu melihat kalau aku menatapmu dengan tatapan seperti yang kamu katakan tadi?" Ayunda menatap dalam-dalam mata suaminya itu dan berusaha menyelami makna tatapan itu.
"Aku bukan pria bejat ,Ayu. Pria yang melakukan hal itu karena hanya na*fsu. Kalau aku mau sudah sejak dulu aku lakukan, tapi aku melakukannya karena aku benar-benar menginginkanmu. Tapi kalau kamu tidak mau, aku tidak akan memaksa," ucap Bima dengan tegas.
"Aku tahu kamu bukan pria bejat Bima, tapi aku hanya ingin mempertanyakan bagaimana perasaanmu padaku. Kamu memang sudah bersikap manis, tapi yang aku inginkan, aku bisa mendengar kalau kamu mencintaiku," ucap Ayunda yang sayangnya hanya berani dia ucapkan dalam hati.
"Apa kamu masih benar-benar tidak bersedia?" Bima kembali bersuara.
Ayunda menarik napasnya dalam dan mengembuskannya kembali ke udara. Kemudian, wanita itu tersenyum dan mengangukkan kepalanya. "Aku sama sekali tidak keberatan, karena kamu itu suamiku," pungkas Ayunda akhirnya bersedia.
Bima kemudian mengulas senyum dan dengan penuh damba, ia kembali membenamkan bibirnya di bibir milik istrinya itu. Tidak perlu menunggu lama, akhirnya tubuh keduanya sudah polos tidak tertutup sehelai benang pun.
Bima benar-benar memperlakukan Ayunda dengan begitu lembut, sampai akhirnya wanita yang sudah menjadi istrinya itu, seutuhnya sudah menjadi miliknya, seiring berhasilnya dia membobol pertahanan wanita itu.
tbc