
Setelah tangis Clara mereda, wanita itu berdiri kembali dan melangkah ke arah pintu.
"Mama mau pergi kemana?" alis Bimo bertaut tajam.
Langkah Clara sontak berhenti dan kembali memutar tubuhnya, menoleh ke arah Bimo.
"Mama tidak kemana-mana. Mama hanya ke dapur sebentar, soalnya mama tiba-tiba merasa haus. Apa kamu juga mau minum, Nak? kalau iya biar nanti bawakan kamu air minumnya,"
Bimo menggelengkan kepalanya, menolak.
"Baiklah, Mama ke dapur dulu!" Clara kembali mengayunkan kakinya melangkah menuju dapur.
Setelah tubuh Clara menghilang,Bimo kembali menarik laci dan mengambil photo yang disimpan mamanya tadi. Kemudian,anak kecil itu menyelipkan photo itu ke pinggang celana piyama yang dia pakai dengan buru-buru sebelum mamanya itu datang kembali.
Benar saja, Clara kini sudah kembali dan melemparkan senyum manis ke arahnya.
"Sekarang sudah waktunya kamu tidur. Ayo naik ke ranjang,biar mama bacakan dongengnya," nada bicara Clara terdengar lembut sembari mengelus rambut Bimo menunjukkan kasih sayangnya.
"Ma, aku mau kembali ke kamarku dulu ya!" celetuk Bimo yang membuat kening Clara berkerut. Wanita itu benar-benar bingung dengan perubahan pikiran yang ditunjukkan oleh putranya itu tiba-tiba.
"Kenapa? apa kamu batal tidur di kamar mama?" dari nada suara Clara saat bertanya, terdengar jelas kalau terselip rasa kecewa.
"Jadi kok Ma. Aku hanya baru ingat kalau ternyata masih ada tugas yang belum aku selesaikan. Jadi, aku harus menyelesaikannya sekarang," sahut Bimo memberikan alasan yang masuk akal.
Apa kamu perlu mama temanin?" Bimo dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu, karena aku bisa menyelesaikan tugas itu sendiri. Aku pergi dulu ya, Ma. Aku akan secepatnya menyelesaikan tugas itu dan aku janji akan langsung datang ke sini, begitu tugasnya selesai!" Bimo mengayunkan kakinya, melangkah keluar dari kamar Clara ketika mamanya itu menganggukkan kepala mengiyakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ada apa lagi? kenapa kamu belum tidur?" terdengar suara Bima dari ujung sana.
Ya, alasan Bimo izin keluar dari kamar sang mama sebenarnya bukan karena ada tugas yang belum dia selesaikan. Namun, anak kecil itu ingin menghubungi Bima, kakaknya, untuk menginformasikan informasi penting yang baru saja dia dapatkan.
"Kak, aku baru saja mengirimkan sebuah photo ke kamu, coba kamu lihat!" titah Bimo dengan nada misterius.
Bimo menunggu untuk sepersekian detik sampai Bima melihat pesan yang baru saja dia kirimkan.
"Itu photo mama yang menikah dengan seorang pria. Apa kamu mau mengatakan kalau laki-laki itu adalah papa kita?" terdengar kembali suara Bima yang sepertinya sudah selesai melihat pesan yang dikirimkan oleh Bimo.
"Iya. Itu Papa kita. Tapi kenapa kamu tidak kaget? apa kamu tidak mengenal siapa pria di photo itu?" Bimo mengrenyitkan keningnya, karena merasa bingung dengan reaksi Bima yang terdengar biasa saja.
"Bagaimana aku bisa mengenalnya? aku sama sekali belum melihatnya dan sepertinya tidak pernah ingin melihatnya, karena dia sudah tega meninggalkan mama di saat mengandung kita," terdengar nada penuh kebencian terlontar dari mulut Bima.
"Tunggu dulu! apa kamu belum bertemu Papa Bara?" tanya Bimo yang merasa aneh dengan jawaban yang diberikan kakak kembarnya itu.
Bimo mengembuskan napas dengan cukup berat, mengerti kenapa reaksi Bima biasa-biasa saja saat melihat photo yang dikirimkannya.
"Laki-laki yang ada di photo itu adalah papa Bara. Berarti papa Bara adalah papa kita," ucap Bimo tegas.
Untuk sepersekian detik Bimo tidak mendapat tanggapan apapun dari Bima. Yang ada hanya keheningan, pertanda kalau kakak kembarnya itu sedang shock di seberang sana.
"Oh, jadi dia ternyata laki-laki jahat yang sudah tega meninggalkan mama kita?" akhirnya setelah diam beberapa saat, Bima akhirnya buka suara kembali, tapi kali ini nadanya terdengar penuh amarah.
"Kamu jangan salah paham, Kak. Tadi mama sudah cerita kalau Papa tidak pernah meninggalkan mama. Yang ada Mama kita yang membuat papa meninggalkannya," terang Bimo, ambigu.
"Maksudmu apa?"
Bimo akhirnya menceritakan semua apa yang dia dengar dari sang mama secara detail tanpa menambah dan tanpa mengurangi sedikitpun.
"Jadi begitu ceritanya? kalau begitu, Tristan itu secara tidak langsung kakak kita dong," ucap Bima.
"Kalau dia anak Papa, ya berarti dia memang kakak kita," Bimo mengiyakan.
"Tapi, kenapa aku ada keraguan tentang itu ya?" celetuk Bima.
"Kalau menurut cerita mama, papa menikah dengan Tante Tania karena cinta, tapi yang aku lihat dari photo-photo yang tergantung di dinding, Papa sama sekali tidak ada tersenyum. Dan kalau boleh jujur, tolong kamu jangan tertawa ya, ini hanya menurut pandanganku saja. Kalau dilihat secara seksama, hidung dan mata Tristan lebih mirip ke om Dito. Walaupun memang kalau dari wajah, lebih mirip ke Tante Tania. Tapi mata dan hidung itu tidak bisa menipu, Bimo," jelas Bima, mengungkapkan keraguannya.
Bimo berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kenapa kamu bisa seteliti itu sih? sampai-sampai mata dan hidung juga kamu analisa," ucapan Bimo, antara kagum atau meledek bercampur menjadi satu.
"Awalnya sih aku tidak terlalu peduli, tapi karena kecurigaanku pada apa yang dilakukan om Dito dan Tante Tania, tadi sore membuat aku tanpa sadar menganalisa segalanya," Bima terkekeh saat mengungkapkan alasan kenapa dia bisa jadi seteliti itu.
"Sekarang setelah tahu kalau papa Bara adalah papa kita, aku jadi semakin semangat untuk melakukan penyelidikan lagi. Dan aku juga akan menyelidiki penyebab ingatan papa yang tidak kunjung kembali," imbuh Bima kembali dengan penuh semangat.
"Bima, apa tugas kamu belum selesai juga?" tiba-tiba terdengar suara Clara yang sudah berdiri di ambang pintu.
Kemunculan Clara sontak membuat Bimo terjengkit kaget, dengan cepat ingin memutuskan panggilan. Namun anak kecil itu, salah memencet tombol, justru yang terpencet adalah loud speaker dan meletakkannya ke atas kasur.
"Kamu menghubungi siapa?" Clara mengrenyitkan keningnya.
"Te-teman, Ma. Dia yang menghubungiku, karena ada soal yang tidak bisa dia jawab," sahut Bimo dengan gugup.
"Oh," Clara mengangguk-anggukan kepalanya.
"Bimo, kenapa kamu belum tidur?" Clara yang baru saja hendak beranjak keluar, tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik menatap ke arah suara seorang laki-laki dewasa yang berasal dari handphone. Wanita itu kembali melangkah menghampiri kasur. Dengan cepat Bimo langsung meraih handphone itu dan mengembuskan napas lega begitu mengetahui kalau Bima sudah mematikan panggilan.
"Siapa itu? kenapa suara temanmu, tidak terdengar seperti suara anak kecil? dan dia memanggil nama Bimo kan tadi? nama kamu kan Bima, bu-bukan Bimo?" tanya Clara dengan beruntun dan mata yang memicing, curiga.
Tbc